• Info Terkini

    Friday, September 19, 2014

    Ini Dia, Profil Tim FAM Indonesia

    LOGO FAM INDONESIA
    Banyak yang bertanya, siapa saja Tim FAM Indonesia? Organisasi kepenulisan Nasional sebesar ini dengan ribuan anggotanya rasanya mustahil digerakkan oleh satu-dua orang saja. Pasti banyak orang yang bekerja “di dapur” FAM Indonesia sehingga berbagai kegiatannya berjalan dengan baik dan selalu update di dunia maya.

    Sejak berdiri di Pare, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 2 Maret 2012, FAM Indonesia memproklamirkan dirinya sebagai wadah kepenulisan Nasional yang bertekad membina dengan hati calon penulis Islami—sesuai motto yang diusungnya. Target FAM Indonesia adalah menumbuhkan semangat membaca buku dan menulis di kalangan generasi muda Indonesia dan membinanya lewat wadah kepenulisan ini. Tentu bukan hanya di dunia maya, tetapi benar-benar hadir di dunia nyata.

    FAM Indonesia resmi memiliki Akta Notaris Pendirian Organisasi dengan Nomor Akta 01 tertanggal 29-09-2012 yang dibuat di hadapan Notaris Setyawardhana, S.H., M.Kn, yang beralamat di Jalan Lawu, No. 16 Pare, Kediri. Legalitas ini sangat penting untuk memudahkan segala urusan FAM Indonesia, di samping komitmen FAM sebagai organisasi yang taat aturan dan taat hukum di Negara Republik Indonesia.

    FAM Indonesia memiliki banyak Tim yang terlibat memenej jalannya roda wadah kepenulisan ini. Mulai dari Tim profesional yang mengulas seluruh karya anggota, editor naskah buku-buku yang diterbitkan FAM Publishing, admin yang mengurusi email, facebook, manejemen keuangan, FAM-Preneurship hingga Tim Promosi/Marketing. FAM juga mengangkat calon-calon ketua cabang di beberapa kota yang merupakan kader-kader terbaik FAM Indonesia.

    Inilah dia, Profil Tim FAM Indonesia:

    1. Muhammad Subhan

    MUHAMMAD SUBHAN
    Lahir di Medan, 3 Desember 1980. Berdarah Aceh-Minang. Mendirikan wadah kepenulisan Nasional FAM Indonesia bersama Aliya Nurlela yang saat ini diamanahkan sebagai Sekjen FAM Indonesia. Lebih 12 tahun ia menjadi wartawan di banyak media, di antaranya Harian Mimbar Minang, Harian Serambi Minang, Harian Haluan (Padang), dan majalah Islam Sabili (Jakarta).

    Novelnya yang telah terbit berjudul Rinai Kabut Singgalang (Rahima Intermedia, Yogyakarta, 2011). Novel remaja Cinta Regu Badak yang ditulisnya segera terbit di FAM Publishing, begitu juga dua buku tunggal kumpulan cerpennya. Selain itu, ia menulis cerpen dan puisi di koran-koran lokal dan Nasional. Beberapa karyanya terkumpul dalam antologi bersama, di antaranya Lautan Sajadah (Puisi, Kuflet Publishing, 2009), Ponari for President (Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Puisi, e-Sastra Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Puisi, Apsas Jogja, 2009), Kado untuk Jepang (Flash Fiction, 2011), Menyirat Cinta Haqiqi (Puisi, Malaysia, 2012), Fesbuk (Cerpen, LeutikaPrio, 2012). Bersama wartawan senior Sumatera Barat Hasril Chaniago dan Ekoyanche Edrie ia menulis buku Kredit Mikro Nagari (2009) yang membawanya mengunjungi sejumlah kota di Tanah Air untuk meneliti perkembangan ekonomi mikro masyarakat rural.

    Sejumlah penghargaan jurnalistik sempat diraihnya, di antaranya Liputan Perburuhan (AJI, 2009) dan wartawan penulis buku dari PWI Sumatera Barat (2010)—Piagam Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua PWI Pusat. Ia sering diundang tampil sebagai pembicara di banyak event seminar, workshop, pelatihan jurnalistik/kepenulisan baik lokal dan nasional. Pada Maret 2012, ia ikut memenej Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya yang dipusatkan di Padang dan mengundang 300 sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand.

    Selama lebih 4 tahun ia “studi” sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail Sumatera Barat, sekaligus bertindak menjadi instruktur sanggar sastra siswa Rumah Puisi. Ia mendapat banyak ilmu dan pengalaman berharga dari “pengabdiannya” itu. Sekarang, bersama FAM Indonesia, ia terjun ke sekolah-sekolah baik di kota dan di pelosok desa membina generasi muda untuk mencintai membaca buku dan menulis karangan. Sebab, katanya, dengan dua hal inilah (membaca buku dan menulis) bangsa-bangsa besar di dunia maju dan berkembang.

    2. Aliya Nurlela

    ALIYA NURLELA
    Lahir di Ciamis Jawa Barat pada tanggal 02 Juni 1975. Suka menulis sejak kecil dan rutin mengirimkan tulisan ke media lokal ketika masih duduk di bangku MTs. Pada saat SMA, ia sering menulis cerpen, puisi, naskah drama dan mencipta lagu.

    Di usia remaja, Aliya Nurlela pernah aktif dalam komunitas seni peran dan mendapat bimbingan dari seniman yang sekaligus sastrawan Sunda. Aktif dalam berbagai bidang seni dan menekuni alat musik modern maupun tradisional. Pernah menjadi vokalis dalam salah satu kelompok musik yang ada di daerahnya. Kelas tiga SMA, ia memutuskan berjilbab dan berhenti dari semua kegiatan seni.

    Setelah itu, Aliya Nurlela aktif dalam kegiatan dakwah kampus dan mendapat amanah menjadi ketua bidang kemuslimahan (dua kali berturut-turut) selama dua tahun. Aktif mengisi kajian keislaman di beberapa kampus, mengisi seminar keputrian, mengelola buletin muslimah, membina kreatifitas muslimah dan menjadi delegasi kegiatan-kegiatan kemuslimahan dan keislaman antar kampus.

    Pada tanggal 2 Maret 2012, Aliya Nurlela mendirikan wadah kepenulisan nasional bersama jurnalis & novelis Muhammad Subhan.Wadah tersebut bernama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Dalam beberapa bulan wadah tersebut sudah memiliki anggota dari berbagai daerah di nusantara dan di beberapa negara seperti Hongkong, Malaysia, Mesir, Taiwan, Saudi dan Jerman. Saat ini, FAM sudah memiliki divisi penerbitan yaitu Penerbit FAM Publishing dan divisi usaha yaitu FAM Preuneurship.Wadah ini juga telah menggelar beberapa event lomba_termasuk event lomba tingkat nasional_dan memiliki lebih dari 10 cabang di beberapa kota.

    Buku-bukunya yang sudah terbit, Buku nonfiksi; Sedekah Kunci Pembuka Pintu Rezeki (Lukita, Jogja 2010), 100 % Insya Allah Sembuh (Lukita, Jogja 2011). Buku cerpen; Fesbuk (Leutikaprio, Jogja 2012), Flamboyan Senja (FAM Publishing, Kediri 2013), Fesbuk edisi revisi (FAM Publishing 2013), Antologi Cerpen Jembatan Merah (FAM Publishing, Kediri 2013), Antologi Semangkuk Kata Cinta (FAM Publishing, Kediri 2013), Antologi Cerpen Love My Heart (Pustaka Jingga, 2013). Novel Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh (FAM Publishing, Kediri 2014) dan buku Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 1 (FAM Publishing, 2014). Beberapa buku lainnya; baik fiksi maupun nonfiksi sedang dalam proses terbit.

    Aliya Nurlela (bersama keluarga) sekarang berdomisili di dua kota; Malang dan Kediri. Sehari-hari aktif membina Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia,  telah memberikan endorsement untuk puluhan buku, memberikan puluhan penghargaan untuk event menulis baik tingkat lokal maupun nasional dan profil serta kisah inspiratifnya diterbitkan sejumlah media, diantaranya; kompas.com, majalah Kartini, portal netsains.net dll.

    Pesannya kepada generasi muda Indonesia, “berkaryalah! Sebelum  kehilangan semua; kehilangan kesempatan, kesehatan dan usia.”

    3. Yudha Hari Wardhana

    YUDHA PRIMA
    Yudha Hari Wardhana, lebih dikenal dengan nama facebooknya Yudha Prima. Lahir di Surabaya 15 Februari 1982. Ia menjalani hidup berpindah-pindah, mulai di Cepu sejak balita hingga kelas 4 SD, kemudian lanjut ke Madiun hingga lulus SMA, hingga akhirnya kembali ke Surabaya hingga saat ini.

    Aktivitas sehari-harinya sebagai tenaga pengajar di sebuah lembaga pendidikan ternama di ‘Kota Literasi’ itu. Sejak Ramadan 2012, ia tercatat sebagai anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Setahun kemudian, ia mendapat amanah sebagai Ketua Cabang FAM Surabaya. Di bawah kepemimpinannya, FAM Surabaya telah mengadakan sedikitnya 20 kali pertemuan bulanan secara rutin, selain beberapa kegiatan sastra yang melibatkan khalayak umum. FAM Surabaya juga telah beberapa kali menggagas penerbitan buku antologi dan penanganannya terbilang sukses.

    Sejak bergabung menjadi anggota FAM Indonesia, sejumlah karya Yudha Prima diterbitkan bersama sejumlah penulis di beberapa judul buku antologi terbitan FAM Publishing—Divisi Penerbitan FAMIndonesia—, sekaligus profilnya tercatat di buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 1”. Berbagai prestasi di bidang kepenulisan pernah diraihnya, dan pada akhir 2013, FAM Indonesia menobatkan dirinya sebagai salah seorang peraih FAM Award yang merupakan penghargaan bagi para anggota aktif dan memiliki loyalitas yang baik di FAM Indonesia.

    “Tidak ada yang istimewa. Seperti hamba Allah lainnya, saya dilahirkan ke muka bumi ini untuk menjalani proses pendewasaan hingga bisa diharapkan dapat menemukan arti hidup sesungguhnya. Sebagai upaya menemukan arti hidup itulah, saya memilih dunia penulisan dan juga pendidikan sebagai lahan perjuangan saya,” ujarnya.

    “Di sini saya bukanlah yang terhebat. Saya hanya ingin berkontribusi bersama FAMili  untuk mencerahkan dunia dengan tulisan saya,” tutupnya.

    4. Efri S. Bahri

    EFRI S BAHRI
    Efri Syamsul Bahri., SE., Ak., M.Si lahir di Kota Padang Sumatera Barat pada tanggal 29 September 1973. Memperoleh pendidikan formal di SD 01 Ikur Koto, SMP 13 Padang. Melanjutkan studi di SMA 1 Pekanbaru sampai kelas 2. Kelas 3 dilanjutkan ke SMA 8 Padang. Setelah mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPTN) Tahun 1992 ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas pada Jurusan Akuntansi.

    Semasa kuliah Efri S. Bahri aktif di Lembaga Kemahasiswaan. Berbagai amanah yang beliau emban antara lain: Ketua Himpunan Mahasiwa Jurusan Akuntansi, Sekretaris Forum Studi Islam, Unit Kegiatan Mahasiwa Penerbitan Kampus, Unit Kegiatan Mahasiwa Kerohanian Islam, dll. Di luar kampus Efri S. Bahri juga aktif menjadi Bendahara Umum dan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) Cabang Padang (1996/1997). Efri S. Bahri juga berkecimpung di BKPRMI sebagai Direktur LPPSDM DPW BKPRMI Sumbar.

    Dalam rangka meningkatkan kapasitas intelektualitasnya, Efri S. Bahri bersama para mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Kota Padang juga aktif melakukan kajian ke-Islaman dan Humaniora melalui wadah Pusat Studi Lingkar Kabisat. Setelah menamatkan kuliah, beliau aktif di Yayasan Kabisat yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan penanganan bencana.

    Tahun 2002 Efri S. Bahri bergabung dengan Dompet Dhuafa Republika. Tahun 2004 beliau bersama para Relawan mendirikan Yayasan Aksi Cepat Tanggap dan terakhir diamanahkan sebagai Direktur Program. Tahun 2007 mendirikan Yayasam Mitra Peduli Indonesia yang bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat. Sejak tahun 2011 sampai sekarang, Efri S. Bahri mendapatkan amanah menjadi Tenaga Ahli di DPR RI. Saat ini beliau juga berkiprah sebagai Dosen STEI SEBI, membina SMK Mitra Indonesia yang merupakan sekolah wirausaha bagi anak-anak petani serta mendirikan SDIT Cahaya Hati di Padang Pariaman Sumatera Barat.

    Dalam rangka mengembangkan bakat menulisnya, ia bergabung dalam wadah Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dengan mengantongi IDFAM 1157U dan diamanahkan menjadi Koordinator FAM Wilayah Jabodetabek. Karya tulis beliau tersebar dalam bentuk artikel di berbagai media cetak, online dan jurnal ilmiah. Buku yang sudah diterbitkan antara lain: Hari-Hari Mahasiswa: Kiprah dan Agenda Pergerakan Mahasiswa (2003, 2013), Pemberdayaan Masyarakat: Konsep dan Aplikasi (2012), Zakat dan Pembangunan Sosial (2012). Dapat dihubungi lewat e-mail: efrisb@gmail.com, website: www.efrisbahri.com.

    5. Refdinal Muzan

    REFDINAL MUZAL
    Lahir di Padang 15 Mei 1966, merupakan anak ke 8 dari 10 bersaudara. Berawal dari sebuah Lomba Baca Puisi Pelajar Sumatera Barat yang diadakan sanggar “Pasamayan” pimpinan Muhammad Ibrahim Ilyas, yang kebetulan langsung menjadi finalis dalam lomba tersebut hingga kecintaanya pada puisi makin mendalam. Tiap ajang lomba baca puisi selalu dia ikuti, hingga sempat memperoleh beberapa gelar juara. Sepertinya arus puisi mulai menjalar di denyut nadinya. Membaca dan mendalami karya-karya penyair besar seperti Rendra, Taufiq Ismail dan Sutardji Coulzom Bahri seakan telah menempatkan satu dunia baginya. Dunia di mana kedalaman hati dan pengindraan manusiawi semakin terasah tiap mendalami makna dalam puisi. Apalagi ketika mendalami makna dalam Alquran yang sudah merupakan Maha puisi dari Sang Maha Pemberi.

    Sejak pertama diangkatnya sebagai PNS/ Guru SMP di Pasaman tahun 1991, kegiatan sastranya mulai sedikit redup,namun masih mencoba melatih dan mengenalkan puisi kepada siswa-siswanya untuk penampilan beberapa acara sekolah. Tiga tahun berselang, dia pindah mengajar di suatu daerah di kaki gunung Merapi, yaitu di SMP N 1 Sungai pua hingga saat sekarang. Pernah menjadi Juara 3 Lomba baca puisi antar lingkungan Dinas Pendidikan dan kebudayaan di Payakumbuh, menjadi juara pertama lomba baca puisi tingkat umum di Hotel Grand Malindo, Juara pertama " Puisi November 2011" oleh komunitas seni INTRO, Payakumbuh dan beberapa ajang lomba lainnya. Juga aktif mengisi acara puisi di stasiun BiTV, Bukittinggi.

    Sejak memiliki akun facebook kecintaannya pada dunia puisi dan sastra makin tersalurkan.Terbukti dengan hampir setiap harinya menulis dan mempostingkan puisi-puisi karyanya di akun tersebut. Sesuai perkembangan dalam dunia maya itu dia banyak bertemu kawan-kawan sehobi seluruh Indonesia bahkan dunia dan bergabung dalam grup-grup puisi. Dalam satu kesepakatan grup "Derita dan Dendam Terlarang" bersama 25 orang yang dinamakan " 25 Penyair Muda Nusantara" dia berhasil menerbitkan Antologi puisi pertamannya dengan judul "Traktat Cinta dan Dosa dalam Dendam". Hingga saat ini ada beberapa puisinya yang tercantum dalam beberapa  antologi lainnya seperti "Antologi Serumpun Kata Hati, Spiritual Jouney, Bilingual  English and Indonesian Poetry, Deru Awang-Awang (Wahana jaya Abadi, 2012), Talenta Para Pengukir Tinta Emas (Penerbit Awang-Awang, 2012), Antologi Carta Farfalla (Tuas Media,2012), Antologi Puisi Déjà vu Rindu (Letika Prio, 2013) Antologi Puisi Tembang Cinta Kamboja (Sembilan Mutiara Publishing,2012), Antologi Puisi Bukittinggi Ambo di Siko (FAM Publishing, 2013 ) dan kumpulan puisi tunggal perdananya Mozaik Matahari (Penerbit FAM Publishing, 2012).

    6. Nuryaman Emil Hamzah

    NURYAMAN EMIL HAMZAH
    Lahir di Ciamis Jawa Barat. Terlahir dari keluarga yang memiliki hobi membaca dan mempunyai perpustakaan pribadi di rumah. Sejak kecil ia  suka membaca. Mengikuti kegiatan jurnalistik saat kuliah dan beberapa artikelnya berhasil dipublikasikan di majalah lokal Jawa Barat. Kiprah kepenulisannya lebih banyak dituangkan sebagai pengelola Buletin Dakwah salah satu yayasan Pendidikan Islam.

    Beberapa karyanya tergabung dalam buku antologi FAM Indonesia. Beberapa naskah bukunya sedang dipersiapkan untuk diterbitkan masih dalam proses penyusunan, seperti: Teknik Recovery Data, Merakit dan Memperbaiki Komputer, Panduan Praktis EYD, Puisi-Hikayat dan Ibarat, Menggali Ide Membangun Kreativitas.

    Keahliannya dalam bidang komputer, mendorongnya membuat softmenu FAM Indonesia dengan fungsi dan tujuan: 1) Tersedianya software khusus yang memudahkan para anggota dan calon anggota untuk mengetahui dan mengakses hal-hal yang berhubungan dengan FAM Indonesia. 2) Tersedianya software yang memudahkan para anggota untuk mengakses hal-hal yang berhubungan dengan kepenulisan. 3) Tersedianya software yang memudahkan anggota FAM Indonesia untuk mempresentasikan FAM Indonesia kepada calon anggota. 4) Memudahkan para calon anggota untuk mengetahui seluk-beluk FAM Indonesia sehingga memudahkan mereka untuk bergabung menjadi anggota.

    7. Dito Anurogo

    DITO ANUROGO
    Ia adalah seorang dokter yang hobi filateli-numismatik, fotografi, pe(n)cinta alam, pernah aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) Semarang, Member of IFMSA (International Federation of Medical Students' Associations), konsultan kesehatan di NetSains.net dan detik.com. Mendapatkan sertifikasi CME dari berbagai universitas ternama, seperti: THE JOHNS HOPKINS UNIVERSITY SCHOOL OF MEDICINE, HARVARD Medical School, Oxford University. Pernah berkarya di RS Keluarga Sehat Pati.

    Mulai April 2012 mengabdi di Palangkaraya Kalimantan Tengah sebagai dokter RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya. Mulai 2 Juni 2012 mengabdi sebagai staf ahli rektor Universitas PGRI Palangka Raya, dan penulis lepas.

    Ia aktif berorganisasi di ACIKITA, pernah mengharumkan nama Indonesia di forum Internasional AICST 2011 dengan mahakarya “Biomarker Stroke”. Delegasi Indonesia untuk INTERNATIONAL TRAINING EXCHANGE PROGRAM di Hungaria, delegasi Indonesia riset di University Degli Studi di Turino, Italia. Pernah jadi pembicara di forum Second International Graduate Student Conference on Indonesia 2010 pada 3-4 November 2010 di UGM. Pernah menjadi juara II HOKI Online Literary Awards 2008 (HOLY 2008).

    Hobinya membaca, menulis, berdiskusi, dan riset telah membawanya sebagai presenter, moderator, dan pembicara di berbagai forum bergengsi nasional dan Internasional. Pernah menjadi Nominator Lomba Penulisan Esai Ilmiah Populer Harun Yahya International Award 2003, Delegasi SMU Negeri 1 Semarang dalam Olimpiade Matematika tingkat Internasional, Delegasi SMP Negeri 3 Semarang untuk Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Nasional, Siswa Teladan SD Tingkat Kotamadia Semarang.

    8. Satria Nova

    SATRIA NOVA
    Lahir di Lamongan, 16 November 1989 dengan nama lengkap Satrianova Mabbruri Kusumawardhana. Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Baru saja menjadi sarjana Teknik Perkapalan ITS setelah diwisuda tanggal 23 september 2012.

    Ia termasuk penulis produktif. Selama kuliah, ia telah menulis 10 buku, 7 di antaranya sudah terbit dan beredar di pasaran. Beberapa di antaranya diterbitkan oleh penerbit buku terbesar di Indonesia. 10 Buku itu ditulis dalam rentang waktu 2,5 tahun semenjak ia semester 4. Selain buku, beberapa karyanya berupa artikel, opini dan gagasan telah dimuat di berbagai surat kabar nasional seperti Jawa Pos dan Republika.

    Selama kuliah, Satria juga aktif di berbagai kegiatan kampus, termasuk menjadi pembicara dalam berbagai kesempatan seperti bedah buku, kajian, diskusi, workshop, pelatihan, seminar dan berbagai acara sejenis lainnya.

    9. Rahimah Ib

    RAHIMAH IB
    Lahir di Bireuen, tanggal 1 Januari 1971. Sulung dari lima bersaudara ini hobi menulis sejak SD.  Prestasi membaca dan mencipta puisi ini terus mengiringi langkahnya hingga duduk di bangku perguruan tinggi. Melalui kegiatan Pramuka mampu membawanya mengelilingi kota-kota besar Pulau Jawa hingga ke Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ia dianggap mampu mewakili semua dengan puisi dan tulisan-tulisannya.

    Tulisan-tulisannya yang dimuat di media, diantaranya Langitku (Waspada, 2011), Emak (Waspada, 2011), Perempuan Kedua (Waspada, 2011), Bocah Jalanan (Waspada, 2012), dll.

    Penulis yang sekaligus wakasek di sebuah sekolah ini sudah menerbitkan novel pertamanya berjudul “Menjemput Impian di Keukenhoff” yang diterbitkan oleh FAM Publishing. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Ini Dia, Profil Tim FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top