• Info Terkini

    Tuesday, September 30, 2014

    Ulasan Cerpen "Meredam Dendam" Karya Palla-La (FAMili Kabupaten Agam)

    Seorang anak menaruh dendam pada ayah kandungnya, sebab setahu dia, sejak dia kecil sang ayah sudah pergi meninggalkannya. Dia dirawat oleh ibu kandungnya yang kemudian menikah dengan lelaki baik-baik. Anak itu bahagia, sebab bapak tirinya sangat menyayanginya, menganggapnya seperti anak sendiri.

    Waktu berlalu, setelah dewasa, ia dipaksa menikah oleh bapaknya. Ia tak terima dan pergi ke tempat jauh tanpa kembali selama bertahun-tahun. Setelah meraih sukses di tanah rantau, dan setelah menikah dengan wanita yang ia cintai, ia akhirnya luluh dan memutuskan pulang ke kampung halaman.

    Sayang, takdir berkata lain. Ternyata ibu kandung dan bapak tiri yang dulu sangat baik padanya itu kini telah meninggal. Ia menyesal terlambat pulang dan hanya bisa berdoa. Namun, kebencian kepada ayah kandungnya belum berkurang, sampai datang seorang wanita tua yang kemudian dia ketahui sebagai istri kedua sang ayah. Dari situ ia tahu, bahwa ayah kandungnya tidak seburuk yang ia pikirkan selama ini.

    Cerpen ini mengandung pesan baik, bahwa bagaimanapun kita tidak boleh berpikiran buruk sebelum tahu pasti keadaan seseorang. Berpikir positif dalam setiap situasi adalah yang terbaik.

    Sayangnya, di dalam cerpen ini kita disuguhi terlalu banyak titik, atau dengan kata lain: fokus yang seharusnya dibangun dalam cerpen ini malah mengabur. Alasannya: bukankah seharusnya si anak membenci ayah kandungnya? Namun karena konflik baru tentang pernikahan "paksaan" sang ayah tiri, kebencian itu mendadak beralih, secara langsung atau tidak langsung, kepada bapak tiri yang sejak awal digambarkan sebagai sosok baik. Keadaan ini malah membuat jalan cerita agak "menjauh" dari fokus utama sebagaimana yang sudah dibangun sejak awal: membenci ayah kandung.

    Cerpen kurang memiliki fokus yang kuat. Alangkah baiknya bila konflik yang ditimbulkan hanya dirancang dari ide dasar bahwa si anak membenci ayah kandungnya sejak kecil. Namun, meski begitu, sah-sah saja jalan cerita dalam sebuah cerpen seperti apa. Penulislah yang "berkuasa" penuh atas ceritanya. Selama cerpen memberi pesan baik kepada pembaca, bagaimanapun bentuk penyajiannya secara teknis, sebuah cerpen dapat dibilang baik. Ke depan, dalam menulis cerpen, diharapkan penulis mengangkat satu fokus saja dan membuatnya jadi lebih menarik dari awal sampai akhir cerita tanpa putus.

    Koreksi mengenai EyD terdapat pada kata-kata berikut: "menasehati", "seringkali", "sholat", "apapun", "akupun", "mengantongi", "kesana", "disini", "disisi", dan "tau"--yang seharusnya ditulis "mansihati", "sering kali", "salat", "apa pun" (terpisah), "aku pun" (terpisah), "mengantungi", "ke sana", "di sini", "di sisi", dan "tahu".

    Penggunaan tanda titik dan koma belum tepat pada beberapa bagian. Saran tim FAM agar penulis lebih memerhatikan, mengedit dan mengoreksi ulang tulisannya sebelum dipublikasikan. Bukankah tulisan yang rapi akan lebih enak dibaca? Sayang sekali bila tulisan kita bagus, namun hanya karena kurang rapi, dalam membacanya akan sedikit terganggu.

    Khusus untuk kata "orang tua" (dua katanya terpisah) dan "orangtua" (dua katanya digabung) punya perbedaan yang mesti kita ingat. "Orang tua" (terpisah) mempunyai makna orang yang sudah berusia lanjut, renta, atau sudah tua. Sedangkan "orangtua" (digabung) bermakna sebagai sebutan untuk dua orang (suami-istri) dari anak-anak mereka. Perbedaannya jelas: "orang tua" (terpisah) sudah pasti berwajah renta, sementara "orangtua" (gabung) belum tentu berwajah tua. Bukankah kita juga menyebut "orangtua" kepada ayah ibu kita, walaupun mereka belum benar-benar tua?

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANDA EDITING FAM]

    Meredam Dendam
    Oleh Palla-La (ID FAM2160U)

    Kenangan-kenangan silam itu masih saja membekas dalam ingatanku, membuat hatiku dingin, beku, keras seperti batu, semakin utuh membencinya.

    Aku masih belum bisa memaafkan lelaki yang telah tega meninggalkan istrinya. Pergi tanpa kabar berita, melarikan diri dari tanggung jawab. Bahkan tak pernah ingat dengan aku, darah dagingnya.

    Usahaku untuk melupakannya juga terasa sia-sia, mungkin karena dalam tubuhku mengalir darahnya. Hubungan yang tak pernah kuharapkan. Jujur, seringkali perasaan iri muncul di hatiku, kala melihat teman sebanyaku bermain dengan Ayah mereka.

    Apakah benar aku membencinya?, entahlah. Mungkin sejatinya aku rindu padanya, aku ingin mendapat perhatian darinya, aku rindu akan nasehat-nasehat seorang Ayah, rindu akan kata-kata petuah sang Ayah yang bisa membangkitkan semangat.

    Tapi semenjak kecil aku tak pernah bertemu dengannya, kerinduan ini telah menghasilkan kekecewaan dan telah berevolusi menjadi sebuah kebencian. Kebencian yang mendalam.

    Kekecewaan ini sedikit terobati ketika ibuku menikah lagi. Aku mempunyai ayah tiri, aku memanggilnya Bapak. Dia memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri, pun setelah adikku lahir, Bapak tak pernah pilih kasih. Aku masih ingat ketika dia menggendongku di atas pundaknya dan membimbing adikku berjalan di sampingnya.

    Bapak sangat paham akan kesedihanku selama ini. Ia selalu membagi kasih sayangnya padaku, tak jarang dia lebih perhatian padaku daripada adikku, anak kandungnya sendiri.

    Dia lakukan semua itu untuk mengobati kekecewaanku. Kekecewaan terhadap sosok seorang ayah. Seringkali ia menasehatiku, melarangku untuk membenci ayah kandungku. Namun aku tak bisa, kebencian ini sudah tertanam begitu dalam. Akarnya sudah menggerogoti hatiku.

    Malam itu aku duduk bersama Bapak. Kami memandangi sinar rembulan dari beranda rumah.

    “Roni, kapan kau akan menikah?”. Tanyanya, menyadarkan aku dari lamunanku.

    “Entahlah Pak”. Jawabku sekenanya.

    Entah kenapa, sampai saat ini aku belum berani untuk membina rumah tangga, aku takut. Trauma itu masih membekas dalam ingatanku, tergambar jelas. Aku takut jikalau menikah, nantinya aku melakukan kesalahan yang sama dengan dia, ayah kandungku. Aku takut akan menyebabkan istriku terlantar kelak. Aku takut menyamai dia. Cerminan yang kubenci.Ayah kandung yang meninggalkanku.

    Sebenarnya sudah beberapa kali Bapak menanyaiku tentang pernikahan. Tapi tetap saja, aku tak pernah menanggapi pertanyaan Bapak dengan serius. Sekarang umurku sudah dua puluh delapan tahun. Tetangga sudah mulai mempergunjingkanku. Bujang lapuk kata mereka.

    “Kenapa kamu tidak mau menikah?, kamu tidak suka sama perempuan?”. Tanya Bapak menyindirku.

    Sebenarnya tidak juga, aku masih yakin bahwa aku seorang pria yang normal. Ada beberapa orang perempuan yang aku suka. Sepertinya Bapak sudah mulai meragukan kenormalanku. Ah… sudahlah, biar waktu yang menjawabnya.

    Hari itu, perasaanku tak karuan. Ada sesuatu yang mengganjal, apakah ini pertanda?. Pertanda baik atau buruk?.

    “Roni, ayo sholat ke masjid”. Bapak memanggilku dari halaman.

    “Iya Pak, aku berwudhu’ dulu”. Ujarku menyahuti Bapak.

    Aku heran ketika sampai di masjid, tak seperti biasanya. Siang ini masjid begitu ramai, jarang sekali masjid ramai seperti ini. Mungkin banyak manusia yang sedang bertobat, pikirku.

    Aku kaget, imam memanggil namaku seusai berdoa. Aku disuruh maju, duduk di sampingnya. Kain pembatas antara shaf pria dan wanita pun dibuka. Ada seorang wanita berparas cantik duduk di belakang sana.

    “Apakah kamu siap untuk menikah?”. Imam bertanya padaku.

    “Siapa yang mau menikah?”. Aku menjawab dengan nada heran.

    Aku kaget, aku menoleh kepada Bapak, mencari pembelaan, mencari pembenaran. Berharap Bapak akan menjelaskan semua ini.

    Bapak mengangguk, lantas kemudian bersuara.

    “Iya Roni, Bapak yang merencanakan semua ini, Bapak ingin kamu menikah hari ini juga, wanita yang duduk di belakang sana adalah calon istrimu”.

    Sungguh, aku emosi, jantungku berdebar tak karuan. Aku marah, aku merasa dijebak. Aku tak menginginkan semua ini. Aku belum siap. Sungguh, Bapak sudah mengkhianatiku, Bapak menjebakku.

    Aku langsung berdiri, pergi berlari meninggalkan masjid. Aku sudah putuskan, mulai hari ini aku akan angkat kaki dari kampung halamanku ini. Aku akan pergi merantau.

    Emosi ini telah membutakanku, aku tak bisa berpikir rasional lagi. Aku pergi tanpa membawa bekal apapun, hanya baju yang menempel di badanku. Pun aku, tak berpamitan pada ibu.

    Walaupun orang Minang sudah terkenal dengan budaya merantau, ternyata merantau itu bukan suatu hal yang mudah bagiku, apalagi tanpa bekal apa-apa. Aku hanya mengantongi uang yang juga tak banyak, hanya bisa untuk bertahan hidup beberapa hari saja.

    Tujuan perantauanku adalah tanah Jawa, namun aku tak bisa menumpangi bus untuk menuju kesana, uangku tak cukup. Dengan sangat terpaksa aku memberhentikan truk-truk yang lewat di jalan lintas Sumatera. Aku menumpang dari satu truk ke truk lain. Tak jarang aku turun di jalan, menginap di rumah makan, membantu mencuci piring di rumah makan. Aku terpaksa kerja serabutan, berharap ada sepiring nasi yang bisa kulahap hari ini.

    Satu bulan lama perjalanku dari Sumatera ke Jawa, waktu yang tak normal memang, seandainya aku menumpangi bus, aku hanya butuh tiga hari untuk bisa sampai di pulau Jawa. Namun apa daya?, aku tak kuasa untuk membayar ongkosnya.

    Dengan mendapat tumpangan dari truk saja seharusnya aku bersyukur, selama dalam perjalanan tak jarang pula orang-orang berbaik hati padaku, menggunakan tenagaku untuk bekerja serabutan. Mencuci piring, membersihkan rumah makan, semua tenagaku itu dibarter dengan sepiring nasi, kadang mereka juga memberi sedikit uang.

    Akhirnya aku sampai juga di tanah Jawa. Ibukota Jakarta, perantauan yang tak pernah kuimpikan. Tak mudah untuk untuk mencari pekerjaan disini, apalagi aku hanya mengantongi ijazah SMA. Aku belum bisa mendapatkan pekerjaan yang tetap, aku masih berkerja serabutan.

    Dengan label orang Minang dan bisa berbahasa Minang, aku mendatangi rumah makan Padang yang tak sedikit jumlahnya, bahkan setiap seratus meter kita selalu bisa mendapati. Aku menawarkan diri sebagai pekerja pembantu di beberapa rumah makan.

    Gaji dari perkerjaan ini aku gunakan untuk menyewa kamar. Sedangkan untuk makan aku tak perlu memikirkannya lagi. Aku dapat jatah makan tiga kali sehari di tempatku bekerja.

    Beberapa bulan aku bekerja di rumah makan, aku mulai bosan. Kadang aku merasa gaji bekerja di rumah makan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupku di Jakarta ini.

    Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah makan, aku memilih profesi baru, sebagai kuli bangunan. Di Jakarta ini sangat banyak pembangunan, jadi tidak terlalu sulit untuk mendapatkan pekerjaan sebagai kuli bangunan. Karena banyak orang yang membutuhkan tenaga kuli.

    Tak terasa sudah lima tahun sejak kejadian itu, sudah lima tahun pula aku menetap di tanah perantauan. Mungkin ini takdirku, berkerja sebagai kontraktor bangunan, aku masih ingat pertama kali merintis karir ini. Awalnya berkerja sebagai kuli bangunan rendahan. Kesabaranku, keseriusanku, ketelatenanku, semua usaha kerasku ternyata selalu dilirik oleh atasan, berawal dari tukang aduk pasir, posisiku terus naik, perlahan.

    Kini aku bukan lagi seorang pengaduk pasir, aku sudah ditugaskan sebagai mandor, pun aku sudah menangani proyek-proyek besar, pembangunan mall, rumah sakit, sekolah dan proyek besar lainnya. Bisa dibilang aku sudah sukses sekarang.

    Pekerjaan kadang-kadang membuatku lupa akan kesehatan, ini hari ketiga aku libur bekerja, leherku terus membengkak, membuatku sulit untuk makan dan minum. Tapi aku malas untuk pergi berobat ke dokter.

    Tok tok tok..

    Terdengar Suara orang yang mengetuk pintu kosku, aku bangkit dari tempat tidur, berdiri malas membukakan pintu.

    Seorang wanita berdiri di depan pintu. Aku tak tau siapa dia. Pun aku, belum pernah bertemu dengannya.

    “Bau apa ini?, amis. Tercium sampai keluar”. Dia bertanya, terlihat cerewet.

    “Itu leher mas sakit apa?, bengkak sudah mau membusuk”. Lagi-lagi dia berbicara seolah sudah kenal lama.

    Tanpa ragu ia menarik tanganku. Ia memaksaku untuk berobat ke dokter. Itulah awal perkenalanku dengannya.

    Sejak saat itu dia terus memberikan perhatiannya padaku, mungkin dia kasihan melihatku sebatang kara, tanpa saudara. Aku pun mulai terbuka padanya, menceritakan tentang masa laluku, tentang perjuanganku untuk sampai di ibukota ini padanya.

    Semakin lama hubungan kami semakin dekat. Inikah namanya cinta?. Memang jodoh itu tidak akan kemana, aku sering mengutarakan keraguanku untuk menikah padanya. Ketakutanku atas nasib masa depannya. Namun dia tak pernah meragukanku. Dia pula yang terus menyemangatiku. Sekarang dia jadi pendamping hidupku. Istriku.

    Istriku juga tau tentang rasa benciku terhadap ayah kandungku, seringkali ia menasehatiku.

    “Tidak baik membenci orang tua”. Ujarnya.

    Namun nasehat-nasehat itu tak pernah bisa mencairkan kebencian di hatiku.

    Akhir-akhir ini istriku sering mengutarakan keinginannya untuk berkunjung ke tanah kelahiranku, Ranah Minang. Sudah beberapa kali aku menolaknya, namun ia terus memohon, akupun luluh dibuatnya.

    Ini kali pertama aku pulang kampung, sebenarnya aku juga rindu dengan kampung halamanku. Namun aku selalu malu untuk pulang.

    Sungguh, inilah penyesalan terbesar dalam hidupku. Ternyata kepulanganku ini sangat terlambat. Selama ini aku terlalu egois, tak pernah memberi kabar berita. Ternyata selama aku di tanah rantau ibu dan bapak tiriku sakit-sakitan, sampai akhirnya mereka meninggal.

    Hanya pusara yang bisa kukunjungi, hanya doa yang bisa kukirimkan. Maafkan aku ibu, maafkan aku bapak.

    Hari itu aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, aku dan istriku sudah siap dengan barang-barang yang akan kami bawa. Tanganku berusaha membuka pintu mobil, tiba-tiba tanganku terhenti, aku menoleh. Di belakangku ada seorang wanita tua, berjilbab putih, raut mukanya teduh. Ia menggenggam tanganku erat, lantas memelukku.

    Aku heran, siapa dia? Aku tak pernah mengenalnya. Aku melihat air matanya menetes.

    “Aku ibumu”. Ujarnya.

    Aku heran, ibuku sudah meninggal, barusan aku mengunjungi pusaranya, lantas siapa perempuan ini?, dia juga  mengaku sebagai ibuku. Bahkan ia meneteskan air matanya untukku.

    “Aku istri kedua dari ayah kandungmu”. Ujarnya lagi.

    Aku masih tak percaya, apakah ada seorang wanita yang berusaha menemui anak tirinya, anak dari suaminya?.

    Sungguh mulia sekali ibu ini, aku bisa melihat, tiada kebohongan dari raut wajahnya. Aku bisa merasakan kasih sayang untukku mengalir dari hatinya. Walaupun dia bukan ibu kandungku.

    “Nak apakah kamu membenci ayah kandungmu?”. Tanyanya padaku.

    Aku hanya diam, tak menjawab.

    “Nak, sungguh, sebenarnya Ayah kandungmu tak pernah ingin meninggalkanmu, ia pun juga sangat menyayangimu”.

    “Maafkan dia nak, sekarang Ayah kandungmu sudah tiada, ia sudah tenang di alam sana”. Lagi-lagi air matanya mengalir, aku tak kuasa melihatnya. 

    Ia pun bercerita tentang ayah kandungku, ayah yang tak pernah kutemui, Ayah yang kubenci, aku memiliki dendam padanya.

    Tapi sekarang, setelah mendengar cerita dari wanita ini aku pun sadar, ternyata ayah kandungku tak pernah ingin meninggalkanku, tapi ia dipaksa nenekku untuk berpisah dengan ibuku, ia dipaksa untuk meninggalkanku, karena kala itu Ayah  belum mempunyai penghasilan yang tetap.

    Wanita tua ini juga memberitahuku, katanya tak jarang ayah kandungku menyebut namaku, tak jarang pula ia ingin menemuiku. Tetapi selalu dihalangi oleh nenekku.

    Sungguh wanita ini membuka mataku hatiku, ia bukan ibu kandungku. Tapi ia melaksanakan amanat dari ayah kandungku. Amanat untuk meredam dendamku.

    Sungguh, sekarang aku sadar, mana mungkin ada seorang ayah yang membenci anaknya, mana mungkin ada seorang ayah yang tega meninggalkan dan berpisah dengan anak kandungnya. Kecuali situasi memaksanya.

    Maafkan aku Ayah, selama ini aku telah salah menilaimu, selama ini aku selalu membencimu, selama ini aku selalu dendam padamu. Kini aku sadar, sebenarnya disisi lain kamu juga menanggung beban yang berat, beban berpisah denganku. Anak kandungmu.

    Sungguh Ayah, wanita tua itu wanita yang suci, sangat tepat kau mengutusnya untuk menemuiku.

    Sungguh Ayah, ia telah berhasil meredam dendamku, dendam kebencianku padamu.

    Ayah, kini aku sudah memaafkanmu. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Meredam Dendam" Karya Palla-La (FAMili Kabupaten Agam) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top