• Info Terkini

    Monday, October 6, 2014

    Ulasan Cerpen “Putri Duyung” Karya Sri Wahyuni (FAMili Bandung)

    Cerpen ini bercerita tentang perkenalan dua orang remaja kuliahan yang bertemu di Twitter. Ceritanya ringan, ala teenlit pada umumnya. Hanya saja tidak ada konflik dalam cerpen ini. Sekadar menunjukkan perasaan senang yang mengalir begitu saja, santai, tidak menggebu, dan sederhana.

    Bukan suatu kesalahan menulis cerpen yang tanpa konflik seperti ini. Sah-sah saja, karena pada dasarnya dalam menulis cerpen kita dituntut untuk bercerita dan meninggalkan kesan di hati pembaca. Dua syarat itu cukup untuk sebuah cerpen--yang tentunya jika kita tidak berpikir tentang syarat suatu cerpen untuk menembus media cetak.

    Saran untuk penulis adalah agar ke depan lebih menggali karakter tokoh lebih dalam lagi, membuat konflik yang walaupun sederhana bisa memberi bekas di hati pembaca, serta memerhatikan lagi dari segi EYD.

    Beberapa koreksi Tim FAM hadirkan. Pertama, penulisan kata "sekedar", "kesana-kemari", dan "dibalik" kurang tepat. Seharusnya ditulis: "sekadar", "ke sana kemari" (perhatikan "spasi" dan dihapusnya tanda "strip"), dan "di balik" (karena kata ini menunjukkan keterangan tempat, bukan kata kerja pasif). Berikutnya, untuk kata-kata yang bukan dari kosakata baku seperti "emang", "gak", "sebel", "gitu", "kayak", "nyeplos", "rame", dan sejenisnya sebaiknya diketik dengan huruf miring.

    Tetap berkarya dan jangan berhenti menulis.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    Putri Duyung


    Oleh: Sri Wahyuni (IDFAM2252M)

    Pagi itu seperti biasanya aku melakukan rutinitasku sebagai manusia biasa yang diberi mandat tepat pukul 08.00 WIB berada di kelas untuk mengikuti perkuliahan yang harus menyenangkan walaupun tidak.

    Setelah perkuliahan selesai dan berjalan dengan semestinya, aku bersama tiga temanku pergi ke kantin untuk sekedar mengisi perut yang katanya kosong tetapi tidak benar-benar kosong karena ada usus salah satunya. Kami pun ngobrol kesana-kemari sembari menunggu pesanan tiba di meja untuk disantap. Topik pembicaraan kami kali ini adalah seputar akun media sosial bernama ‘Twitter’.

    “Eh, akun twitterku ada spamnya gitu ih sebel.” Ujar Tia sambil membuka twitter di tab-nya.

    “Iya ya, semalem juga aku lihat kamu nge-tweet promo-promo apa gitu gak jelas kayak kampanye. Kirain aku, kamu emang lagi kampanye, haha.” Timpalku.

    Kami pun tertawa. Spam itu semacam ada yang nge-hack, biasanya oleh para oknum yang tidak bertanggungjawab.

    “Ih, Neng. Coba deh kamu ganti passwordnya barangkali bisa berhenti tuh spamnya.” Ujar Bella.

    “Atau kalau tetep gak bisa, kamu tutup aja akunnya terus bikin akun yang baru.” Kata Rena.

    Kami pun terlarut dengan handphonenya masing-masing, untuk sekedar cek twitter. Dan aku, di twitterku terdapat beberapa Mention dari beberapa temanku di twitter. Tapi, ada yang lebih menarik untuk kubalas, yaitu dari @MhsiswaDwnload. Dia bilang; Malam Mingguku banjir tawa karena postingan blogmu tentang Gilinding66. Aku pun tersenyum. Senang rasanya tulisan blogku ada yang baca, wkwk. Iya terlebih dari itu jika benar saja membuat dia banjir dengan tawa, itu artinya tulisanku menyenangkan mungkin, ya, mungkin.

    Dari situlah. Iya, dari mention itulah aku dengan dia (Sang Mahasiswa Download) berkenalan. Paling tidak, kami sudah saling tahu nama asli dan lengkap. Juga alamat domisili. Selain itu, kami juga tahu bahwa kami berbeda jenis kelamin. Dan tentu saja, kami tahu alamat blog masing-masing karena kami menuliskannya di bio twitter kami. Jadi, aku lebih sering membuka dan membacanya. Ah, andai saja dia tahu bahwa jika tulisanku tentang Gilinding66 itu membuat dia kebanjiran tawa, maka tulisan-tulisan dia nyaris semuanya membuat aku tertawa. Haha. Tapi aku tidak bilang, entah kenapa, yang jelas tulisannya bagus dan aku suka. Iya! Aku baru suka dengan tulisan-tulisannya, belum orangnya. Hehe.

    Oh, iya. Hampir lupa. Gilinding66 itu adalah nama komunitas yang beranggotakan aku dan teman-teman sekelas waktu masih sekolah di bangku SMK. Hingga saat ini komunitas itu masih berdiri tegak dan aman terkendali.

    ***

    Hari pun berjalan dengan kecepatan seperti biasanya. Aku tidak merasa waktu begitu terlalu cepat ataupun lambat. Dan sudah hampir 1 bulan aku dengan Sang Mahasiswa Download itu berkenalan, meskipun hanya via twitter. Tapi, entah bagaimana ceritanya, akhirnya aku tahu nomor hp dia, tetapi dia belum mengetahui nomor hpku.

    Aku dengannya memang baru kenalan. Waktu 1 bulan memang waktu yang terlalu cepat untuk saling mengenal, apalagi kami belum pernah bertemu sebelumnya, hanya lewat sosial media saja. Kami memiliki kesamaan hobi, yaitu menulis. Kalau aku sih tepatnya suka curat-coret saja, soalnya tulisanku kadang-kadang tanpa struktur dan asal nyeplos saja, yaa lebih ke curahan hati. Tapi, kalau dia sih kayaknya sudah sangat mahir menulis, karena lulusan Sarjana Komunikasi, ya jelas lah jagonya kalau dalam urusan ngobrol dan menulis. Dengan begitu, aku mengenal pribadi dia lewat tulisannya. Katanya, kita bisa mengetahui karakter seseorang dari cara dia menulis atau tipe tulisannya.

    Dia, yang mengaku Mahasiswa Download itu, kini sudah menjadi bagian dari hari-hariku, karena hampir setiap hari kami berkomunikasi. Dia orangnya asyik, gak bikin boring, humoris, pinter, dan lain-lain yang intinya aku ngerasa nyambung kalau ngobrol, tapi gak tau deh kalau dia ngerasa nyambung atau enggak jika ngobrol sama aku. Haha. Karena, kadang-kadang aku suka gak connect sama arah pembicaraannya kemana, hehe. Tapi mungkin sejauh ini bisa teratasi.

    ***

    Tibalah Malam Minggu yang dinanti para remaja yang sedang menjalankan wakuncar (waktu kunjung pacar). Dan aku, tentu saja tidak, karena aku tidak punya pacar. Malam itu hujan deras, membuat aku semakin bersahabat dengan selimut. Acara TV tidak ada yang rame. Tugas kuliah selalu ada, tapi aku abaikan karena deadline-nya masih cukup lama. Kuambil hpku, kubuka twitterku, dan kulihat ada nomor telepon seseorang yang selama ini lumayan akrab di dunia maya, lalu aku klik untuk memanggil. Dan tersambunglah dengan nomor yang dituju. Ketika ada suara dibalik hpku:

    “Hallo, Assalamu’alaikuum.” Sapa dari sana. Suaranya cukup seksi, hehe.

    “Iya, hallo. Waalaikumussalaam.” Jawabku dengan nada yang disantai-santaikan, padahal sangat gugup.

    “Ini dengan siapa?”

    “Iya, A. Maaf, ganggu. Ini dengan aku, Helenaceae Rose.”

    “Oh? Helenaceae Rose? Hehe. Aduh, senang sekali malam Minggu bisa dapet telepon dari kamu.”

    “Ih, lebay.”

    “Hahaha.” Kami tertawa bersama.

    “Aku manggilnya apa nih?”

    “Sebut saja Bunga.”

    “Hahaha. Ih kayak di media mainstream aja. Tapi bagus sih kalau dipanggil Bunga juga.”

    “Kenapa?”

    “Soalnya jika kamu Bunganya, maka ijinkan aku menjadi potnya.”

    “Ih, kenapa jadi potnya?”

    “Biar aku bisa menjadi peyangga buatmu. Hehe.”

    “Aduh! Jadi pengen pingsan.”

    “Haha, jangan sekarang ih. Nanti aja di pot.”

    “Hahaha. Panggil Helen ajalah, A.”

    “Siap! Teh Helen! Hehe.”

    “Iyaa. Hehe.”

    “Apa kabarnya, Teh Helen?” Tanyanya. Dia memanggilku dengan sebutan Teh(panggilan kakak untuk perempuan: Bahasa Sunda). Dan aku pun memanggil dia dengan sebutan Aa (panggilan kakak untuk laki-laki: Bahasa Sunda).

    “Alhamdulillah baik, A. Aa sendiri bagaimana?”

    “Alhamdulillah baik dan menjadi sangat baik ketika menerima teleponmu. Hehe.”

    “Iya gitu? Hehehe.”

    “Iya bingits. Hehehe.”

    “Hahaha lebay.” Tawaku pecah.

    “Hahaha.” Dia juga tertawa, entah kenapa. Mungkin seneng dipanggil lebay.

    Sebelum ngobrol langsung lewat telepon dan hanya berkomunikasi lewat sosial media, cara bicaranya memang begitu, lebay dan terkesan gombal tapi romantis, aku selalu banyak tersenyum bahkan tertawa karena rasanya lucu sekali cara dia bicara itu, mungkin maksudnya ingin mengimbangi aku karena usia kami terpaut beda 8 tahun, tapi aku membayangkannya jadi gimana yaa, ah bayangkan saja jika melihat wajahnya di foto itu garang banget, tapi hatinya malah pink banget. Hahaha. Kami pun ngobrol banyak. Tentang apapun, jika dibicarakan dengan dia akan menjadi menyenangkan. Entahlah. Mungkin kita satu frekuensi kalau kata Pidi Baiq (Imam Besar The Panasdalam). Dan ketika hampir 2 jam kami bicara dan saatnya aku pamit tutup telepon. Jujur, rasanya berat untuk mengakhirinya. Serius.

    “Yaudah, A. Segitu aja dulu. Udah malem dan udah ngantuk juga. Aku pamit ya?”

    “Oh, iya. Mangga. Makasih ya udah nelepon.”

    “Iya, sama-sama. Makasih juga udah mau ngangkat. Hehe.”

    “Iya, sama-sama juga, Teh. Untuk kamu pasti aku angkatlah kan gak berat. Hehe.”

    “Ih! Hehe.”

    “Eh, aku simpen ya nomornya. Tapi mau dinamain apa, Teh?”

    “Mmm.. Putri Duyung aja, A. Hehe.” Jawabku nyeplos.

    “Duh! Siaplah!.”

    “Ih!”

    “Lah, iya, Teh. Aku bakalan simpen nomor kamu dengan nama Putri Duyung seperti yang kamu minta. Seriusan.”

    “Hehe. Yaudahlah terserah Aa.”

    “Eh, ya terserah kamu-laah kan ini maunya kamu.”

    “Hehe. Iya juga sih.”

    “Oke, Putri Duyung, sekali lagi terimakasih ya. Assalamu’alaikuum.”

    “Waalaikumussalaam.”

    Tut tut tut. Teleponnya berakhir bersamaan dengan senyumku yang lumayan tahan lama kali itu. Entahlah. Mungkin, karena tidak menyesal sudah menelepon duluan dan sudah mendapat sambutan yang menyenangkan.

    Kubaringkan badanku di kasur, kutatap langit-langit kamar dalam keadaan masih tersenyum. Lalu, kutarik selimut untuk menutupi mukaku yang hampir menjerit-jerit saking senengnya. Ah! Terimakasih Sang Mahasiswa Download, yang sudah menyenangkan malam ini.

    Seketika kulihat hpku. Baru teringat kalau nomornya pun belum aku simpan. Eh, aku jadi teringat nomorku yang akan dia tulis ‘Putri Duyung’ dalam kontak hpnya. Lagi-lagi aku kembali tersenyum bahkan nyaris tertawa, haha.

    Dan aku malam itu bersama dengan hujan deras di luar sana. Sebanyak hujan yang jatuh secara keroyokan, kupikir ada yang lebih mendominasi mengalahkan setiap tetesan hujan di muka bumi ini, yaitu hujan senyum yang nyaris membuat aku larut dalam kebahagiaan yang sederhana tapi sangat indah dan manis.   

    "Bagiku, inilah sebuah kebetulan yang direncanakanNya. Baginya, aku tidak tahu mengapa dia begitu serius menanggapi lelucon ini. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin menjadi Putri Duyung, tapi keberadaannya telah berhasil membuatku ingin menjadi Putri Duyung agar aku bisa berenang-renang dalam lautan perasaannya." (ADH - Putri Duyung)

    Ciwidey, Maret 2014 M

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Putri Duyung” Karya Sri Wahyuni (FAMili Bandung) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top