• Info Terkini

    Sunday, October 19, 2014

    “Cinta dalam Bayangan Tuhan”, Sisi Lain Dunia Perempuan

    Singgalang Minggu, 12 Oktober 2014
    Oleh Muhammad SubhanPegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    MUNCULNYA media sosial, seperti facebook, twitter, dan beberapa lainnya, memudahkan akses komunikasi sesama penulis perempuan. Lewat hitungan detik, mereka dapat saling berinteraksi, berkarya, lalu dibaca ribuan orang. Interaksi itu memudahkan menyatunya ide dan bermacam kesamaan lainnya. Mereka berkontribusi membangun negeri lewat kata-kata. Aktivitas itu menjadi kebiasaan yang mengasyikkan, praktis. Lewat tombol tuts-tuts komputer, karya mereka melesat jauh, melampaui batas ruang dan waktu.

    Kumpulan cerpen Cinta dalam Bayangan Tuhan (2014) adalah salah satu bentuk karya yang dipengaruhi teknologi dan kemudahan akses informasi itu. Sebanyak 11 penulis perempuan dari berbagai kota di Indonesia mengumpulkan cerpen mereka di satu buku, dan memiliki keseragaman tema, yaitu seputar dunia perempuan dengan berbagai permasalahannya.

    Cerpen Sepanjang Lima Tahun Ini karya Melly Waty mengisahkan kerisauan Mey yang tidak dikaruniai anak. Risau itu menjadi luka bertimpa-timpa ketika di suatu hari ia bertemu seorang gadis kecil yang kehilangan orangtuanya di mall. Wajah gadis itu mirip seseorang yang dia kenal. Wajah itu tak lain adalah Aswin, mantan suaminya. Aswin berselingkuh, lantaran Mey tidak memeroleh anak dari buah cinta mereka.

    Cerpen ini mengundang kemirisan betapa perselingkuhan menjadi pemandangan umum di kota-kota besar. Banyak rumah tangga retak, rusak-binasa, gara-gara kehadiran orang ketiga. Perselingkuhan menjadi tradisi yang disukai sekaligus dibenci, dan meninggalkan luka beranak-pinak kepada orang-orang yang dikhianati cintanya. Cerpen ini memotret fenomena itu, dan memberi kesadaran spiritual kepada kita bahwa menjaga kesucian cinta adalah anjuran agama.

    Ocha Thalib pada cerpen Luruhnya Pernikahan Impian menulis kisah seorang perempuan bernama Sekar yang menikahi Robert, laki-laki asal Swiss, bekas atasannya. Robert sudah menikah, memiliki seorang istri dan seorang putri. Kedekatan Robert dan Sekar menumbuhkan benih-benih cinta, lalu mereka sepakat menikah. Robert memberi persyaratan bahwa pernikahan itu tanpa anak, artinya Sekar harus rela hidup menyendiri. Istri Robert (Rita) tidak terima atas perselingkuhan suaminya. Rita meneror Sekar. Teror itu mengganggu kenyamanan hidup Sekar. Tak hanya itu, suatu hari takdir tiba-tiba mengubah semuanya, Sekar hamil dan kabar itu membuat Robert marah. Robert  mempertanyakan bagaimana Sekar bisa hamil, sementara mereka telah membuat kesepakatan untuk tidak punya anak. Kritik sosial dalam cerpen ini, bahwa menikah dengan orang asing belum tentu menjamin kebahagiaan, walau secara materi dicukupi.

    Tentang kesetiaan kita baca dalam cerpen Kutemukan Cinta pada Sebait Doa karya Iis Aisharwyrma. Cerpen ini diawali kisah perihnya kehilangan yang dialami Vyna yang menerima kabar duka meninggalnya Ayodhia, kekasihnya, dalam kecelakaan pesawat udara. Ayodhia mendapat tugas ke Negeri Kincir Angin dan berjanji akan pulang secepatnya. Ayodhia memang pulang, tetapi pulang selamanya menghadap Sang Khalik. Tragedi itu meninggalkan luka di hati Vyna dan membuat dirinya terpuruk.

    Cerpen yang bertabur kutipan bait-bait doa ini, endingnya berakhir bahagia, sebab Vyna insaf bahwa tidak baik berlarut dalam kesedihan. Ia akhirnya menerima pinangan Farhan, lelaki yang mencintainya, dan siap membangun bahtera rumah tangga dalam suka dan duka. Amanat cerpen ini cukup jelas, bahwa apa yang direncanakan manusia berbeda dengan apa yang direncanakan Tuhan.

    Perihnya kehidupan seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) diceritakan Jay Wijayanti lewat cerpennya Ketika Hati Berdinding Cermin. Tokoh “aku”, asal Kediri, bekerja di Taiwan. Ketika pulang ke Kediri, ia menemui kekasihnya Jono, lalu akhirnya mereka menikah. Jono pemuda anak orang kaya. Tetapi, setelah berkeluarga, tabiat asli Jono mulai terlihat. Ia menjadi suami yang malas-malasan, tidak mau bekerja. Kehidupan suami-istri itu pun kurang bahagia. Hingga tokoh “aku” memilih kembali menjadi TKW. “Aku” dan suaminya berpisah dan tokoh “aku” menemukan Johan, suaminya yang baru. Para pencari jodoh akan mudah menemukan amanat cerpen ini, bahwa perjodohan bukan semata harta. Anak orang kaya belum tentu mewarisi semangat kerja keras kedua orangtuanya.

    Tema perselingkuhan juga terbaca dalam cerpen Tahtakan Aku di Hatimu karya Leni Sundari. Tokoh “aku” dijodohkan dengan Indra, anak dari keluarga mapan. Sebelumnya “aku” berpacaran dengan Arman, kekasihnya. Arman terpukul atas keputusan “aku” yang memilih menerima laki-laki pilihan kedua orangtuanya. Tapi apa yang terjadi kemudian? Setelah berkeluarga, “aku” merasa asing di rumahnya sendiri, karena keluarga suaminya mengecilkan keberadaan “aku”. Lebih mengejutkan lagi ketika suatu hari Indra kecelakaan. Tapi, di rumah sakit, yang menemani laki-laki itu adalah wanita lain. “Aku” terpukul. Cerpen ini menyentil, bahwa kilauan harta sering membuat orang khilaf dan menggoreskan banyak luka. Cinta hanya bisa disucikan dengan kesetiaan dan ketulusan.

    Cerita yang ditulis dengan gaya bahasa sastrawi terdapat pada cerpen Istana Pasir karya Mira Pasolong. Cerpen ini berkisah tentang seorang gadis yang tidak belia lagi karena usianya telah menginjak kepala empat. Gadis itu belum menikah. Ayahnya menginginkan gadis itu segera menentukan pilihannya. Tapi si gadis masih betah dalam kesendiriannya dan menunggu sang pangeran yang diimpikan namun tak kunjung datang. Fenomena gadis yang melebihi usia layak nikah dewasa ini menjadi fenomena yang merisaukan. Betapa tidak, umumnya, demi pendidikan dan karir, mereka betah men-jomblo. Di Minangkabau ada sindiran, “gadih gadang alun balaki” (gadis dewasa belum bersuami). Tentu, status “gadis” di usia yang tidak muda lagi itu menciptakan keresahan tersendiri, sebab di saat berinteraksi dengan banyak orang, pastilah akan ditanya “kapan kawin?”, atau “sudah berapa anak?”, dan beragam pertanyaan lainnya yang kadang memerahkan telinga.

    Lagi, kehidupan TKW kita baca dalam cerpen Mengail Pelajaran di Negeri Rantau karya Kwek Li Na. Cerpen ini berkisah tentang “aku” yang mempunyai sahabat bernama Amei. Selain TKW, Amei seorang penulis. Cerpen ini melukiskan betapa tegarnya sosok manusia bernama perempuan. Tokoh “aku” memilih menjadi TKW lantaran ia ingin menghindar dari rumah karena ayahnya berselingkuh dengan seorang perempuan muda dan meninggalkan istri sahnya. “Aku” bertekad membahagiakan ibunya tanpa sosok ayah. Cerpen ini menciptakan kemirisan bahwa perselingkuhan sangat cepat merusak kekokohan bangunan rumah tangga yang pondasinya telah dipancang dengan susah payah.

    Kisah kehidupan rumah tangga tidak bahagia diceritakan Nenny Makmun dalam cerpen For My Daughter. Cerpen ini bercerita tentang pertemuan Aira dengan Dino. Benih cinta tumbuh di hati mereka. Setelah menikah, ternyata Aira tidak mendapatkan kasih-sayang  Dino. Saat Aira sedang mengandung, Dino malah memperlakukannya secara kasar dan suka main judi. Rumah tangga mereka retak. Aira merasakan penderitaan yang membuat hidupnya tidak bahagia.

    Senada dengan cerpen For My Doughter, ketidakbahagiaan juga ditemukan dalam cerpen Tasbih Mutiara Putih karya Iis Aisharwyrma. Cerpen ini bercerita tentang tokoh “aku” (Putri Maharani) yang salah menemukan pasangan hidup. “Aku” bertemu Wisnu, lelaki yang tulus mencintainya, namun “aku” malah memilih Ricko, lelaki tampan dan mapan tetapi pengecut karena tidak pernah mau meminangnya. “Aku” merasa dipermainkan. Dia pun dirundung duka dan kesedihan mendalam. Meski tidak hidup bersama Wisnu maupun Ricko, “aku” menemukan jodohnya yang lain, yaitu Firman. Tetapi takdir mememisahkan cinta kasih dua insan itu. Firman yang tulus mencintainya dan berharap mereka dapat membangun keluarga sakinah, lebih dahulu dipanggil Yang Mahakuasa.

    Adalah sosok Erina dalam cerpen berikutnya, Titik Cahaya di Balik Air Mata. Erina diusir ayahnya yang tidak merestui ia dekat dengan laki-laki, sementara usia Erina telah layak menikah. Akhirnya, dengan berat hati, Erina pergi meninggalkan rumah dan menikah dengan Heri, lelaki pilihannya. Tapi, Erina mengalami cobaan lantaran ketidakdewasaan Heri sebagai suami. Erina tetap bersabar dan terus membimbing suaminya itu. Akhirnya Heri insaf dan menyadari kesalahannya. Ending cerita ini berakhir bahagia.

    Sementara pada cerpen Sekuntum Cinta di Kepung Derita berkisah tentang pencarian jodoh yang dilakukan Linda lewat dunia maya. Ia menemukan Niko yang memberikan janji-janji manis namun gombal dan bualan. Linda berharap dapat menikah dengan Niko, tapi lelaki yang diharapkannya adalah pecundang. Ketika Linda telah dapat melupakan Niko, kehidupannya kemudian beralih ke lelaki berikutnya bernama Erlang yang ia temukan juga di dunia maya. Komunikasi yang rutin menimbulkan rasa suka di antara keduanya. Tetapi begitulah, yang terjadi adalah kebohongan-kebohongan yang berbalut kepalsuan. Akhir cerpen ini adalah kepasrahan Linda bahwa jodoh adalah di tangan Tuhan, bukan di dunia maya.

    Secara umum, kesebelas cerpen dalam antologi ini ditulis cukup baik dan mengandung amanat yang realistis dengan kondisi kekinian. Realitas sosial yang berkelindan dalam kehidupan perempuan-perempuan, di mana pun itu, dikutip-pungut dan menjadi narasi-sastrawi yang menarik apalagi setelah dibumbui beragam konflik. Dialog-dialognya hidup. Cerita mengalir bagai air, dan enak dibaca hingga titik paling akhir. Sebagai sebuah kumpulan cerpen, buku ini berhasil menggiring pembaca untuk menyelami sisi lain kehidupan perempuan, yang mungkin, sebagiannya ada di sekitar kita, tetapi sedikit yang menyadarinya. (*)

    Diterbitkan di:
    KORAN HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 12 OKTOBER 2014

    Lihat Koleksi Buku-Buku Karya Anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: “Cinta dalam Bayangan Tuhan”, Sisi Lain Dunia Perempuan Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top