• Info Terkini

    Wednesday, July 9, 2014

    Ulasan Cerpen "Lili Ungu untuk Sarah" Karya Maryam Syarief (FAMili Bukittinggi)

    Cerpen ini bercerita tentang Randi dan Sarah yang menikah tapi tak pernah berada dalam satu kamar. Randi terpaksa menikahinya karena ingin membahagiakan kedua orangtuanya, padahal ia sendiri belum siap menikah. Ia juga tidak mencintai Sarah, wanita bercadar itu. Sementara, di sisi lain, Sarah justru berharap suatu saat pernikahannya dengan Randi berjalan sebagaimana mestinya. Ia tetap sabar menanti sampai sebulan lamanya.

    Sarah sering mendapat kiriman bunga lili ungu dari lelaki misterius, setiap kali Randi tak ada di rumah. Sayangnya, ia tak bisa terus-terusan menerima kiriman bunga kesukaannya itu, karena ia tahu tak pantas seorang wanita yang telah bersuami mendapat hadiah spesial dari lelaki yang bukan suaminya. Ditunggu-tunggu, tak pernah terkuak siapa pengirim bunga itu, sampai suatu waktu pembicaraan Randi dengan pembantu mereka membuka segalanya.

    Ternyata selama ini Randi memang tak menyukai Sarah dikarenakan cadar yang menutupi wajahnya. Ia tak tahu apakah wanita yang dinikahinya itu cantik atau buruk rupa. Tapi tak sekadar itu saja, ia belum siap karena masih harus menyelesaikan kuliah. Randi mencoba menguatkan hati dengan terus berdoa kepada-Nya. Selama ini, dialah yang mengirim bunga lili ungu itu untuk Sarah karena ingin menyenangkan hatinya sebagai sosok lain, bukan sebagai Randi. Karena mungkin ia tak tahu cara menyenangkan hati wanita yang sama sekali tak ia cintai.

    Di akhir cerita, semua misteri terbongkar. Pesan yang didapat pun kuat, yakni janganlah kita memandang sesuatu hanya dari bungkus luarnya saja. Lihatlah lebih dekat lewat hati, sebelum menilai sesuatu itu baik atau butuk untuk kita. Sayangnya, untuk ukuran sebuah cerpen, tulisan ini terlalu panjang. Dan di hampir setiap bagiannya terdapat banyak kesalahan dari segi penulisan/EYD.

    Kata-kata seperti "nafas", "karna", "diantara", disini", "mengawasi ku", "ku kira", "tau", "kearah", dan masih banyak lagi kesalahan penulisan kata yang bisa kita temukan dalam tulisan ini, sebaiknya ditulis menjadi: "napas", "karena", "di antara", "di sini", "mengawasiku", "kukira", "tahu", "ke arah". Sedikit catatan mengenai penggunaan kata depan "di-" sebagai kata keterangan tempat; penulisannya harus terpisah dengan kata yang mengikutinya, karena bila disatukan akan menjadi kata kerja pasif.

    Beberapa kata seperti "nggak", "aja", "gitu", "biarin", "nyariin", dan sejenisnya--yang bukan berasal dari bahasa Indonesia baku--sebaiknya diketik dengan huruf miring. Penulisan huruf depan pada nama, nama panggilan, dan sebutan bagi seseorang dalam cerpen ini seperti "sarah", "randi", "bi titi", "pak nardi", dan "anda", sebaiknya diawali dengan huruf kapital (huruf besar). Perhatikan pula fungsi semua tanda baca agar dalam setiap penulisan kesalahan dapat dikurangi.

    Tetap semangat dan terus belajar. Jangan henti menulis.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING FAM INDONESIA]

    Lili Ungu untuk Sarah
    Maryam Syarief IDFAM1975M

    Kring.. kring.. kring
    “Assalamu’alaikum Sarah…?”
    “Wa’alaikum salam umi..”
    “Bagaimana kabar kamu nak?”
    “Alhamdulillah mi.. baik”
    “gimana dengan suami kamu? Lagi ngapain?”
    “Insyaallah kakak sehat mi, sekarang kakak lagi keluar!”
    “kalian berdua hubungannya gimana?”
    “..nh..  baik kok mi, kakak orangnya baik sama sarah. Umi tenang aja, nggak usah mikirin sarah lagi, kan udah ada kakak yang ndampingin sarah. Umi jaga aja kesehatannya sama abi disana ya..!”
    “iya nak.. umi dan abi selalu mendoakan mu semoga hidupmu bahagia.. titip salam sama suami kamu kalau pulang nanti..”
    “Insyaallah mi..”
    “udah dulu ya nak, assalamu’alaikum..”
    “wa’alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh..”Telepon itu kembali diletakkan sarah diganggangnya.
    “non.. non sarah..”  dari halaman depan bik tati setengahberlari menuju ketempat sarah duduk.
    “ada apa bi..” Tanya sarah dengan sedikit penasaran.
    “ini loh non, ada bunga lili warna ungu lagi buat non sarah. Ada tulisannya juga non,” bi tati menjelaskan sambil menyerahkan kiriman bunga yang bertuliskan  TO : SARAH.
    “dari siapa bi..?” sarah bertanya dengan perasaan bingung.
    “bibi juga nggak tau non, tadi pak nardi yang ngasih ke bibi. Waktu bibi nanya sama pak nardi katanya, yang tukang ngantar bunga itu bilang dia nggak tau, trus dia cuma disuruh ngantarin aja non.”
    “ya udah.. makasih ya bi”
    “sama-sama non”  sambil berlalu menuju dapur.
    Sarah menatap dalam-dalam setangkai bunga lili berwarna ungu yang sangat menarik yang ia genggam. Dalam hati ia bertanya-tanya, “siapakah yang telah mengirim bunga lili ungu ini untuk ku?”. Ia pun berjalan mambawa bunga itu menuju kamarnya.
    Sarah mencoba menyusun satu persatu bunga yang dikirim untuknya ntah dari siapa. Ini adalah bunga kelima yang ia terima semenjak tujuh hari pernikahannya. Ia mencoba membuka lipatan kertas kecil yang berdampingan dengan bunga lili ungu itu. Ia membaca untaian kata yang tertulis rapi.. “cintaku padamu hariini bertambah seperti bunga ini.”  Tulisan itu membuat sarah semakin bingung, siapakah yang mencintai dirinya tanpa ia pernah mengenal laki-laki kecuali suaminya. Yang itu pun, berkenalan karena pernikahan antara mereka berdua. Sarah menutup kembali lipatan kertas itu, ia bergumam dalam hatinya “ini bukanlah bunga untukku, apa lagi tulisan-tulisan ini sungguh tak pantas jika kata-kata ini ditulis untuk diriku. Sekarang aku tidak sendiri lagi, aku sudah punya suami. Kalau kakak tau apa dia akan marah?  Ya Robbi.. kuatkan hamba-MU ini.” Sarah menghela nafasnya sambil melepaskan dirinya dari kumpulan bunga yang tak jelas siapa pengirimnya.
    Sarah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00 sore. Sebentar lagi ia harus kedapur masak buat makan malam nanti.
    “Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Adzan telah berkumandang, sarah pun berjalan menuju ruangan disudut kamarnya untuk mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
            Setelah melipat mukenah, sarah segera pergi keluar kamar menelusuri tiap-tiap jalur tangga yang ia lewati untuk menuju dapur. Sesampainya didapur, sarah segera memulai tugasnya sore ini yaitu memasak. Dengan membaca basmalah ia awali pekerjaannya, dan mulai mengiris,menghidupkan gas, dan menggoreng.
    “huh.. Alhamdulillah selesai juga..”tangannya mencoba menyapu tetesan keringat yang membasahi dahinya.
    Suatu tugas yang lumayan berat, tapi asyik bila dilakukan dengan ikhlas karna Allah. Itulah sarah, orang yang mampu mengatur waktunya hingga pekerjaan dapat selesai dengan lancar. Setelah merapikan dapur, ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah capek memasak.
          Waktu telah menunjukkan pukul 20.12 malam. Itu berarti sebentar lagi akan ada yang mengetuk pintu rumah yaitu kakak. Walau sebenarnya kuliahnya telah selesai sejak siang tadi, tapi itulah jadwal pulang yang biasa dilakukannya.
    “Brum… Brum…” itu dia suara motornya.
    Sarah membuka sedikit tirai jendela kamarnya untuk melihat keluar sana. Tampaklah seorang pria turun dari motornya dan masuk ke dalam rumah. Ia pun menutup tirai itu kembali.
    “apa kakak udah makan ya? Mudah-mudahan kakak mau makan masakan ku!” sarah sedikit merenung disamping meja. Begitu besar perhatiannya pada kakaknya, walau kakaknya tak begitu memperdulikan dirinya, tapi ia tak memikirkannya. Ia tetap sayang.
                                           * * *
       Randi masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung merebahkan badannya diatas tempat tidurnya. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. “sekarang aku tidak lagi seorang bujangan. Statusku kini telah berubah menjadi seorang suami. Aku sudah mempunyai istri, tak seperti dulu lagi yang bebas mau apa aja tanpa ada yang harus dipikirkan.”  Menulis kata-kata didalam hatinya.. mencoba mengkaji kehidupannya..
    “aku masih bingung, kenapa aku harus tinggal satu rumah tapi beda kamar dengan istriku? Robbi.. tunjuki aku apa arti semua ini, apa aku telah salah .. tapi aku tak bisa berbohong”  lirihnya.
    Ia mulai memejamkan matanya hingga terhanyut ke alam mimpinya.
                                     * * *
    Ia terduduk karena tersentak dari tidurnya. “Subhanallah.. aku bermimpi lagi bertemu dengan bidadari itu. Wajahnya bagaikan rembulan yang terang membuat mataku kaku terpana. Senyumannya indah, seindah bunga yang mekar merekah cerah. Matanya menatapku sepertiseorang kekasih bertemu dengan pujangga cintanya. Ingin rasanya aku memegang tangannya walau hanya berkenalan.” Randi tersenyum diatas tempat tidurnya .
    Ia masih membayangkan wajah indah bak bidadari yang baru saja hadir dialam mimpinya.
       Ia lihat jarum jam, yang masih menunjukkan pukul dua malam. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat menghadapkan wajah pada sang penguasa alam, penguasa cinta.
      Dengan penuh harap ia menegadahkan tangannya sambil berdo’a.
    “Ya Ilahi Robbi.. ampunilah hamba-Mu ini, begitu banyak kesalahan hamba. Sekarang aku sedang dudukbersimpuh dihadapan-Mu berharap akan petunjuk dari MU. Ini adalah yang kelima kalinya hamba bertemu dengan seorang bidadari didalam mimpi hamba. Ya Allah… hati hamba seakan terpaut kuat pada bidadari itu. Walau hanya mimpi, tapi hamba merasa itu semua nyata dan begitu dekat. Akankah Engkau temukan hamba dengannya. Engkaulah yang maha pemurah lagi kuasa, jika Engkau berkehendak maka semua akan terjadi.”
    Ia begitu khusyu’ dalam do’anya ditengah hembusan angin yang membuat malam makin larut dan membuai  insan yang sedang terlelap diatas tempat tidurnya. Matanya menangis penuh haru bermunajad pada Robb-nya. Ia meraih sebuah kitab yang berhiaskan khot dhiwani didepan sampul yang berwarna biru. Perlahan dibukanya halaman yang telah dibatasi dengan untaian tali-tali mungil. Terdengar suaranya mengalun lembut membaca setiap baris-baris kalam illahi. Air matanya jatuh menetes mengiringi senandung lantunan al-qur’an itu. Sambil menunggu waktu subuh, ia membaca buku diatas sofa.
                                                       *  * *
    Di lain tempat ternyata sarah juga sedang bermunajad kepada Robb nya. Suara isakan nya terdengar jelas ditengah heningnya malam. Ia sedang menegadahkan kedua tangannya berdo’a kepada sang Robb. Setelah selesai berdo’a, sarah mengambil sebuah Al-qur’an dan membuka lembaran-lembaran Al-qur’an tersebut tuk kemudian membacanya. Suaranya begitu merdu, menyejukkan hati yang mendengarkannya.
     Kini sepasang insan tengah bermunajat kepada Robb nya. Diruangan yang terpisah namun tak terlalu berbeda aksinya. Seperti telah bersepakat akan sama-sama bangun untuk sholat dan membaca kalamullah. Tapi itu semua tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu diantara mereka.
                                                         *  *  *
        Setelah sholat subuh Randi pergi mandi dan bersia-siap berangkat kuliah. Ia harus menyelesaikan study nya yang hanya tinggal 2 bulan lagi dan harus menyerahkan skripsinya.
       Dan Sarah juga mandi mempersiapkan diri untuk melakukan tugas-tugas yang telah menantikan kehadirannya kembali melakukan aktivitas harian nya.
      Setelah membersihkan rumah, Sarah duduk diberanda rumah. “ting..nong..” itu suara bel dari gerbang.
    Terlihat pak nardi sedang membuka pintu gerbang. Tampak tengah berbicara dengan seseorang. Tangannya meraih sesuatu, terlihat ia tersenyum simpul dan kembali menutup pintu. Ditangannya telah bertengger setangkai bunga.
    “itukan lili ungu, buat ku nggak ya?” Sarah sedikit terpenjarat, hatinya tengah bertanya-tanya.
    “Assalamu’alaikum non sarah” pak nardi berupaya menyapa tatapan sarah yang duduk seperti tengah melamun.
    “non.. non.. hallo non sarah” terlihat tangan pak nardi melambai-lambai menyadarkan lamunan sarah.
    “eh.. i.. iya ada apa pak?” sarah tersentak.
    “ngelamun ya non..? siang-siang kok ngelamun sih non”
    “ah .. nggak kok pak”
    “Nih non buat non”
    “Dari siapa pak bunga lili ini?”
    “Bapak juga nggak tau non. Tiap bapak tanya yang ngantar jawabnya, saya cuma disuruh ngantar pak, tanpa harus tahu dari siapa, kecuali untuk siapa” pak nardi berucap menirukan gaya sang pengantar bunga, mencoba menjelaskan pada sarah.
    “ya udah pak, besok kalau bunga ini datang lagi jangan diambil ya pak. Bilang saya nggak mau nerima bunga-bunga ini lagi, suruh yang ngantar bilang sama atasannya. Biar dikasih tau sama yang ngirim bunga ini ya pak. Masak ngirim sama orang yang udah punya suami, kalau kakak tau gimana?.”
    “baik non, insyaallah pesan non bapak sampaikan sama pengantar bunga ini besok. Kalau begitu bapak ke depan dulu non.”
    “oh.. iya pak terima kasih ya pak.”
    “sama-sama non” pak nardi kembali ke tempat ia bekerja tepatnya di dekat gerbang masuk.
    Sarah yang masih memegang setangkai bunga itu mencoba membuka perlahan kertas yang selalu ada terselip disamping bunga itu. Ia mencoba mengeja kata-kata bermutiara syair-syair indah yang ditulis untuk dirinya. “sarah sengajaku kirim bunga ini pada siang ini. Karna aku tau sekarang kamu duduk-duduk mungkin karna capek. Aku harap kamu senang.”
    “ kata-kata ini akan membuatku bahagia sekaligus senang apabila bunga ini kakak. Tapi aku jangan ngimpi deh..” sarah menggeleng-gelengkan kepalanya seperti meniadakan sesuatu.
    “huh..” desahan nafasnya mengalun lembut menyingsih jiwanya yang paling meriah. Dalam hati ia berucap “semoga ia tak lagi mengirimi bunga ini untuk ku.karna ini akan membuat aku sedih juga berharap. Sedih karna ini bukan dari orang yang ku inginkan. Berharap kalau-kalau orang itu adalah kakak, tapi itu hanya harapan”  ujarnya.
    Sarah kembali menyusun bunga lili ungu yang baru saja ia terima. Sarah meletakkannya diantara bunga-bunga yang serupa dengan bunga yang sebelumnya.
    “sampai kapankah aku harus menerima bunga dari orang misterius ini. Kata-katanya begitu terasa mengenal diriku dan selalu mengawasi ku. Padahal aku disini sendiri tanpa ada yang memandangi ku, karna aku berada di dalam ruangan atau pun rumah yang didalamnya hanya ada aku, bi tati dan pak nardi,itu pun hanya di pos satpam. Jadi siapa sih sebenarnya kamu wahai sang pengirim misterius” ia begitu serius menatap bunga-bunga itu dengan penuh penasaran.
         Esok harinya Sarah menanti kedatangan si pengantar bunga, berharap akan tau siapa yang telah mengirimnya bunga tanpa alfa setiap harinya dan tak lupa dengan kata-kata mutiaranya. Tak lama menunggu akhirnya bel gerbang pun berbunyi. Ia pun memberi kode pada pak nardi agar membuka pintu gerbang. Pak nardi mendorong pintu itu, pak nardi mulai menyapa orang ada dibalik gerbang itu dan memang ia adalah pengantar bunga. Pak nardi mencoba menjelaskan pada pengantar bunga kalau majikannya nggak mau menerima bunga-bunga ini lagi.
    “pak tolong terima bunga ini, kalau bunga ini nggak bapak terima nanti saya bisa dipecat karna bunga ini nggak diambil sama orang yang dituju. Tolong pak bilang pada majikan bapak, mohon bunga ini diterima saya mohon” sang pengantar meminta pada pak satpam.
     Sarah merasa kasihan, dan akhirnya menerima bunga itu lagi. Ia bawa bunga itu ke kamarnya, lalu ia membaca kertas kecil itu lagi *sarah engkaulah bunga cinta yang sangat tabah”
    “maksudnya apa sih..” sarah mendesis. “Ya Allah berikan aku petunjuk..”
    *  *  *
    “Brum... brum...” Itu suara motor Randi.
    “tumben jam segini aden udah pulang kan baru jam lima sore. Biasanya habis isya baru pulang” bi tati bertanya-tanya menyaksikan Randi masuk ke rumah.
    “lagi ngapain bi” sapa randi dengan senyuman.
    “ah aden nih, ya lagi berdiri sambil nengokin aden” jawab bi tati. Mata randi menerwang kearah kolam renang.
    “bi itu siapa?” tanyanya.
    “ah si aden lupa ya, itu non sarah den.”
    Diperhatikannya sarah yang seperti sedang melamun diatas lambaian buaian ditepi kolam.
    “lagi ngapain dia bi? Kok duduk disana kayaknya aneh gitu?”
    “ah.. aden non sarah kayaknya sedih mungkin, aden tengok aja kesana. Non sarah lagi nangis matanya berlinang air mata.”
    “masa’ sih bi?”
    “aden bibi boleh nggak ngomong sedikitaja sama aden?”
    “ya boleh bi, emangnya ada apa bi?”
    “emangnya kenapa sih aden sama non sarah? Udah satu bulan lebih aden sama non sarah menikah tapi kok masih janggal aja bibi nengok.”
    “janggal apanya bi?” tanya randi dengan heran.
    “den.. yang pertama kenapa kamarnya beda? Setau bibi yang namanya suami istri tinggalnya ya satu kamar, bahagia. Tapi bibi tengok ngomong atau ketemu aja nggak pernah bibi lihat tu! Emang ada apa toh den? Coba cerita sama bibi, siapa tau bibi bisa bantu.  Soalnya bibi juga udah perah ngelamin masa-masa ini den.”
    Randi terlihat sedikit menundukkan kepala, memikirkan sesuatuuntuk diucapkannya. “bi boleh saya cerita?”
    “ya boleh lah den.”
    “sebenarnya udah lama saya pendam ini semua bi, tanpa ada orang yang tau ceritanya.” Randi menarik nafas dalam-dalam membuka kata-kata dan menceritakan suatu kisah pada bi tati.
    “bi udah sebulan lebih saya nikah, tapi pernikahan itu seperti dipaksakan bi.” Randi sudah mulai menjelaskan kisahnya.
    “maksud aden apa?” tanya bi tati dengan penuh heran.
    “bi papa, mama menyuruh saya menikah. Padahal saya masih kuliah, Cuma tinggal beberapa bulan lagi, tapi demi mereka saya menerimanya bi. Menikah dengan wanita yang tidak saya kenal siapa dia, wajahnya semuanyalah bi.”
    “jadi aden nikah Cuma karna papa dan mama?.”
    “iya bi.. demi melihat mereka bahagia saya nurut aja.”
    “den.. tapi nggak harus mengorbankan perasaan orang lainkan den! Aden nggak pernah mikirin gimana perasaan non sarah. Selama sebulan hanya harus bersedih den, tanpa ia pernah mengeluh dan sebagai nya. Yang aden lakukan hanyalah diam-diaman tanpa ada penjelasan untuk non sarah supaya dia bisa paham. Dia punya perasaan den..!” bi tati mebcoba menjelaskan nya.
    Randi tertekun mendengar penjelasan bi tati yang membuat jiwanya terbuai. “tapi dia sepertinya paham bi, ketika saya tidur dikamar saya, dia nggak pernah nanya.”
    “diam bukan berarti nerima den.. bisa jadi non sarah nggak mau nanya karna malu. Dia nggak pernah kenalan trus main nanya-nanya aja, ya malu lah den. Apa harus pemikiran aden dan non sarah sama?. Den.. dari pada aden nyiksa non sarah seperti ini, lebih baik aden biari non sarah sedikit tenang. Dari pada hidup yang tak jelas arah himbauannya!”
       Dahinya semakin berkerut memikirkan kata-kata bi tati. Ia mencoba meresapi semua petuah bi tati. “lebih baik aden piker-pikir dulu, coba jelaskan sama non sarah dan cari jalan yang terbaik untuk aden, non sarah, papa dan mama. Kalau gitu bibi kebelakang dulu den..”
    “iya bi, makasih banyak ya bi”
    “sama-sama den”
     Randi kembali melihat sarah yang masih duduk berayun-ayun dibuaian itu. Ia berjalan menapaki tangga-tangga menuju ke kamarnya. “tre..k” pintu kamar ditutup randi. Ia duduk dimeja belajarnya, tangannya menopang kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Terngiang-ngiang dikepalanya kata-kata bi tati tadi yang ia dengarkan “lebih baik aden biarin non sendiri yaiti cerai, dari pada harus nyiksa jiwanya.”
    “memang aku nggak pernah memikirkan bagaimana perasaan sarah. Apa dia sanggup menjalani ini semua, tanpa ada penjelasan sedikit pun dariku.”
       Air matanya mengalir dipipinya “oh tidak..” ia menghapusnya, ia memasukkan kesedihan yang dialami adiknya sarah, yang harus selalu bermenung tanpa ada teman. “haruskah aku melihat dia stress karna egoku.”
                            *  *  *
         Seperti biasa pagi-pagi sekali randi berangkat ke kampusnya dengan mengendarai motornya.
         Pagi ini sarah duduk di depan jendela kamarnya yang terbuka sambil menghirup udara segar. Ia mencoba menarik nafas panjang dan mengeluarkan perlahan. Dia duduk didepan meja yang terdapat laptop diatasnya. Tangannya menyentuh sebuah buku dan pena.
    “dear.. diary..
    Aku sedih kalau harus selalu begini, hidup tanpa ada kepastian yang jelas. Semuanya seperti hampa, akankah mungkin aku kuat menghadapi nya hingga tua nanti.
    Robbi… beri jalan keluar untuk hamba-MU ini…
    Menikah bagi kebanyakan orang adalah suatu ajang yang membahagiakan, tapi bagiku adalah sesuatu yang menyiksa jiwaku. Hatiku hampa, perih demi ayah dan bunda aku menikah. Melihat bahagia aku pikir juga akan membuat ku bahagia, tapi semua palsu ternyata tanggung jawabnya sangat besar tak seremeh yang ku kira. Kini aku sedikit sengsara karna cinta. Cinta.. apa itu..? aku masih belum bisa berjumpa dengannya, belum bisa merasakan separuhnya dan mengetahui arti cinta itu sendiri.
    Haruskah aku melepaskan ikatan ini? Bagaimana hubungan ayah, bunda dengan papa, mama kak randi?
    Ya Robbi.. tunjukilah aku, dalam kebimbangan ini tak ada yang bisa aku lakukan selain berdo’a pada-MU. Aku yakin Engkau akan memberikan jalan keluar untuk ini semua, ku pasrahkan pada-MU.”
      Kini Sarah dan Randi tengah memikirkan perpisahankah yang terbaik untuk mereka. Ini membuat mereka bingung.
                            *  *  *
    tok.. tok.. tok“non sarah.. non” sarah segera membukakan pintu.
    “eh bibi, ada apa bi?”
    “non didepan ada laki-laki nyariin non sarah, katanya dia mau ketemu sama non. Trus dia juga suruh ngasihin ini buat non” bibi menyerahkan pemberian laki-laki yang ada didepan itu. Alangkah kagetnya sarah “inikan bunga lili ungu..”  yang biasa ia terima setiap harinya. Ini adalah kesempatan yang ia nanti-nantikan. Ia butuh penjelasan atas semua bunga dan tulisan-tulisan yang ia terima. Ia bergegas keluar kamar, turun berlari-lari sambil membawa semua bunga yang telah ia terima.
       Didepan rumah sarah melirik sana sini taka da siapa-siapa. Ia bingung, dicobanya memandangi tulisan yang ada pada bunga itu “aku ada ditaman samping rumah”  ia segera berlari menuju taman. Sesampainya di taman ia melihat sesosok pria yang membelakangi kehadirannya. Berjacket kulit biru, topi putih wajahnya tak terlihat. Sarah mulai menyapa laki-laki misterius itu.
    “maaf anda siapa dan mau apa?” suara sarah terdengar sedikit kaku. Laki-laki itu masih diam
    “permisi.. apa anda bisa mendengar?” sarah mengajukan pertanyaan kepada laki-laki itu.
    “untuk apa kamu tau..” laki-laki itu mulai membuka suaranya. Sarah menarik nafasnya, mengatur detak jantungnya yang berdenyut kencang. “maaf tuan, apa tuan yang mengirim bunga-bunga ini semua?”
    “ya.. benar”
    “a.. a.. apaa maksud anda atas semua ini? Bukankah anda tak mengenal saya?”
    “siapa bilang, saya sangat mengenal anda lebih dari apa yang anda tau!”
    “tidak.. anda jangan bohong, hati-hati anda kalau bicara. Saya bisa mengadukan anda sama kakak saya.”
    “apa anda berani jika saya suruh anda memanggil kakak sekarang juga.”
    “di.. dia..”
    “kenapa..? anda tidak akan bisa minta bantuan pada kakak anda.”
    “siapa anda sebenarnya? Apa maksud anda mengganggu saya? Apa salah saya?”
    “anda sangat bersalah..! karna anda telah membuat saya jatuh cinta pada anda!”
    “a.. apa itu tidak mungkin, bagaimana anda bisa tau dan kenal saya”
    “anda tidak perlu tau dari mana saya kenal anda. Saya tau bahwa anda dan suami anda tidak dalam keadaan baik. Lebih baik anda dengan saya saja.”
    “tidak.. anda jangan asal bicara. Hidup saya baiki-baik saja, anda jangan ikut campur urusan rumah tangga saya”
    “saya nggak pernah ikut campur, saya hanya ingin melihat anda tersenyum bahagia. Apa salah..?”
    “tapi anda bukan siapa-siapa saya, nggak sepantasnya anda bicara seperti itu?”
    “sarah.., apa kamu nggak sadar kalau suami kamu itu udah menyia-nyiakan kamu? Lebih baik kamu dengan ku saja, aku akan menyayangimu.”
    Air mata sarah telah mengalir dipipinya “nggak.. walaupun begitu aku tetap mencintai kakak”
    “mengapa kamu bisa mencintai dia dengan sikapnya yang tak peduli padamu? Apa dia juga akan mencintaimu nanti?”
    “ya.. cinta tak kenal siapa pun, waktu maupun keadaan. Cinta itu akan tumbuh dihati seseorang dengan sendirinya.”
    “apa yang membuat kamu mencintai dia?”
    “karna dia telah dipertemukan dengan ku dan cinta itu secara tak diketahui tumbuh tanpa ada syarat”
    “apa kamu nggak takut jika suami kamu tidak suka dengan penampilan kamu yang pakai cadar dan jilbab besar?”
    “nggak.. cinta tak pernah kenal pandang. Cinta bukan karna wajah atau penampilan, tapi ia adalah rasa dihati untuk saling menerima apa adanya.”
    “kenapa kamu sampai mau menikah dengan Randi?”
    “tak ada yang perlu tau. Maaf saya nggak bisa bicara dengan anda lama-lama. Ini bunga-bunga anda, terima kasih harap anda bawa kembali!” sarah membalikkan badannya ingin beranjak pergi dari situ.
    “tunggu..” suara itu membuat langkah sarah terhenti. Dia berdiri terpaku menunggu kata-kata yang akan dikeluarkan pria misterius itu. Pria itu membalikkan badannya, tapi sarah yang membelakanginya.
    “aku harap bunga ini kamu bawa lagi. Ini milikmu setiap hari aku kirim buat kamu dengan arti cintaku padamu. Setiap hari, setiap waktu bertambah dan sekarang cintaku telah bersemi sebanyak bunga ini. Dan sungguh sangat susah untuk membuangnya begitu saja.”
    Sarah tetap melanjutkan langkahnya. Laki-laki itu mengejar dan menggenggam tangannya kuat. Sarah langsung membalikkan badannya sambil melayangkan tamparan kewajah laki-laki-itu. “pla..k” tamparan itu mendarat dipipinya, tangannya tak juga melepaskan genggaman tangan sarah.
    Pria itu menghadapkan wajahnya setelah terpalingkan oleh tamparan dahsyat sarah yang merasa tidak pantas dipegang oleh orang yang bukan mahromnya. Sambil memegang  pipinya.
    Sarah masih meronta minta tangannya dilepas, tapi pria itu menatap matanya yang begitu indah. Dengan wajahnya yang tertutup oleh balutan cadar yang membuat dirinya bertambah anggun.
    Mata sarah tak mau mencoba menatap pria itu, ia sengaja merunduk untuk menghindar. Tapi tangan itu menarik dagunya keatas hingga wajahnya bisa menatap pria itu. Ketika matanya sampai diwajah pria itu ia mencoba membuang muka. Tapi sarah mengembalikan tatapannya kearah pria itu. Ia tatap dalam-dalam wajah itu wajah ini.. ini kakak, kak.. kak Randi.
    Air matanya menetes dipipinya dan ia tersenyum simpul pada sarah. Mata sarah mulai berkaca-kaca tangannya mencoba meraba wajah itu dan benar itu memang kak Randi. Tangan dan tubuhnya lemah, tak sanggup berbuat apa-apa. Ia menggeleng-geleng dengan ini semua.
    “nggak.. nggak mungkin” ucap sarah kaku.
    “mungkin sarah, ini aku.. Randi yang selama ini mengirimu bunga lili ungu. Karna aku tau kalau kamu menyukai lili ungu.”
    “hik... hik... hik...” isaka tangisan sarah mulai menghiasi suasana saat itu. Tangannya masih berada digenggaman Randi.
    “Sarah dirimulah yang mengajarkan aku kesabaran cinta. Aku sadar bahwa aku dan kamu diciptakan tuk bersama, untuk apa didustakan lagi, cinta itu akan selalu tumbuh. Sekarang aku sudah tau kalau kamu mencintaiku. Apa benar kamu mencintaiku?” Sarah hanya diam tak menjawab.
    Randi menarik sarah kedalam pelukannya, ia peluk sarah begitu erat. “sarah izinkanlah aku mencintaimu apa adanya.”  Sarah pun larut dalam pelukan Randi yang mengungkapkan cintanya.
                            *  *  *
    Dikamar, sarah kini telah berdua. Randi tidak lagi tidur dikamarnya, ia sekarang tidur bersama dengan sarah.
    Randi masih belum mengetahui bagaimana wajah sarah. Tapi ia tetap mencintainya dengan setulus hati.
    Ketika randi pulang dari kuliah membawa hasil ujiannya. Ia memanggil-manggil adiknya. “sarah.. sarah.. dek” ia membuka pintu kamar dan masuk.
    “subhanallah..” ia langsung bertasbih ketika melihat sesosok wanita yang ada di dalam kamar itu. Kertas yang ada ditangannya jatuh. Wanita itu hanya tersenyum manis dan mendekat padanya.
    “bi.. bida.. bidadari..”
    “kakak..” perempuan itu memanggilnya dengan sebutan kakak.
    “kamu siapa?” randi bertanya dengan nafas yang masih tak beraturan. Permpuan itu menyambut tangannya dan mencium tangannya dengan penuh hormat.
    “kakak ini sarah”
    “bukan.. kamu adalah bidadari yang selalu menghiasi mimpiku”
    “tapi ini benar-benar sarah kak..”
    Air matanya jatuh, ia peluk gadis itu dengan penuh cinta.
    “benarkah kamu istriku..? Betulkah ini sarah..?
    Sarah asal kamu tau, ternyata bidadari yang selalu menghiasi mimpiku adalah wajah kamu. Ya Allah.. terima kasih telah engkau anugerahkan aku seorang bidadari.”
    Sarah kini hidup dengan cinta yang makin tumbuh dihatinya dan Randi.

    Sumber ilustrasi: gambaralam.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Lili Ungu untuk Sarah" Karya Maryam Syarief (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top