• Info Terkini

    Wednesday, September 24, 2014

    Ken Hanggara (Surabaya): “Seabrek Prestasi Menulis dan Berhasil Menangkan ASEAN Young Writer Award 2014”

    KEN HANGGARA
    Ken Hanggara (ID FAM 801M). Nama aslinya Erlangga Setiawan. Lahir di Sidoarjo pada 21 Juni 1991, penulis asal Surabaya. Kini karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel/essai, dan review tersebar dalam puluhan buku antologi, surat kabar, dan blog pribadi. Buku tunggalnya yang terbit: Dermaga Batu (kumpulan puisi, FAM Publishing, 2013), Jalan Setapak Aisyah (kumpulan cerpen kaum marginal, FAM Publishing, 2013), Minus Menangis (kumpulan cerpen sisi kelam Indonesia, FAM Publishing, 2014), dan Matahari yang Setia (novel, Zettu, 2014—segera terbit).

    Akhir tahun 2007, ia sudah menulis banyak puisi, namun hanya sebagai koleksi pribadi saja. Barulah pada tahun 2010 ia mulai serius menulis novel, walau pada akhirnya gagal. Hidup sebagai perantau di Jakarta dengan kondisi serba terbatas, membuatnya harus rela jalan kaki sejauh hampir satu kilo hanya untuk mengetik tulisan di warnet.

    Akhir tahun 2010 ia menyerah dan berpikir bahwa dia tidak akan bisa menjadi penulis karena berbagai hal—di samping pekerjaannya yang rangkap dua: sebagai artis pemula dan assistant refractionist opticians, mengalami pasang-surut.

    Setelah berhenti menulis cukup lama, dua tahun kemudian, pertengahan 2012, ia mulai bertekad membuang rasa putus asa dalam menulis. Ia memulai langkah baru dengan lebih serius, mengikuti berbagai perlombaan, dan mengirim karya-karyanya ke media cetak. Melalui komputer warnet, banyak hal ia dapat dalam menulis, termasuk filosofi bermain game yang tiba-tiba dia cetuskan sendiri, yang berbunyi: “Bermainlah game sampai tidak kenal waktu, selayaknya ketika kau menulis di depan komputer.” Artinya, bukankah dalam bermain game kita selalu santai, tanpa banyak berpikir? Maka, menurutnya, menulis yang demikian itulah yang menyenangkan, bukan yang belum apa-apa sudah merasa terbebani. Ini ia dapat ketika dari waktu ke waktu warnet tidak pernah sepi dari pengunjung penggila game dan membuatnya harus melatih telinga agar konsentrasinya tidak terganggu saat menulis.

    Kegagalan dan kemenangan datang silih berganti, hingga akhir 2012 ia berhasil merampungkan tiga buku pertamanya. Dua di antaranya sudah terbit, yakni Dermaga Batu dan Jalan Setapak Aisyah. Tahun 2013 menjadi tahun “tergila”-nya dalam menulis. Sepanjang tahun ini pula ia berhasil merampungkan naskah buku—baik itu novel, kumpulan puisi, dan kumpulan cerpen—hingga sebanyak 13 naskah. Semua naskah itu kini masih tengah menjalani tahap seleksi di beberapa penerbit besar.

    Beberapa prestasi menulis juga telah ia raih, dari mulai lomba resensi, surat, puisi, hingga cerpen. Prestasi pertamanya adalah ketika ia memenangkan juara dua dalam lomba surat untuk milad Sekjen FAM Indonesia pada Juni 2012. Disusul kemudian cerpennya, “Lonceng Kemuliaan”, masuk dalam 10 besar lomba cerpen tema kemiskinan dan anak jalanan. Kemudian, berturut-turut beberapa prestasi lain menyusul. Cerpen seperti “Tentang Wanita yang Dekat Sekaligus Jauh Dariku” (10 besar lomba cerpen tema TKI), “Bunga Tidur” (15 cerpen tema Umrah), “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (10 besar lomba cerpen tema Indonesia), dan masih banyak lagi juga mendapat “keberuntungan” dalam berbagai event menulis yang dia ikuti.

    Bersama FAM Indonesia, dia mengantungi sebanyak kurang lebih 35 piagam/sertifikat penghargaan menulis, dimulai dari award sebagai anggota teladan, juara dalam beberapa event menulis oleh FAM Indonesia, serta menerbitkan beberapa buku dalam waktu setahun.

    Terakhir, prestasi yang ia capai adalah dengan terpilihnya cerpen "Robot-Robotan di Rahim Ibu" karyanya sebagai juara dua kategori bahasa Indonesia dalam ajang ASEAN Young Writer Award 2014. Meskipun tidak/batal menghadiri acara penyerahan plakat dan hadiah di Bangkok, dia merasa bersyukur sebab kelak plakat yang akan ia terima bisa menjadi kenang-kenangan terbaik untuk diceritakan kepada anak-cucunya. Menurutnya, terpilihnya cerpen itu menjadi juara dua setelah melewati proses seleksi yang sangat ketat, adalah suatu prestasi yang tidak disangkanya. Maka ia wajib bersyukur.

    Satu hal penting yang ia yakini dalam kecintaannya pada menulis dan sastra adalah: "Pembelajaran menuju 'kesempurnaan' karya tidak pernah ada ujungnya. Sebab sastra adalah seni yang tercipta dari pengalaman batin, dari waktu ke waktu."

    Kini ia berdomisili di Pasuruan, Jawa Timur. Untuk bercanda atau berdiskusi dengannya bisa melalui Facebook "Ken Hanggara" (www.facebook.com/kenzohang) atau follow Twitter @kenzohang. Jangan lupa, baca hasil "lamunan"-nya di http://kenhanggara.blogspot.com. Motto hidupnya: "Menulislah seperti sedang membangun peradaban; tidak berhenti sampai mati!" (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ken Hanggara (Surabaya): “Seabrek Prestasi Menulis dan Berhasil Menangkan ASEAN Young Writer Award 2014” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top