• Info Terkini

    Wednesday, September 24, 2014

    Jadi Penulis karena ‘Bosan’ Hidup Susah

    MUHAMMAD SUBHAN
    Oleh Muhammad Subhan
    Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    MENJADI orang susah itu susah. Semuanya serba susah. Mau apa saja susah. Hidup pun penuh kesusahan. Saking susahnya, orang yang melihat pun ikut susah. Karena tidak ingin menambah daftar orang susah, saya memutuskan menjadi penulis.

    “Kok bisa?” tanya sebagian orang yang dulu mencap keluarga saya sebagai orang susah. Saya pun menjawab, “harus bisa”. Sebab, tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini jika didorong semangat dan motivasi. Bukan dari orangtua maupun orang lain, tapi harus dari diri sendiri.

    Sejak kecil saya punya impian ingin mengelilingi dunia. Maka, menjadi wartawan adalah pilihan hidup ketika pertama kali saya merantau ke Ranah Minang. Meski saya tahu, dunia wartawan bukanlah dunia yang dapat mewujudkan secara cepat impian saya. Berbagai tantangan berbuah kesusahan sudah pasti saya hadapi. Bahkan, ibu kandung saya awalnya ‘tidak merestui’ saya menjadi wartawan. Dalam benak ibu saya, menjadi wartawan artinya saya harus siap kembali menjadi orang susah. Ketika ibu benar-benar tahu saya sudah menjadi wartawan, berbagai pikiran susah menumpuk di kepalanya. Bayangan ibu, kelak saya akan mewarisi kesusahan kedua orangtua saya.

    Meski tidak selalu benar, tetapi logika ibu masuk akal. Delapan tahun melanglangbuana di sejumlah media cetak dan radio, bisa dibilang  hidup saya biasa-biasa saja. Bahkan, selama empat tahun saya berjalan kaki memburu berita di Kota Padang yang tidak kecil itu. Panas kotanya bukan main. Malam hari saya harus buka baju tidur di rumah yang tak berdipan. Selama itu pula, saya tak punya sepeda motor, alat komunikasi (handphone), apalagi komputer.  Gaji pas-pasan saya terima dari kantor tempat saya bekerja. Namun empat tahun kemudian, sesudah masa-masa susah itu saya jalani dengan sepenuh kesabaran, hidup saya mulai menampakkan peningkatan, walau benar-benar belum berada di zona aman apalagi lepas dari kesusahan. Bahkan, setelah ibu saya menjanda karena bapak lebih dulu meninggal dunia, kebutuhan ibu dan tiga orang adik yang masih kecil, saya nafkahi. Semua dari hasil keringat sebagai penulis dan wartawan.

    Menulis Sejak SMP

    Saya lahir di Medan, Sumatera Utara, tanggal 3 Desember 1980. Orangtua memberi saya nama Muhammad Subhan. Tetapi di ijazah tertera ‘Subhan’ saja. Kata ayah, sewaktu mendaftarkan saya masuk ke sekolah dasar, ayah lupa menulis nama lengkap saya. Akibatnya, seluruh ijazah saya, dari SD hingga sarjana, semuanya tertera ‘Subhan’. Walau demikian, saya lebih suka menulis lengkap; Muhammad Subhan. Begitupun, dalam setiap tulisan-tulisan, saya membubuhkan nama Muhammad Subhan. Di KTP, kartu keluarga hingga surat nikah juga Muhammad Subhan. Karena tidak sinkronnya antara nama di KTP dan ijazah, saya mengalami kesusahan juga, yaitu ketika suatu hari saya mengurus paspor di kantor imigrasi dan petugas imigrasi marah-marah serta mencurigai saya yang dianggapnya memalsukan data. Saya bilang, nama di ijazah itu nama saya juga. Tapi dia tidak mau tahu. Terjadilah keributan kecil yang membuat saya susah dan menjadi perhatian banyak orang di kantor itu. Tapi akhirnya, saya diarahkan agar meminta surat ke kantor camat bahwa nama yang tertera di ijazah  dan KTP adalah nama orang yang sama. Karena beberapa kali bolak-balik dari kantor imigrasi ke kantor camat saya dibuat susah. Ah.

    Saya mulai menulis sejak kelas 2 SMP. Hobi membaca sudah sejak kelas 4 SD. Di SMP, saya memprakarsai terbitnya majalah dinding (mading). Gara-gara jadi ‘bos mading’ itu, saya mendapat promosi jadi pengurus OSIS, walau akhirnya jabatan yang berhasil saya pegang hanya wakil ketua. Tapi lumayanlah, OSIS telah melatih bakat kepemimpinan saya dan membentuk karakter serta kepercayaan diri saya bahwa tidak selamanya orang susah akan hidup susah.

    Hobi menulis itu berlanjut ketika di SMA dan saat kuliah. Di SMA, lagi-lagi saya diamanahkan menjadi wakil ketua OSIS dan aktif di Palang Merah Remaja. Kehidupan di masa SMP dan SMA saya habiskan di Kruenggeukueh Aceh Utara, kampung ayah saya. Sewaktu SMA bakat menulis saya terus terasah, apalagi saya sempat membuat majalah sekolah bersama beberapa kawan. Di kelas 2, saya memberanikan diri mengirim tulisan opini ke koran dan ternyata dimuat. Sejak itu, saya semakin ‘gila’ menulis.

    Lingkaran Kesusahan

    Seperti saya ceritakan di atas, sejak kecil saya belum pernah merasakan hidup berkecukupan alias selalu kesusahan. Ayah dan ibu saya orang susah, otomatis saya anaknya jadi korban kesusahan. Kalau ayah dan ibu saya orang kaya, maka saya akan menjadi korban kekayaan (hehe, ini bercanda). Tapi yang pasti, ayah saya hanya seorang pekerja kasar. Ibu buruh cuci di rumah-rumah orang kaya di kampung saya. Penghasilan kedua orangtua saya itu hanya cukup sehari makan dan dikumpulkan sedikit untuk pembayar sewa rumah. Kami anak-anaknya nyaris tidak memiliki uang jajan ketika sekolah.

    Meski hidup susah, tapi saya bangga terhadap kedua orangtua saya. Mereka pekerja keras dan tidak mau memperlihatkan kesusahannya walau saya merasakan mereka susah. Ayah selalu memberi wejangan kepada saya, ‘jangan pernah menyerah dengan keadaan, terus berusaha, dan jangan meminta-minta’. Mantra itu menjadi motivasi bagi saya untuk mengubah hidup di kemudian hari untuk lompat dari lingkaran kesusahan. Dan, saya pun bertekad setelah saya benar-benar dewasa hendak membahagiakan kedua orangtua.

    Sampai kelas 2 SD, saya hidup bersama orangtua di Medan. Ketika naik ke kelas 3 SD, ayah mengajak pindah ke Lhokseumawe. Di kota itu, ayah bekerja sebagai tukang sol sepatu di pusat kota. Setiap pagi, usai sarapan dan minum secangkir kopi, ayah menyandang ransel yang isinya peralatan menjahit sepatu. Pekerjaan itu dilakukan ayah karena ketika awal-awal kami tinggal di Aceh, mencari kerja sangat sulit, apalagi ayah hanya tamatan SMP. Ibu saya juga begitu, tamat SD. Menjadi buruh adalah alternatif terakhir ketika pekerjaan lebih layak dari itu tidak didapat ayah dan ibu.

    Di awal-awal bekerja sebagai tukang sol sepatu di daerah baru, benar-benar terasa sangat sulit dihadapi ayah saya. Bahkan, seharian menunggu tak ada orang yang memanfaatkan jasa ayah. Dengan membawa raut wajah kusut, ayah pulang tanpa membawa apa-apa. Diam-diam saya mendengar ayah dan ibu ribut di kamar gara-gara tak ada uang yang diberikan ayah untuk membenuhi kebutuhan harian di rumah. Saya menyaksikan pemandangan itu dengan wajah sedih, sebab saya tidak dapat melakukan apa-apa. Tapi ayah tetap seorang yang  bertanggung jawab, ia selalu berusaha bekerja keras untuk mendapatkan serupiah-dua rupiah uang memenuhi kebutuhan kami.

    Usia ayah dan ibu terpaut jauh, sekitar 20 tahun. Ayah lebih tua dari ibu. Ketika ayah beberapa kali sakit, saya berinisiatif membantu ayah bekerja. Saya pun belajar menjahit sepatu. Saya perhatikan bagaimana ayah menjahit melayani pelanggannya. Ketika niat hendak membantu saya sampaikan kepada ayah, awalnya ayah tidak setuju. Tapi karena saya benar-benar serius dan telah mahir menjahit tanpa sepengetahuan ayah, akhirnya ayah mengizinkan saya bekerja. Pernah ayah mengalami sakit parah dan harus terbaring di rumah, saya langsung berangkat ke kota dan menunggui pelanggan-pelanggan ayah dengan setia. Ketika itu saya sudah SMA. Antara malu dan rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan kebutuhan di rumah, saya beranikan diri dan optimis mengerjakan semua, sesusah apa pun itu.

    Bekerja sebagai tukang sol sepatu bukan kerja yang menjanjikan. Nasib-nasiban. Terkadang ada orang, terkadang pula tidak ada sama sekali. Sehari hanya dua-tiga orang datang memanfaatkan jasa sol. Uang yang paling banyak dibawa pulang sehari tidak lebih dari Rp15.000. Dengan penghasilan yang sangat kecil itulah, ayah menafkahi keluarga kami dan menyekolahkan saya dan adik-adik yang masih kecil.

    Tanggal 15 Maret 2000, adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Inilah titik tolak perubahan hidup saya hingga di kemudian hari menjadi  penulis. Di hari itu, orang yang saya cintai, ayah, berpulang ke Rahmatullah dalam usia 62 tahun. Ujian teramat berat saya rasakan. Saya masih ingat, sebelum ayah meninggal, saya pernah menyampaikan kepadanya bahwa saya ingin melanjutkan kuliah ke Padang. Tapi agaknya keinginan saya itu tidak disetujui ayah. Sepertinya ayah berharap saya dapat tetap bersamanya dan membantu bekerja karena usia ayah telah lanjut dan sering sakit-sakitan. Agaknya persoalan itu menjadi beban pikiran ayah. Beberapa hari setelah itu, ayah jatuh sakit hingga koma. Tiga hari kemudian, Allah memanggil ayah dan memisahkan kasih sayang di antara kami. Innalillahi wainnailaihi raajiuun. Saya benar-benar merasa bersalah dan sangat kehilangan.

    Sepeninggal ayah, ibu juga mulai sakit-sakitan. Rematik dan asam urat menyerang tubuhnya. Mulanya ibu bekerja sebagai buruh cuci dan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang camat. Namun sejak sakit ibu semakin parah, tak ada lagi orang yang  mencari nafkah. Otomatis ekonomi keluarga saya lumpuh, pendidikan adik-adik terbengkalai. Lalu lengkaplah kesusahan mendera kehidupan keluarga kami ketika itu.

    Merantau ke Padang

    Setelah tamat SMA, saya menyampaikan kepada ibu agar pulang ke Sumatera Barat saja. Ibu yang orang Minang berkampung di Kajai, Pasaman Barat. Mulanya ibu menolak. Namun, setelah saya berangkat sendiri melihat kampung ibu di Kajai, ternyata di sana banyak keluarga ibu. Namun sayangnya kampung itu berada di daerah pedalaman dan akses komunikasi sangat terbatas.  Selain itu, banyak penduduknya yang hidup di bawah garis kemiskinan.

    Setelah bermusyawarah dengan sanak famili di kampung dan menceritakan keadaan ibu di Aceh sepeninggal ayah, mereka pun setuju agar ibu dan adik-adik dibawa saja ke Kajai. Akhirnya saya kembali pulang ke Aceh dan menjemput ibu dan adik-adik serta menceritakan keinginan sanak famili agar ibu berkenan pulang kampung.

    Setelah diyakinkan bahwa keadaan hidup akan berubah di Sumatera Barat, akhirnya dengan berat hati ibu berkenan pulang ke kampung. Sakit asam urat ibu yang sudah akut menyulitkan ibu berjalan jauh. Ia pun harus dipapah naik-turun bus. Biaya keberangkatan itu, pada pertengahan 2000, diperoleh dari penjualan perabotan yang tersisa di rumah kontrakan sepeninggal almarhum ayah.

    Setelah membawa ibu dan adik-adik pulang kampung, saya pun merantau seorang diri ke Padang. Kota yang baru pertama kali saya jamah seumur hidup itu terasa menyeramkan, karena di sana saya tidak punya siapa-siapa. Berbagai pekerjaan saya lakoni, mulai jadi salesman barang kebutuhan harian sampai berjualan majalah. Hasilnya tentu tidak mencukupi. Yang pasti, di Kota Padang, kehadiran saya menambah daftar orang susah yang hidup senasib dengan saya yang juga susah.

    Menjadi Wartawan

    Sejak kecil, ayah banyak mengajarkan ilmu agama kepada saya. Saya juga sempat menjadi santri kalong di sebuah balai pengajian di Aceh. Sedikit banyak dasar-dasar agama saya pahami. Dengan bekal ilmu yang terbatas itulah, ketika merantau di Padang saya ‘main aman’ dengan berinisiatif menjadi gharin di sebuah musala di kawasan Air Tawar Barat Padang. Tugas gharin adalah membersihkan musala, azan, imam, bahkan memberikan ceramah agama di saat ustaz yang diundang berhalangan hadir.

    Pilihan menjadi gharin itu lantaran saya tidak mendapatkan pekerjaan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan menjadi gharin saya ‘selamat’ sebab mendapat jatah beras dan sedikit uang lauk-pauk. Saya juga mengajarkan anak-anak di sekitar musala mengaji Alquran. Selama menjadi gharin itu pula, banyak waktu bagi saya untuk menulis di sela-sela tugas rutin.

    Pengabdian menjadi gharin saya lakoni sejak tahun 2000 hingga 2004. Di akhir tahun 2000, selain tetap menjadi gharin saya mulai menulis di koran-koran lokal. Di tahun 2001, saya melamar menjadi wartawan sebuah koran mingguan dan memulai kehidupan di dunia jurnalistik. Mulanya saya pikir pekerjaan wartawan itu pekerjaan menjanjikan dengan gaji besar. Ternyata harapan saya hanya mimpi, jauh panggang dari api. Sepanjang  2001-2004, beberapa koran mingguan yang saya masuki tak satu pun yang memberikan gaji layak selayaknya seorang pekerja profesional. Bahkan saya pernah berpikir untuk berhenti menjadi wartawan, namun keinginan itu cepat-cepat saya hapus karena setelah saya renung-renungkan dunia itu memberikan banyak manfaat kepada saya. Dengan menjadi wartawan, wawasan saya bertambah karena informasi terbaru selalu saya dapatkan setiap hari. Begitu pula, saya menemukan banyak kawan. Menjadi wartawan pula, saya berkesempatan mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi, baik di Sumatera Barat maupun beberapa daerah di Indonesia dan mancanegara dalam berbagai perjalanan jurnalistik yang ditugaskan kepada saya.

    Maka, di tahun 2004 saya memutuskan meninggalkan pekerjaan sebagai gharin mushala yang selama 4 tahun meghidupi saya sebagai ‘anak dagang’ di rantau orang. Hal itu saya lakukan semata untuk fokus menjadi wartawan. Pilihan yang berat karena awalnya jemaah musala enggan melepas saya. Namun, karena tekad yang kuat, akhirnya saya pun berhenti menjadi gharin. Setelah itu, di tahun yang sama, saya mulai bekerja di koran harian Mimbar Minang. Tapi hanya dua tahun saya bertahan di koran itu, sebab Mimbar Minang bangkrut dan menjadi koran mingguan. Jika saya kembali bekerja di koran mingguan, artinya saya gagal dan tidak ada kemajuan. Bersama beberapa kawan, usai melakukan perjalanan jurnalistik ke Aceh pascatsunami 2004, saya pun mendirikan koran Harian Serambi Minang. Namun koran itu hanya bertahan 3 bulan lantaran kehabisan modal.

    Setelah gagal di Serambi Minang, saya sempat menjadi penyiar beberapa radio swasta di Padang, dan juga menjadi koresponden Radio El Shinta Jakarta untuk wilayah tugas Kota Padang dan sekitarnya. Namun karena keterbatasan kepemilikan alat komunikasi serta alat perekam, pekerjaan itu saya tinggalkan. Barulah di akhir 2004, saya diterima bekerja di koran harian Haluan yang merupakan surat kabar tertua di Sumatera Barat. Mulanya saya tidak menyangka akan diterima bekerja di koran itu karena saya tidak memiliki ijazah sarjana ketika itu. Tapi lantaran surat lamaran saya lampirkan puluhan sertifikat dan piagam penghargaan pelatihan jurnalistik yang pernah saya ikuti, atas pertimbangan itulah, saya diterima bekerja.

    Selama di Haluan, kemampuan jurnalistik saya benar-benar terasah. Saya pun sering ditugaskan meliput kegiatan-kegiatan penting ke sejumlah daerah. Beberapa kali kunjungan Presiden dan Wakil Presiden serta Menteri-Menteri ke Sumatera Barat, saya ditugaskan meliputnya. Kemahiran ala kadarnya di bidang fotografi menghantarkan saya  menjadi fotografer Haluan selama dua tahun. Begitu pun, kesenangan saya menulis feature yang mengangkat berbagai persoalan human interest masyarakat kelas grassroot membuat nama saya kian akrab di mata-telinga pembaca Haluan.

    Di tahun 2007-2008, Pemimpin Redaksi Haluan  menugaskan saya menjadi Koordinator Daerah (Korda) Haluan Kota Bukittinggi dan sekitarnya. Penugasan itu tentu saja saya terima. Selama di Bukittinggi, saya terus mengembangkan diri. Di sisa-sisa waktu luang saya menjelajah dunia melalui internet. Saya pun berkawan dengan banyak orang di berbagai kota di Indonesia. Perjalanan di dunia maya itu mempertemukan saya dengan Harian Online Kabar Indonesia (HOKI) yang berpusat di Belanda. Sejak akhir 2006 saya telah menulis di media itu. Saya juga sempat menerima penghargaan sebagai Top Reporter HOKI serta sebagai Editor HOKI. Sejumlah penulisnya saya kenal akrab, bahkan mantan Pemimpin Redaksi HOKI Wilson Lalengke yang juga abang angkat saya saat ini menjabat sebagai Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) yang berpusat di Jakarta.

    Menekuni Dunia Fiksi

    Menulis fiksi sudah saya tekuni sejak SMP, tapi tidak terlalu serius. Saya anggap menulis fiksi hanya sebagai penghibur di saat suntuk, apalagi setelah menjadi wartawan. Ketika ada berita yang tidak dapat saya tulis lantaran tekanan dari pihak-pihak tertentu, maka menulis fiksi adalah pelariannya. Saya baru insyaf bahwa menulis fiksi itu penting ketika selama 3,7 tahun saya bekerja di Rumah Puisi milik penyair Taufiq Ismail di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Di rumah yang memiliki koleksi 7.000 judul buku itu saya berinteraksi dengan banyak sastrawan yang namanya tidak asing di belantara sastra Indonesia. Saya beruntung sekali bisa mengenal secara dekat beberapa di antara mereka. Saya juga menjadi bertanggung jawab menularkan semangat menulis sastra di kalangan generasi muda setelah saya perhatikan betapa risaunya Penyair Taufiq Ismail terhadap semakin menurunnya minat membaca buku dan menulis karangan di kalangan remaja. Sejak itu saya tekadkan menulis fiksi yang diawali lahirnya novel perdana saya Rinai Kabut Singgalang (2011) yang idenya telah saya tulis sejak 2009. Saya bekerja di Rumah Puisi sejak 2009 hingga 2012.

    Ketika saya merasa bekal sastra sedikit banyak saya miliki dari interaksi di Rumah Puisi serta membaca buku-buku sastra di perpustakaan rumah itu, mulai 1 Januari 2013 saya putuskan pamit dari Rumah Puisi untuk selanjutnya terjun total ke tengah masyarakat mengkampanyekan gerakan gemar membaca dan menulis karangan. Gerakan itu semakin mudah saya jalankan setelah saya mendirikan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pada 2 Maret 2012 bersama penulis muda berbakat Aliya Nurlela asal Malang, Jawa Timur. Saya dan Aliya Nurlela membangun basis FAM Indonesia di Pare, dekat Kampung Inggris. Saya tidak menyangka jika sambutan generasi muda Indonesia sangat positif terhadap komunitas kepenulisan ini dan banyak di antara mereka yang ikut bergabung. Dalam waktu lebih kurang dua tahun, sejumlah cabang FAM Indonesia berdiri di beberapa kota di Indonesia. Saya pun semakin aktif menebarkan ‘virus menulis’ di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, pesantren, dan kelompok-kelompok menulis pelajar lainnya. Dari kegiatan itu saya benar-benar meneguk kepuasan, lantaran saya dapat berbagi ilmu dan pengalaman serta memiliki banyak teman.

    Saya mulai meninggalkan dunia kewartawanan secara total pada 2010 lantaran saya ingin fokus menulis fiksi (novel, cerpen dan puisi). Sejak itu tulisan-tulisan saya mulai tersebar di sejumlah media massa, di antaranya Serambi Indonesia (Aceh), Waspada (Medan), Mimbar Minang, Metro Andalas, Rakyat Sumbar, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres (Padang), Sabili, Horison (Jakarta), Kaltim Post (Samarinda), dan beberapa lainnya. Saya juga mulai tampil menjadi juri dan narasumber kegiatan-kegiatan kepenulisan (jurnalistik dan menulis kreatif) di berbagai kota di Tanah Air bersama FAM Indonesia. Dengan semua kegiatan itu, saya merasa hidup saya lebih berarti, dan segala hasilnya tidak dapat saya nilai dengan nominal uang.

    Impian saya, FAM Indonesia menjadi komunitas penulis terbesar di dunia, bukan hanya di Indonesia. Dan, saya memimpikan FAM memiliki cabang di berbagai kota di mancanegara. Kelak, jika Tuhan mengizinkan, bendera FAM Indonesia ada yang mengibarkan di puncak Everest, walaupun itu bukan saya yang menancapkan tiangnya. Agaknya itu mustahil dan susah. Tapi saya yakin pada kekuatan mimpi. Apa pun kata orang, saya tidak peduli. Sebab mimpi itu mudah dan tidak susah. Lalu, apakah sekarang saya sudah benar-benar bebas dari kesusahan? Ah, entahlah, susah saya menjawabnya. (*)

    Punya naskah dan ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik di caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Jadi Penulis karena ‘Bosan’ Hidup Susah Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top