• Info Terkini

    Friday, September 19, 2014

    Sakit, Motivasi Terbesar Jadi Penulis

    ALIYA NURLELA
    Oleh Aliya Nurlela

    KONDISI sakit, bagi saya, menjadi titik awal bangkit menjadi penulis. Mengapa demikian? Dalam kondisi sehat, waktu luang dan memiliki banyak fasilitas, dorongan untuk berkarya lebih giat itu sering disepelekan. Merasa berada di zona aman, yang tidak akan menemui kendala, semua bisa diatur sesuai keinginan kita dan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan, termasuk kemungkinan sakit di suatu hari nanti. Sehat itu memang nikmat. Karena nikmat itulah, kita sering menunda-nunda pekerjaan dan mengulur tekad. Ketika tertimpa sakit, apalagi jika itu sakit parah yang memerlukan waktu lama dalam perawatan dan pengobatan, maka di sanalah kita baru berpikir untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya. Di mana-mana yang namanya orang sakit, harapan terbesarnya hanya satu, yaitu ingin “sembuh.” Tanpa perlu ditanya, orang sakit akan berkata, “andai sembuh nanti, aku akan begini, begini, dan begitu...”.

    Saya justru mengalami berbagai sakit parah ketika telah dewasa dan menikah. Tiga kali dinyatakan kritis dan dokter angkat tangan. Pada titik sakit yang parah dan cukup lama, saya merasa obat-obatan bukan lagi hal yang saya nanti. Bahkan rasanya bosan melihat dan mengonsumsi obat-obatan itu. Saya lebih suka mengalihkan pikiran terhadap rasa sakit itu dengan membaca dan menulis. Itu semacam terapi yang saya buat sendiri, dan saya merasa lebih sehat dengan cara seperti itu. Dalam kondisi sakit pula, saya lebih senang mendapat “oleh-oleh” berupa sumbangan semangat agar lebih tenang dan sabar menjalani sakit. Banyaknya sumbangan semangat, membuat hidup lebih bergairah, optimis menatap masa depan dan merasakan kehadiran orang-orang yang penuh empati.

    Hingga di suatu hari ketika Allah Swt menakdirkan saya sakit parah yang tidak terdeteksi medis, dan membuat saya tidak bisa berjalan (lumpuh) selama kurang lebih tiga bulan, maka pada saat itu memiliki tekad menekuni dunia menulis. Kok bisa? Ya, tekad itu justru muncul di saat saya sedang tergolek tak berdaya di tempat tidur. Kondisi saya waktu itu benar-benar rapuh, saya terpuruk secara perasaan dan pikiran. Sedih yang luar biasa. Saya yang terbiasa aktif dan gesit, tiba-tiba harus diam tak berdaya di tempat tidur. Segala keperluan harus dilayani orang lain. Benar-benar kondisi yang rentan uring-uringan dan tangisan.

    Saat itu saya merasa bagai seonggok daging tak berguna. Sakit saya yang tidak terdeteksi medis dan dokter angkat tangan untuk menangani, membuat tipis harapan saya untuk sembuh. Dalam kondisi seperti itu sempat terbetik dalam pikiran saya, “kalau Allah menakdirkan saya dipanggil ke hadapan-Nya dalam usia muda, lalu apa yang akan dikenang oleh orang-orang yang saya tinggalkan? Harta tidak punya. Prestasi tidak punya. Karya pun tidak punya.” Waktu itu saya sering merenungkan hal tersebut. Hingga muncullah semacam tekad yang membuat saya tidak lagi berkubang dalam tangisan, menepis praduga-praduga termasuk praduga tidak akan sembuh. Saya ingin berguna dan berbuat yang terbaik dalam kondisi sakit parah itu. Kalau kemudian Allah menakdirkan saya tidak menemui kesembuhan dan dipanggil lebih awal, setidaknya di akhir hidup saya telah tertanam tekad yang kuat untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya.

    Saya mulai menata niat. Saya menguatkan diri saya sendiri dan memotivasi diri sendiri. Sebab, sebesar apa pun motivasi dari luar, kalau diri kita sendiri tidak ada niat berubah, tidak akan pernah berubah. Saya selalu berbisik pada diri sendiri sambil memijit-mijit kaki yang lumpuh, “sayang, meskipun kakimu tidak bisa bergerak, tapi kamu masih memiliki akal untuk berpikir, hati untuk merasakan dan tangan untuk menulis. Berkaryalah sebelum kehilangan semua; kehilangan waktu, kesempatan dan usia.” Air mata saya sering menetes saat menghibur diri sendiri itu. Betapa berat rasanya menghadapi kenyataan, tapi di satu sisi saya harus bangkit, punya semangat hidup, optimis sembuh, dan bisa berkarya. Berkarya yang tepat di kala sakit seperti itu, adalah dengan cara menulis. Sebab menulis bisa dilakukan oleh orang yang lumpuh sekalipun.

    Tiap hari saya membaca buku di tempat tidur, terutama buku-buku nonfiksi yang mengupas tentang sabar, sakit dan rezeki. Saya biarkan buku-buku itu berserakkan di tempat tidur, menjadi teman setia dan pembunuh rasa bosan. Kalau lelah membaca, saya menulis dengan tetap sambil berbaring, sebab berlama-lama duduk punggung akan terasa sakit dan kepala pusing. Saya menulis secara manual di buku tulis. Saya tuliskan kondisi sakit itu dan pandangan agama tentang menyikapi sakit, serta obat lahir batin yang selayaknya menjadi perhatian dalam kondisi sakit itu. Bisa disebut, saya menuliskan obat untuk saya sendiri dan menasehati diri sendiri. Tapi jujur saja, dengan cara seperti itu saya merasakan sehat secara pikiran. Saya menikmati kegiatan baru saya dan setengah lupa dengan sakitnya. Satu naskah buku sudah selesai saya tulis dalam waktu sebulan. Disusul naskah buku berikutnya yang mengupas pengobatan komprehensif lahir batin.

    Ide menulis buku kedua ini, dari kejadian sakit yang saya alami. Bayangkan, ketika seorang pasien dalam kondisi sakit parah dipulangkan dari rumah sakit dan dokter angkat tangan untuk mengobati, apa yang harus dilakukan pasien tersebut? Bayang-bayang kematianlah yang menari-nari di pelupuk mata. Saya juga merasakan hal yang sama. Sedih, kecewa, takut, campur aduk. Tapi, dokter boleh angkat tangan dan rumah sakit boleh menolak, namun Sang Pemberi sakit tidak pernah angkat tangan. Masih ada celah kesembuhan dengan upaya lain. Terbetiklah ide menulis pengobatan komprehensif lahir batin. Naskah buku tersebut diberi judul “100% Insya Allah Sembuh.”

    Setelah saya sembuh dan bisa berjalan kembali bahkan berlari, naskah buku pertama itu dikirim kepada seorang penulis untuk dibaca layak tidaknya diterbitkan. Nasib baik berpihak pada saya, ketika naskah itu tertinggal di meja penerbit mayor, lalu direkturnya tertarik untuk menerbitkan. Ini lamaran tak terduga bagi saya. Tidak mengirim naskah ke penerbit mayor tapi naskah saya diminta untuk diterbitkan. Alhamdulillah, dua buku saya diterbitkan penerbit mayor dan beredar di toko-toko skala nasional seluruh Indonesia dengan hasil penjualan pertama yang cukup melegakan. Bahkan berkat buku “100% Insya Allah Sembuh” itu, banyak pembaca yang merekomendasikan buku tersebut untuk saudaranya yang sedang sakit parah. Saya dihubungi beberapa orang yang sakit parah. Mereka “curhat”, dan minta motivasi agar kuat dan sabar dalam menjalani sakit. Ada seorang sakit parah di luar kota yang rutin saya kunjungi dan berkomunikasi setiap hari selama 7 bulan, hingga suatu hari Allah memanggilnya. Sungguh, banyak berkah di balik sakit. Berkat buku yang ditulis saat sakit itu, saya merasa lebih sehat, pikiran tenang, banyak terjalin tali silaturahim dengan banyak orang dan pembaca, dan seperti mendapat kekuatan baru untuk menekuni dunia kepenulisan.

    Suka Menulis Sejak Kecil


    Saya lahir di Ciamis, 2 Juni 1975. Kata ayah, saya dilahirkan saat bulan purnama sedang bersinar di ketinggian langit. Itulah sebabnya, saya diberi nama Aliyah Nurlaella, yang artinya “cahaya malam yang tinggi.” Entah karena nama ini sulit dieja atau bagaimana, sering sekali terjadi kesalahan dalam penulisan di rapor sekolah. Bahkan nama panggilan pun, suka-suka setiap orang memanggilnya (he-he). Saya sendiri setelah aktif menulis fiksi lebih nyaman menggunakan nama Aliya Nurlela. Menurut saya lebih mudah dieja, tidak mengubah arti dan tidak terlalu jauh dengan nama asli, dan yang paling penting lagi orangtua juga tidak masalah dengan nama ini. Tidak mengubah hanya menyederhanakan, dan orang-orang terdekat termasuk orangtua yang diingat justru nama yang ini.

    Kedua orangtua bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ayah bekerja di Kantor Departemen Agama (Depag) dan ibu saya sebagai guru Bahasa Arab dan Bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kedua orangtua suka sekali membaca, membeli buku, berlangganan koran dan majalah, hingga di setiap sudut rumah berisi lemari dan rak buku. Dalam sebulan ayah berlangganan enam koran dan majalah. Rumah pun mirip perpustakaan keluarga.

    Orangtua membangun rumah di sudut kampung, jauh dari tetangga dan di tengah-tengah kebun milik keluarga. Sekeliling rumah dipenuhi kebun cengkih, jambu batu, salak, manggis dan tanaman sayur lainnya. Di samping kiri dan kanan ada kolam ikan air tawar. Di depan rumah terhampar pesawahan. Dari halaman rumah, terlihat jelas di kejauhan sungai yang berair jernih dan bukit-bukit yang berpohon lebat. Udaranya sejuk dan suasananya tenang, tak ada suara bising kendaraan. Keadaan itulah yang membuat seluruh anggota keluarga hobi membaca dan menulis. Saya sembilan bersaudara, semua suka membaca dan menulis. Hampir semuanya memiliki prestasi dalam bidang menulis di sekolah masing-masing.

    Banyak saudara, kerabat, tetangga dan teman-teman yang membaca buku di rumah. Buku-buku juga sering dipinjam atau sebaliknya saling meminjam buku. Buku adalah harta terbesar keluarga kami. Sejak kecil saya sudah dibiasakan membaca buku-buku tebal dan sedikit butuh pemikiran. Berkat buku-buku yang dibelikan ayah itu pula, sewaktu sekolah dasar, saya hapal nama-nama presiden tiap negara, nama perdana menteri, mata uang, luas wilayah tiap negara dan lainnya. Buku membantu saya mengenal dunia luar yang belum pernah saya lihat.

    Sebelum masuk sekolah dasar, saya sudah lancar membaca dan masuk SD di usia belum genap lima tahun. Berkat kecintaan pada membaca itulah, mendorong saya suka menulis. Saya ingin memiliki karya seperti dalam buku-buku yang saya baca. Sejak sekolah dasar itulah saya rajin menulis dongeng dan fabel. Ada beberapa buku tulis yang menjadi kumpulan karya-karya pendek itu. Kumpulan karya itu sering dibaca teman-teman bahkan saudara sepupu yang sudah kuliah. Saya menulis di mana saja, suka-suka saya. Di atas batu sungai, di bawah pohon cengkih, di atas pohon jambu yang menjorok ke kolam atau di teras halaman. Meskipun saya suka menulis, tapi tidak pernah terpikir bercita-cita menjadi penulis. Sejak kecil saya selalu punya cita-cita yang bertentangan dengan sifat saya yang manja, cengeng dan penakut. Saya pernah bercita-cita menjadi polwan dan ahli arkeolog. Bahkan saya pernah bercita-cita menjadi penjual pisang goreng (he-he, yang ini cukup menggelikan).

    Mengirim Karya ke Media

    Meskipun terlahir dari keluarga yang berkecukupan bukan berarti orangtua memanjakan anak-anaknya, dalam arti tidak semua hal harus dituruti. Seperti ketika saya MTs, orangtua jarang sekali memberi uang saku ke sekolah. Padahal saya harus menempuh perjalanan sekitar 4 km. Saya harus berjalan kaki, tidak naik ojeg yang menjadi kendaraan satu-satunya pada saat itu. Saya selalu berpikir, bagaimana caranya mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri. Sebagai anak sekolah yang baru berusia 13 tahun lebih, sulit sekali berpikir masalah mencari penghasilan. Apalagi tak ada pendidikan soal itu di keluarga. Selama di rumah, saya tidak mengerti bagaimana memasak dan mencuci karena ada pembantu yang mengurusi semua itu. Saya hanya tahu setiap akan berangkat sekolah sarapan sudah tersedia dan seragam sekolah sudah disetrika dengan rapi. Tugas saya hanya belajar dan belajar.

    Setelah lama berpikir, akhirnya saya memberanikan diri pinjam mesin ketik pada saudara sepupu yang sudah kuliah. Padahal saya tidak bisa mengetik, hanya sering melihat orang dewasa melakukannya. Mesin tik itu saya bopong, karena besarnya separuh badan saya. Meski kondisi mesin itu rusak pada gandarannya dan harus menggunakan karet gelang untuk mengoperasikannya, saya tak mau menyerah. Keringat saya mengucur deras setiap mengetik, sebab saya harus mempertahankan karet gelang itu agar tidak putus. Saya juga harus berpikir keras cara menekannya dan mengatur jarak. Alhasil, ketikan saya amburadul. Tapi dengan percaya diri, hasil ketikan itu saya kirim ke koran daerah melalui jasa pos. Di luar dugaan karya saya itu dimuat. Betapa senangnya karya sederhana dengan ketikan amburadul itu bisa dimuat. Apalagi ada honornya. Saya merasa jadi siswa ‘terkaya’ di sekolah (he-he) karena honor dari tiga tulisan cukup untuk uang saku saya selama satu bulan.

    Dalam perjalanan pulang pergi sekolah itulah, saya bertemu dengan seorang guru muda yang hobi menulis dan suka mengirim karya juga ke media. Kami saling bertukar buku bacaan, hingga suatu hari guru tersebut menantang saya, berlomba untuk mengirim karya ke koran. Siapa yang karyanya terbit, maka dialah pemenangnya. Saya tak kehabisan akal, saya kirimkan saja delapan tulisan, dan ternyata tulisan tersebut dimuat semua, sementara tulisan guru tersebut hanya dimuat tiga buah saja. Saya merasa senang dan percaya diri, dengan hasil ketikan amburadul saja redaktur koran itu bisa menerima dan menerbitkannya. Tentu suatu kebanggaan bagi saya, yang masih usia belasan. Saya merasa belum perlu minta bantuan orang dewasa untuk mengetik, toh ketikan asal saya  bisa diterima. Saya berdoa waktu itu, “semoga redakturnya masuk syurga.” (he-he).

    Meskipun saat itu saya punya sifat manja, cengeng dan penakut, tapi justru saya selalu ingin mendobrak kekurangan itu. Saya selalu memiliki cita-cita yang bertentangan dengan sifat saya. Suka berinovasi, suka tantangan dan suka memimpin. Sejak sekolah dasar hingga kelas dua SMA saya selalu menjadi ketua kelas, sering menjadi pemimpin upacara dan pemimpin regu pramuka. Saya selalu siap di garda terdepan untuk hal-hal yang menantang keberanian, kedisiplinan dan kemandirian. Sebab menurut saya, faktor pendobrak itu ada dalam diri kita sendiri. Kita sudah dibekali potensi, tinggal mengolahnya menjadi berguna.

    Menjadi “Redaktur” Surat

    Pada usia 13 tahun, saya mulai banyak menerima surat dari teman laki-laki. Sebelumnya, surat cinta pertamakali saya terima justru saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 3. Sebagai anak-anak saya merasa malu, terhina, marah, dan ujung-ujungnya menangis. Hingga surat-surat itu saya robek-robek, dihanyutkan di selokan atau dimasukkan ke dalam tungku api yang menyala. Seiring bertambahnya usia, saya mulai merawat surat-surat yang datang. Surat-surat itu saya bundel dengan menggunakan sampul buku tulis untuk bagian luarnya. Sekaligus untuk trik, agar tidak tampak kumpulan surat cinta oleh orangtua, tapi sebaliknya dianggap buku pelajaran (he-he). Sebab orangtua yang religius, melarang anaknya pacaran, termasuk sering menyelidik kalau ada surat-surat yang datang. Saat itu saya merasa jadi seorang redaktur yang sibuk menyeleksi naskah-naskah surat.

    Ada juga beberapa surat dari sahabat pena. Saya suka berkorespondensi. Ketika karya saya mulai dimuat di media, ada beberapa surat perkenalan dari pembaca koran tersebut di beberapa kota, termasuk dari yang berstatus mahasiswa. Bersurat-suratan telah mengajarkan saya untuk rajin menulis dan menghargai tulisan.

    Di masa remaja itu pula, akibat menolak cinta seorang preman, saya mendapat perlakuan yang mengancam keselamatan jiwa, nyawalah taruhannya. Saya tidak memiliki kemampuan berlari, apalagi beladiri, maka suratlah yang menjadi senjata untuk menaklukkan kekakuan hati si preman, hingga ia menyadari sikapnya dan meminta maaf. Secara tidak langsung bahasa surat telah mengajarkan kepada saya bagaimana menghadapi orang berhati keras.

    Masa MTs itu, saya menggagas mading sekolah dan mengisinya setiap hari dengan karya-karya fiksi atau info pengetahuan. Saya juga aktif mengirim tulisan di mading komunitas pelajar, hingga suatu hari terpilih sebagai pengirim tulisan terbanyak (52 tulisan) selama kurun waktu satu bulan, juara 2 lomba cerpen dan mendapat penghargaan sebagai pelajar teladan pada tahun itu.

    Berkat bantuan seorang guru kesenian, saya belajar berbagai alat musik modern maupun tradisional, mengasah kemampuan menyanyi, akting dan menari. Saya sering tampil untuk acara-acara seni di lingkungan sekolah dan di daerah tempat tinggal. Saya juga sering didaulat menjadi wakil sekolah dalam berbagai perlombaan baik dalam bidang seni, pelajaran, pidato, mendongeng dan pramuka. Berkat bimbingan guru kesenian pula, saya mulai menulis naskah drama dan lirik lagu.

    Menekuni Hobi

    Masa SMA, saya merasa memiliki peluang untuk menekuni hobi lain selain menulis, yaitu berkesenian. Di sekolah tempat saya belajar, fasilitas alat keseniannya sangat lengkap dan dikenal sebagai sekolah favorit di kabupaten. Mulailah saya menekuni kesenian tradisional maupun modern. Bergabung dengan tiga kelompok teater, menjadi asisten guru kesenian, menjadi vokalis kelompok musik dan belajar beberapa alat musik. Saya sering didaulat guru kesenian untuk mengajar kesenian di kelas lain, terutama mengajar lagu-lagu daerah dan musik organ. Saya juga sering diminta mencipta lagu, menuliskan liriknya, hingga satu buah lagu yang saya ciptakan dijadikan lagu mars sekolah yang dinyanyikan setiap upacara hari Senin.

    Suatu hari saya mengantar teman audisi pemilihan aktor/aktris komunitas teater kabupaten, tapi justru sayalah yang dipilih sutradara untuk menjadi salah satu pemain di komunitas itu. Sejak itu saya semakin sibuk menekuni hobi. Ayah yang tidak merestui saya aktif di dunia seni dan menghendaki segera berjilbab, membuat saya harus sembunyi-sembunyi beraktivitas dalam bidang seni. Saya memiliki jadwal yang padat. Antara latihan kesenian dan sekolah benar-benar menyita waktu dan menguras tenaga, hingga di suatu hari saya harus jatuh sakit karena kelelahan.

    Selama satu tahun, saya juga mendapat bimbingan dari sastrawan sunda yang sekaligus sutradara terkenal, Godi Suwarna. Selain belajar akting,  juga menulis berbahasa Sunda dalam rangka ngamumule (melestarikan) Bahasa Sunda. Banyak hal yang saya pelajari di sini, mengenal beberapa seniman Sunda dan beberapa kali ikut pementasan teater di beberapa tempat. Saya bukan orang terkenal dan tidak berambisi ingin sangat terkenal, tapi pada waktu itu peluang ke arah sana seolah berdatangan. Seorang sutradara pernah membuntuti saya begitu turun dari panggung. Menurutnya saya bermain apik dalam pementasan itu. Saya mendapat tawaran bermain dalam sebuah sinetron yang saat itu memerlukan pemeran utama seorang vokalis. Sebagai anak muda yang punya impian tinggi, tentu saja saya tergiur dengan tawaran itu dan tidak serta merta menolak. Saya menimbangnya berulangkali. Saya berada dalam kondisi dilema. Ada kebimbangan yang memuncak, antara ingin terus “berkarir” di dunia seni dan di satu sisi ingin mengikut nasehat ayah untuk segera berjilbab.

    Kondisi ini membuat saya labil untuk beberapa saat. Saya tidak bisa mengambil keputusan. Seolah tarik-menarik antara tawaran baik dan buruk. Saya sering merenung, ingin mendapat keputusan yang paling tepat. Sementara di satu sisi, sutradara itu terus mendesak agar saya segera menandatangani kontrak. Setelah saya renungkan, saya lebih nyaman memilih “pensiun” dari dunia seni dan mengenakkan busana muslimah. Saya tidak mungkin terus menerus bergelut di dunia seni tanpa restu dari orangtua. Selain “karir” saya pun tidak akan berkembang_karena harus sembunyi-sembunyi_saya juga mulai muak dengan pihak-pihak tertentu yangmengomersilkan rambut saya dan menuai materi semata. Seiring itu pula, cahaya hidayah mulai menerangi hati. Untuk beberapa saat saya sempat aktif di dua jalur. Di satu sisi, saya masih melakoni menjadi vokalis band, pemain teater, penari dan pemain musik, terutama di lingkungan sekolah. Di sisi lain, saya aktif mengikuti kajian islam sekolah, belajar Bahasa Arab, lomba busana muslim dan menjadi vokalis grup qasidah. Kegiatan yang bertolak belakang. Saya juga sering diamanahi mengisi ceramah oleh guru agama dan wali kelas di acara-acara perayaan hari besar Islam. Kondisi ini saya anggap masa “transisi” atau masa pencarian jati diri.

    Saat saya masuk perguruan tinggi negeri di Kota Jember, di sana saya bertemu dengan banyak muslimah yang memiliki latar belakang kegiatan yang sama. Kami merasa senasib dan bersama-sama ingin mempelajari Islam lebih dalam. Saya dan beberapa muslimah akhirnya aktif di masjid kampus belajar agama. Di sana saya mendapat wawasan baru, menguatkan keyakinan untuk berbusana muslimah sesuai syariat, dan belajar berorganisasi. Sejak itu saya aktif dalam kegiatan dakwah di kampus. Pernah terpilih sebagai panitia teraktif dalam sebuah event dan mendapat fasilitas kursus komputer gratis di sebuah lembaga kursus ternama di Kota Jember. Saya juga mendapat amanah sebagai Ketua Bidang Kemuslimahan (dua kali berturut-turut) selama dua tahun dan ketua rumah binaan para muslimah. Kesibukan saya bertambah, selain aktif mengisi kajian di kampus sendiri, juga mengisi seminar keputrian, mengisi kajian muslimah di beberapa kampus swasta, delegasi Forum Komunikasi Daerah dan Forum Silaturrahim antar Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia.

    Saya tetap menulis meskipun tidak dipublikasikan. Tulisan saya waktu itu lebih cenderung mengkritisi keadaan, karena sejalan dengan kegiatan yang sedang saya tekuni. Tulisan itu hanya untuk mengisi mading masjid dan buletin muslimah. Saya juga menggagas berdirinya SABIL,  berupa forum kegiatan dakwah dan menulis untuk mahasiswa dan mahasiswi jurusan Bahasa dan Seni.

    Selain aktif dalam kegiatan dakwah, kuliah dan tetap menulis, bersama beberapa teman muslimah, mendirikan usaha busana muslim dengan menyewa sebuah toko di lingkungan tak jauh dari kampus. Saya selalu terpacu untuk aktif, kreatif dan terus berkarya. Sebagai seorang muslimah, saya ingin memiliki wawasan yang baik dalam hal agama, pendidikan, dan kewirausahaan. Saat itu saya terdorong untuk menjadi seorang muslimah yang mandiri, meskipun dalam perjalanannya, ternyata mengelola sebuah usaha itu tidak mudah. Namun justru membuat saya tertantang, untuk mencoba lagi dan mencoba lagi.

    Setelah menikah saya mengalami beberapa kali musibah sakit parah. Setiap kejadian itu saya selalu “curhat” lewat tulisan. Saya merasa lega ketika sudah dituliskan. Saya juga mulai rajin menulis cerpen-cerpen anak dan mengirimkannya ke majalah anak. Alhamdulilah tulisan-tulisan itu tidak ada yang dikembalikan, seluruhnya dimuat. Ketika keluarga harus berpindah domisili ke Pulau Borneo, untuk mengobati kecintaan pada membaca dan menulis, saya berlangganan koran harian di daerah itu, menulis artikel, dan membuat buletin yang rutin diterbitkan setiap minggu. Buletin itu atas biaya sendiri, tulisan saya sendiri dan dibagikan secara cuma-cuma kepada teman-teman di luar kota melalui jasa pos.

    Berkat dihadirkannya berbagai kejadian dalam hidup saya, sifat cengeng, manja dan penakut itu seperti berbalik 180 derajat. Saya bersyukur dengan desain takdir yang demikian indah, sebab saya merasa sifat-sifat yang dulu ingin saya pangkas, terkikis sendiri.

    Mendirikan Wadah Menulis

    Sakit parah yang beberapa kali menimpa saya, membuat saya sangat menghargai waktu. Betapa berharganya waktu sehat. Sungguh sia-sia jika waktu yang berharga itu tidak dimaksimalkan dengan mengerahkan seluruh potensi diri. Ketika saya tertimpa sakit bell’s palsy, saya merasa kehilangan rasa percaya diri. Saya sempat sedih, minder dan pesimis. Sebab sakit bell’s palsy telah mengubah wajah saya menjadi tidak simetris. Kondisi itu membuat saya lebih senang menulis dan “mengurung diri.” Hingga suatu waktu melalui media jejaring sosial yang waktu itu saya baru bisa menggunakannya, tersambung dengan seorang jurnalis dan penulis dari Sumatera Barat, Muhammad Subhan. Berawal dari perkenalan lewat media facebook, saling bertukar karya, kolaborasi buku cerpen, akhirnya tercetuslah ide bersama untuk mendirikan wadah kepenulisan. Tepat tanggal 2 Maret 2012 Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia berdiri dan ditetapkan sebagai kantornya di Pare, Kediri. Saya dan Muhammad Subhan menjadi penggerak komunitas ini, dan alhamdulillah, saat ini FAM memiliki ribuan anggota di berbagai kota dan beberapa negara.

    Terus terang sebelumnya saya tidak pernah bergabung dengan komunitas kepenulisan, mengikuti pelatihan-pelatihan kepenulisan, berinteraksi dengan banyak penulis atau belajar menulis khusus kepada seorang ahli. Saya hanya hobi menulis dan belajar menulis secara otodidak. Namun berkat mengenal Muhammad Subhan yang memiliki tekad dan tujuan yang sama, saya termotivasi untuk terus belajar. Meskipun saya sakit, tak menyurutkan tekad saya mengelola wadah kepenulisan ini, merintis dari nol dengan tanpa modal sama sekali. Saya tidak pernah menyangka kalau akan mendapat respon positif dari generasi muda untuk hadirnya wadah kepenulisan ini. Saat ini, FAM diperkuat dengan sejumlah divisi usaha, di antaranya FAM Publishing (divisi penerbitan) yang telah menerbitkan puluhan buku fiksi dan nonfiksi.

    FAM juga mulai dilirik banyak lembaga yang mengajak kerjasama dalam kegiatan menulis. Berita kegiatan FAM diekspose sejumlah media online dan cetak seluruh Indonesia. Berkah lainnya dari mendirikan wadah menulis ini, saya merasa menemukan tempat yang tepat untuk menyalurkan hobi saya, kepercayaan diri saya bisa kembali dan terjalinnya tali silaturahim dengan banyak orang di berbagai daerah dan negara. Saya merasa lebih sehat dan tidak minder lagi untuk tampil di depan umum. Saya mulai mencintai wajah baru saya dan menganggap bahwa sakit bukan halangan untuk berkarya. Orang sehat dan orang sakit memiliki kesempatan yang sama untuk maju. Sejak itu saya mulai terbuka menerima kunjungan-kunjungan para penulis, guru-guru, mahasiswa dan siswa. Saya juga mulai berani mengisi diskusi kepenulisan tanpa menggunakan penutup muka. Beberapa media tergerak melakukan wawancara eksklusif dan menerbitkan kisah inspiratif tentang sakit yang saya alami. Salah satunya dimuat di Majalah Kartini edisi 2355, Agustus 2013 dan Kompas.com.

    Sejak mendirikan FAM, saya kembali aktif menulis fiksi. Beberapa buku fiksi sudah terbit. Buku fiksi tunggal pertama saya adalah kumpulan cerpen yang berjudul Flamboyan Senja. Saya juga mulai menulis untuk media. Memberikan endorsement pada puluhan buku dan sejumlah penghargaan tingkat lokal maupun nasional yang digelar FAM Indonesia. Saya menikmati aktivitas ini, karena selain cocok dengan hobi, saya juga dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan banyak orang. Untuk itulah saya berani memutuskan meninggalkan pekerjaan lain dan fokus mengelola wadah kepenulisan ini. Melakukan pekerjaan yang kita sukai, membuat kita selalu bahagia, tidak terasa capek, badan sakit terasa sehat, meskipun secara materi mungkin belum menampakkan hasil. Kebahagiaan itu memang tidak bisa diukur dengan uang.

    Impian saya, kelak akan terbentuk kampung menulis. Di mana kampung menulis itu tidak hanya ada di satu kota tapi di beberapa kota. Kampung menulis tersebut akan menjadi tempat bagi para penulis dan yang berminat belajar menulis untuk menyalurkan hobinya. Kampung menulis tersebut berada di lingkungan yang tenang, daerah persawahan, dilengkapi fasilitas internet gratis, buku-buku perpustakaan yang lengkap dan menjadi obyek kunjungan wisata menulis bagi sekolah-sekolah, pesantren dan kampus. Melalui FAM Indonesia yang mulai terbentuk cabang di beberapa kota itulah, saya mengawali mimpi itu. Saya tidak suka muluk-muluk, tapi menancapkan impian harus sedikit berani. Saya orang biasa tapi memiliki impian luar biasa. Tidak mustahil suatu saat mimpi itu terwujud. Dalam kondisi sakit saya ingin terus semangat, berkarya dan merasa bahagia. Saya tidak ingin memposisikan diri sebagai orang sakit yang terkesan perlu dikasihani. Saya ingin mengajak orang-orang sakit untuk menulis dan merasa sehat dengan menulis. Menulis adalah terapi yang menyehatkan. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sakit, Motivasi Terbesar Jadi Penulis Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top