• Info Terkini

    Friday, August 8, 2014

    Ulasan Cerpen "Kurindu Dia" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi)

    Putri adalah seorang wanita karir yang harus meninggalkan mimpi duniawinya karena sakit keras yang ia derita; tumor otak. Ia tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit. Beruntung, ia sadar Tuhan tidak meninggalkannya. Di tengah gejolak batin, Putri mendapat hidayah-Nya.

    Beberapa koreksi mengenai EYD dan penulisan. Kata-kata berikut ini: "orang tuaku", "akupun", "siapapun", "disini", "namaMu", "MerindukanMu", "namaMu", "dariNya", "Al-Qur'an", "satu-persatu", dan "solat", yang benar ditulis: "orangtuaku" (gabung), "aku pun" (terpisah), "siapa pun" (terpisah), "di sini" (terpisah), "nama-Mu" (perhatian tanda strip), "merindukan-Mu", "nama-Mu", "dari-Nya", "Alqur'an", "satu per satu", dan "salat".

    Sedikit catatan untuk penulisan partikel "pun". Kata-kata berikut ini adalah yang penulisannya wajib disatukan dengan "pun", yaitu: "andaipun:, "bagaimanapun", "kalaupun", "adapun", "meskipun", "walaupun", "kendatipun", "ataupun", "biarpun", "maupun", "sekalipun", dan "sungguhpun". Selain dua belas pengecualian ini—seperti "apa pun" atau "siapa pun" (yang di dalam cerpen ini penulisannya digabung) dan lain sebagainya—mesti terpisah.

    Perhatikan pula masing-masing fungsi tanda baca (di sini ada banyak kesalahan antara tanda titik dan koma). Penulisan kata panggilan untuk subyek (seperti "Nak", "Pak", "Bu", "Kakak", dan lain sebagainya--juga nama seseorang) harus diawali huruf kapital.

    Saran untuk penulis ke depan agar menggali kedalaman alur di cerpen Anda. Cerpen ini terasa kurang menggigit karena terlalu banyak konflik batin. Tidak ada salahnya sebenarnya, namun agar cerpen tidak terasa monoton, Tim FAM menyarankan: mungkin bisa saja kita tulis bagaimana tokoh Putri mulai merasakan penyakit itu menyerangnya, lalu ia berproses dari seorang yang tadinya mencintai kehidupan dunia menjadi tebal iman setelah sakit.

    Baik, tetap semangat dan jangan berhenti menulis!

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Kurindu Dia
    Oleh : Yessi Arsurya IDFAM2200M

    Jika saja aku masih punya secercah waktu, kan kuukir indah namaMu dalam relung hatiku.

    Jika saja aku cepat tersadar, betapa hausnya cinta yang selama ini kucari ternyata ada padaMu.

    Jika saja aku mengerti, Kau merindukanku dan akupun juga MerindukanMu, duhai Rabbi....

    Akral tubuhku masih hangat, tak sedingin sebelumnya. Pucat membiru, membuat orang-orang sekelilingku menjadi sedih. Tak pernah kusalahkan takdir ini, hanya saja aku tak sanggup harus melihat mereka, terutama orang tuaku yang masih tampak segar bugar itu sayu wajahnya. Sedih melihat kondisi anaknya yang kesakitan dan semakin kurus saja, nyaris meregang nyawa.

    Tak kukira akhir hayatku akan seperti ini, berlalu begitu singkat. Akankah aku meninggalkan segala yang telah kuusahakan selama ini? Aku masih muda dan cantik, pengusaha wanita termuda di kota Padang. Sedikit lagi aku nyaris mencapai ambisiku, menjadi direktur di perusahaan tekstil keluarga dan melebarkan sayap di beberapa daerah di Indonesia. Nyaris saja, kalau bukan karena penyakit yang datang tiba-tiba ini, barangkali aku sudah mencapainya.

    Ribuan pikiran aneh berkelebat dalam benakku, memaksaku untuk mengulang lagi roda waktu masa lalu. Bak lintasan cahaya, semua kenangan itu datang silih berganti, masih dalam tidur lelapku di ranjang rumah sakit, koma beberapa saat yang lalu.

    “Putri, haruskah kau menyerah  dengan penyakitmu? Bisakah kau merelakan hasil jerih payahmu selama ini tersia-siakan begitu saja?” Ah, lagi-lagi banyak pertanyaan yang berserakan dalam otakku. Memoriku mencuat semua. Aku bingung, tak tahu harus memulai dari mana. Apakah yang harus aku pikirkan saat ini? Tindakan apa yang harus aku ambil? Kepalaku pusing, sakit sekali.

    “Nak, usahlah kau pikirkan urusan kantor, istirahatlah nak, Mak lihat kau seperti sedang banyak pikiran,” Mak berkata pelan padaku, seolah mengerti dengan apa yang aku pikirkan.

    “Iya Mak, kepalaku pusing sekali, banyak hal yang aku ingat dan lebih banyak yang aku lupa, aku ingin mengingatnya, Mak.”

    “Jangan kau bebani pikiranmu nak, istirahat dan berdzikirlah, ingat Allah mudah-mudahan sakit kepalamu berkurang nak,”kata Mak sambil meneteskan air mata, kulihat mata Mak sembab.

    “Iya Mak, temani Putri disini Mak,”jawabku lemah.

    Kupejamkan mata, tetap saja tak bisa tidur. Kepalaku sakit seperti jutaan kilo batu menindihnya. Aku tak ingin membuat Mak khawatir dengan mengeluh, kutahan sekuat tenaga sakit ini. Tumor ganas di otakku ini seolah tak mau mengalah padaku, semakin hari semakin menjadi. Aku takut, suatu hari nanti aku tak dapat mengingat siapapun, termasuk Mak. “Ya Tuhan, jangan engkau ambil satu-satunya ingatanku akan Mak dan Ayah,”pintaku dalam hati sambil menangis tersedu-sedu. Aku ingat pesan Mak tadi, aku harus banyak berdzikir pada Tuhan.

    Kucoba berdzikir, berkali-kali, kuulang-ulang dan kurasakan kedamaian dalam jiwaku. Rasanya sudah lama sekali aku tak berdzikir seperti ini. Hatiku tentram, fokusku pada sakit di kepala sedikit demi sedikit terhilangkan dengan dzikir. Dalam lantunan kata tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, kutemukan kekuatan jiwa yang dahsyat. Tak bosan-bosannya kuulangi, semakin kuulang semakin menyejukkan, menjadi candu diriku. Tak lagi kudengar hiruk pikuk di sekeliling ruang rawat inapku. Ada apa ini? Apakah aku sudah berada di dunia lain?

    Lamat-lamat tampak sinar putih datang dari atas kepalaku. Kuhadapkan kepalaku ke atas, tak bisa, terlalu kaku untuk digerakkan. Hanya siluet bayangan yang tampak, kaligrafi. Kuamati satu-persatu, sulit bagiku untuk membacanya karena sudah lama sekali aku tak membaca tulisan arab. Kueja satu-persatu, ajaibnya itulah kalimat dzikir yang sering kubaca. Ya Allah, ya Tuhanku, dengan lirih suaraku bergetar. Terlalu kelu lidahku tuk menyebut namaMu. Semakin kusebut semakin kuat getaran jiwa ini, tak terasa air mataku mengalir deras. Aku merindukan Tuhanku, sangat merindukannya setelah selama ini aku berpaling cukup lama dariNya. “Ya Allah, apakah penyakit ini adalah bukti betapa Engkau sangat mengasihiku? Memberikan peringatan untukku yang selama ini terlena dengan dunia?”

    Terdengar pelan lantunan ayat Al-Qur’an, perlahan-lahan kesadaranku mulai kembali. Kubuka mata dan tampak Mak duduk di seberang kasurku, mengenakan mukena berwarna putih sambil membaca kitab peraknya. “Mak....,” panggilku pada Mak, entah kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan Mak. Tak ingin pisah jauh-jauh darinya.

    “Iya nak, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” jawab Mak sambil mengakhiri tilawahnya, meletakkan dengan rapi kitab peraknya di atas meja tepat di sebelah kanan ranjangku.

    “Mak, baru siap solat ya? Ajari aku tayamum Mak, aku juga ingin solat.”

    “Iya nak, Alhamdulillah, kau ingin solat nak? Ayo Mak bantu,” jawab Mak, kulihat kerutan bahagia di wajahnya. Aku ikut senang jika Mak senang. “Maafkan aku Mak, baru kali ini aku bisa solat setelah sekian lamanya,” batinku.

    Dalam gerakan solat dan bacaan yang tertatih-tatih kutemukan yang selama ini kucari. Dalam doa kupanjatkan syukur tak terhingga padaNya, memberikan cobaan yang berat bagiku. Akhirnya kutahu inilah kehidupan yang kucari, bukan dunia yang selama ini kukejar. Aku rindu bertemu dengan Rabbku suatu saat ini, dan ikhlas melepaskan semua hal yang kucintai selama ini, keluarga, perusahaan, dan sebagainya. Mudahkanlah aku ya Rabb, menggapai cintaMu. Aamiin. []
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Kurindu Dia" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top