• Info Terkini

    Tuesday, October 7, 2014

    Refdinal Castera, Jurnalis, Penulis dan “Cek Gu” yang Suka Membaca Buku

    REFDINAL CASTERA
    Daerah Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 14 Juli 1966 silam merupakan tempat diriku dilahirkan. Sejak lahir, masa kanak-kanak, sampai tamat SMP sebagai anak sulung yang “membawahi” 4 orang adik aku habiskan di kampung. Aku anak kampung yang berasal dari keluarga petani, dikesehariannya lebih banyak membaur dan menyatu dengan alam. Seperti  mandi hujan berlarian di tanah berlumpur, main sepakbola di sawah berair sehabis panen padi, main layangan, mengejar layangan putus, mandi dan terjun di Sungai Batang Antokan yang mengalirkan air dari Danau Maninjau. Lalu, sore harinya mengembalakan kerbau, sapi, dan kambing. Yach, suatu masa kecil yang tak bisa aku lupakan. Sungguh sangat mengesankan!

    Walau pun anak kampung, kedua orangtuaku, sangat disiplin dengan anak-anaknya. Mulai dari disiplin tentang kebersihan, waktu, perhatian terhadap pendidikan umum dan agama aku adik-beradik. Kami tak boleh lengah. Tiap hari aku harus belajar (di sekolah dan mengaji), serta tidak boleh “meliburkan diri seenaknya” ataupun bermain seharian. Bila yang dilarang itu dilakukan dan ketahuan, hukuman berupa lecutan beberapa helai lidi daun kepala kering yang telah disiapkan “segera mampir” di kaki sampai memerah. Karena takut kena lidi, aku adik-beradik tak mau melanggar aturan tersebut.

    Sungguh pun begitu, aku adik-beradik dekat dengan ayah dan ibu. Beliau berdua adalah suri tauladan bagi kami. Beliau yang tegas, gemar bercerita, dan mendongeng di kala waktu senggang, sebelum tidur, merupakan idola bagi kami semua. Apalagi, walaupun jauh dari kota semenjak aku lancar membaca (kelas 3 SD), bila ke kota pulangnya mereka berdua, acapkali membawakanku oleh-oleh berupa majalah anak-anak. Seperti Si Kuncung dan Bobo atau buku cerita anak-anak bergambar. Ternyata cara ayah dan ibu itu membuat diriku “kecanduan” membaca dan ingin membaca. Sampai-sampai koran atau majalah bungkus belanjaan dari pasar, aku baca dulu baru sesudah itu dibuang ke tempat sampah.

    Lantas, kebiasaan diriku membaca dan suka membaca itu berubah menjadi hobi. Sehingga sampai tamat di SMP Negeri 3 Lubuk Basung saja, aku telah banyak membaca buku “berbau” filsafat, psikologi, riwayat orang pintar dan sukses, penemu, dan sejarah tokoh-tokoh penting Indonesia serta dunia. Semua bacaan itu habis aku “lahap” atau baca. Benarkah itu ada hubungannya dengan cita-cita kecilku yang ingin menjadi orang TERKENAL dan BERGUNA? Baik itu berguna untuk diri sendiri, lingkungan, dan orang lain? Entahlah, aku tidak tahu saat itu!

    Ketika kelas 2 SMP, aku berkeinginan nantinya masuk ke SMA. Tetapi  kedua orangtuaku kurang menyetujuinya. “Kalau masuk SMA tersebut panjang perjalanannya, harus disambung ke Perguruan Tinggi atau kuliah! Hidup kita susah, dengan apa sekolah dan kuliah itu dibiayai? Bila tidak kuliah, tak ada artinya tamatan SMA. Apa bentuk kemampuan-kepandaian yang baru bisa didapatkan? Makanya, masuklah kamu ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG), tamat sekolah tersebut bisa diangkat menjadi guru. Bisa bekerja,” begitulah Ayah dan Ibu memberikan pilihan padaku.

    Aku tak ingin mengecewakan kedua orangtua. Maka masuklah aku di SPG Negeri di Jambi. Tetapi untuk urusan pendidikan tersebut, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena motivasi yang diberikan adik perempuan ayah, bahwa setamat sekolah guru ini lanjutlah kamu kuliah. “Sebab, bila hanya tamat SPG mengajarnya di SD, jauh di pelosok desa. Berbeda nanti mengajar setelah tamat kuliah,” saran beliau. Aku pun terpacu untuk itu.

    Tapi, untuk bisa menyelesaikan kuliah dan bergelar sarjana, aku tak ubahnya seperti kutu loncat. Meloncat sana meloncat ke sini! Aku meloncat di 4 Perguruan Tinggi yang rata-ratanya “bertahan” 1 semester. Dua Perguruan Tinggi di Jambi (Unja-IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin) dan dua Perguruan Tinggi di Kota Padang (STKIP PGRI-IKIP/UNP). Rata-rata alasannya: karena kalah bersaing dengan tamatan SMA, sekolah agama, himpitan ekonomi, jam kuliah tak sesuai janji. Barulah akhirnya aku selesai di UNP.

    Ternyata untuk urusan awal menulis, aku menilai juga tidak semudah membalik telapak tangan. Sim salabim, maka terjadilah!  Untuk bisa menulis aku memiliki dua motivasi yang saling mendukung dan berkelanjutan yang tak bisa aku anggap enteng. Pertama motivasi intrinsik, berawal kebiasaan diriku sejak usia SD yang suka membaca bermacam buku, mendengarkan cerita atau mendongeng sebelum tidur yang sering dilakukan ayah, ibu, dan guru mengajiku di surau (langgar). Serta kebiasaan diriku yang suka mencatat setiap apa yang aku lakukan dan berpetualang masuk daerah baru dalam buku diary.

    Kedua motivasi ekstrinsik, di mana sesuai saran dari ayah dan ibu, jangan hanya puas berteman dengan beberapa orang, tapi bertemanlah dengan banyak orang. Bila kita ibarat gelas kecil, bertemanlah dengan gelas bertangkai, teko atau cerek (karena sudah pasti isinya lebih banyak dari gelas kecil). Kalau kita orang kecil, bertemanlah dengan orang besar atau pintar.

    Lantas semua motivasi itu “membingkai dan mengumpul” dalam diri sewaktu aku berhenti kuliah di IAIN di Jambi dan kembali ke kampung serta Kota Padang. “Sebenarnya tujuan hidupku ini apa dan mau ke mana? Lalu, apa yang telah aku lakukan selama ini?” Semuanya itu begitu terasa, sewaktu aku mengikuti Diklat Peningkatan Mutu Produktivitas dan Motivasi Berprestasi selama 18 hari di kantor BPPD Kanwil Depnaker Sumbar, di mana salah satu materinya Achietman Motivation Training (AMT).

    Setelah mencoba merenungi diri, aku berkesimpulan untuk serius menekuni dunia tulis menulis. Aku merasa dunia hidupku adalah menulis. Lebih tepatnya: menulis berbagai macam bentuk artikel, puisi, cerpen, essay, berita wisata dan mengirimkannya ke redaksi surat kabar serta majalah. Karena bila telah menulis, semua ide-ide kreatif yang ada di pikiranku, muncul “bagaikan air mengalir saja”. Tinggal memindahkan ke kertas. Beberapa koran terbitan Kota Padang seperti: Mingguan Canang, Haluan Minggu, Semangat Minggu, Singgalang Minggu, mulai aku incar. Tetapi apalah daya! Aku tidak mempunyai mesin tik untuk mengetik setiap tulisan yang telah ditulis. Sehingga tulisan ditulis dengan tulisan tangan tersebut, hanya menumpuk dalam laci atau lemari. Disimpan.

    Suatu hari Tuhan membukakan jalan untuk diriku. “Eh, si Nal kalau butuh mesin tik, Buk Ros punya itu,” ingat tetanggaku, Pak Indra.

    “Ah, yang benar Pak?” ujarku balik bertanya.

    “Ya, Bapak serius bicaranya. Cobalah pinjam dengan Ibuk,” ulangnya lagi. Mungkin saja bapak itu kasihan melihatku menulis cerpen, puisi, essay, dan bermacam artikel dengan tulisan tangan. Akhirnya, mesin tik manual tua milik Bu Ros depan rumah tersebut dapat aku pinjam. Sungguh tak terkira rasanya besar hatiku, bisa mengetik pakai mesin tik. Proses kreatif menulisku mulai menampakkan titik terang. Setiap tulisan yang telah aku tulis selama ini aku ketik kembali.

    Selanjutnya, tulisan itu saya masukkan ke amplop besar dan diantar langsung ke kantor redaksi koran atau dikirimkan melalui jasa pos. Tetapi sampai satu, dua, tiga bulan diriku menunggu, sungguh tak satu pun tulisan tersebut yang dimuat. Aku hampir saja berputus asa. Rasa duka dan putus asa mulai menyelimuti diriku. “Mungkin tulisanku terlalu panjang halamannya, tidak sesuai dengan bentuk tulisan dibutuhkan koran itu, atau dan atau lainnya,” bisikku lemah.

    Tetapi, semuanya itu tak membuat diriku berputus asa. Karena berdasarkan beberapa buku tentang kiat menulis yang kubaca, menulis untuk bisa dimuat di koran itu tidak mudah. Butuh perjuangan berupa kesabaran, ketabahan, kegigihan, dan tantangan. Lalu apa yang terjadi  empat bulan kemudian? Sebuah artikel untuk rubrik Kabar dari Alam Gaib, berjudul: “Kakek dan Nenekku Hidup Kembali” yang kutulis dimuat di koran Mingguan Canang Padang. Sungguh tidak terkira rasanya besar dan bangga hatiku saat itu. Suatu bentuk kepuasan yang tak terhingga nilainya.

    Sejak dimuat sekali itu di koran, untuk tulisan kedua dan seterusnya tulisanku tersebut, bagaikan “air mengalir” saja muncul di koran. Sebagai freelance tulisanku berupa bermacam artikel, cerpen, dan puisi dimuat di koran terbitan Sumbar seperti: Mingguan Canang, Haluan Minggu, Singgalang Minggu, dan Semangat Minggu, Tabloid Tuah Sakato, Limbago, Tabloid Paradigma, serta di media luar Sumbar seperti: Majalah Sahabat Pena terbitan Kantor Pos dan Giro Bandung, Koran Sinar Pagi Minggu Jakarta dan Majalah Ceria. Tetapi dalam menulis, ada yang belum kesampaian diriku menembusnya sampai sekarang. Beberapa cerpenku yang dikirim selalu ditolak atau dibalikkan, oleh koran-koran nasional edisi  hari minggunya.

    Merasa jenuh sebagai freelance untuk beberapa koran, aku mencoba fokus dan melamar sebagai reporter di koran Mingguan Canang. Aku mulai menulis berita mengekspos acara wisuda, serah terima pelantikan kepala daerah, mewawancarai tokoh, dan menulis berita investigasi. Sebagai wartawan aku pernah bekerja di beberapa koran, di antaranya Mingguan Canang (1989-2001), Mingguan Serambi Pos (2001-2012), Minangkabau Online (2010-2011) dan sekarang di koran digital Sumbar Online.

    Diriku juga seorang guru di salah satu sekolah. Sebagai guru, narasumber pencerdas generasi bangsa, aku merasa tidak puas bekerja mengabdi tersebut. Jiwa dan hati nuraniku berontak ingin bebas berkelana berkeliling dunia. Pikiran-pikiran bernasku tak ingin “terkurung dan berkeliling” hanya sebatas dalam ruang kelas. Apalagi melihat dan menyikapi siswaku yang tiap tahun terus bertukar orangnya, sementara diriku tetap saja di sekolah itu.

    Karena itu, aku ingin menjadi guru profesional dan piawai serta pintar menulis. Baik itu menulis berita sebagai wartawan dan menjadi penulis novel serta buku-buku motivasi yang berisi pencerahan. Aku butuh menulis, sama butuhnya dengan makan dan minum setiap hari. Terasa yang ada yang kurang dalam diriku, bila aku tidak menulis barang sehari saja.

    Dan tentunya, ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT serta terima kasihku kepada saudara Muhammad Subhan dan Bu Aliya Nurlela sebagai Ketua Umum dan Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang telah “menjembatani” tulisan-tulisan saya sehingga bisa diterbitkan dalam bentuk buku (novel) dan buku-buku lainnya sehingga bisa dibaca oleh banyak orang. Serta sekarang, tulisanku itu muncul pula dalam buku Ensiklopedi Penulis Indonesia (jilid 2). Semoga. Salam kreatif selalu!

    Bagi sahabat-sahabat yang ingin merekatkan tali silaturahim, dapat mendatangi kediaman saya di Perumahan Mega Permai I Blok K3/23, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. No. HP: 081374613607, 082387427101, surat elektronik di: refdinal.castera@yahoo.co.id. (*)

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Refdinal Castera, Jurnalis, Penulis dan “Cek Gu” yang Suka Membaca Buku Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top