• Info Terkini

    Tuesday, October 21, 2014

    Herman Suryadi, “Lahirkan Banyak Karya Sejak Era Mesin Tik Manual”

    Herman Suryadi
    Penulis yang satu ini dilahirkan di Bengkulu 16 Juni 1960. Putra ke-6 dari Bapak Ahmad Gafur dan Ibu Sawiyah. Menamatkan pendidikan di SD Negeri 10 Kodya Bengkulu (1974), SMP Negeri 1 Kodya Bengkulu (1977), SPG Negeri Kodya Bengkulu (1981), D-2 PGSD FKIP Universitas Terbuka (1996), S-1 PGSD FKIP Universitas Terbuka (2004), S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu (2009).

    Bekerja sebagai Guru Sekolah Dasar sejak tahun 1981. Predikat Guru Teladan II Kecamatan Teluksegara (1994). Guru Teladan I Kecamatan Teluksegara, Guru Teladan I Kodya Bengkulu, Guru Teladan I Provinsi Bengkulu (1996), Finalis Guru Teladan Nasional di Jakarta (1996). Predikat tersebut kembali diukir dengan gelar Guru Berprestasi I Kecamatan Muarabangkahulu, Guru Berprestasi I Kota Bengkulu, Guru Berprestasi I Provinsi Bengkulu, Guru Berprestasi III Nasional di Jakarta (2011). Tahun itu juga meraih reward Guru Berprestasi dari Kementerian Pendidikan Nasional untuk melakukan “Penguatan Pendidikan” ke Tokyo, Jepang. Saat ini bertugas di SD Negeri 88 Kota Bengkulu (2010-kini). Pernah pula menjabat Kepala Sekolah di SD Negeri 71 Kota Bengkulu (2005-2007) dan Kepala Sekolah di SD Negeri 11 Kota Bengkulu (2007-2010).

    Mulai menulis puisi, prosa, dan artikel sejak tahun 1976. Karyanya pernah dimuat di berbagai media cetak lokal dan dan nasional. Di antaranya di Majalah Kawanku, Hai, Teruna, Kucica, Klub Kapten Klim, Warta Pramuka, Majalah Pramuka, Sarinah, Mingguan Merdeka, Tabloid Asah, Tabloid Jelita, Media Sekolah (Jakarta), Sahabat Pena (Bandung), Minggu Pagi (Yogyakarta), Mingguan Semarak, Harian Semarak, Harian Rakyat Bengkulu, Media Bengkulu, Benteng, Tobo Kito, Harian Bengkulen Pos (Bengkulu).

    Kejuaraan Menulis/Mengarang yang pernah diraihnya: Juara II Mengarang Puisi Se-Provinsi Bengkulu judul “Balada Nyamuk Republik” (1980), Juara II Mengarang Prosa judul “Kembang-kembang Dalam Belukar” (1981), Juara III Mengarang Naskah Drama Daerah Bengkulu judul “Putri Mayang Terurai” (1983), Juara I Mengarang Puisi Judul “Warakawuri” (1983), Juara I Mengarang Prosa judul “Burniat” (1984), Juara II Mengarang Naskah Drama Radio judul “Selamat Tinggal Si Jambul Merah” (1987), Juara III Menulis Buku Teks IPS SD judul “Bengkulu Kemarin dan Hari Ini” (1988), Juara I Mengarang Buku Bacaan Tingkat Provinsi Bengkulu judul “Bahana Camar dan Cemara” (1993) dan buku yang sama mendapat juara II Nasional Penulisan Buku Bacaan Anak oleh Pusat Perbukuan (1993) di Jakarta.

    Selain itu, Juara I Menulis Buku Cerita Anak judul “Ketika Raflesia Berbunga” (1994), Juara II Menulis Kumpulan Puisi Anak judul “Aku Ingin Jadi Presiden” (1999), Juara II Menulis Cerita Anak judul “Mastodon versus Monster” (2000), Juara Harapan I menulis cerita bergambar anak judul “Impian Si Lumang” (2000), Juara I Lomba Bertutur se-Sumatera di Padang (2002).

    Buku Fiksi yang terbit “Bahana Camar dan Cemara” (Balai Pustaka Jakarta, 1995), “Ketika Raflesia Berbunga” (Adicita Yogyakarta, 2001), “Mastodon versus Monster” (Menara Mega Perkasa Banten, 2001), “Putri Gading Cempaka”, “Balai Buntar”, “Benteng Marlborough” (PKK Provinsi Bengkulu, 2004 dan Citra Sahabat Bengkulu, 2010), “Gerhana Bulan di Danau Dendam” (Oksana Publishing Sidoarjo, 2014). Buku Cerpen bersama, di antaranya: “Sosok Hebat Itu Berlabel Emak” (Halaman Moeka Publishing Jakarta, 2012). Kumpulan Puisi Anak “Aku Ingin Jadi Presiden” (Wanda Putra Persada Semarang, 2002), “Simfoni Tanah Lahirku” (Oksana Publihing Sidoarjo, 2014). Buku Kumpulan Puisi Bersama Penyair Sumatera “Galanggang” (Dewan Kesenian Padang, 2003).  “Pelatuk” (Teater Andung Bengkulu, 2004). “Sumatera Disastra” (Taman Budaya Bengkulu, 2006). Bersama Penyair Bengkulu, “Riak 1” (Forum Sastra Bengkulu, 1991), “Riak 2” (Forum Sastra Bengkulu, 1992), “Riak 3” (Forum Sastra Bengkulu, 1993) “Monolog” (TB & FS Bengkulu, 1994) “Besurek” (TB & FS Bengkulu, 1996) Bersama Penyair Nasional “Bunga Rampai” (TB Bengkulu, 1995), “Refleksi Setengah Abad Merdeka” (TB Surakarta, 1995), “Kebangkitan Nusantara II” (Studio Seni Sastra Kota Batu, 1995). “Maharaja Disastra” (Taman Budaya  Bengkulu dan Ombak Yogyakarta, 2006), “Kepada Tuan Presiden” (Camar Makassar, 2014), “Cinta Itu Bernama Indonesia” (Smart WR Yogyakarta, 2014), “Goresan-Goresan Indah Makna Kasih Ayah Bunda” (Oksana Publishing Sidoarjo, 2014), “Terima Kasihku untukmu, Guru” (Oksana Publishing Sidoarjo, 2014). Ada beberapa kumpulan puisi beliau yang masih sebatas manuskrif dan pada gilirannya juga akan diterbitkan sebagai buku kumpulan puisi yaitu, “Potret Diri” (1976-1981), “Di Bawah Tenda dan Bunda” (1982-1992), “Tukang-Tukang” (1993-1998), “Dendam Danau Dendam” (1999-2002).

    Pernah mengasuh Acara “Taman Harapan Kucica”, “Tokoh Kita”, “Derap Pramuka” di Radio Republik Indonesia (RRI) Bengkulu (1979-1985). Sempat menjadi Wartawan SKM Semarak Bengkulu terbitan Pemda Provinsi Bengkulu dengan nomor pokok SB-20 (1986-1987). Pengasuh acara “Pelangi Sastra”, “Gema Pramuka”, “Obrolan Celoteh Selengek” di Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) Tingkat I Provinsi Bengkulu, (1988-1998). Pengasuh Rubrik “Kecek Kito Ajo” Harian Semarak di Bengkulu (1992), Rubrik ”Kecek Tobo Kito” Mingguan Tobo Kito Bengkulu (1998). Rubrik “Galeri Sastra” Harian Rakyat Bengkulu (2005). Rubrik “Celoteh Selengek“ dan Rubrik anak “Abeng” di Harian Bengkulen Pos (2006).

    Kegiatan yang beragam macam tersebut dilaluinya bukan tanpa rintangan. Beliau memulai kegiatan menulis pada era mesin tik manual. Itu pun pada mulanya hanya bisa didapat dari hasil “pinjam sana pinjam sini” (baca: kala itu masih SMP). Belum lagi tulisan yang akan dipublikasikan harus dikirim lewat Kantor PN Pos dan Giro (kini Pos Indonesia) pakai amplop dan dibubuhi prangko. Hasilnya pun mesti menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tidak semua hasil tulisan beliau diterima oleh pihak redaktur majalah, surat kabar, dan penerbitan buku. Banyak yang dikembalikan dengan alasan isi kurang sesuai dengan misi penerbit yang bersangkutan. Banyak juga yang tidak memberi kabar tentang nasib tulisan yang dikirim. Semangat pantang menyerah yang terdapat pada dirinya, membuat tradisi menulis selalu hadir dan melahirkan karya tulis terbarunya hingga sekarang. Buku fiksi pertamanya yang terbit berjudul “Bahana Camar dan Cemara” diterbitkan (1995) oleh Balai Pustaka Jakarta sampai pada cetak ulang ketiga.

    Bagian yang menggembirakan, saat tulisan kecil dan ringan berupa puisi, cerita humor dimuat di majalah dan dikirim honorariumnya lewat weselpos. Honor pertama yang diterima adalah Rp500,00 (lima ratus rupiah). Bukti majalah yang terbit dibaca oleh teman-temannya se-SMP. Bahkan ada di antara tulisannya dijadikan bahan pelajaran oleh guru Bahasa Indonesia saat di SMP. Ditambah lagi beliau sering memenangkan kegiatan lomba dan sayembara mengarang sejak masih sekolah hingga ketika telah menjadi seorang guru. Inilah yang memotivasi beliau untuk kemudian selalu menulis apa pun yang bisa ditulis. Ragam tulisan yang banyak ditulis beliau adalah puisi, cerita anak, cerita pendek, dan beberapa tulisan lepas berupa artikel dan essai.

    Herman Suryadi melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis asal Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah bernama Sri Mulyaningsih pada 28 Juli 1991. Untuk urusan menentukan pilihan judul buku yang akan dipublikasikan, istrinya adalah orang yang paling diandalkan untuk memilih judul yang pas dan tepat. Dari perkawinannya, beliau dikaruniai 4 orang putra: Pandu Jatra Suryaningrat (1992), Herdian Dwinusa (1994), Muhammad Tahta Fajrianto (1995), dan Kun Fadila Wiranaba (1998).

    Dalam berorganisasi beliau aktif di Pengurus Forum Sastra Bengkulu (1991-2004), Pengurus Himpunan Pengarang Indonesia (HPI) Aksara Bengkulu (1994-kini). Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah Provinsi Bengkulu (1999). Andalan Pelatih Pembina Pramuka di Gerakan Pramuka Kwartir Daerah 07 Provinsi Bengkulu, Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 04 Kota Bengkulu (1982-kini). Ketua Ikatan Alumni Universitas Terbuka Wilayah Bengkulu (2012-2016). Pernah diminta menjadi Penasihat Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Bengkulu. Pernah diundang sebagai Peserta Pertemuan Sastrawan Nusantara IX (1997) di Padang. Peserta Kongres VIII Bahasa Indonesia di Jakarta (2003). Peserta Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta (2008). Peserta Kongres X Bahasa Indonesia di Jakarta (2013). Saat ini beliau tinggal di Jalan Unib Permai IV C No. 20 Blok 6 RT 13 RW 04 Kota Bengkulu 38126. Telepon rumah 0736-7310727 dan HP. 08127388057. Surel: hermansuryadi60@yahoo.co.id. (*)

    Lihat Koleksi Buku Karya Anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai sastra. Sastra merupakan sesuatu yang penting yang harus diajarkan bagi pelajar Indonesia. Saya memiliki beberapa pembahasan sastra yang bisa anda kunjungi di www.lepsab.gunadarma.ac.id

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Herman Suryadi, “Lahirkan Banyak Karya Sejak Era Mesin Tik Manual” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top