• Info Terkini

    Sunday, June 22, 2014

    Ulasan Artikel “Relevansi Guru Sebagai Profesi” Karya Shonhaji Muhammad Al-Gowzhyne (FAMili Sidoarjo)


    Sumber ilustrasi: smpn1panumbangan.sch.id
    Tim FAM Indonesia mengapresiasi artikel berjudul “Relevansi Guru Sebagai Profesi” sebagai sebuah karya yang mencerminkan daya kritis penulisnya. Melalui artikel ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk menyoroti kinerja seorang guru sebagai seorang pendidik. Penulis juga ingin menyampaikan pandangannya tentang dilema yang dihadapi seorang guru, antara profesionalisme dan kebutuhan ekonomi di saat situasi sulit. Tim FAM Indonesia juga mengapresiasi usaha penulisnya untuk memperkuat artikelnya dengan diksi yang “tidak biasa”.

    Namun demikian, Tim FAM Indonesia memberikan catatan-catatan sebagai perbaikan, antara lain:

    Arti kata “relevansi” adalah kaitan atau hubungan. Berpijak dari arti kata relevansi tersebut, maka penggunaan kata relevansi pada judul artikel “Relevansi Guru Sebagai Profesi” tidak tepat. Sebaiknya kata relevansi dihilangkan saja. Cukup “Guru Sebagai Profesi”.

    Penggunaan kata “titik sentral” pada kalimat “Titik sentral guru terhadap dekadensi moral sangat krusial sekali”, kurang tepat. Akan lebih pas jika diganti dengan “peran sentral”.

    Penggunaan kata “cindera mata” pada kalimat “Dan atas pengorbanannya itu masyarakat memberikan cindera mata yang sangat berarti”, juga agak kurang tepat. Sebaiknya diganti dengan kata “predikat”.

    Sejumlah kesalahan pengetikan lainnya, di antaranya:

    tanggung jawab-nya, seharusnya tanggung jawabnya.
    jaman seharusnya zaman
    cindera mata seharusnya cenderamata
    simbul seharusnya simbol
    meski menerima apa adanya. (Mungkin yang dimaksud penulis adalah mesti menerima apa adanya?)
    Keaneka ragaman seharusnya keanekaragaman.
    Karismatik guru seharusnya karisma guru.
    Kata image seharusnya dicetak miring.
    Fihak seharusnya pihak

    Keterpaduan antar paragraf pada artikel ini menjadi kurang karena penulis memperlebar masalah dengan membahas masalah CPNS dan juga pendidikan modern. Padahal topik tulisan yang diangkat adalah masalah profesi guru.

    Tim FAM Indonesia menganjurkan pada penulis untuk memperkuat penulisan artikelnya  dengan membaca referensi-referensi ilmiah terkait dengan tema yang diangkat sehingga kupasan yang tersaji dalam tulisannya bisa lebih mendalam namun tetap menjaga keterpaduan mulai dari judul hingga paragraf terakhir.

    Terus berkarya ya, ditunggu karya-karya berikutnya.

    Salam aktif

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Relevansi Guru Sebagai Profesi
    Oleh Shonhaji MA (IDFAM2150U)

    Profil guru adalah salah satu figur yang mempunyai amanat paling agung dan paling berat tanggung jawab-nya. Guru adalah sebuah titel terhormat dan beliau seorang pembawa misi mulia. Titik sentral guru terhadap dekadensi moral sangat krusial sekali. Karena baik buruknya nilai moral bangsa ini hampir terletak pada bimbingan guru. Pengabdian guru tak habis dimakan waktu dan tak lekang oleh jaman dalam rangka mendidik generasi bangsa ini, sehingga tidak peduli dengan materi yang didapat. Dan atas pengorbanannya itu masyarakat memberikan cindera mata yang sangat berarti. Seperti dalam sebuah untaian kata “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”.

    Pada mulanya ungkapan tersebut dimaksudkan untuk menjunjung tinggi martabat dan kehormatan guru. Sebutan itu sebagai simbul pengabdian guru tanpa pamrih dan ikhlas, “sepi ing pamrih rame ing gawe”. Sekalipun bekerja seharian untuk mendidik siswanya.

    Di sisi lain ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa bisa tidak menguntungkan bagi para guru dan profesi keguruan. Dengan ungkapan itu ada kesan seakan-akan guru merupakan sekelompok komunitas yang melakukan pekerjaan terhormat, bernilai agung dalam mendidik bangsanya. Namun atas keringat dan jerih payahnya itu mereka meski menerima apa adanya, tidak perlu banyak menuntut atau mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka dapatkan.

    Tidak pula guru mengeluh bila daya beli gajinya rendah karena tingkat dan jumlah kenaikan gaji tidak mampu mengimbangi depresiasi. Tidak perlu pula bersedih bila kenaikan pangkatnya terlambat.

    Kemajuan semakin pesat dan waktu terus berjalan dunia pendidikan pun di tuntut harus bisa menyesuiakan diri dengan perkembangan jaman. Di satu sisi material adalah sebuah tuntutan bagi seorang guru untuk memenuhi kelangsungan hidupnya, karena keaneka ragaman jenis kebutuhan yang harus dipenuhi. Keadaan yang demikian seakan-akan berakibat lunturnya karismatik guru. Sehingga hal itu menjadi sebuah dilema dalam image seorang guru. Jika hal itu terjadi, relevankah bunyi statemen bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

    Realitas yang ada, setelah terselenggaranya rekrutmen CPNS memunculkan berbagai reaksi dari fihak yang mendaftar. Bagi yang diterima menyambutnya dengan suka cita, sementara mega kelabu seakan-akan menyapu guratan wajah mereka yang gagal.

    Begitu menggodanya profesi ini, sampai beragam cara ditempuh untuk menebusnya. Dari yang bermodalkan kompetensi diri, mengandalkan hubungan kekerabatan, kolega dan sampai pada titik  aksi rupiah.

    Banyak alasan mengapa mereka tertarik untuk mengais rejeki diparlemen. Dari jawaban yang paling idealis, semisal menjadi abdi Negara sampai jawaban yang pragmatis. “Kepastian gaji perbulan, uang pensiun, prestise dimata masyarakat sampai pada alasan putus asa dari pada menjadi pengangguran”. Dan entah alasan apa yang paling banyak memotivasi pelamar CPNS. Satu simpulan umum yang dapat digaris bawahi bahwa pegawai negeri sipil dimata warga bukanlah sekedar profesi melainkan telah berkembang menjadi gaya hidup.

    Di tengah susahnya mencari rupiah, PNS menawarkan alternatif terbaik untuk menyambung hidup, kehormatan dan prestise di tengah-tangah masyarakat. Gaji mungkin tak seberapa tapi ceperan bisa datang dari setiap  celah. Ditambah lagi dengan sudah dipegangnya sebuah jabatan, masa depan diprediksi menjadi cerah.

    Anda boleh sepakat, boleh juga meyangkal pandangan diatas. Dan stereotype demikian justru muncul dari keseharian yang dilakukan oleh sebagian PNS yang terekam oleh masyarakat. Kemudian yang menjadi pertanyaan untuk para calon pegawai negeri sipil adalah : sudahkah para pendaftar CPNS itu sadar akan tantangan yang menanti mereka, setelah resmi menyandang predikat PNS …??? Sanggupkah PNS memikul beban itu dengan menunjukkan kenerja yang profesional dan mengedepankan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi dan golongan..??? waktulah yang akan menjawabnya…..

    Ironisnya ilmu pendidikan modern mulai kehilangan sentuhan kasih sayang dan kepekaannya kepada peserta didik. Topik yang dibicarakan kebanyakan hal-hal yang sifatnya teknis metodologis. Praktek pendidikan modern, baik tersurat maupun tersirat di bangun diatas asumsi yang sarat dengan kepercayaan penuh pada keampuhan metode dan tekhnik mengajar. Landasan falsafahnya yang diangkat dari aliran-aliran kognitifistik dan sejenisnya.

    Karena orientasinya itu, pendidikan modern terasa makin menjauh misi hakikinya, untuk mendewasakan peserta didik. Sasaran yang lebih menonjol adalah bagaimana supaya anak mengerti dan bisa melakukan sesuatu lebih jauh lagi. Ada kecendrungan pendidikan ibarat sudah menjadi transaksi bisnis. Ada yang menjual jasa pendidikan, dan ada yang membelinya. Dewasa ini tidak mudah menemukan pakar pendidikan, atau penulis buku-buku pendidikan yang masih mendalami secara sungguh-sungguh ilmu mendidik.

    Walhasil, mencari guru sebagai pendidik sangat sulit sekali. Dan lebih mudah menjumpai guru sebagai pentransfer (transforman) ilmu terhadap peserta didik.

    “Hidup ada pada ketenangan dan perjuangan bukan pada tuntutan yang tak mengerti akan keadaan”.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Relevansi Guru Sebagai Profesi” Karya Shonhaji Muhammad Al-Gowzhyne (FAMili Sidoarjo) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top