• Info Terkini

    Sunday, October 19, 2014

    “Gadis Berbudi”, Bukan Sekadar Kisah Cinta

    Singgalang, Minggu (19/10/2014)
    Oleh Aliya Nurlela
    Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    Irzen Hawer, lahir di Padangpanjang. Beliau seorang pendidik sekaligus novelis yang telah melahirkan empat novel. Saya mengenal beliau setelah ia bergabung di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia sebagai anggota dan cukup aktif mengikuti event-event FAM Indonesia. Baru-baru ini, dalam Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional yang ditaja FAM Indonesia, naskah cerpen beliau berjudul “Ampek Sen” berhasil meraih juara 3. Sebelumnya, sebuah naskah cerpen karyanya pernah meraih juara 1 tingkat Sumatera Barat dalam lomba penulisan cerpen antarguru yang diadakan Rumah Puisi Taufiq Ismail.

    Novel “Gadis Berbudi” adalah novel ke-empat karya Irzen Hawer yang diterbitkan Penerbit FAM Publishing—Divisi Penerbitan FAM Indonesia. Terbit pada bulan Oktober 2013 dengan ketebalan 470 halaman. Cukup tebal. Tapi ketebalan itu menjadi tidak terasa ketika pembaca larut menikmati jalan ceritanya yang mengaduk-aduk perasaan dan memberi pencerahan.

    Novel ini mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Leman. Leman bukan nama asli lelaki ini, nama aslinya Nurman. Leman adalah gelar adat Minang yang didapatnya setelah berumah tangga, yang merupakan singkatan dari Sutan Sulaeman. Kebiasaan orang Minang, suka memanggil gelar adat dengan sepotong-sepotong, seperti; Sutan Batuah dipanggil Tuah, Sutan Rangkayo Mulie dipanggil Mulie. Begitu pun dengan tokoh lelaki dalam novel ini, Nurman mengenalkan dirinya dengan nama Leman. Sekaligus untuk menutupi nama aslinya (penyamaran) selama berada di rantau.

    Leman lahir di Padang, anak tunggal. Kedua orangtuanya berasal dari Padangpanjang yang bekerja sebagai pedagang sayur-sayuran di Pasar Raya. Lelaki ini tidak menamatkan SMP akibat kebiasaan buruknya yang sering bolos dan berkeliaran, hingga dikeluarkan dari sekolah. Orangtuanya tidak mengharapkan Leman menjadi anak berandalan, untuk itulah dia diharuskan bekerja. Sejak itu, bekerjalah Leman menjadi karyawan toko—dekat terminal Andalas Padang—yang tugasnya menjemput barang ke gudang dan malam hari tidur menjaga gudang.

    Selama bekerja menjemput barang ke gudang, Leman selalu lewat di depan kedai Etek Limah, seorang pedagang kaki lima yang berjualan tak jauh dari tempatnya bekerja. Ada yang menarik perhatian lelaki itu, yaitu keberadaan Nova seorang gadis manis lulusan tsanawiyah yang menemani eteknya berjualan. Leman yang telah berusia 25 tahun pun terpaut hatinya kepada Nova, dan tanpa terasa sudah lima tahun dia memerhatikan gadis itu.

    Sampai di sini penulis tidak menceritakan secara detail bagaimana kisah cinta itu bermula. Seperti apa Leman/Nurman pertamakali menyatakan cintanya pada Nova? Sebaliknya, seperti apa reaksi Nova saat mendengar ungkapan cinta dari lelaki penjaga gudang itu? Padahal bisa jadi kisah terpautnya dua hati ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu pembaca. Betapa berdebarnya hati pembaca ketika Leman mengungkapkan cinta dan menunggu jawaban Nova. Perasaan pembaca akan ikut larut merasa berdebar-debar dan ikut penasaran dengan jawaban Nova. Tapi penulis punya pilihan tersendiri untuk tidak membingkai ceritanya seperti itu dan lebih mempersingkat saling mengucap kata cinta itu dengan narasi satu-dua paragraf saja. Selanjutnya cerita mengalir ke rencana kawin lari antara Leman dan Nova yang didorong dua sahabat Leman bernama Ateng dan Mancon. Timbulnya ide kawin lari ini karena kedua sejoli ini sudah sama-sama saling mencintai, tapi di satu sisi kakaknya Nova yang bernama Majid sudah menjodohkannya dengan Mursal. Nova tidak menyukai Mursal dan lebih memilih Leman, Etek Limah juga mendukungnya.

    Kawin lari itu pun terjadi. Kedua pasangan ini memulai kisah barunya di Kota Padang dengan hidup serba kekurangan. Bermodal uang sumbangan dan tabungan, keduanya mengawali hidup berumahtangga. Mengontrak rumah yang keadaannya sangat memprihatinkan. Leman ikut temannya bekerja menjadi tukang parkir, berangkat pagi pulang sore. Kondisi ekonomi yang memprihatinkan, ditambah munculnya kecemburuan Leman pada seorang lelaki tua tetangganya bernama Pak Malin dan rasa lelah yang dirasakan Leman sepulang bekerja, menyulut pertengkaran hebat hingga Leman berani menjambak rambut istrinya yang saat itu sedang mengandung. Nova tak kalah kalapnya, dia membalas dengan umpatan yang cukup pedas, “Lelaki tak bertanggung jawab. Kau belikanlah aku baju. Sejak berumah tangga denganmu apa yang kaubelikan aku? Hah?!”

    Sampai di bagian ini, pembaca akan merasakan konflik yang terjadi di dalam cerita cukup menegangkan. Cerita ini seperti nyata. Potret realita keruwetan rumah tangga yang sering terjadi pada pasangan suami-istri di awal-awal pernikahan. Di mana masing-masing lebih menonjolkan ego, merasa benar dan tidak mau mengalah. Seperti pasangan Leman dan Nova, mereka lebih memilih ego masing-masing. Nova minggat meninggalkan suaminya dengan perut yang telah berisi janin, sementara Leman tak ambil pusing, karena merasa tersinggung dengan umpatan istrinya.

    Kisah rumah tangga Leman dan Nova menjadi pembuka cerita dalam novel ini. Selanjutnya penulis lebih banyak mengupas tokoh Siti yang merupakan tokoh inti (Gadis Berbudi) dalam novel ini. Penulis cukup sabar dan telaten mengurai cerita perjalanan hidup Siti sejak dia masih kanak-kanak hingga kuliah di Kampus ISI Padangpanjang. Pada setiap bagiannya, Siti diceritakan secara detail. Bagaimana pergaulan di masa kanak-kanak, teman sepermainan, masa SMP, masa SMA, interaksi dengan guru, mengasah bakat dan berbagai harapan-harapan Siti yang dituangkan penulis dalam buku ini. Salut! Di usia penulis yang bukan anak sekolahan lagi, tapi bisa mendalami cerita dengan menghadirkan bagian-bagian detail di sekolah. Bisa jadi karena beliau seorang guru/pendidik yang setiap hari berinteraksi dengan para siswa di sekolah, hingga bisa menyelami karakter siswa seperti dalam tokoh Siti. Dari sinilah pembaca bisa menangkap siapa sosok Siti, yaitu seorang gadis berbudi yang sederhana, tulus, ulet dan berprestasi.

    Latar belakang penulis yang berasal dari Minangkabau sangat jelas sekali terlihat dalam penggunaan bahasa di novel ini. Di dalamnya bertabur bahasa Minang dan istilah-istilahnya yang bagi orang luar Minang masih terkesan asing. Untuk pembaca luar Minang,  memahami berbagai istilah asing di dalamnya, harus sering-sering menoleh ke catatan kaki agar rasa bahasa yang dimaksud penulis dari istilah tersebut dapat dirasakan juga oleh pembaca. Namun penulis tak bersikap pelit dalam mengenalkan kosakata Minang itu, ada beberapa penuturan yang menunjukkan penjelasan dari bahasa yang dimaksud. Secara tidak langsung, pembaca juga diajak mengenal daerah Minangkabau, bahasanya serta adat yang berlaku di daerah tersebut. Hal ini menambah wawasan positif bagi pembaca, tanpa lebih dulu datang ke Minang, sudah mendapat cerita awal yang mengenalkan daerah tersebut.

    Pada bagian tokoh Siti sudah kuliah, saya membaca nama tokoh-tokoh dosen di dalam cerita adalah nama-nama asli, bukan samaran. Seperti nama tokoh Sulaeman Juned. Saya yakin ini nama asli. Siapa tak kenal Sulaeman Juned, seorang dosen yang sekaligus sastrawan Sumatera Barat asal Aceh? Dalam novel ini pun, tokoh Sulaeman Juned dicirikan seperti aslinya. Sehingga bagi orang-orang yang dekat dengan beliau dan mengerti keseharian beliau akan langsung teringat akan sosok penulis Sulaeman Juned.

    Awalnya saya sendiri sempat membatin, mengapa penulis tidak menyamarkan tokoh-tokoh dosennya? Bukankah ini cerita fiksi yang hanya terinspirasi oleh kisah nyata? Namun akhirnya saya tersenyum sendiri, bahwa tak ada hak intervensi pembaca dalam karya seorang penulis. Penulis berhak mengambil tokoh dari mana saja, baik disamarkan ataupun tidak. Itu pilihan penulis yang tentunya sudah melalui pertimbangan yang matang ketika menuliskannya. Justru saya berbalik merasa salut dengan cara penulis yang mengangkat tokoh asli dalam novel ini. Sebab, secara tidak langsung menunjukkan bahwa penulis seorang yang menghargai kawan-kawannya, bagus dalam pergaulan dan tidak merasa keberatan mengangkat dan mempopulerkan nama kawan-kawannya melalui novel ini. Para tokoh pun, termasuk Sulaeman Juned patut berbangga dan berterima kasih kepada penulis, karena tercantum “abadi” dalam novel ini yang akan dibaca banyak orang dari berbagai pelosok negeri, bahkan luar negeri.

    Banyak pesan positif yang diselipkan di dalam cerita Gadis Berbudi. Seperti, bagaimana sejatinya hidup berumah tangga yang akan berhadapan dengan onak duri. Menyatukan dua hati yang saling mencintai, ternyata tidak cukup hanya cinta saja yang menjadi pondasi. Kedua belah pihak harus membekali diri dengan pemahaman agama yang kuat, kesantunan, dan saling menghargai pasangan. Hingga tak terjadi korban egoisme kedua orangtua seperti yang terjadi pada tokoh Siti, di mana Siti menjalani kehidupannya sebatang kara sejak kanak-kanak hingga dewasa. Ibu yang sakit gila akhirnya meninggal dan keberadaan seorang ayah entah di mana. Siti merasakan pahitnya diolok-olok sebagai anak orang gila. Namun, anak yang lahir dari serba kekurangan dan keterbatasan itu justru menjadi pribadi yang mandiri dan berprestasi.

    Ending cerita dalam novel ini, berakhir manis dan mengharukan. Tokoh Siti dipertemukan dengan Nurman, sang ayah. Pertemuan yang terjadi di atas panggung teater itu pun menjadi momen tak terduga bagi kedua tokoh yang disaksikan para penonton di dalam gedung. Penulis berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca, hingga ikut terkesiap dan lega ketika akhirnya Siti si Gadis Berbudi bisa bertemu ayah kandungnya. 

    Beberapa kali saya membaca karya Irzen Hawer, baik itu novel-novelnya maupun cerpen, saya selalu menemukan ciri khas dari setiap tulisannya. Ada ciri khas kuat yang melekat pada karakter tokoh-tokoh ceritanya, terutama pada tokoh utama lelaki yang selalu dikesankan sedikit berkarakter acuh (cuek) tapi berjiwa humoris. Ciri khas lainnya terlihat dalam kepiawaian penulis saat meramu bahasa interaksi antartokoh yang sering diselipkan humor dan terkadang di luar dugaan pembaca, hingga tak sadar kita pun ikut tertawa. (*)

    Diterbitkan di:
    KORAN HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 19 OKTOBER 2014
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: “Gadis Berbudi”, Bukan Sekadar Kisah Cinta Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top