• Info Terkini

    Sunday, September 21, 2014

    Azwan (Solok): “Guru yang Hobi Menulis”

    AZWAN
    Azwan lahir di Tanjung Alai, 26 Oktober 1955. Saat ini berdomisili di Jorong Data, Nagari Tanjung Alai, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Propinsi Sumatera Barat.

    Pendidikan formal dilaluinya di SD No. 1 Tanjung Alai (tamat tahun 1969), SMPN Sulit Air (tamat tahun 1972), SPGN Solok (tamat tahun 1975), dan UT Program D II PGSD (tamat tahun 2000).

    Sejumlah pekerjaan dan jabatan yang telah dilaluinya, di antaranya: diangkat menjadi guru PNS pertama kali di SDN Kayu Aro, Air Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti tahun 1977. Tahun 1980 pindah jadi guru SD No. 2 Tanjung Alai. Tahun 1989 diangkat menjadi Kepala SD No. 2 Tanjung Alai. Tahun 1997 pindah menjadi Kepala SDN 04 Tanjung Alai. Tahun 2003 diberhentikan dari jabatan Kepala Sekolah karena telah melebihi masa jabatan yang ditentukan dan menjadi guru SDN 04 Tanjung Alai hingga sekarang. 

    Ia memiliki moto hidup “Majudikh (Mau, Jujur, Disiplin dan Ikhlas) kunci keberhasilan.”

    Keinginan untuk menulis berasal dari kesukaannya membaca buku sejak kecil. Sejak pandai membaca, ia sangat suka membaca. Hampir semua buku yang ada di sekolah saat itu telah dibaca. Pernah guru dan teman menggelarinya ‘kutu buku’.

    Selain itu ia senang mendengar pembacaan puisi. Puisi yang sering didengar melalui radio BBC berbahasa Indonesia. Radio pada masa itu baginya di desa terpencil, merupakan satu-satunya media massa yang dapat dinikmati.

    Dari membaca dan menyimak puisi itu timbul keinginan untuk menulis. Namun sebagai seorang murid sekolah dasar, bahkan sampai SMP tidak tahu bagaimana cara menulis yang baik, apalagi cara mempublikasikan tulisan.

    Waktu kelas 1 SMP pernah mencoba mengirimkan puisi ke BBC. Itu merupakan pengiriman tulisan yang pertama. Namun entah sampai dibacakan atau tidak, itu pun tidak jelas.

    Sewaktu belajar di SPG Solok, ia enggan mencatat pelajaran yang dicatatkan guru. Melainkan meminjam buku catatan teman dan membuat ringkasannya untuk catatan sendiri. Materi yang diringkas itu dilengkapi dengan ringkasan buku lain yang terkait. Mulanya guru marah melihat ia tidak pernah mencatat. Namun, waktu diadakan pemeriksaan buku catatan, malahan mendapat pujian dari guru yang bersangkutan dan kepala sekolah.

    Setelah diangkat menjadi guru, ia mulai membuat rangkuman materi pelajaran yang akan diajarkan. Mulanya hanya materi pelajaran yang diajarkan sendiri. Di setiap kelas ia mengajar, ia selalu membuat rangkuman untuk setiap mata pelajaran. Rangkuman-rangkuman itu diperbaiki setiap tahun.

    Ketika menggantikan kepala sekolah dan setelah diangkat menjadi kepala sekolah, dalam mendampingi kelompok kerja guru (KKG), ia selalu menganjurkan teman-teman guru untuk menulis rangkuman pelajaran. Sehingga sebagian teman yang tidak suka menggelari saya “Bapak Rangkuman”.

    Waktu itu timbul keinginan untuk menerbitkan buku bahan ajar atau buku pelajaran. Keinginannya tersebut juga digunakan untuk mengajak teman-temannya menulis rangkuman pelajaran atau bahan ajar. Saat itu, untuk mengajak teman menulis dan menerbitkannya, ia pernah mengungkapkan bahwa ia mengajak ini, sama dengan mengajak anak gadis lari. Kalau dia tidak mau, saya sendiri akan lari juga.

    Waktu itu ia masih memangku jabatan kepala sekolah. Maklum, kepala SD yang tidak punya tenaga tata usaha, semua tugas dilakukannya sendiri. Kesibukan itu membuat sedikit sekali waktu luang untuk menulis. Oleh sebab itu ia bernazar, kalau ia berhenti dari kepala sekolah, ia akan puasa satu hari. Setelah keluar peraturan tentang masa jabatan kepala sekolah, ia diberhentikan dari jabatan tersebut dan kembali menjadi guru kelas setelah memangku jabatan tersebut selama 14 tahun.

    Setelah kembali menjadi guru, keinginan untuk menerbitkan buku pelajaran kembali menguat. Akhirnya ia berkenalan dengan Drs. Weitlem, guru Bahasa Indonesia SMP. Dia sudah pernah menulis buku pelajaran IPS. Kepadanya ia perlihatkan draf buku IPS kelas VI SD yang ia tulis. Weitlem merespon dengan baik dan memotivasi dirinya.

    Weitlem memperkenalkan dirinya dengan Drs. Ali Dasni, pemilik Penerbit Jaya Bangsa di Padang. Beliau pun merespon dengan baik. Namun beliau meminta dia untuk menulis buku palajaran mulai dari kelas IV. Sesuai dengan kurikulum waktu itu, yaitu kurikulum KBK, materi IPS kelas IV tentang daerah kabupaten/kota dan provinsi setempat. Hal itu merupakan peluang yang baik, sebab tidak ada buku yang khusus memuat daerah Solok dan Sumatera Barat.

    Maka usahanya untuk menulis mulai melangkah maju. Tahun 2003 ia berhenti dari jabatan Kepala Sekolah. Tahun 2004 keluar kurikulum KBK. Tahun 2005 bukunya yang pertama berjudul Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial (PKPS) untuk kelas IV SD diterbitkan oleh Penerbit Jaya Bangsa Padang. Tahun 2006 keluar kurikulum KTSP. Tahun 2007 kembali penerbit yang sama menerbitkan bukunya berjudul “Ilmu Pengetahuan Sosial Solok dan Sumatera Barat. Tahun 2008 IPS tersebut dicatak ulang dan diterbitkan pula Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Solok, Sumatera Barat.

    Buku tersebut mendapat respon yang baik dari Bupati Solok dan Kepala Dinas Pendidikan. Pemerintah daerah itu memprakarsai bedah buku dan seminar tentang buku tersebut. Setelah cetak ulang secara resmi diluncurkan oleh Bupati Solok pada tanggal 02 Mei 2011 pada upacara Hardiknas tingkat kabupaten.

    Tahun 2012 atas kerja sama dengan penerbit lama, selanjutnya buku Azwan diterbitkan oleh penerbit Bandung Sains & Teknologi Jakarta. Terbitan ini terdiri dari buku IPS dan PKn untuk kelas IV dan V. Untuk kelas I, II, III dan VI belum sempat diterbitkan, kurikulum kini berubah.

    Buku lain yang pernah diterbitkan antara lain buku cerita rakyat “Angku Pulai” dan “Angku Padang Data”, diterbitkan oleh Penerbit Kristal Multimedia Bukittinggi. Selain itu ada beberapa buku yang sudah siap dan belum sempat diterbitkan.

    Ia menulis hanya bermodalkan kemauan. Pembekalan yang pernah diikuti hanya Pendidikan Karya Tulis Ilmiah tingkat A1,  yang diadakan oleh YP2NI Wilayah Sumatera Barat 1992 di Sumani, Solok. Pendidikan juga bukan jurusan Bahasa Indonesia. Namun setelah menulis baru mengikuti kegiatan-kegiatan tentang kepenulisan. Itu pun tidak seberapa. Juga beberapa kali berusaha membentuk organisasi penulis, untuk mengajak teman menulis, namun selalu patah di tengah. Oleh sebab itu ia menyadari kecilnya dirinya dalam hal kepenulisan ini walaupun dalam usia sudah tua.    

    Sementara itu, sejumlah organisasi pernah ia ikutinya, di antaranya OSIS SPG Solok sebagai Ketua tahun 1975. Yayasan Pembangunan Tanjung Alai (YAPTA), sebagai Sekretaris tahun 1985-1998, dan Yayasan Pesantren Kejuruan Ummatan Wasthon  (PKUW) sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan 1994 -2001 dan Bidang Keuangan tahun 1994-1996. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Azwan (Solok): “Guru yang Hobi Menulis” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top