• Info Terkini

    Wednesday, October 8, 2014

    Menggagas Gerakan Pasaman Menulis

    Singgalang, Selasa, 7 Oktober 2014
    Catatan Apresiasi dari Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT Pasaman yang ke-70
    Oleh Kurnia Hadinata
    (Penulis adalah pecinta sastra, berdomisili di Panti-Pasaman)

    “Ini adalah potongan jalan yang belum beraspal, jalan menuju sebuah perkampungan yang dulu mengisolasikan diri dari masyarakat Lubuk Sikaping. Mereka berasal dari daerah Kampar. Setiap aku melewati jalan ini selalu menyenangkan, seperti membawaku surut ke suatu masa yang telah terjahit dengan anganku.”

    Inilah salah satu cuplikan cerpen karya Yulisda, peserta dalam Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT Pasaman ke-70 yang diselenggarakan Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Lomba yang dibuka pada Juli hingga ditutup 23 September 2014 silam telah melahirkan sejumlah cerpenis muda Pasaman.  Secara umum lomba ini telah mampu melahirkan cerpen dengan keunikan dengan gaya dan rasa khas Pasaman. Tentu sebagaimana layaknya sebuah lomba, ada aturan yang harus dijalani, peserta diatur dengan tema tertentu. Dalam lomba ini panitia mengikat cerpen peserta dengan tema kearifan lokal Kabupaten Pasaman di antaranya kepariwisataan, seni tradisi, kuliner dan keindahan alam.

    Tentu jika cerpen-cerpen hadir berlatarkan Pasaman, maka segala suatu yang berhubungan dengan daerah ini juga turut andil menghias isi cerita. Seperti kutipan cerpen berikut: “Apa yang paling aku ingat ketika akhir Ramadan di kampung.  Tentu suasananya. Ah tidak, tentu Kosanya. Jika aku ingat akan itu, tiba-tiba saja kampung halamanku seperti memangil-manggil.  Baiklah akan aku ceritakan bagaimana nikmatnya kosa itu... daging sapi direbus empuk yang diberi bumbu diiris.  Uniknya Kosa disantap dengan cara menjelupkan daging ke dalam kuah santan yang sudah mirip pasta kehijauan (cabe hijau) atau kuning (jahe). Jenis makanan ini tidak dijumpai di daerah lain selain di kampungku Rao.” Inilah kutipan cerpen karya Nadifa Kanza yang seakan-akan membawa pembaca menikmati suguhan keunikan khas kuliner Pasaman.

    Membaca karya-karya peserta pada lomba ini seperti membawa kita bertualang, menikmati Pasaman melalui sastra. Menyelami keindahan dan keragaman budaya di wilayah ini melalui catatan dan persepsi setiap cerpenis yang hadir dan mengikuti perlombaan. Betapa masing-masing peserta cukup berhasil menggambarkan latar alam yang elok, bentang khatulistiwa, berbagai objek wisata alam yang menjadi latar cerita.  Sebagai contoh dapat diperhatikan petikan cerpen karya Mimi Hartati berikut ini: “Bunyi uwir-uwir, kampret-kampret yang bersarang pada batang randu di lereng bukit sana seperti orkes alam yang tiada henti bersenandung. Pagi itu belum banyak aktivitas penduduk, mereka lebih memilih menghangatkan badan, berselimut, menyeruput teh hangat sebelum turun ke sawah ataupun ke ladang. Ranah Betung sebuah dusun cantik yang tercelup di altar Bukitbarisan, di alam Mapat Tunggul Selatan sana. Di situlah dusun aku dilahirkan.”

    Tidak hanya itu, beberapa peserta juga mampu dengan arif menyajikan keunikan dan keragaman kebudayaan di Pasaman. Cerpen Orin Ananda Riska dengan judul “Sahabat Masa Kecil” atau cerpen  Wais Alqarnie dengan judul “Kutunggu Senyummu di Kuburan Duo”.  Dua cerpen ini mampu menghadirkan sebuah romantisme cinta yang terhalang oleh dua kebudayaan dan adat yang berbeda. Tentu hal ini sesuai dengan latar budaya Pasaman sebagai kabupaten yang didiami oleh beragam etnik tidak saja Minangkabau melainkan ada Batak, Mandailing dan Tapanuli. Tentu persentuhan beragam kebudayaan yang saling hidup berdampingan tersebut mampu memberikan warna-warna dan konflik yang menarik yang dihadirkan dalam setiap cerpen.

    Tentu sebagai sebuah lomba kegiatan ini dipandang cukup efektif untuk meningkatkan minat membaca dan menulis di Kabupaten Pasaman. Sebab selama ini iklim kepenulisan di daerah ini dirasakan kurang berkembang dengan baik. Tidak banyak penulis, penyair atau sastrawan yang lahir, tumbuh dan beraktivitas dari wilayah ini jika dibandingkan dengan Payakumbuh, Padang atau Padangpanjang. Tidak ada komunitas penulis di sini, tidak ada dewan kesenian di daerah ini dan tentu tidak ada ranah-ranah pendukung bagi seniman sastrawan dan penyair untuk berkiprah di daerah ini.

    Hanya sedikit nama-nama sastrawan atau penulis asal Pasaman yang produktif menulis dan karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Sebut saja Marjohan (lebih banyak menulis esai kebudayaan), H. Fardiyal (novelis yang juga sebagai praktisi pendidikan) dan Arbi Safri Tanjung (seorang cerpenis  yang saat ini tengah berjuang mewujudkan Rumah Sastra Bonjol, sebagai rumahnya para penulis Pasaman). Padahal, sejarah sudah mencatat dari Rao pernah lahir seorang seniman bernama Asrul sani yang karyanya menjadi legenda sepanjang masa yaitu Naga Bonar. Asrul Sani mencatatkan bahwa seorang putra Rao Pasaman telah mampu menjadi sastrawan, dan seniman film yang di perhitungan di Tanah Air.

    Setidaknya melalui lomba ini mampu hendaknya membangkinkan gairah menulis bagi generasi muda Pasaman. Dalam lomba dan workshop menulis cerpen ini telah melahirkan sebuah komitmen yang dibalut semangat yang menggebu-gebu  dari peserta bahwa ada keinginan yang telah lama terpendam bagi pecinta dunia kepenulisan yang ada di Pasaman untuk membangun sebuah wadah yaitu Komunitas dan Gerakan Pasaman Menulis. Tentu ide dan gagasan baik ini sangat penting untuk diwujudkan.  Setidaknya pihak Kantor Perpustakaan Kabupaten Pasaman berkenan memberi ruang dan fasilitas bagi embrio komunitas ini untuk tumbuh, lahir dan berkembang.

    Lomba  ini setidaknya menurut hemat kami selaku dewan juri saya sendiri (Kurnia Hadinata), Muhammad Subhan (Penulis novel Rinai Kabut Singgalang dan pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia) dan Arbi Syafri Tanjung (penggiat Rumah sastra Bonjol) tentu  ingin melahirkan penulis dan cerpenis muda Pasaman yang bisa berkarya. Setelah melakukan penilaian terhadap ratusan naskah peserta yang masuk ke meja dewan juri maka ditetapkanlah 10 (sepuluh) naskah cerpen terbaik yaitu “Andai Kudengar Buya” (Febi Riski Yumara), “Air Mata Nayang dari Ranah Betung” (Mimi Hartati), “Talang Hampir Menangis” (Melia Roza), “Kisah di Ujung Senja” (Peni Kurnia), “Si Kecil Alisa” (M. Irsan Efendi), “Hidangan di Akhir Lebaran” (Nadifa Kanza), “Keramat Katanya Ibu” (Desmita), “Derai Air Mata” (Wafik Azizah), “Kutunggu Kau di Duo Koto” ( Lelin Tirta), dan “Pahlawan yang Hilang” (Yora Amelia). Tentu hal yang paling menggembirakan adalah berkenannya pihak Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pasaman untuk meneruskan karya-karya peserta ini ke ranah pembaca melalui penerbitan buku antologi. Tentu ini sebuah langkah awal yang positif untuk  menarik minat dan kecintaan kenerasi muda Pasaman untuk membaca dan menulis.

    Harapan besar layak kiranya disandangkan kepada Komunitas dan Gerakan Pasaman Menulis ini untuk terus memacu diri, mengasah diri untuk terus berkarya. Tentu setidaknya kami para dewan juri berharap kelak akan lahir Asrul Sani masa depan yang dapat berkiprah lagi melahirkan berbagai karya sastra yang fenomenal. Sebab potensi untuk itu telah ada. Penulis-penulis muda yang ikut andil dalam iven lomba menulis cerpen ini telah memperlihatkan sebuah kekuatan baru dalam khasanah sastra lokal Pasaman. Setidaknya Gerakan Pasaman Menulis ini mampu memulai untuk itu. Memulai membangun dunia sastra di Pasaman sebagai rumah bagi mereka. Tentu saja, semoga cita-cita dan tunas pergerakan ini tidak layu sebelum berkembang. Semoga saja niat baik mereka mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terutama Pemerintah Pasaman sendiri. (*)

    Sumber: HARIAN SINGGALANG, SELASA, 7 OKTOBER 2014

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menggagas Gerakan Pasaman Menulis Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top