• Info Terkini

    Tuesday, October 28, 2014

    Ulasan Cerpen "Rohim dan Rohimah" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi)

    sumber gambar: www.forumjualbeli.co.id
    Hengky dan Rohim bersahabat. Rohim pemuda Malaysia. Dia anak seorang sultan. Walau begitu, "lidah"-nya sudah terbiasa berbicara dengan bahasa gaul khas anak Jakarta. Suatu hari, ketika Hengky hendak pulang kampung ke Bukittinggi untuk menghadiri pertemuan para alumni di sekolah SMA-nya dulu, Rohim ingin ikut. Mereka pun berangkat dengan diantar oleh ajudan Rohim yang bernama Pak Ram.

    Di Bukittinggi, Rohim melihat seorang gadis bernama Rohimah. Dia tampak menyukai gadis itu. Maka, disuruhlah Pak Ram mencari informasi tentang gadis itu. Setelah berhasil, tanpa sepengetahuan Hengky, Rohim merasa gembira. Ternyata mereka masih berada di Bukittinggi selama dua hari ke depan. Waktuku mengajak Rohimah berkenalan maih panjang, begitulah isi hati Rohim berbunyi.

    Cerpen sederhana ini ditulis dengan baik dan tanpa kesan bertele-tele, walau korelasi antara judul dan isi cerita belum bisa kita raba sampai delapan puluh persen membacanya. Barulah di bagian akhir cerita—dengan ending yang tanpa "dipaksakan", seolah penulis membiarkan kita membaca isi hati tokoh Rohim—dapat kita temukan nilai plus cerpen ini. Hanya saja, barangkali judulnya akan lebih pas bila diganti menjadi "Rohim Menemukan Cinta" atau mungkin "Cinta Tak Sengaja". Sebab, isi cerita lebih mengarah pada perjalanan dua sahabat ini ke Bukittinggi ketimbang mengeksplorasi lebih jauh tentang sosok Rohimah yang misterius. Tapi, biarpun demikian, Tim FAM sangat mengapresiasi cerpen ini.

    Beberapa koreksi ada pada kata-kata berikut ini: "kemana", "kesana", "temen", "kemaren", "apapun", dan "satupun" semestinya diketik: "ke mana", "ke sana", "teman", "kemarin", "apa pun", dan "satu pun". Sedangkan untuk kata-kata tidak baku seperti "loe", "gue", "gitu", "gini", "gak", "pulkam", "aja", "ngerepotin", dan semacamnya—terutama yang sering ditemukan pada dialog—sebaiknya diketik dengan huruf miring.

    Baik, terus menulis dan gali ide-ide yang lebih luas. Selingi pula ativitas menulis dengan membaca. Dan, terakhir yang tak kalah penting, koreksi kembali tulisan Anda sebelum dipublikasikan. Lakukan editing serapi mungkin. Sebab, dengan rapinya tulisan kita, pembaca akan lebih bisa menikmati.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Cerpen Penulis yang Diposting Tanpa Editing]

    ROHIM & ROHIMAH   

    Oleh Yessi Arsurya (FAM2200M Bukittinggi)

    Di sebuah sekolah di kota kecil. SMA yang begitu terkenal di kota Bukitinggi ini. Dinamakan dengan SMA Landbouw, ya, sesuai dengan lokasinya yang berada di daerah pertanian. Landbouw, konon bahasa Belanda yang berarti daerah pertanian saat masa penjajahan dahulunya. Suatu hari, akan diadakan acara rapat besar-besaran oleh alumni, guna perbaikan mutu SMA tercinta ini. Salah satu koordinator acara, Hengky, dialah yang bersikeras mewujudkan acara besar ini, sehingga benar-benar terlaksana.

    Hengky adalah alumni SMA angkatan ’08. sekarang dia masih kuliah semester 3 di UI, Depok. Dia salah satu alumni yang sukses menjalani studinya.

    “Hengky, loe mau kemana? Kok beres-beres gitu?” kata seorang teman kostnya Hengky.

    “Ini, gue mo pulkam. Ada acara alumni di SMA gue dulu,”selorohnya.

    “Ooh… pulkam ya? Kemana? Gue boleh ikut gak? Mumpung libur seminggu. Kalo gue pulkam ke Malaysia gak mungkinlah. Kemaren kan baru aja pulang pas lebaran. Boleh ya?” Tanya temennya.

    “Uhm…. Gimana ya? Boleh-boleh ja seh. Tapi jangan ngerepotin gue yah.”

    “Oke lah. Beres… tarimo kasih yo,”jawab temennya sambil sedikit melantunkan bahasa Minang.

    Teman Hengky, namanya Rohim. Rohim tak lain dan tak bukan adalah anak seorang raja, kesultanan Malaysia. Bisa dibilang dia seorang pangeran muda. Tapi, dia memilih kuliah di negara tetangganya, Indonesia. Selain itu, dia juga fasih berbahasa Indonesia, bahkan bahasa gaulnya pun. Dia juga tinggal di kost seperti mahasiswa- mahasiswa lainnya. Sehingga, hanya sedikit temannya yang tahu bahwa dia anak raja kesultanan Malaysia. Kebanyakan mereka hanya tahu kalau Rohim anak Malaysia yang merantau kuliah di Indonesia. Dia di sini tidak sendiri, tapi tentunya ditemani oleh beberapa orang ajudan, yang setia menemani dan mengawalnya.

    Keesokan harinya, Hengky dan Rohim sudah bersiap-siap. Pukul 08.00 WIB, mereka lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, menuju BIM Padang. Perjalanan yang cukup menyenangkan. Akhirnya mereka tiba juga di Padang sekitar jam 10 kurang. Rohim juga ditemani oleh seorang ajudannya, namanya Pak Ramos, biasa dipanggil pak Ram. Tapi menurutnya, ia kali ini beruntung karena hanya seorang ajudan. Jadi dia merasa lebih bebas menikmati liburannya kali ini.

    Mereka menuju Bukittinggi dengan mobil Avanza yang telah disiapkan pak Ram.

    “Makasih, ya Pak. Bapak jadi repot begini.”kata Hengky.

    “Ah, gak apa-apa tuan. Memang ini sudah tugas saya,”jawab Pak Ram.

    “Panggil saja saya, Hengky Pak.”

    “Yuk kita langsung berangkat,”kata Rohim tak sabar karena tak tahan dengan panasnya kota Padang.

    2 jam kemudian, mereka langsung tiba di kota Bukitinggi.

    “Uhm…. Kota yang sejuk.” Kata Rohim.

    “Gak seperti Padang ya. Kota Bukittinggi ne dingin juga.”tambahnya.

    “Ya jelaslah. Padang di dataran rendah, dekat laut. Sedangkan Bukittinggi di dataran tinggi. Jadi jelas beda suhunya.” Kata Hengky sambil mengaplikasikan pengetahuannya. Maklum, ketua Mapala yang sudah sering melalang buana.

    “Ooh….. iya, ya. Gue juga tau kok.” Ucap Rohim.

    “Maaf, tuan. Kita menginap di The Hill Hotel saja. Saya sudah check in tadi pagi,”kata Pak Ram.

    “Oh, boleh juga tuh.” Kata Hengky bahagia.

    “Ooh…. Yok lah. Lets go. Kita kesana.” Sambut Rohim.

    “Iyalah. Emang mau kemana lagi?” seloroh Hengky.

    “Huu…. “

    Pagi hari, pukul 07.00 WIB. Mereka bersiap-siap menuju SMA. Mereka naik mobil Kijang Innova yang seperti biasa sudah dipersiapkan oleh pak Ram.

    “Duh, Pak. Kok mobilnya ganti-ganti sih?” Tanya Rohim.

    “Maaf, Tuan. Ini memang tugas saya. Apapun fasilitas untuk tuan, sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh Tuanku Raja,” jawabnya.

    “Ah, gak pa pa lah, Im. Bersyukurlah, loe dilimpahi kekayaan yang lebih,” kata Hengky tersenyum.

    “Iya, tapi gak kayak gini. Gue lebih suka hidup biasa-biasa aja, kayak loe. Gue gak suka pamer, sebab ne harta orang tua gue, bukan punya gue. Jadi apa yang musti gue bangga-banggakan,”jawab Rohim.

    “Ini yang bikin gue bangga punya sobat seperti loe. Gue salut banget sama loe. Oya, kita langsung berangkat aja. Jam gak bakal duduk manis tersenyum menunggu kita yang dari tadi ngobrol aja.” Ucap Hengky.

    Mereka langsung naik mobil, dari Hotel terus menyusuri Kampung China. Lalu belok melintasi BTC, Pasar Banto, terus simp. Mandiangin belok kiri. Lurus, kemudian belik kiri lagi di simp. Lambau.

    “Uh…. Deg-degan neh. Dah lama gak ke sekolah,” ucap Hengky.

    “Iya, sabar aja ya. Ntar lagi nyampe,” jawab Rohim asal.

    Akhirnya, tiba jugalah mereka di depan gerbang SMA Landbouw. Lalu mereka masuk ke dalam, keluar dari mobil di tempat parkiran. Hengky dan Rohim segera menuju aula yang berada di belakang gedung utama. Tapi sayang, hanya siswa-siswi dan guru yang meramaikan sekolah. Belum tampak satupun batang hidung panitia beserta alumni lainnya.

    “Yah, inilah kebiasaan orang Indonesia. Jam karet, sukar on time,” kata Hengky.

    “Loe kan orang Indonesia juga. Berarti loe jam karet, gak on time donk,” seloroh Rohim cengengesan.

    “Eeh.... tapi gue gak loh. Gak semua orang Indonesia kayak gitu. Contohnya neh, gue,” jawab Hengky bangga campur kesal.

    Sembari jalan menuju aula, Hengky dan Rohim mulai dikelilingi banyak siswi. Tapi kayaknya yang menjadi objek sasaran hanya satu, siapa lagi kalo bukan Rohim. Mereka bilang Rohim tu mirip artis Korea yang lagi ngetop itu. Wuahaha, Hengky langsung saja berlari menghindari amukan masa, sambil menatap sobatnya yang tengah kesusahan.

    “Itulah susahnya jadi orang keren, tapi wajahnya pasaran. Eeh...maaf ya Im.”kata Hengky membathin sambil tersenyum geli melihat temennya.

    “Ky, Hengky... Tolongin gue dunk!” teriak Rohim.

    Akhirnya, Rohim bisa juga lepas dari amukan masa. Dia bersyukur, dan terus berlari menuju aula secepatnya. Tapi, tiba-tiba aja dia nabrak seorang siswi.

    “Duh...eh, maaf ya, gue gak sengaja,” ucap Rohim bersalah.

    “Bantuin dunk. Jangan ngeliat aja. Neh, buku udah pada tumpah ruah,”katanya.

    Sekilas Rohim menatapnya, sambil membantu membereskan buku- bukunya yang terjatuh. Entah kenapa, tiba-tiba saja Rohim merasa jantungnya berdetak kencang. Dilihatnya nama di buku yang dipungutnya “Rohimah”.

    “Oh, namanya Rohimah,” kata Rohim dalam hati.

    “Hey, ngelamun aja.... makasih ya udah ditolongin. Bye,”katanya sambil berlalu tergesa-gesa.

    “Eh, tunggu...!”teriak Rohim, setelah Rohimah jauh.

    Rohim langsung sja menuju aula. Dia gak mau diamuk masa lagi. Dia masih mikirin kejadian tadi sewaktu nabrak Rohimah.

    “Kenapa ya, pikiran gue ke dia melulu? Tapi emang dia tu berbeda dari cewek-cewek yang pernah gue temu. Dia.... dia gak histeris ngeliat gue kayak siswi-siswi tadi yang mungkin temennya. Atau, dia gak tau ya kalo gu mirip artis Korea kayak yang dibilang siswi-siswi tadi?” tanyaku dalam hati.

    “Ah, udahlah. Gue penasaran banget sama dia. Ntar gue cari tau deh,”tambahnya.

    Memang itulah sifat Rohim yang kalo lagi penasaran sama sesuatu, pengennya segera cari tau. Dia gak suka berlarut-larut dalam rasa penasarannya.

    Rohim segera saja calling Pak Ram. Tak lama kemudian, Pak Ram pun datang.

    “Maaf, ada apa ya, Tuan memanggil saya?” tanya Pak Ram.

    “Gini, Pak. Bapak bisa cari informasi tentang seorang siswi di sini? Namanya Rohimah. Kalo bisa, sekarang saya butuh no. HP nya aja Pak. Gimana?” kata Rohim meyakinkan.

    “Baiklah, Tuan. Bapak usahakan secepatnya,” jawabnya tegas.

    “Makasih ya Pak,” jawab Rohim senang.

    Selang beberapa waktu kemudian, saat acara alumni telah berakhir, Pak Ram pun datang menemui Rohim.

    “Tuan, saya sudah dapat sedikit info tentang Rohimah. Dia siswi kelas XII IA SBI. Dan ini no. HP nya,” kata Pak Ram seraya menyodorkan secarik kertas berisi angka-angka.

    “Oh ya. Makasih ya Pak atas bantuannya,” kata Rohim antusias.

    “Im.... Im, dari mana ja sih loe?” tanya Hengky tergopoh-gopoh.

    “Ah, gak dari mana-mana. Yuk kita balik ke hotel,” kata Rohim sambil tersenyum.

    “Yuk lah. Oya, ada pertambahan jadwal ne. Acaranya ditambah 2 hari lagi. Coz, masih banyak yang perlu didiskusikan n dirapatkan. Gue juga belum memperkenalkan loe di depan publik. Sedari tadi banyak yang nanya loe siapa ke gue. Besok deh, sekalian loe ikut juga diskusi ya, kasih solusi terbaik buat SMA gue, hehe,”kata Hengky tertawa kecil.

    “Oh, baguslah. Kita bisa lama-lama di sini,”jawab Rohim.

    Akhirnya, mereka segera balik lagi ke hotel, meninggalkan SMA dengan Kijang Innova. (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Rohim dan Rohimah" Karya Yessi Arsurya (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top