• Info Terkini

    Saturday, September 6, 2014

    Anomali, “Kegelisahan” dalam Ketidakberdayaan

    Oleh Aliya Nurlela
    Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
       
    YUDHA PRIMA yang memiliki nama asli Yudha Hari Wardhana, lahir di Surabaya pada 15 Februari 1982. Aktivitas sehari-harinya sebagai tenaga pengajar di sebuah lembaga pendidikan ternama di ‘Kota Literasi’ itu. Sejak Ramadan 2012, ia tercatat sebagai anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Setahun kemudian, ia mendapat amanah sebagai Ketua Cabang FAM Surabaya. Di bawah kepemimpinannya, FAM Surabaya telah mengadakan sedikitnya 20 kali pertemuan bulanan secara rutin, selain beberapa kegiatan sastra yang melibatkan khalayak umum. FAM Surabaya juga telah beberapa kali menggagas penerbitan buku antologi dan penanganannya terbilang sukses.

    Sejak bergabung menjadi anggota FAM Indonesia, sejumlah karya Yudha Prima diterbitkan bersama sejumlah penulis di beberapa judul buku antologi terbitan FAM Publishing—Divisi Penerbitan FAMIndonesia—, sekaligus profilnya tercatat di buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 1”. Berbagai prestasi di bidang kepenulisan pernah diraihnya, dan pada akhir 2013, FAM Indonesia menobatkan dirinya sebagai salah seorang peraih FAM Award yang merupakan penghargaan bagi para anggota aktif dan memiliki loyalitas yang baik di FAM Indonesia.

    Saya bertemu Yudha Prima pertama kali dalam perayaan Milad ke-1 FAM Indonesia Maret 2012 di Pare, Kediri. Buku tunggal pertamanya yang kemudian diberi judul “Anomali” saat itu belum terbit, baru semacam konsep dan rencana-rencana yang disampaikannya kepada saya. Namun, sekilas dari konsep penulisan buku cerpen ini, saya dapat menangkap tema apa yang akan diolah lelaki berkacamata ini. Saya kira sebuah tema yang sangat kontras dengan kebiasaan dari penulisnya yang senang mengkritisi berbagai hal, termasuk ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Beragam ketimpangan itulah yang ia kutip-pungut lalu bermetamorfosis menjadi kumpulan cerpen yang enak dibaca.

    Mengupas Anomali

    Anomali, kata ini mungkin belum terlalu akrab di telinga masyarakat. Pengertian anomali berdasarkan KBBI; Ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan. Sederhananya, anomali diartikan sebagai ketidaknormalan/penyimpangan.

    Judul ini berhasil membuat penasaran. Ketidaknormalan atau penyimpangan seperti apa yang disuguhkan penulis dalam cerpen-cerpennya? Apakah bercerita tentang cinta sesama jenis (memiliki kelainan) atau hanya sebentuk bahasa kiasan yang sengaja disuguhkan penulis untuk memantik rasa penasaran pembaca?

    Jika Anda menduga cerpen-cerpen di dalam buku ini membahas tentang kisah cinta dengan berbagai bentuk penyimpangannya, Anda patut kecewa. Kenapa? Anda tidak akan menemukan kisah cinta romantis yang mendayu-dayu, ‘unyu-unyu’ dan mengharu biru—seperti kata penulisnya. Tak ada satu cerpen pun yang membahas soal cinta romantis, apalagi yang menyangkut penyimpangan-penyimpangan dalam kisah cinta itu. Penulisnya sendiri mengakui di dalam prolog, bahwa dia bukan seorang pecinta ulung yang mampu melahirkan kisah mengharu-biru seperti sinetron di layar kaca.

    Tema cinta memang selalu digemari. Sebuah karya fiksi (terutama novel) dalam satu atau beberapa bagiannya akan lebih menarik jika diselipkan tema tersebut. Namun lain halnya dengan penulisan buku cerpen “Anomali” ini, penulis secara terang-terangan tidak menampilkan tema cinta (antar lawan jenis) sama sekali. Penulisan buku ini berangkat dari uneg-uneg yang ada dalam diri penulis atas berbagai kesemrawutan di sekelilingnya. Kegelisahan, kegeraman, dan harapan mendamba keadilan mewarnai tema sejumlah cerpen di buku ini. Ada ketidakberdayaan atas berbagai ketimpangan yang disaksikan, hingga hanya bisa memendam kesal, menyanyi sumbang sambil menertawakan ketidaklucuan demi ketidaklucuan. Tertawa sambil menangis.

    Cerpen “Setengah Tiang” yang menjadi pembuka dalam buku ini, akan memacu adrenalin pembaca dan membuat syaraf-syaraf menegang. Penulis langsung menyuguhkan sebuah cerita dengan tokoh “aku”. Aku yang gelisah, resah, emosi dan meledak-ledak. Aku yang menemukan kejenuhan demi kejenuhan. Berselancar di dunia maya yang menjenuhkan. Melihat berita yang membosankan. Aku yang bermaksud mencari inspirasi, namun lagi-lagi menemukan kristalisasi rasa sebal bercampur sinis dan skeptis. Kita bisa membaca ucapan tokoh “Aku” yang begitu meledak-ledak mengomentari anomali yang terjadi.

    “Huffff! Soal korupsi uang nasabah bank belum beres, sekarang muncul lagi masalah baru. Mafia pajak, miliaran rupiah uang pajak tidak masuk di kas negara. Hebaaaattt!! Dibela-belain bayarnya antri jam-jaman, telat sehari saja kena denda, eh duitnya cuma buat ngenyangin perut pejabatnya doang.”

    Kegelisahan atas berbagai bentuk ketidakadilan juga disuarakan penulis dalam cerpen-cerpen lainnya, seperti “Peradilan Sakaratul Maut” dan “Politisi Bukanlah Merpati.” Masih dengan gaya bahasa yang  “meledak-ledak” penulis menumpahkan suara hatinya untuk para pengadil yang tidak memberi keadilan, terutama pada rakyat kecil yang terjerat kasus. Penulis menganalogikan dengan para pejabat yang terkena kasus korupsi dan kejahatan-kejahatan berat lainnya, tapi mendapat hukuman ringan bahkan bebas tanpa syarat.

    Kegelisahan melihat anomali dalam ujian nasional juga menjadi tema yang diangkat dalam beberapa cerpen di buku ini. “Malaikat Juga Bingung, Tiara” dalam cerpen ini penulis menyuarakan keprihatinannya atas praktik-pratik contek massal alias bocoran soal-soal UNAS termasuk jawabannya, yang menjadi keprihatinan tersendiri bagi tokoh aku sebagai pendidik. Segala daya upaya dikerahkan tokoh aku demi menyelamatkan anak didiknya dari segala bentuk ketidakjujuran. Namun apa daya, praktik-pratik ini terjadi secara massal dan diamini para pendidik lainnya yang berprofesi sama dengan tokoh aku. Penulis menyesalkan pelajaran moral yang diajarkan di sekolah, tapi tidak diterapkan. Setiap momen ujian nasional, “belajar yess, istighosah yess dan bocoran juga yess.” Tokoh aku bingung menerjemahkan berbagai anomali yang terjadi dan mengirim pesan pada anak didiknya yang bernama Tiara, “kamu bingung Tiara? Aku juga bingung. Bahkan mungkin malaikat juga bingung, Tiara.”

    Ketegangan pembaca tidak berhenti sampai di situ. Dalam cerpen “Izinkan Aku Melakukannya!”, pembaca akan disuguhi cerita yang lebih menegangkan. Rangkaian kalimat pertama membuat kita penasaran, apa maunya? Penulis mengawali dengan kalimat, “Aku frustasi. Aku hopeless. Aku letih. Aku kalap.” Lalu disusul dengan kalimat, “Belum puas, aku pun mengambil sebilah belati. Ingin kuamputasi kedua tanganku dan kucongkel otak serta nurani yang menjadi sarang bersemayamnya rasa peduliku.” Tegang, penasaran dan terkesiap. Itu mungkin reaksi pertama saat membaca rangkaian kalimat di atas.

    Namun di balik cerpen-cerpennya yang terkesan serius, butuh pemikiran, menohok kesadaran, ada satu cerpen yang mengajak pembaca untuk sedikit menertawakan ketidaklucuan. Dalam salah satu cerpennya, penulis bermain analogi dan kiasan. Tentang kisah sebuah stadion tua di negeri Bugil (Buener-buener Gila) yang bertabur istilah-istilah plesetan. Seperti Menkodok (Menteri Koordinator Ekonomi), Mensekarat (Menteri Sekretaris dan Surat-menyurat), Menkorak (Menteri Koordinator Kesejahteraan Kita), dan lainnya. Dalam cerpen ini, pembaca diajak ber”ha-ha-hi-hi” dan sedikit melenturkan urat syaraf setelah ketegangan di cerpen-cerpen sebelumnya. Ada sense of humor yang disuguhkan penulis.

    Buku cerpen ini ditutup apik dengan cerpen “Kepada Aku di Alam Kubur”. Sebuah cerpen yang seolah menegaskan kepayahan dari kegelisahan tokoh yang tidak menemukan jawaban atas berbagai masalah dalam cerpen-cerpen sebelumnya. Sepucuk surat untuk Aku di dalam kubur sengaja menyentuh kesadaran dan mengajak pembaca merenungkan berbagai anomali yang terjadi. Baik-buruk dalam perjalanan hidup akan tertoreh catatan yang harus dipertanggungjawabkan di kemudian hari.

    Semua keresahan, kegelisahan, kegeraman hanyalah sebentuk suara hati penulis atas ketidakberdayaan melihat berbagai ketimpangan di negeri ini. Penulis sangat jelas berharap timbulnya keadilan, kejujuran dan perbaikan di segala bidang. Melalui “Anomali”lah, Yudha Prima mengungkapkan uneg-unegnya. Seperti apa pun tema dan gaya bahasa yang diangkat oleh penulis dalam buku ini, karya ini telah lahir ke hadapan pembaca. Pembacalah yang menjadi hakim atas karya yang telah lahir. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Anomali, “Kegelisahan” dalam Ketidakberdayaan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top