• Info Terkini

    Monday, October 27, 2014

    Ulasan Cerpen "Kuhadirkan Bintang" Karya Cinta Okta Edverliano (FAMili Semarang)

    Cerpen ini bercerita tentang Ano yang hampir putus asa mendapatkan cintanya. Mungkin itu sebatas perasaan pesimisnya saja, sebab Arini tiba-tiba datang dan membuka kemungkinan baru yang menyenangkan. Cerpen ini sebenarnya bisa dikembangkan lagi. Sayang, ide yang bagus terasa kurang greget ketika sosok Arini datang secara tiba-tiba untuk memecah kebuntuan. Mestinya ada konflik tambahan, atau paling tidak proses yang jelas apa yang terjadi pada Arini di masa lalu hingga membuat Ano menyerah.

    Proses memang tidak harus "menjelaskan", namun "menunjukkan" poin-poin tertentu. Misal, bisa kita buat lelaki yang dicemburui Ano itu sebatas teman Arini, tidak lebih. Atau, kalau mau memberi kejutan, bisa juga kita buat lelaki itu justru saudara sepupu Arini, yang selama ini disalahpahami Ano sebagai calon suaminya, sebab begitu dekat dan akrab. Intinya, proses tidak harus detail, namun menyasar tujuan dengan jitu. Tanpa proses, cerita akan terkesan melompat dan kurang menarik.

    Ada beberapa koreksi penulisan, di antaranya kata-kata berikut ini: "dimana", "disaat", "diantara", "diwaktu", "diakhir", "apapun", "merubah", "nafas", "silahkan", "kemana", "kesini", dan "sekedar", sebaiknya ditulis: "di mana", "di saat", "di antara", "di waktu", "di akhir", "apa pun", "mengubah", "napas", "silakan", "ke mana", "ke sini", dan "sekadar". Sedangkan untuk kata-kata tidak baku seperti "gak", "nyesek", dan semacamnya sebaiknya ditulis dengan huruf miring.

    Terus berkarya ya.

    Salam aktif!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Cerpen Penulis yang Diposting Tanpa Editing]

    Kuhadirkan Bintang

    Cerpen Cinta Okta Edverliano (IDFAM 2500U)

    Andaikan detik ini kau masih bersamaku, inilah titik akhir hubungan kita. Hari ini adalah hari dimana mulai kulangkahkan kakiku untuk mencoba membuat hubungan yang baru. Sebuah hubungan yang teramat indah. Sebuah hubungan yang sangat suci. Sebuah hubungan yang mampu mengikat kita menjadi satu keutuhan yang tak terpisahkan.

    Mengapa? Karena inilah  awal titian langkahku untuk meminangmu. Kulangkahkan menjauh dari kota ini, bukan berarti untuk menjauhimu. Namun menjauhnya langkahku akan mendekatkan hati kita. Menyatukan dua pasang hati yang saling menyayangi.

    Hari ini adalah hari dimana aku mencoba merayu kedua orang tuaku untuk bersedia menjadi waliku. Waliku untuk melamarmu. Waliku untuk meminangmu. Bahkan saksi disaat hari penyatuan itu telah tiba.

    Aku tahu, jika cinta datang bukan hanya sekali. Aku tahu jika cinta menyambutku bukan kali ini saja. Mungkin esok, nanti atau lusa aku akan menemukan cinta baru. Tapi, bukannya lebih baik menyambut cinta yang sudah ada daripada menunggu cinta yang lain? Bukannya lebih baik bahagia bersama dengan cinta yang sudah di pelupuk mata daripada mencari cinta yang lain?

    Namun sayang, semua mimpiku bukan saja tak terwujud, bahkan bisa dikatakan hanya angan-angan yang tak berarti apapun buatmu. Cintaku ini hanya sebuah pelarian yang tak seindah bayanganku. Cintaku cinta semu. Cinta yang hanya membuatku bahagia sesaat saja.

    Aku memang tak sebanding dengannya. Aku miskin. Dia kaya. Aku kurus. Dia gagah. Aku manusia sederhana. Dia lelaki hebat. Namun cintaku tak kalah olehnya. Cintanya tulus. Cintaku juga tak kalah tulus. Dia perhatian. Aku lebih perhatian.

    Namun apa dayaku. Mungkin kamu memang bukan takdirku. Diantara kita hanya ditakdirkan untuk merasakan kebahagiaan yang sesaat. Namun waktu yang sesaat itu adalah waktu yang sangat berarti untukku. Waktu yang mampu merubah pemikiranku tentang cinta. Waktu yang bisa memberiku arti baru tentang cinta.

    Cinta itu satu kata yang sangat berarti. Ia berjuta makna. Kadang membuat bahagia namun diwaktu yang berbeda mampu membuat manusia kehilangan. Mampu membuat manusia bersedih. Bahkan mampu merubah watak manusia itu sendiri. Namun, aku tetap mengerti jika sejatinya cinta mengajak kita untuk bahagia. Seperti cintaku padamu, Arini...

    Cinta sesaat yang kau beri mampu memberiku kekuatan. Kekuatan untuk mengejar cita-cita dan impianku. Kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Cintamu mampu menghapus lukaku. Luka yang baru maupun luka lama.

    Terakhir kalinya, ingin kuucapkan terima kasih untuk semua petualang yang telah kamu hadirkan untukku. Dan semoga kamu bahagia selamanya bersama lelaki pilihanmu, Amien...

    Ano merobek tulisan yang baru saja ia buat. Ia baca kata demi kata. Ia resapi kata demi kata. Kemudian melipat dan memasukan dalam saku bajunya.

    “Kok malah melamun. Jadi mau ikut pulang gak?” oceh Resa yang telah selesai berdandan.

    “Ya jadilah! Emangnya check in jam berapa?”

    “Masih agak lama sih. Tapi setidaknya kalau sudah siap kan jadi lebih ayem. Gak terburu-buru. Lebih baik menunggu sedikit daripada terlambat.”

    Beberapa menit berlalu, Ano telah selesai berdandan. Rapi. Tapi tak serapi biasanya. Jaket jeans kusam telah melekat di badannya. Ano kembali membuka kertas yang di kantonginya tadi. Dibuka ulang. Dan dibaca ulang. Ia menarik nafas panjang. Masih ada sesuatu yang menyesakkan dada. Ia lipat kembali dan kali ini ia simpan di saku jaketnya. Ia kembali merapikan barang bawaannya.

    “Assalamu’alaikum,” terdengar suara seorang wanita dari luar pintu.

    “Siapa?” tanya Ano pada Resa setengah berteriak.

    Resa mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia juga tak tahu. “Wa’alaikum salam,” teriaknya kemudian melangkah menuju pintu. Ano kembali berkutat dalam kesibukannya.

    “Eh, kamu to Mbak. Ada apa?” ujar Resa setengah tak percaya jika Arini datang.

    “Mas Ano ada?”

    “Ada. Di dalam masih beres-beres.”

    Arini mengerutkan kening. “Emang mau kemana?”

    “Pulang, Mbak.”

    “Oh. Kok secepat ini?”

    “Ya Mbak. Soalnya kami ingin menenangkan diri di rumah dan sedikit melupakan pekerjaan dan fokus sama ibadah,” ujar Resa tersenyum. “Oh ya, Mbak. Silahkan masuk dulu. Biar kupanggil Ano.”

    “Siapa?” tanya Ano ketika Resa masuk ke kamar.

    “Lihat sendiri gih! Dia mencarimu.”

    “Siapa?” tanya Ano semakin penasaran.

    “Kamu keluar dan temui dia. Nanti kamu akan tahu sendiri siapa dia.”

    Ano melangkah pelan. Ia mencoba mengintip dari balik dinding. Ia ingin tahu siapa yang mencarinya. “Astaghfirullah, kenapa dia datang lagi? Apakah dia masih mau menyiksaku?” pekik hatinya setelah mengetahui siapa yang mencarinya.

    Ano menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia mencoba menenangkan hatinya sebelum menemui Arini.

    “Mas,” ucap Arini ketika melihat Ano keluar.

    Ano tersenyum. “Ya Dek. Ada apa kok tiba-tiba datang?”

    “Gak bolehkah Mas?”

    “Emmmm, boleh saja. Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu ada keperluan apa ya?” tanya Ano ragu.

    “Dek hanya ingin bertanya sedikit sama Mas.”

    “Apa itu Dek?”

    “Jika dek diijinkan, dek ingin tahu bagaimana perasaan Mas saat ini terhadap dek?”

    Ano gelisah. Bibirnya terasa terkunci. Ia tak mampu menjawabnya. Aliran darahnya mulai mengalir cepat. Detak jantungnya tak beraturan.

    “Kok diam, Mas?” ujar Arini setelah menunggu beberapa saat namun tak ada jawaban dari mulut Ano.

    “Mas gak perlu menjawab mungkin Dek sudah mengerti.”

    “Masih menyayangiku, Mas?”

    Ano diam.

    “Mencintaiku?”

    Ano masih tetap membisu.

    “Masih ingin memilikiku seutuhnya?”

    Kali ini Ano mengangguk. “Kuyakin jika Dek tahu segalanya. Dek tahu jika perasaanku padamu belum pudar. Dek juga tahu jika keinginanku untuk memilikimu sangat besar. Dan Dek juga tahu jika cintaku padamu tulus adanya dan belum akan tergantikan dengan mudahnya oleh gadis lain. Namun mas sadar Dek, jika saat ini perasaan itu harus kusimpan rapat-rapat. Perasaan bahagia yang pernah kamu berikan, biarlah kusimpan dan akan menjadi kenangan terindahku. Bagaikan malam  tak berbintang, itulah hari-hariku saat ini. Tiada pernah kulihat lagi senyummu, Dek. Sebelum Dek melangkah keluar dari rumah ini, tersenyumlah untuk hari ini saja di depanku,” ujar Ano lirih.

    “Memangnya Mas mau kemana?”

    “Mas mau pulang. Mencoba menenangkan pikiranku sejenak.”

    “Mas, andaikan saat ini dek masih milikmu, apa yang akan Mas perbuat di hari ini?”

    Ano terperanjat. Ia tak pernah membayangkan jika akan keluar pertanyaan itu dari bibir mungil Arini. Ia sodorkan secarik kertas dari dalam saku jaketnya.

    “Apa ini, Mas?” tanya Arini heran.

    “Dek baca saja. di dalam kertas itu ada jawaban atas pertanyaan tadi.”

    Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti ruangan tersebut. Arini dengan seksama membaca coretan di atas kertas berwarna buram tersebut. Ano hanya terdiam. Kaku. Dan di balik dinding, Resa mengawasi dua sejoli itu. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

    “Apakah ini semua benar adanya, mas?” tanya Arini dengan semburat senyum di bibirnya.

    “Apakah mas pernah berbohong padamu?”

    Arini tersenyum menggeleng. “Akan kuhadirkan bintang di malam-malammu, Mas,” ujarnya.

    “Maksudmu, Dek?”

    “Dek ingin menghadirkan kembali bintang dalam malam-malammu, Mas. Dengan sejuta cinta dan sejuta kasih sayangmu untukku.”

    “Mas semakin bingung dengan kata-katamu, Dek? Jangan buat mas melayang kembali dengan cinta ini. Mas memang belum bisa melupakanmu, Dek. dan bahkan mungkin memang mas gak mau melupakan keindahan cinta yang pernah kamu  beri.”

    “Dek gak ingin dilupakan, Mas. Dek gak mau jika cinta kita hanya sebuah kenangan saja. Dek datang kesini untuk kembali padamu, Mas. Mulai hari ini, Mas bisa memilikiku seutuhnya.”

    “Dek jangan bercanda! Sudah cukup mas merasakan perasaan yang nyesek di dada.”

    “Dek gak bercanda, Mas. Maaf  kalau dek pernah membuatmu terluka. Mas Andre tahu jika dek sudah tak mempunyai hati untuknya. Dan Mas Andre dengan keluasan hatinya ikhlas melepas dek untuk kembali kepangkuanmu, Mas,” terang Arini.

    Ano memegang kedua tangan Arini. “Dek, apakah ini bukan mimpi?” ujarnya.

    Arini menggeleng. “Gak Mas! Ini kenyataan. Arini hadir di hadapanmu, Mas. Arini nyata datang untuk menyambut cintamu lagi, Mas,” jawabnya tersenyum bahagia.

    “Alhamdulillah,” ucap Ano spontan.

    “Apakah Mas akan melakukan semua seperti apa yang Mas tuliskan di kertas ini?” tanya Arini seraya mengembalikan secarik kertas yang sejak tadi di pegangnya.

    Ano tersenyum. Menggeleng. Ano meraih kertas tersebut dan merobeknya tepat diakhir baris ketiga. “Yang ini, akan mas tepati,” ujarnya seraya menunjukkan tulisan yang berada di tangan kanannya. “Mas akan pulang untuk melangkahkan kakiku untuk memulai kehidupan yang baru. Akan kukatakan kepada orang tuaku agar mereka merestui hubungan kita ini. Dan seperti yang mas tulis, mas akan kembali ke kota ini dengan membawa serta kedua orang tuaku untuk meminta kerelaan hati orang tuamu untuk mengikhlaskan Dek menjadi istriku.” Lalu ia mengangkat tangan kirinya dan berujar “dan yang ini, sudah gak ada artinya. Cintaku sudah kembali. Kepingan kebahagiaanku telah terkumpul menjadi satu. Bintang yang selama ini mas dambakan disetiap malam-malam yang kulewati, akan terlihat seiring tersibaknya awan kelabu yang telah menutupinya.”

    Arini tersenyum bahagia. “Hadirkan bintang untukku juga, Mas.”

    “Pasti! Akan kuhadirkan bintang di malam-malammu berikutnya, Dek. Dan bintang itu bukan sekedar bintang. Bintang itu adalah bintang hatiku. Bintang dari segala kasih sayang dan cinta yang kumiliki.”

    “Nah gitu dong!” ujar Resa setelah melihat apa yang baru saja terjadi.

    “Aku ikut senang, Kawan!” ujar Manto yang tiba-tiba masuk.

    “Hmmmm, kalian berdua menguping ya!” ujar Ano malu. “Sudahlah Dek. gak perlu hiraukan mereka. Yang penting hari ini adalah awal dimana titian langkahku akan memilikimu seutuhnya. Hari adalah awal dimana akan kurangkai kebahagiaan hidup bersamamu. Hari ini adalah hari dimana akan kumulai perjuangan hidup untuk membahagiakanmu, Dek.”

    “Ya Mas. Dek akan tunggu Mas datang dengan kedua orang tuamu.”

    “Ya Dek. secepatnya Mas akan melamarmu.”

    Angin bersemilir. Ano merasakan udara pagi ini sangat sejuk tak seperti biasanya. Telah muncul lagi harapannya untuk menatap bintang di malam-malamnya. Ia serahkan semua pada kehendak-Nya. “Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu ini…” bisik hatinya. (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Kuhadirkan Bintang" Karya Cinta Okta Edverliano (FAMili Semarang) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top