• Info Terkini

    Friday, October 10, 2014

    D.A. Akhyar: “Menulis, Awalnya Tidak Mendapat Dukungan Ortu”

    DA. Akhyar
    D.A. Akhyar Ibn Tarmujiy Ibn Rusydiy El-Jawiy, atau sering dikenal dengan nama D.A. Akhyar dilahirkan di kota kecil dan terpencil di salah satu kota Gayabaru Lampung Tengah—terlahir pada tanggal 20 Djumadit-Tsani 1412 Hijriah. Sempat memakai nama pena Diyar Oksana. Memutuskan untuk memakai nama asli (D.A Akhyar) sebagai penyemangat setiap karya-karyanya dimulai dua tahun yang lalu. Ia meruncingkan pena dan mulai mengenyam seni melalui pena dakwah—semua itu tertatih-tatih dilakukannya bermula sejak masih berada di bangku menengah pertama. Di masa-masa itu, ia hanya sebagai pegiat tulisan-tulisan lewat diary pribadi.

    Latar belakang pendidikan yang pernah dilaluinya yaitu menamatkan SD Negeri 3 Seputih Surabaya Lampung Tengah (2002-2003) dan SMP Negeri 2 Seputih Surabaya Lampung Tengah (2003-2006). Selesai menamatkan study di Lampung Tengah, ia tak langsung menempuh pendidikan layaknya anak-anak seusianya pada waktu itu, melainkan mencari financial selama kurun waktu yang cukup lama yaitu dua tahun untuk bisa melanjutkan study kembali. Study lanjutannya ke SMK Karya Andalas Palembang jurusan Akuntansi Management (2008-2011), itu pun sembari tetap bekerja. Usai menyelesaikan pendidikan di SMK, ia mendapat rekomendasi untuk masuk Ma`had Sa`ad Bin Abi Waqqash-Unismuh Palembang Prodi Bahasa Arab dan Study Islam (2011-2012). Belum mendapatkan syahadah, ia melanjutkan ke IAIN Raden Fatah Palembang, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prodi Tafsir Hadits (2013). Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, sama sekali tidak ada satu kesatuan atau keterpaduan (mungkin tidak jelas), tapi itulah reality perjalanan hidup yang dihadapinya. Di masa-masa itu, tak ada halangan baginya untuk berkarya (menulis), apa pun latar belakang pendidikannya.

    Bergulirnya waktu, mengantar dirinya pada sebuah perenungan. Tatkala ia termenung sendiri, mengingatkannya pada apa arti dari sebuah kehidupan, kisah suka dan duka, canda tawa dan tangisan, datangnya seperti angin bayu, lembut tapi hilangnya dalam sekelip mata. Hidup ini terlalu banyak pancaroba, bagi yang lemah, pasti akan terkulai, bagi yang tabah akan menemukan berkah titah-titah, dan kebahagian menanti di hadapan. Itulah adat resam sebuah kehidupan. Kadangkala memori lama menggamit kembali kenangan silam, apa yang pasti, hidup perlu diteruskan, apa jua rintangan, pasti kuarungi karena inilah masa depan yang telah kulakarkan, katanya. Tiada arti penyesalan dalam diri ini. Dia berkomitmen, untuk apa menyesali perkara yang sudah terjadi? Ia bahagia dengan jalan yang telah ia pilih, yaitu menulis. “Ya, aku menyukai hal itu; menulis, menulis dan menulis. Ketika pisahnya jasad dengan nyawa, maka tiadalah guna dari perjalanan hidup tanpa meninggalkan sebuah karya. Itulah pilihanku, untuk tetap menulis dan menulis, ‘Berkarya buat umat, sebagai investasi akhirat’.”

    Selalu ada halangan, dan selalu ada rintangan, itu biasa. Rintangan terbesar adalah tidak ada dukungan moril dari keluarga, bahkan keluarga sangat membenci ketika ia bergelut di dunia literasi karena focus kedua matanya semakin bertambah minus. Di situlah orangtuanya melarang. Tapi, baginya menulis adalah kehidupan. Dan di situ pula medan pertempuran untuk tetap tegar dan teguh serta konsisten terhadap keinginan untuk menulis, menulis dan menulis. Karena tak akan lama keluarga melarang untuk berkarya—memang tidak semua keluarga yang melarang bahkan ada yang menginginkan anaknya menjadi seorang penulis—tapi untuknya ia akui tidak. Sebelum mempunyai notebook, ia tertatih-tatih mencari budget untuk membelinya. Keseharian hanya menulis di buku-buku atau kertas kosong yang bisa untuk dicoret. Dengan gigihnya ia mencari financial demi untuk mampu membeli seperangkat notebook, akhirnya budget terkumpul dan cukup untuk membeli. Di sana ada keceriaan wajah, dan keseriusan dalam menggeluti literasi.

    Sewaktu ia baru saja menulis, ia hanya berkata, “Kalau boleh memilih, aku ingin menjadi seorang penulis lepas di mana-mana dan membumikan karya walau dalam bentuk  antologi cerpen maupun puisi di beberapa penerbit.” Yang saat itu ia hanya berani mengirimkan cerpen dan puisi-puisiku di beberapa event lomba menulis, dan pertama kali yang menerima naskahnya tentang perjalanan diri mencari kehidupan yang memotivasi, saat itu naskahnya mendapatkan jodoh dan dibukukan dengan judul “Menggapai Harapan” yang diterbitkan oleh sebuah penerbit indie. Naskah yang ia tulis ketika masih berada di asrama tua, adalah sebuah kisah nyata bersama sahabat-sahabat di asrama. Ia mengatakan, “Aku hendak mengumpul pengalaman sebanyak mungkin sebelum menulis buku sendiri.”

    Begitulah keyakinannya, meskipun sempat berkali-kali kalah dalam kompetisi yang diadakan oleh beberapa Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta di Kota Palembang, sempat pula cacian, ejekan, dan cemoohan dari beberapa teman kalau naskah yang kutulis belum layak untuk ikut kompetisi. Jatuh bangun dalam menulis itu sudah biasa, apalagi kritikan pedas, dan sangat mengharapkan saran untuk perbaikan agar lebih terasa diksi yang digunakan. “Meskipun cemoohan, ejekan dan cacian terus menghunus mengarah diri kita, biarlah kita jadikan sebagai penawar guna untuk mempertajam pena,” ujarnya.

    Namun, ketika ia mencoba keluar, dan bertemu dengan penulis-penulis lainnya akhirnya beberapa naskahnya diterima, dan ia mulai memberanikan diri untuk ikut lomba pada event-event yang sedikit besar dan banyak diikuti penulis lainnya. Hingga akhirnya, salah satu naskahnya tersaring pada salah satu event Malam Penganugerahan Pena Sumsel di Aryaduta Hotel. Beberapa nama penulis terkenal ia temui, di antaranya Benny Arnas (Cerpenis) dan Tere Liye (Penulis, Novelis). Hari itulah semakin terbakar dirinya untuk mengikuti jejak mereka dalam berkarya.

    “Yah, lagi-lagi kita hanya merancang, Tuhan-lah yang menentukan,” demikian gumamnya lagi. Nampaknya, rancangan yang dirancang sewaktu masih pemula sepertinya banyak angan. Dan kini, ia harus menumpukan perhatian untuk pembuatan buku. Usaha perlu dikerahkan untuk menghasilkan sesuatu produk yang berkualitas tinggi. Pada awal penulisan, ia bercita-cita untuk menulis di surat kabar harian ataupun majalah, sebelum berani berkecimpung dengan bidang penulisan buku. Dan akhirnya salah satu karya puisinya yang berjudul, ‘Memperkosa Keadilan’ dipublikasikan oleh surat kabar harian Sumatera Ekspress Palembang (Sumeks, 2011). Maklumlah, bukan sesuatu yang mudah untuk menulis buku, terutama untuk menulis buku pertama. Minggu lepas, ia terserempak dengan bekas sahabat seasrama tahun lalu. Temannya itu bertanya, “Sudahkah dirimu menjadi kolumnis di beberapa majalah ataupun surat kabar?” Ia hanya menjawab dengan isyarat senyum, karena pada saat itu belum seberapa karya yang muncul di surat kabar, apalagi membuat sebuah buku.

    Kini ada beberapa prestasi kepenulisan dari perjalanan dunia literasi anak rantau sepertinya, beberapa penghargaan buat ia sendiri terutama yang pernah ia gapai meskipun belum pernah meraih juara pertama, di antaranya: Sebagai 10 Nominator cerpen supported by; Rabbani Plaju Palembang, Wanita Inspirasi; Ibuku Inspirasiku, (2011). Malam Penganugerahan Pena Sumsel, sebagai 25 Nominator usia 19-25 tahun (mahasiswa) tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumeks, 2012). Nominator puisi pilihan ‘Terpenjara di Negeri Sendiri’ bersama penulis nusantara lainnya yang diselenggarakan oleh Alif Gemilang Pressindo (AGP, 2012), Alumnus KJO Part1 JPIN, Jurnalis Online ter-aktif dengan tugas (Deadline) yang di selenggarakan oleh Jaringan Pena Ilma Nafia Pusat Jawa Tengah (2012). Sebagai 20 Nominator Cerpen Pilihan JPIN Romantika Islami-Judul: Nantikanku di Batas Waktu, (Oase Qolbu, 2013), sebagai penulis 7 Nominator Naskah terbaik puisi ‘Bencana’ di Forum Aktif Menulis (FAM Publishing, 2014).

    Sebagian karyanya yang pernah dimuat dan ikut meramaikan antologi cerpen dan surat kabar harian, salah satunya di surat kabar harian Citra Budaya Sumatera Ekspress Palembang dan antologi cerpen di sebagian penerbit. Di antaranya: Antologi Cerpen Rasibook Publishing, Menggapai Harapan-Judul; Impianku Adalah Harapanku, (Rasibook, 2012) Antologi Cerpen Harfeey Publishing, Melupakan-Judul; Kuhanyutkan Namamu di Losari, (Harfeey, 2012), Antologi Puisi JPIN Pusat, Mengabadikan Dekapan Kasih Sayang Ibu-Judul; Dekapan Ibu Terabadikan (Oase Qolbu, 2012), Antologi Puisi Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN), Air Mata dan Darah Palestina-Judul; Bahtera Para Syuhada, (Oase Qolbu, 2013), Antologi Ae Publishing, Surat untuk Indonesia-Judul; Untuk Indonesiaku, (ECA, 2013), Antologi Cerpen Pilihan Romantika Islami Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN), Romantika Islami-Judul; Nantikanku di Batas Waktu, (Oase Qolbu, 2013) Antologi Puisi AE Publish, Jerawat-Judul; Jerawat Oh Jerawatat, (ECA, 2013) Antalogi Puisi pilihan Alif Gemilang Pressindo, ‘Terpenjara di Negeri Sendiri’ (AGP, 2013), Antologi Penulis Islam Indah, Karena Berbagi Itu Indah (Pena Indhies, 2013), Antologi Cerpen Harfeey Secret Admirerr-Judul; Puisi Hati Tanpa Judul, (Harfeey,2013), Antologi Cerpen Maafkan Aku Ayah, Maafkan Aku Ibu (ECA, 2013), Antalogi Cerpen Degradasi Pendidikan, (ECA, 2013), Nonfiksi, Izinkan Aku Menjemput Cinta; Seni Islam Mengelola Cinta (Oase Qolbu, 2013).

    Jika ditanya tentang cita-cita. Sedikit ia berpikir. “Cita-Cita? Ah, rasanya aku harus mencapainya dengan kerja keras dan peluh keringatku sendiri. Siapa lagi kalau bukan diri sendiri. Tidak pernah sesekali kulupakan apa yang kuimpikan, mungkin usahaku belum memadai untuk menggapai cita-citaku untuk saat itu, tapi aku yakin ke depannya, aku pasti bias! Suatu hari nanti, pasti segalanya menjadi kenyataan. Insya Allah. Akan kutaburkan segala pengalaman hidup yang telah kulalui selama ini, yang baik kujadikan manfaat untuk semua dan yang buruk biarlah menjadi iktibar untuk semua; semua history akan menjadi sebuah pelajaran dari perjalanan diri,” ujarnya.

    Memiliki cita-cita dan harapan masa depan memang tidak mutlak akan memberi jaminan dapat diwujudkan. Tetapi dengan memilikinya akan membuat kita terus-menerus terdorong untuk mencapainya. Dorongan itulah yang seringkali membuat kita sampai di tempat tertentu yang nilainya sama, atau wujudnya sama atau lebih baik dari cita-cita dan harapannya, apalagi cita-cita bagi kebahagiaan akhirat. Maka dari itu, menulis adalah solusi membumikan karya dan cinta kepada seseorang yang kita cintai, dan kepada siapa saja yang mencintai karya kita.

    Selalu kita menyangka yang di tangan orang indah dan menawan; apa yang di tangan sendiri senantiasa kelam. Selalu kita meletakkan impian yang muluk-muluk pada kepunyaan orang sedangkan orang turut terliur dengan apa yang kita miliki. Lebih baik menyibukkan dengan tujuan kita, menulis dan bergelut dalam litera untuk berkarya. Membaca itu memupuk ilmu, menulis itu menumbuhkan ilmu, menyampaikan (memberikan dan mengajar) itu menyemaikan ilmu, tidakkah kita suka berladang ilmu? “Dan, duhai sahabat, semoga bersama silaturahim kita lewat dunia maya atau profil diri ini, kita bisa berbagi dan memetik ilmu. Dan berlomba-lomba untuk berkarya,” harapnya. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: D.A. Akhyar: “Menulis, Awalnya Tidak Mendapat Dukungan Ortu” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top