• Info Terkini

    Tuesday, October 21, 2014

    Ulasan Cerpen "Bukan Pilihan" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi)

    Sumber: orasarinata.blog.com
    Cerpen ini bercerita tentang perubahan pribadi seorang gadis menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dia hampir "membenci" hidup dengan lingkungan sekitarnya. Dia hanya menikmati hidup untuk dirinya sendiri. Dia hidup untuk kesenangannya sendiri. Suatu hari, dia jatuh sakit. Seorang yang selama ini tidak ia sukai justru membantu. Sejak itulah, pintu hatinya terketuk, hingga perangai buruk di dalam hati berubah menjadi cahaya yang menerangi jalan hidupnya.

    Ide cerpen ini bagus, tapi sayang kurang dieksplor, hingga kurang terasa greget. Pada bagian perubahan itu, kondisi hati tokoh utama yang bergejolak kurang digambarkan secara rinci. Saran dari Tim FAM, untuk cerpen seperti ini, barangkali tokoh utama yang berwatak "keras" itu dibuat menolak lebih dulu bantuan dari sahabatnya yang disebut dalam cerpen ini bernama "Kakak". Setelah bantuan dari Kakak datang bertubi-tubi, tak kenal lelah, dan tak putus asa, barulah di situ timbul perasaan bersalah di diri tokoh utama karena mengabaikan kebaikan orang lain, yang tak lain adalah untuk kebaikan dirinya sendiri kelak. Jadi perubahan itu tidak tahu-tahu datang tanpa proses yang sulit. Bukankah untuk membuka hati tidak mudah? Tapi, bagaimanapun, sebuah cerpen memang milik sang penulis seutuhnya. Jalan cerita di cerpen yang kita tulis, semua ada di tangan kita.

    Sedangkan untuk penulisan dan EYD, ada banyak koreksi, di antaranya: "apapun", "dimanapun", "kapanpun", dan "siapapun", yang seharusnya diketik: "apa pun", "di mana pun", "kapan pun", dan "siapa pun". Kemudian "sholat", "shubuh", "dimana", "ku mau", "sekedar", "kan", "asma ku", "kemana", "memperhatikanmu", "mesjid", "sholehah", "orang tua", "Al-Qur'an", dan "kepadaNya", penulisan yang benar adalah: "salat", "subuh", "di mana", "kumau" ("ku-" tidak bisa berdiri sendiri karena bukan kata utuh), "sekadar", "'kan" (ada tanda apostrof ( ' ) sebelum huruf 'k', sebab kata tersebut bukan merupakan kata utuh, melainkan berasal dari kata dasar "bukan" atau "akan"), "asmaku", "ke mana", "memerhatikanmu", "masjid", "salehah", "orangtua" (kedua kata ini digabung, karena penulisan "orang" dan "tua" yang terpisah bermakna sebagai orang yang sudah lanjut usia/renta, bukan sepasang manusia yang melahirkan kita ke dunia ini (ayah-ibu)) "Alqur'an", dan "kepada-Nya".

    Penggunaan tanda titik dan koma juga harap diperhatikan. Masih ada beberapa tanda baca yang salah ditempatkan. Tanda koma dapat bekerja apabila suatu kalimat tidak bisa berdiri sendiri. Sementara, tanda koma tidak bisa bekerja apabila suatu kalimat sudah harus berakhir (tidak bisa disatukan dengan kalimat sesudahnya).

    Untuk penulisan nama pada subyek juga perlu diperhatikan. Subyek dalam cerpen ini, contohnya "Kakak" dan "Adek". Awali kedua kata tersebut dengan huruf kapital, bukan huruf kecil, sebab panggilan tersebut ditujukan kepada subyek atau orang yang bersangkutan secara langsung dalam sebuah obrolan. Apabila sebutan "kakak" untuk obyek (untuk orang lain yang tidak terlibat dalam obrolan), maka penulisan cukup diawali dengan huruf kecil. Contoh penulisan kata panggilan untuk obyek: "Aku pergi ke rumah kakakmu." (huruf 'k' kecil). Bukankah kalimat tersebut ditujukan kepada orang lain? Beda dengan bentuk panggilan kepada subyek: "Aku pergi ke rumah Kakak." (huruf 'k' kapital). Kalimat kedua ini langsung diarahkan kepada orang yang bersangkutan.

    Terakhir, ada pada salah satu paragraf, kalimat yang diawali dengan pembuka "tak aral", yang seharusnya adalah "tak ayal". Ke depan, Tim FAM mengimbau kepada penulis agar lebih teliti dan memerhatikan EYD, mengoreksi kembali tulisan sebelum Anda mempublikasikannya. Bila perlu, lakukan editing/koreksi sendiri pada tulisan itu berulang-ulang, sampai kesalahan penulisan dapat diminimalkan, atau bahkan ditiadakan. Cara mengetahui kosakata yang benar dan sesuai dengan EYD, bisa kita pelajari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bukankah dengan penulisan yang benar, pembaca akan merasa lebih nyaman menikmati tulisan kita? Akan sangat disayangkan bila isi tulisan kita berbobot namun nilainya menjadi berkurang hanya karena EYD dan penulisan yang kurang rapi.

    Baik, lanjutkan menulis. Jangan berhenti dan terus semangat berkarya. Dalam berkarya tidak ada yang instan. Semua ada proses yang mesti kita lalui. Dengan giat berlatih dan berlatih, seiring waktu tulisan kita akan jauh lebih baik. Jangan lupa, iringi aktivitas menulis Anda dengan membaca. Sebab menulis dan membaca tidak dapat dipisahkan.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING

    Bukan Pilihan

    Oleh: Yessi Arsurya (FAM2200M Bukittinggi)

    Tak banyak hal yang harus diingat lagi tentang itu semua. Ya, semenjak aku memilih dan punya pilihan sendiri. Aku sadar bahwa ternyata aku sudah dewasa. Bebas menentukan pilihan, apapun, dimanapun dan kapanpun.

    “Nak, ayo bangun… sudah setengah lima, nanti kamu terlambat sholat Subuh”,  kata Ummi seraya mengibas-ngibaskan selimut merah marun yang sedari beberapa yang lalu setia menyelimuti tubuhku yang kedinginan. “Kota ini begitu beku, sangat beku,” lirihku dalam hati.

    “Ya Mi, bentar lagi…” sahutku persis seperti biasanya, tak ada yang berubah.

    Dan hal itu terus berlanjut, terus, sampai suatu saat yang membuatku berubah,kurasa karena sebuah pilihan.

    “Kriing….kriing…kriing…”, alarm dari ponsel bututku berdering. Shubuh ini tak seperti biasanya, tak ada gelagat aneh siapapun yang berusaha mengetuk pintu kamarku, berkata lirih membangunkanku, seraya mengambil selimutku. Awalnya aku menyukai ini, karena aku bisa bebas melalang buana dalam dunia mimpiku yang begitu syahdu. Aku tenggelam dalam bisikan kalbu yang tak tahu malu. Entah kalbu siapa yang sesaat menyelimuti jiwaku. Hingga akhirnya aku terdampar dalam pilihan, yang sekali lagi membuatku terhenyak dari segalanya.

    Ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di universitas ini. Lain daripada biasa, dimana setiap hari selalu saja rumput-rumput tak bersalah aku injaki, batu-batu tak berdosa aku lempar sana-sini dengan tendangan sepatu hitam putihku. Tapi kini, karena pilihanlah, yang membuatku ada di sini. Tak seperti dulu lagi.

    Pilihan ini yang membuatku harus terpisah dari orang-orang terdekatku, dari Ummi, Abi, abang dan adikku. Tapi tak mengapa, aku menjalaninya karena itulah pilihan, aku memilih sendiri, karena aku sudah dewasa dan bebas menentukan apa yang ku mau.

    Aku begitu antusias mengikuti berbagai macam kegiatan kemahasiswaan di kampus ini. Meskipun aku merasa aku masih rapuh, tapi aku senang dengannya. Tak aral, aku sering terlambat kuliah, kadang bolos, bahkan titip absen. Itulah aku, tapi itu dulu, setelah aku memilih dengan pilihanku sendiri.

    Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan senior yang kurasa sangat membosankan dan menjengkelkan. Apalagi kami satu kosan. Dengan santainya aku selalu diam, bahkan berlalu meninggalkannya saat dia berbicara atau sekedar menyapa. “Aku gak butuh siapapun, aku kan udah dewasa”, lirihku dalam hati setiap dia ingin tahu tentang aku. Sikapku yang begitu ketus terhadapnya mulai berangsur-angsur sirna setelah aku mengalami musibah. Saat itu aku sakit, awalnya hanya demam subfebril dan kemudian berkomplikasi terhadap asma ku. Saat itu aku hanya teringat Ummi, aku hanya bisa menangis dalam kesakitan dan kerinduan akan belaian kasih Ummi yang setia menemaniku di saat sulitku seperti ini.

    “Aku dimana? Ummii.. Abii.. “, aku terbangun dari tidur lemasku.

    “Tenang dek, kita sekarang ada di RS. Jangan khawatir, kakak akan menjagamu. Tadi kamu pingsan tak sadarkan diri di kos, sontak saja langsung kak bawa ke sini,”jawabnya sambil berusaha menenangkanku.

    Aku menangis dalam hati, “pantaskah aku untuk dikasihani seperti ini, setelah apa yang aku lakukan padanya?” Dan inilah titik balik pilihan itu.

    “Kakak, aku sangat berterima kasih kepada kakak. Selain Ummi, Abi, ataupun keluarga dekatku, tak ada lagi orang yang begitu dekat denganku. Bahkan teman atau sahabatku, mereka hanya sebatas candaan, suka sama suka, senang sama senang. Sedangkan dibawa menangis atau bersedih mereka entah kemana. Sekali lagi, terima kasih banyak kak. Aku juga minta maaf atas segala sikapku selama ini kepada kakak,”kataku kepadanya tulus.

    “Subhanallah dek, kakak tidak seperti yang adek katakan. Sungguh, kak ikhlas hanya ingin membantu karena Allah. Kak juga sama sekali tidak pernah merasa disakiti oleh adek. Malahan kak ingin minta maaf karena kakak kurang memperhatikanmu sehingga kamu jadi sakit begini. Maafkan kakak ya?” katanya sambil tersenyum, menambah rona kemerahan di pipinya, dibaluti oleh mahkota hijab.

    “Terima kasih kak, kakak sungguh baik. Aku terlambat mengetahuinya. Maafkan aku kak,”lirihku tersenyum kepadanya.

    Dan subuh itu, alarm ponselku kembali berbunyi. Tandanya aku harus bangun untuk melaksanakan solat Subuh. Meski tak terdengar lagi suara Ummi yang sangat aku rindukan. Aku berusaha bangun sekuat tenaga melawan rasa kantuk,sampai setengah menetaskan air mata tatkala mengingatnya.

    “tok tok tok,”pintu kamarku ada yang mengetok subuh-subuh begini. Ternyata kakak seniorku.

    “dek, yuk, kita bareng ke mesjid solat Subuh berjamaah,” kata beliau, spontan saja mengingatkanku dengan Ummi dan Abi.

    “Nak, ayo bangun, kita solat ke mesjid ya, berjamaah, pahalanya gede lhoh,” rayuan gombal Ummi sambil membentangkan kedua tangannya melingkar seperti benda bulat yang besar. Tapi, tak pernah aku gubris.

    Masih dengan beragam pilihan, belum terhenti hingga saat itu.

    Hingga akhirnya, tibalah masa itu. Setelah 6 bulan berlalu, aku kembali ke rumah, ke kampung halamanku. Ummi dan Abi, serta sanak famili sudah terbayang-bayang di benakku. Tak sabar rasanya ingin segera sampai, sekali lagi membawa pilihan.

    “Nak, Ummi dan Abi begitu bangga, bahagia karena bisa melihatmu lagi. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Dan yang lebih Ummi banggakan, sekarang kamu sudah berjilbab nak, jilbab syar’i dan menghijabi dirimu dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Alhamdulillah ya Rabb, engkau mengabulkan do’a hamba. Orang tua mana yang tidak bahagia memiliki anak yang sholeh sholehah,” kata Ummi tersedu dalam rintihan tangis yang tak terbendung lagi.

    “Iya Ummi, Abi. Maafkan segala dosa dan salah yang selama ini aku lakukan. Semua pilihan ini, aku pilih dan diiringi do’a Ummi dan Abi, aku beruntung tersesat di jalan kebenaran ini.”

    Ini bukan pilihan kawan, bukan pilihan biasa. Ada kekuatan besar yang menuntun kita sehingga bisa berada di sini. Tak perlu seberapa bagusnya pilihanmu, tapi lebih baguslah pilihan Allah. Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan menyesatkan orang yang Dia kehendaki (Q.S Nuh 50). Beruntunglah kita, yang sempat tersesat dalam perjalanan hidup dan diberi kompas kehidupan yakninya Al-Qur’an dan As-Sunah, sehingga kita kembali kepadaNya dan termasuklah kita kepada orang-orang yang beruntung. (*)

    Lihat Koleksi Buku Karya Anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Bukan Pilihan" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top