• Info Terkini

    Friday, October 10, 2014

    Irja Nasrulloh: “Membumikan Literasi di Tanah Para Nabi”

    Irja Nasrullah
    “Buku adalah anak abadi yang dilahirkan seorang ilmuwan”, itulah kata-kata yang disampaikan Imam Ibn al Jawzy, yang dikutip di Kitab Qimmatuzzaman. Kata-kata tersebut menyiratkan makna mendalam, terkait eksistensi sebuah buku. Tentu saja, dari sinilah kita tak bisa menutup mata akan pentingnya profesi menulis.

    Perlu kita ketahui, kita mengenal ulama-ulama zaman dahulu, karena kita membaca karya mereka. Misalnya, kita tahu Imam Ibnu Hajar al Atsqalani dari kitab Fathul Bari yang beliau tulis. Kita paham Imam Nawawi, dari kitab Syarh Sahih Muslim; Imam Syafi’i dari kitab Ar Risalah beliau dan banyak lagi contoh ulama beserta kitab-kitabnya yang berjilid-jilid di berbagai perpustakaan Islam. Begitu juga dengan para ilmuwan, mereka mewariskan ilmu yang tergores dalam kertas-kertas yang kemudian diajarkan dari masa ke masa. Benarlah orang yang mengatakan bahwa menulis merupakan tradisi kaum intelektual. Selanjutnya, siapa yang akan menjaga tradisi tersebut, kalau bukan diri kita sendiri?

    Saya pribadi, mulai berkecimpung dalam dunia tulis menulis sejak duduk di bangku SMA Takhassus Al Qur’an Wonosobo. Itulah awal saya melek akan dunia tulis-menulis. Saya sadar betul, betapa menulis merupakan hal yang harus saya kuasai.

    Kalau menilik riwayat keluarga, maka saya tak menemukan anggota keluarga saya yang fokus menulis. Hal ini bisa dimaklumi, karena saya tumbuh dari keluarga kecil di sebuah pelosok desa yang terletak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Walaupun begitu, saya pribadi lahir di Abepura, Irian Jaya (24 Februari 1989), karena waktu itu, ayah dan ibu saya mengundi nasib di daerah timur Indonesia tersebut.

    Sejak duduk di bangku TK, saya sudah berada di Jawa. Sejak kecil—tepatnya saat  SD—saya membiasakan diri membaca buku-buku yang dibeli oleh ayah. Buku-buku tersebut biasanya disertai dengan gambar yang menarik dan berwarna-warni. Mungkin, hal itulah yang membuatku semakin suka membaca. Terkadang, kalau ada sobekan koran yang habis digunakan untuk membungkus tempe, saya ambil koran itu dan saya baca. Bungkus tempe yang digunakan waktu itu, berlapis-lapis. Lapis pertama biasanya memakai daun pisang dan lapis di atasnya pakai kertas bekas, seperti koran. Dari kebiasaan membaca ini, muncullah keinginan untuk menulis. “Masa, saya hanya jadi pembaca. Kalau mereka bisa menulis, kenapa saya tidak?” Batin saya menghentak-hentak. 

    Kembali lagi ke masalah hobi menulis di SMA, saya pun mulai menjalin relasi dengan seorang penulis yang rumahnya tak jauh dari pesantren. Penulis itu sudah banyak menerbitkan buku di salah satu penerbit mayor di Yogyakarta. Berkat silaturahim dengannya, semangat menulis saya membumbung dan menggebu.

    Saat di SMA, saya diberi amanah untuk menjadi Pimpinan Umum Majalah LENTERA (2005). Majalah LENTERA sendiri merupakan majalah sekolah yang dananya bersumber dari sekolah dan sedikit iklan dari luar. Saat mengemban amanah sebagai Pimpinan Umum Majalah LENTERA itu, pengetahuanku seputar kepenulisan dan jurnalistik semakin terasah. Beberapa diklat jurnalistik kami berikan untuk teman-teman di SMA dengan menghadirkan pakarnya langsung dari luar sekolah. Secara otomatis, saya pun juga banyak belajar dari mereka.  

    Alhamdulillah, hobi menulis saya, rasanya tak sia-sia. Saat duduk di SMA, sekaligus menjadi santri di PPTQ Al Asy’ariyyah, salah satu naskah sandiwara saya diudarakan di 98.8 POP FM Wonosobo. Sandiwara tersebut dimainkan dan diperankan oleh para penyiar di radio itu. Mungkin sekilas, itu hal yang sederhana, tapi sungguh sangat berkesan bagi saya.

    Saat di SMA, awalnya saya diterima di jurusan IPA. Namun, kemudian saya berubah pikiran. Tiba-tiba terbesit untuk mendalami bahasa, terlebih bahasa Arab, maka saya pun pindah ke jurusan bahasa. Ada empat bahasa yang diajarkan di sekolahku yaitu bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Mandarin. Tidak hanya kaidah kebahasaan yang dajarkan di sana, akan tetapi juga sastra, seperti sastra Inggis dan sastra Indonesia.

    Pengetahuan saya tentang bahasa dan sastra bertambah sehingga saya memberanikan diri untuk menulis sebuah novel. Waktu itu saya belum terlalu dekat dengan seluk-beluk komputer. Walaupun saya sudah belajar mata pelajaran informatika dan praktik di labolatorium komputer, tetapi tetap saja masih belum mahir mengetik. Toh saya pun belum punya komputer pribadi, apalagi laptop.

    Saya menulis novel secara manual di buku tulis. Sambil menenteng buku tulis, saya menyepi ke masjid dan mencari tempat yang cukup strategis. Saya mencari tempat yang tersembunyi dan tak terlihat oleh para santri. Di sanalah saya menggoreskan inspirasi yang menari-nari di atas kepala. Saya menulis setelah pulang sekolah, ketika tak ada kegiatan di pesantren. Novel saya waktu itu sedikit bersinggungan dengan masalah teologi Islam-Kristen. Karenanya, tak jarang saya membawa buku The Choice, karya Ahmed Deedat. Buku itu berisi perbandingan Islam-Kristen yang disertai dengan pendapat-pendapat penulis yang cukup logis. Saya bermaksud menulis hal-hal yang beraroma teologi, dengan tetap berdasar pada referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Entahlah, kecenderungan saya membahas teologi ini ternyata berpengaruh terhadap tulisan-tulisan saya selanjutnya.

    Setelah rampung menggoreskan ide-ide di buku tulis, saya membawa tulisan itu ke rental komputer pesantren. Namun tak jarang rental komputer pesantren sedang penuh dengan orderan dari santri, juga orang-orang luar pesantren. Kalau sudah seperti itu, mau tidak mau keluar pesantren dan mencari rental komputer lain. Waktu itu saya tak terlalu suka jajan dan menyisihkan uang saku untuk biaya rental juga print. Setelah selesai di-print, tulisan saya serahkan kepada salah seorang guru sastra Indonesia di SMA. Saya ingin beliau menjadi First Reader sekaligus sebagai editor. "Wira Kurniawati, nama guru saya itu, yang dengan tangan terbuka menerima permintaan bantuan saya". Bu Wira, kini sudah menjadi dosen di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Sebelumnya, beliau sempat mengajar di UNSIQ (Universitas Sains Al Quran Wonosobo).

    Akhirnya, novel pertama saya terbit secara indie di penerbit yang ada di pesantren. Novel yang  berjudul Akhirnya Malichah (PPTQ Press-2006) itu saya bagi-bagikan gratis kepada teman-teman di sekolah dan pesantren. Dengan hal itu, saya mengharapkan nantinya ada komentar dan kritik pada buku perdana saya yang kelak bisa jadi bekal untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Di bagian akhir novel saya itu, saya selipkan antologi cerpen yang saya beri judul Lazuardi di Atas Ma'hadku. Jadi, sebenarnya novel itu bercampur dengan antologi cerpen. Saya tak ingin repot dan sengaja menyatukan keduanya.

    Tahun 2007, saya lulus dari SMA Takhassus Al Qur'an Kalibeber Wonosobo. Langkah selanjutnya adalah ikut tes penerimaan studi ke Timur Tengah yang diadakan Departemen Agama dan alhamdulillah lolos. Akhirnya saya berangkat ke Mesir, pada akhir tahun 2007. 

    Liburan pascaujian pada musim dingin (awal tahun 2008) tiba. Saya kembali bersua dan fokus dengan huruf-huruf. Ya, saya meneruskan berkutat dengan ide-ide yang kemudian dituangkan dalam bentuk cerita fiksi. Kebetulan sekali waktu itu ada lomba menulis cerpen yang diadakan untuk mahasiswa baru dalam ajang LPEPM KSW (Kelompok Studi Walisongo) Kairo. Jadi, saya semakin terpacu untuk menulis.

    Rezeki manusia sudah ditentukan di Lauhul Mahfudz oleh-Nya. Begitu juga dengan rezeki saya yang resmi menjadi juara pertama dalam lomba cerpen LPEPM KSW 2008. Judul cerpen saya yang menggaet hati juri waktu itu berjudul Kasih Tak Dianggap, berkisah tentang seorang mualaf yang meneruskan studinya di Kairo.

    Minat menulis saya tidak terbendung dan saya begitu haus akan komunitas menulis. Tanpa pikir panjang, saya bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir yang sekretariatnya berada di Nasr City, Kairo. 

    Selain mengadakan bengkel karya setiap minggu, saya dan teman-teman di Forum Lingkar Pena juga mengadakan acara-acara massif pelatihan kepenulisan untuk mahasiswa Indonesia di Mesir. Pelatihan kepenulisan itu diadakan besar-besaran dan menghadirkan pemateri yang mumpuni di bidangnya. Terkadang FLP Mesir juga menghadirkan penulis-penulis dari Indonesia langsung untuk memberikan ilmu mereka kepada mahasiswa Indonesia di Mesir. Pada momen-momen tertentu, FLP Mesir juga mengadakan tour literasi ke tempat-tempat menarik di Kairo. Selain refreshing di sana, anggota mendapat tugas menuliskan setting tempat yang sedang dikunjungi ke dalam sebuah cerita. Kemudian, pada waktu tertentu, FLP Mesir juga mengadakan proyek pembuatan buku antologi.

    Setelah beberapa saat bergabung dengan FLP Mesir, saya menulis sebuah novel yang berjudul The Love Empire yang kelak menjadi juara satu dalam lomba menulis jaizah dubes 2009-2010 Word Smart Center-Cairo.

    Pengalaman menulis saya bertambah, ketika bergabung dengan kajian-kajian ilmiah. Salah satu dari kajian-kajian tersebut adalah kajian Al Quran dan tafsir. Tak jarang, saya mendapat giliran untuk menulis makalah ilmiah kealquranan sebagai bahan kajian.

    Singkat cerita, saya mendapat amanah untuk menahkodai FLP Mesir, periode 2012-2013. Setelah selesai mengemban amanah sebagai ketua FLP Mesir, saya diberi amanah untuk ikut menjadi bagian dari BPP (Badan Pengurus Pusat) Forum Lingkar Pena 2013-2017, Divisi Jaringan Wilayah.

    Selain bergabung dengan FLP, saya berniat untuk melebarkan ukhuwah dengan forum kepenulisan lain. Saya mencoba mengenal lebih dekat tentang Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Langkah pertama yang saya lakukan adalah dengan menerbitakan buku di FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia. Buku saya yang terbit di FAM Publishing berjudul Risalah Cinta Dua Agama (2013). Buku tersebut adalah buku non-fiksi yang saya racik dengan gaya fiksi. Jadi, buku itu berisi dialog Islam-Kristen, yang saya ramu dengan dua tokoh fiksi yang mengadakan kongkow bareng lintas agama. Setelah itu, saya benar-benar mendaftar menjadi anggota FAM Indonesia dan mendapat IDFAM2013 sebagai bukti resmi bahwa saya sudah menjadi FAMili Indonesia.

    Karya saya yang lain yang sudah terbit adalah Antologi-Mesir, Pesona dan Tragedi (Halaman Moeka), serta dalam proses terbit Antologi-Puisi Bebas Kreatif FAM Tulungagung (FAM Publishing), Antologi-Wonderful World (Tim FLP), dan novel Mukjizat Setangkup Kasih.

    Bagi saya, menulis adalah sebuah bentuk kontribusi untuk umat manusia. Suatu hal yang kita lakukan dan itu bermanfaat bagi orang lain itu adalah kontribusi. Menulis merupakan proses untuk menjadi bagian agen perubahan (agent of change) masyarakat dunia. Untuk membangun sebuah peradaban yang maju, dibutuhkankanlah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sendiri butuh sistematisasi dan kodifikasi. Bagaimana caranya? Yaitu dituliskan. 

    Bukan hanya itu saja, jika menulis dilakukan lillaahi ta'ala, maka akan menjadi investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir, walaupun penulisnya telah didekap liang lahat. Baginda Rasulullah SAW bersabda, "Jika manusia itu meninggal, maka akan putus amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya, anak saleh yang mendoakan orangtuanya." (HR. Muslim). Nah, menulis sendiri termasuk dalam kategori ilmu yang dimbil manfaatnya.

    Banyak orang yang masih menganggap bahwa kemampuan menulis tergantung bakat. Anggapan itu bisa jadi benar, tetapi kemungkinan tidak benarnya lebih besar. Hal ini terbukti dengan munculnya penulis-penulis besar dunia yang mengawali proses kreatif mereka dari nol. Proses untuk mencapai sebuah keberhasilan merupakan hukum alam (sunnatullah) dan itu bisa tercapai dengan usaha keras, bukan sekadar bakat. James A. Garfield, Presiden Amerika Serikat ke-20, berkata, "Jika sesuatu dilakukan dengan upaya kerja keras dan bukannya dengan bakat, maka itu merupakan kemungkinan pengganti yang paling baik."  

    Tidak ada syarat khusus untuk menjadi seorang penulis. Selama ada kemauan keras, pasti setiap orang bisa menulis. Kemauan keras inilah yang akan membuat seseorang untuk konsisten belajar menulis. Syarat untuk menjadi penulis ya menulis itu sendiri, apa pun jenis tulisannya. Adapun teori kepenulisan beserta tetek-bengek di dalamnya, itu akan mengikuti secara bertahap. Jangan sampai kita seperti apa yang dikatakan oleh A.C. Spectorsky, "Banyak orang yang ingin jadi penulis, namun hanya beberapa yang benar-benar mau menulis."

    Sudah lumrah jika seorang penulis merasakan aral dan rintangan dalam proses kreatifnya. Justru hal tersebut yang akan mendewasakan serta mematangkan jiwanya. Berkaitan dengan rintangan atau cobaan menulis, saya sendiri tidak jarang mendapatkannya. Contoh satu hal simpel yang membuat saya hampir putus asa waktu itu. Semua naskah saya, baik itu naskah novel, cerpen, makalah ilmiah, puisi, ide-ide menulis, dan lainnya yang saya tulis sejak awal-awal di Mesir, ludes seketika. Komputer saya rusak. Saya sempat panik sekaligus nelangsa. Dari situ saya sadar, ternyata saya telah berbuat kesalahan. Seharusnya saya membuat backup alias menyalin data sebagai cadangan, baik dengan CD atau lainnya. Itu contoh sederhana bagaimana rintangan dalam menulis memberi pelajaran dan kita "lebih dewasa". Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

    Itulah sekelumit kisah, yang bisa saya bagi. Semoga Allah selalu menunjukkan kita dan menjadikan karya-karya kita sebagai wasilah untuk mencium aroma surga-Nya.

    Saya akhiri coretan kali ini dengan mengutip kata-kata Hamilton Holt: "Tak ada sesuatu yang berarti, datang dengan mudah. Separuh usaha tidak berarti memberikan separuh hasil, atau bahkan tidak memberikan hasil sama sekali. Pada akhirnya, bekerja, bekerja terus, bekerja keras dan cerdas merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh hasil."

    Saya membuka silaturahim seluas-luasnya dengan para pembaca. Tempat tinggal saya sekarang berada di Rabea El Adawea, Nasr City, Kairo. E-mail: elnasr89@yahoo.com, Facebook: Irja Nasrulloh  HP: +201114573347. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Irja Nasrulloh: “Membumikan Literasi di Tanah Para Nabi” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top