Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Lomba Menulis Puisi Akrostik Berhadiah Novel Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh dan Rinai Kabut Singgalang

Dibuka: 1 Oktober 2014
Deadline: 5 November 2014
Pengumuman Pemenang: 15 November 2014

Salam literasi!

FAMili, apa kabar Anda hari ini? Semoga sehat dan terus aktif berkarya. Kali ini FAM mengundang keaktifan Anda kembali dalam event menulis berikutnya, yaitu: “Lomba Menulis Puisi Akrostik”. Ini adalah lomba bulanan di grup FAM Indonesia.

Anda pernah mendengar Puisi Akrostik? Untuk penulis pemula yang ingin belajar menulis puisi, kiat menulis Puisi Akrostik ini patut dicoba. Jika terus dilatih, kelak Anda akan mahir menulis puisi, bahkan berpeluang menjadi penyair hebat. Nah, lalu apa itu Puisi Akrostik?

Puisi Akrostik adalah puisi yang huruf-huruf pangkalnya bila dibaca dari atas ke bawah membentuk nama orang, terutama nama penulisnya. Tapi boleh juga nama orang lain, atau nama-nama yang Anda kenal, misal nama gunung, nama kota, nama jalan, nama gedung, dan lain sebagainya. Contoh Puisi Akrostik (Perhatikan Huruf Besar di Kata Pertama Setiap Baris Puisi):

NAJLA

Nanti, di suatu hari yang enta…

Buku Kisah Inspiratif “Cinta di Ujung Pena”

Judul: Cinta di Ujung Pena
Penulis: 42 Penulis
Kategori: Buku Inspirasi
ISBN: 978-602-7956-78-0
Terbit: September 2014
Tebal: 309 hal; 14 x 20 cm.
Harga: Rp45.000,- (di luar ongkos kirim)

KONTRIBUTOR:
Anna Ilham, Ahsani Taqwyma, Asri Hanifah Putri, Barlyan Teza, Brillian Eka Wahyudi, Bunga Solekha, Chania Widya, Dilla Rahmi, Dyah Istiani, Erny Ratnawati, Fransisca Christanti Tri Wulandari, Ghoffar Albab Ma’arif, Hevon Pheriantsih Janos, Ibnu Basyir, Ika Candra, Jajang Hidayat, Karmila Dewi, Khaerani Sakuntala Dewi, Lifya, Maisa Mawarda, Maryam Syarif, Muhajir Juli, Mulyanti, Mulyono Ardiansyah, Murni Katenni, Mutiara Sakha, Nenny Makmun, Nita, Novi Yanti, Rizky Ulil Amri Rusyda, Rohani, M.Pd.I, Roni Nugraha, Sadri Ondang Jaya, Srea, Suharto, Teti Wahyuni, Titin Rahmawati, Udik Lasmono, Vivi Gustia, Yessi Arsurya, Yoade Septiana Ayu Hanglevi, Yusrina Sri

***

Tulisan telah menjadi tempat berbagi-baik suka maupun duka. Dari kebiasaan yang tak disadari (atau mungkin disadari), para penulis buku in…

Ini Dia, Penulis Buku Kisah Inspiratif “Cinta di Ujung Pena”

1. Ahsani Taqwyma (Padang Pariaman)
2. Anna Ilham (Malang/Hongkong)
3. Asri Hanifah Putri (Jakarta)
4. Barlyan Teza (Tasikmalaya)
5. Brillian Eka Wahyudi (Jakarta)
6. Bunga Solekha (Magetan)
7. Chania Maulida Widyasari (Malang)
8. Dilla Rahmi (Bukittinggi)
9. Dyah Istiani (Cilacap)
10. Erny Ratnawati (Yogyakarta)
11. Fransisca Christanti Tri Wulandari (Yogyakarta)
12. Ghoffar Albab Maarif (Karanganyar)
13. Hevon Pheriantsih Janos (Bogor)
14. Ibnu Basyir (Pasuruan - Jawa Timur)
15. Ika Candra (Kuningan)
16. Jajang Hidayat (Purwokerto – Jawa Tengah)
17. Karmila Dewi (Makassar)
18. Khaerani Sakuntala Dewi (Jabar)
19. Lifya (Padang)
20. Maisa Mawarda (Asahan-Sumut)
21. Maryam Syarief (Sumbar)
22. Muhajir Juli (Aceh)
23. Mulyanti (Bengkulu)
24. Mulyono Ardiansyah (Medan)
25. Murni Katenni (Makassar)
26. Mutiara Sakha (Cilacap)
27. Nenny Makmun (Bogor)
28. Nita (Jakarta)
29. Novi Yanti (Jambi)
30. Ryzki Ulil Amri Rusyda (Riau)
31. Rohani, M.Pd.I (Jateng)
32. Roni Nugraha (Cimahi)
33. Sadri Ondang Jaya (Aceh)
34. Srea (Band…

Ulasan Cerpen "Meredam Dendam" Karya Palla-La (FAMili Kabupaten Agam)

Seorang anak menaruh dendam pada ayah kandungnya, sebab setahu dia, sejak dia kecil sang ayah sudah pergi meninggalkannya. Dia dirawat oleh ibu kandungnya yang kemudian menikah dengan lelaki baik-baik. Anak itu bahagia, sebab bapak tirinya sangat menyayanginya, menganggapnya seperti anak sendiri.

Waktu berlalu, setelah dewasa, ia dipaksa menikah oleh bapaknya. Ia tak terima dan pergi ke tempat jauh tanpa kembali selama bertahun-tahun. Setelah meraih sukses di tanah rantau, dan setelah menikah dengan wanita yang ia cintai, ia akhirnya luluh dan memutuskan pulang ke kampung halaman.

Sayang, takdir berkata lain. Ternyata ibu kandung dan bapak tiri yang dulu sangat baik padanya itu kini telah meninggal. Ia menyesal terlambat pulang dan hanya bisa berdoa. Namun, kebencian kepada ayah kandungnya belum berkurang, sampai datang seorang wanita tua yang kemudian dia ketahui sebagai istri kedua sang ayah. Dari situ ia tahu, bahwa ayah kandungnya tidak seburuk yang ia pikirkan selama ini.

Cerpen ini…

Bagaimana Cara Menulis Esai yang Baik?

Assalamualaikum. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ke Tim FAM Indonesia, yaitu:

1. Bagaimana cara menulis esai yang baik?
2. Apakah esai berbeda dengan artikel? Kalau iya bisa dijelaskan apa bedanya.
3. Apa saja yang harus disiapkan untuk menulis esai?

Terima kasih atas perhatian dan kesempatan yang diberikan. Saya tunggu balasannya ya admin.

Salam aktif.
YESSI
IDFAM 2200M, Bukittinggi

Jawaban Tim FAM indonesia:

Waalaikumussalam, Yessi. Pertanyaan tersebut dapat kami jawab sebagai berikut:

1. Menulis esai yang baik adalah dengan banyak-banyak membaca esai karya orang lain. Dengan membaca itu, Anda akan memahami bagaimana gaya tulisan beragam penulis esai. Di mana bisa mendapatkan sumber bacaan itu? Banyak sekali, terutama di surat kabar, majalah, buku, maupun di situs-situs online. Nah, setelah paham bagaimana para penulis itu menulis esai mereka, coba belajar menulis esai sendiri. Tentu tidak satu-dua esai saja, sebanyak-banyaknya, agar Anda mahir menulis dan kelak akan paham sendiri …

Kopdar ke-1 FAM Bukittinggi, “Silaturahim Literasi dari Bukittinggi ke Padangpanjang”

Laporan: Palla-La (Aulia Rahman, Bukittinggi)

Kopdar atau kopi darat. Sebuah istilah yang tak asing lagi di telinga masyarakat. Minggu (28/9/2014), anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang berdomisili di Kota Bukittinggi dan sekitarnya mengadakan pertemuan, atau yang lebih dikenal dengan istilah kopdar.

Kopdar ini diadakan di Lapangan Kantin Bukittinggi pada pukul 10.00 WIB.  Adapun tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturahim sesama anggota FAM yang berdomisili di Bukittinggi dan sekitarnya. Selama ini, perkenalan dan interaksi antaranggota FAM Bukittinggi hanya berkembang di dunia maya, sehingga timbullah keinginan untuk mewujudkannya di dunia nyata. Tak hanya saling mengenal, tujuan lain dari acara ini adalah untuk menambah ilmu dan wawasan tentang kepenulisan, serta saling memotivasi.

Dari Lapangan Kantin, acara dilanjutkan ke kediaman Bunda Lili Asnita, Guru SMAN 4 Bukittinggi, yang juga merupakan anggota FAM Indonesia. Beliau telah menetaskan banyak karya, di antaran…

Pengumuman Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Bertema Kearifan Lokal

Penerimaan Naskah: 1 Oktober 2014
Deadline: 31 Oktober 2014
Pengumuman Pemenang: 10 November 2014


Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, menjelang akhir tahun 2014, kembali menggelar Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional. Kali ini bertema “Kearifan Lokal” yang ada di daerah Anda.

Apa saja kearifan lokal itu? Tentu Anda yang tahu. Silakan melihat, mengamati, bertanya kepada tetua-tetua setempat, lakukan riset, maupun membaca sumber/referensi terkait. Tentu saja, setiap kearifan lokal memiliki nilai-nilai budaya luhur, dijaga dan dipelihara, serta mempunyai jejak historis yang berurat-berakar di hati masyarakat.

Nah, tunggu apa lagi, tulis cerpen terbaik Anda dan kirim segera.

Apa saja syarat mengikuti lomba ini? Simak sejumlah ketentuan berikut:

1. Peserta terbuka untuk umum, baik pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan lainnya.

2. Lomba tanpa pungutan biaya apa pun dari peserta alias GRATIS.

3. Naskah harus asli (original), belum pernah dipublikasikan, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak …

Pustakawan Perpusnas RI Rilis Buku “Glosarium Istilah Perpustakaan”

Jakarta (FAMNews) – Pustakawan Perpustakaan Nasional RI, Suharyanto, merilis buku terbarunya berjudul “Glosarium Istilah Perpustakaan”. Buku yang diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, itu terbit September 2014.

Suharyanto yang pernah meraih predikat pustakawan berprestasi peringkat pertama di Tingkat Nasional tahun 2012 itu menyebutkan, buku karyanya itu ia rilis mengingat buku-buku terkait ilmu perpustakaan terutama mengenai glosarium dan sejenisnya di Indonesia bisa dikatakan masih belum banyak.

“Buku glosarium ilmu perpustakaan ini berisi istilah-istilah tentang perpustakaan dan  bidang lain yang terkait seperti arsip, dokumentasi, dan informasi. Buku-buku sejenis masih langka,” ujar Suharyanto, Ahad (28/9).

Dia mengungapkan, buku tersebut dimaksudkan sebagai buku pegangan atau rujukan bagi pustakawan, mahasiswa, pengajar, dan praktisi di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, serta dapat digunakan oleh kalangan umum sebagai buku referens…

Ini Dia, Nama Penulis Antologi Cerpen “Mayat dalam Lumbung”

“Mayat dalam Lumbung” adalah antologi cerita pendek (cerpen) pilihan Pemenang dan Nominator Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Lomba itu diikuti 500-an lebih peserta. Dan inilah penulis-penulis cerpen terbaik itu.

1. Ade Ubaidil, Cilegon (Banten)
2. Anna Ilham, Malang (Jawa Timur)
3. Atriza Binti Umar (Malaysia)
4. D.A Akhyar (Banyuasin, Sumatera Selatan)
5. Dedi Saeful Anwar (Cianjur, Jawa Barat)
6. Dhara Nurani (Semarang, Jawa Tengah)
7. Dinu Chan (Sleman, Yogyakarta)
8. Eliza Aldani (Padang Pariaman, Sumatera Barat)
9. Fadhilatul Hasnah (Padang, Sumatera Barat)
10. Farihatun Nafiah (Jombang, Jawa Timur)
11. Hamdi Alfansuri (Pekanbaru, Riau)
12. Ikhsan Hasbi (Banda Aceh)
13. Indah RZ (Tasikmalaya, Jawa Barat)
14. Intan Lestari (Cirebon, Jawa Barat)
15. Inung Setyami (Tarakan, Kalimantan Timur)
16. Irzen Hawer (Padangpanjang, Sumatera Barat)
17. Istiqomah (Bangkalan, Madura)
18. K. Himawan Kunarto (Magetan, Jawa Timur)
19. Ken Hangga…

Merah yang Bukan Kirmizi

Oleh: Anton Kurnia (Majalah Tempo, 10 Februari 2014)

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Salah satu jalan pintas adalah menyerap kata-kata asing. Kata “kirmizi” untuk judul terjemahan novel Pamuk ini diserap dari bahasa Arab…

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…

Kata, Frasa, Klausa, dan Kalimat

Keempat istilah yang menjadi judul tulisan ini sering membingungkan orang yang belum sempat mempelajari linguistik: termasuk saya. Definisi yang diperoleh pada KBBI seperti yang tercantum di bawah ini pun tidak menolong menyembuhkan kebingungan tersebut.

“Kata” adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri.

“Frasa” adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif.

“Klausa” adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.

“Kalimat” adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Jadi apa bedanya?

Dari definisi yang diberikan, terlihat bahwa urutan satuan tersebut, dari yang terkecil sampai yang terbesar, adalah (1) kata, (2) frasa, (3) klausa, dan (4) kalimat. Agar lebih jelas, ada baiknya kita bedah suatu contoh seperti di bawah ini:

“Pejabat itu pernah mengatakan bahwa Indonesia dapa…

Apa Itu Kata Penghubung (Konjungsi)?

A. Pengertian Kata Penghubung

Kata penghubung disebut juga konjungsi atau kata sambung, yang berarti kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Hasan Alwi, dkk., 2003: 296). Dalam pengertian lainnya, konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Harimurti, 2007: 102).

B. Jenis-jenis Kata Penghubung

Dilihat dari fungsinya dapat dibedakan dua macam kata penghubung sebagai berikut:

(1) Kata penghubung yang menghubungkan kata, klausa, atau kalimat yang kedudukannya setara. Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang:

(a) menggabungkan biasa, yaitu “dan, dengan, serta”.
(b) menggabungkan memilih, yaitu “atau”.
(c) menggabungkan mempertentangkan, yaitu “tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya”.
(d) menggabungkan membetulkan, yaitu “melainkan, hanya”.
(e) menggabungkan meneg…

Ii Gustiawan: “Keluarga Adalah Motivasi Terbesar”

Nama adalah hal yang terindah diberikan oleh orangtua atas kelahiran anaknya, dan nama yang terindah itu diberikan orangtua kepada saya sebagai putrinya. Tepat pada tanggal 13 Agustus 1992, hari Selasa, di Koto Tuo Kabupaten Agam-Bukitinggi, nama Ii Gustiawan dilekatkan kepada saya. Nama kecil saya iie.

Ayah saya bernama Nazwar dan Ibu Endri Suniati. Saya memiliki  nenek satu-satunya yaitu Nenek yang paling kusayangi (Zubaidar). Saya anak kedua dari enam bersaudara. Seorang kakak laki-laki yang begitu menyayangi keluarga, rela melakukan apa pun yang terbaik bagi keluarganya, seorang kakak yang begitu peduli bagi adik-adiknya, dan tulang punggung keluarga bagi kami. Ia adalah pahlawan kehidupan bagi keluarga (Andi Gustiawan), adik-adik yang kusayangi yang mampu menghapus duka menjadi canda dan tawa, si cerdas (Redha Wanti), yang penyayang tetapi keras (Anisa Rahmi), manis tetapi pemarah (Yaya Permata Sari), dan si sulung yang cengeng pahlawan kecil (Fahrul Kurniawan). Mereka semua adala…

18 Penulis Bercerita Tentang Proses Kreatif Mereka

1.    Azwan (Solok)
2.    Brillian Eka Wahyudi (Jakarta Barat)
3.    D.A Akhyar (Palembang)
4.    Denni Meilizon (Padang)
5.    Deny Nofriansyah (Lubuklinggau)
6.    Dilla Rahmi (Padang)
7.    Hasan (Gowa)
8.    Herman Suryadi (Bengkulu)
9.    Heru Santoso WN (Ponorogo)
10.    Irja Nasrulloh (Kairo)
11.    Melly Wati (Jakarta)
12.    Noevil Delta (Surabaya)
13.    Ratna Dewi Barri (Lampung)
14.    Refdinal Castera (Padang)
15.    Suharto (Depok)
16.    Sulaiman Juned (Padangpanjang)
17.    Win Ansar (Padangpanjang)
18.    Yuyun Ambarwanto (Wonogiri)

***

Pertanyaan yang sering menjadi momok banyak penulis adalah, “sebenarnya untuk apa saya menulis?” Jawabannya tentu beragam. Ada yang bersungguh-sungguh, ada yang sekadar bermain, ada pula yang ikut-ikutan sehingga semangatnya naik-turun.

Tetapi itu lumrah, dialami banyak orang, dan yang benar-benar mewujudkan dirinya sebagai penulis sungguhan adalah yang istiqamah di dunia kepenulisan. Dan, itu jumlahnya sangat terbatas.

Nah, di posisi manakah Anda berada?

Piagam Pemenang Lomba Menulis Pantun 2014

Sejak tanggal 13  Agustus 2014 hingga 13 September 2014, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia menggelar Lomba Menulis Pantun “Bebas Kreatif”. Pemenang telah diumumkan pada tanggal 20 September 2014. Sebanyak 163 peserta ikut mengirimkan pantun terbaik mereka.

Apa itu Pantun? Mengutip laman Wikipedia, Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.

Pantun berasal dari kata “patuntun”, dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai “parikan”, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai “paparikan”, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai “umpasa”.

Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).

Terima kasih atas partisipasi seluruh peserta lomba ini. Silakan ikuti event FAM Indonesia lainnya. Salam aktif! (*)

Bagaimana cara menerbitkan buk…

Jadi Penulis karena ‘Bosan’ Hidup Susah

Oleh Muhammad Subhan
Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

MENJADI orang susah itu susah. Semuanya serba susah. Mau apa saja susah. Hidup pun penuh kesusahan. Saking susahnya, orang yang melihat pun ikut susah. Karena tidak ingin menambah daftar orang susah, saya memutuskan menjadi penulis.

“Kok bisa?” tanya sebagian orang yang dulu mencap keluarga saya sebagai orang susah. Saya pun menjawab, “harus bisa”. Sebab, tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini jika didorong semangat dan motivasi. Bukan dari orangtua maupun orang lain, tapi harus dari diri sendiri.

Sejak kecil saya punya impian ingin mengelilingi dunia. Maka, menjadi wartawan adalah pilihan hidup ketika pertama kali saya merantau ke Ranah Minang. Meski saya tahu, dunia wartawan bukanlah dunia yang dapat mewujudkan secara cepat impian saya. Berbagai tantangan berbuah kesusahan sudah pasti saya hadapi. Bahkan, ibu kandung saya awalnya ‘tidak merestui’ saya menjadi wartawan. Dalam benak ibu saya, menjadi wartawan artiny…

Mikroskop Sosial

Judul: Mikroskop Sosial
Penulis: Zeni Eka Putri
Kategori: Buku Sosial
ISBN: 978-602-7956-78-1
Terbit: Juli 2014
Tebal: 124 hal; 14 x 21 cm.
Harga: Rp45.000,- (di luar ongkir)

***

Bagaimana jejaring social memengaruhi kehidupan kita?

Kenapa pemasangan label peringatan seram pada papan iklan rokok tidak akan efektif?

Kenapa tren berhijab tiba-tiba bisa ada di Indonesia?

Haruskah kita sebagai mahasiswa berdemo untuk memerangi kasus korupsi?

Ini merupakan beberapa pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan di buku ini. Terdapat 22 tulisan dalam buku ini yang menelaah berbagai kejadian dengan menggunakan bahasa yang “renyah” dan “ringan”. Pada beberapa tulisan diselingi dengan analisa menggunakan teori-teori sosiologi.

“Mikroskop Sosial” merupakan sebuah buku yang “serius tapi santai”. Mencoba melihat fenomena di sekitar kita lebih dekat.

Membawa kita pada suatu pemikiran kritis dengan sudut pandang berbeda.

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Ken Hanggara (Surabaya): “Seabrek Prestasi Menulis dan Berhasil Menangkan ASEAN Young Writer Award 2014”

Ken Hanggara (ID FAM 801M). Nama aslinya Erlangga Setiawan. Lahir di Sidoarjo pada 21 Juni 1991, penulis asal Surabaya. Kini karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel/essai, dan review tersebar dalam puluhan buku antologi, surat kabar, dan blog pribadi. Buku tunggalnya yang terbit: Dermaga Batu (kumpulan puisi, FAM Publishing, 2013), Jalan Setapak Aisyah (kumpulan cerpen kaum marginal, FAM Publishing, 2013), Minus Menangis (kumpulan cerpen sisi kelam Indonesia, FAM Publishing, 2014), dan Matahari yang Setia (novel, Zettu, 2014—segera terbit).

Akhir tahun 2007, ia sudah menulis banyak puisi, namun hanya sebagai koleksi pribadi saja. Barulah pada tahun 2010 ia mulai serius menulis novel, walau pada akhirnya gagal. Hidup sebagai perantau di Jakarta dengan kondisi serba terbatas, membuatnya harus rela jalan kaki sejauh hampir satu kilo hanya untuk mengetik tulisan di warnet.

Akhir tahun 2010 ia menyerah dan berpikir bahwa dia tidak akan bisa menjadi penulis karena berbagai hal—di sampin…