Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

Novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” Ditulis Seorang Guru SD di Padang

PADANG – Obsesi Refdinal Castera, S.Pd., guru SD Negeri 28 Padang Sarai, Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, menerbitkan novel akhirnya terwujud. Novel trilogi perdananya berjudul “Meniti Buih Menerobos Tantangan” diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, dan melengkapi kesibukan keseharian “Pak Guru” ini.

Terbitnya novel itu, dia berharap, dapat “memperkaya” khasanah kesusastraan di Tanah Air, khususnya di Ranah Minang, terutama untuk para pembaca di kalangan pendidikan atau guru. Lewat sastra, ia ingin berbagi kisah tentang berbagai pengalaman hidup yang pernah ia jalani.

“Novel ini adalah novel trilogi buku 1 di antara 2 novel lagi yang insya Allah  dalam waktu tak berapa lama lagi, juga menyusul terbit,” ujar Refdinal Castera, Ahad (6/7), di Padang.

Dia mengungkapkan, keinginan menerbitkan novel dilatarbelakangi “proses kreatif kepenulisan” yang telah membentuk dirinya selama ini. Ia tidak hanya berprofesi sebagai guru, tapi juga penulis di m…

Ulasan Cerpen "Lili Ungu untuk Sarah" Karya Maryam Syarief (FAMili Bukittinggi)

Cerpen ini bercerita tentang Randi dan Sarah yang menikah tapi tak pernah berada dalam satu kamar. Randi terpaksa menikahinya karena ingin membahagiakan kedua orangtuanya, padahal ia sendiri belum siap menikah. Ia juga tidak mencintai Sarah, wanita bercadar itu. Sementara, di sisi lain, Sarah justru berharap suatu saat pernikahannya dengan Randi berjalan sebagaimana mestinya. Ia tetap sabar menanti sampai sebulan lamanya.

Sarah sering mendapat kiriman bunga lili ungu dari lelaki misterius, setiap kali Randi tak ada di rumah. Sayangnya, ia tak bisa terus-terusan menerima kiriman bunga kesukaannya itu, karena ia tahu tak pantas seorang wanita yang telah bersuami mendapat hadiah spesial dari lelaki yang bukan suaminya. Ditunggu-tunggu, tak pernah terkuak siapa pengirim bunga itu, sampai suatu waktu pembicaraan Randi dengan pembantu mereka membuka segalanya.

Ternyata selama ini Randi memang tak menyukai Sarah dikarenakan cadar yang menutupi wajahnya. Ia tak tahu apakah wanita yang dinikahin…

“Mayat dalam Lumbung” Karya Siti Sofiyah Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Nasional

KEDIRI – Cerpen “Mayat dalam Lumbung” karya Siti Sofiyah (Semarang, Jawa Tengah) dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan diumumkan Kamis (3/7), bertepatan dengan Hari Sastra Nasional.

Pemenang kedua diraih Inung Setyami (Tarakan, Kalimantan Timur) dengan cerpen berjudul “Topeng Ireng”, dan pemenang ketiga diraih Irzen Hawer (Padangpanjang, Sumatera Barat) dengan cerpen berjudul “Ampek Sen”.

Selain menetapkan tiga pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih delapan cerpen yang diunggulkan, masing-masing berjudul “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta), “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban, Jawa Timur), “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember, Jawa Timur), “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya), “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon, Banten), “Lelaki yang Usai Mengembara” (Reddy Suzayzt, Yogyakarta), “Tapung Tawar…

Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Update: Kamis, 3 Juli 2014, Pukul 22.00 WIB

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bismillahirahmanirrahim. Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT dan ucapan terima kasih kepada Tim FAM Indonesia yang terlibat sebagai Dewan Juri Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja FAM Indonesia, maka, dari 204 naskah cerpen yang masuk, inilah cerpen yang dinobatkan sebagai Pemenang 1, 2 dan 3 serta 8 cerpen pilihan:

JUARA 1:
“Mayat dalam Lumbung” (Siti Sofiyah, Semarang-Jawa Tengah)

JUARA 2:
“Topeng Ireng” (Inung Setyami, Tarakan-Kalimantan Timur)

JUARA 3:
“Ampek Sen” (Irzen Hawer, Padangpanjang-Sumatera Barat)

DELAPAN CERPEN PILIHAN YANG DIUNGGULKAN:

1. “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta)
2. “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban-Jawa Timur)
3. “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember-Jawa Timur)
4. “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya)
5. “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon-Banten)
6. “Lela…

Pengumuman 11 Nominator Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Update Rabu, 2 Juli 2014, Pukul 22.00 WIB

FAMili, apa kabar Anda malam ini? Semoga tetap sehat dan terus aktif berkarya. Seperti yang telah diumumkan FAM Indonesia sebelumnya, malam ini, diumumkan 11 Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Awalnya, FAM akan memilih 10 Nominator yang diunggulkan untuk meraih posisi Pemenang 1, 2 dan 3, namun dari seluruh naskah, ternyata ada 11 cerpen yang berpeluang menang. Maka, inilah nama penulis dan judul cerpen yang diunggulkan itu (nama diurut berdasarkan Abjad):

1.    Ade Ubaidil, Cilegon-Banten (Kisah Pemenggal Kepala)
2.    Ikhsan Hasbi, Banda Aceh (Bawal)
3.    Inung Setyami, Tarakan-Kalimantan Timur (Topeng Ireng)
4.    Irzen Hawer, Padangpanjang-Sumatera Barat (Ampek Sen)
5.    Ken Hanggara, Surabaya (Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang)
6.    Novaldi Herman, Pekanbaru-Riau (Tapung Tawar)
7.    Reddy Suzayzt, Yogyakarta (Lelaki yang Usai Mengembara)
8.    Siti Nurbanin,…

Pengumuman 40 Nominator Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Senin, 30 Juni 2014, Pukul 16.00 WIB

FAMili, apa kabar Anda di Bulan Suci ini? Semoga tetap sehat dan terus aktif berkarya. Seperti yang telah diumumkan FAM Indonesia sebelumnya, hari ini, Senin (30/6), FAM mengumumkan Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Dari 204 peserta yang mengirimkan cerpen terbaiknya, hari ini ditetapkan 85 Nominator yang berpeluang menjadi Sang Juara. Ke-85 Nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurut berdasarkan Abjad):

1.    Ade Ubaidil, Cilegon-Banten (Kisah Pemenggal Kepala)
2.    Anna Ilham, Malang-Jawa Timur (Selaksa Cinta Anak Negeri)
3.    Atriza Binti Umar, Malaysia (Insya’ Allah)
4.    D.A Akhyar, Banyuasin-Sumatera Selatan (Kedipan Mata Guruku; Menampung Uraian-Uraian Jawabku)
5.    Dedi Saeful Anwar, Cianjur-Jawa Barat (Impian yang Menguap Bersama Senja)
6.    Dhara Nurani, Semarang-Jawa Tengah (Malaikat Kecil Itu, Alex)
7.    Dinu Chan, Sleman-Yogyakarta (Sekerat Harapan untuk Abid)
8.  …

Pengumuman 85 Nominator Lomba Cipta Cerpen FAM Indonesia

Senin, 30 Juni 2014, Pukul 16.00 WIB

FAMili, apa kabar Anda di Bulan Suci ini? Semoga tetap sehat dan terus aktif berkarya. Seperti yang telah diumumkan FAM Indonesia sebelumnya, hari ini, Senin (30/6), FAM mengumumkan Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Dari 204 peserta yang mengirimkan cerpen terbaiknya, hari ini ditetapkan 85 Nominator yang berpeluang menjadi Sang Juara. Ke-85 Nominator tersebut adalah sebagai berikut (nama diurut berdasarkan Abjad):

1.    A. Rizka Syamsul Bahri, Makassar (Hari Ini, Esok dan Seterusnya)
2.    Ade Ubaidil, Cilegon-Banten (Kisah Pemenggal Kepala)
3.    Alfi Nur Saidah, Kediri-Jawa Timur (Singgasana Duniawi)
4.    Anna Ilham, Malang-Jawa Timur (Selaksa Cinta Anak Negeri)
5.    Anria Marini, Bekasi-Jawa Barat (Keringat)
6.    Apri Robingah, Kebumen-Jawa Tengah (Anugerah di Ujung Harapan)
7.    Ardy Nugraha, Lampung (Di Sini, Kami Saling Berpegang Tangan)
8.    Atriza Binti Umar, Malaysia (Insya’ Alla…

Ulasan Puisi "Kunamai Kau Pahlawan" Karya DA Akhyar (FAM Banyuasin-Sumsel)

Pahlawan memang tak selalu nampak keren, gagah, ganteng, cantik, dan segala sebutan dari wujud fisik yang bagus semata. Pahlawan itu jiwa yang suci dan mulia, yang terukir lewat tindakan berani dan rela berkorban. Puisi ini, selain mengajarkan kita untuk meraba pahlawan dari perwujudan fisik yang buruk, juga mengingatkan kita betapa benar pepatah yang melarang kita menilai segala sesuatu hanya dari luarnya saja.

Sayangnya, tak semua dari kita sadar. Kita bahkan lupa, wujud yang indah tak selamanya bertahan seperti itu, bisa lebur atau bahkan musnah. Sedangkan jiwa atau ruh yang bersemayam di dalamnya akan tetap sama, bahkan abadi. Ini poin penting tentang memaknai pahlawan. Maka, hendaklah kita menghargai pahlawan bukan hanya dengan menghormati wujud jasadnya, melainkan pula mewarisi nilai perjuangan dalam jiwa yang sekarang mulai banyak terkikis.

Sedikit koreksi ada pada penulisan kata "nafas" yang seharusnya "napas", serta "hafal" yang seharusnya "ha…