• Info Terkini

    Sunday, October 19, 2014

    Ulasan Cerpen "Rumah Baru" Karya Rhona Febriany Sary (FAMili Oku, Sumsel)

    Sumber: modelminimalis.info
    Umar mengerti keadaan ayahnya. Ayahnya bekerja sebagai buruh. Ibunya sudah meninggal. Mereka hidup berdua di rumah yang sederhana. Suatu hari Ayah di-PHK. Umar yang selalu menyimpan rasa prihatin dalam hatinya, semakin tak kuasa menahan pedih. Remaja itu menyadari keadaan hidup mereka dan tidak banyak menuntut.

    Ayah ingin agar Umar kelak menjadi orang sukses, tidak sepertinya yang kerja banting tulang dengan gaji kecil, malah sekarang di-PHK. Sementara, Umar sendiri paham betul apa yang menimpa mereka. Umar juga sadar, satu per satu kejadian yang menimpa adalah cobaan. Oleh karena tidak ada uang lagi, sementara sang kakek meninggalkan warisan berupa utang yang menumpuk dengan rumah kecil itu, maka dengan terpaksa rumah itu dijual juga. Umar dan Ayah lantas tinggal di rumah baru mereka: rumah kardus.

    Ide cerpen ini sederhana, namun ditulis dengan baik. Ada pesan penting yang bisa kita serap bersama dari pribadi Umar. Dia sosok yang mengerti bahwa tidak ada yang bisa menolak takdir. Alam mendidiknya menjadi pembelajar sejak dini. Maka, tidakkah kita merasa malu terus-terusan mengeluh dengan cobaan yang boleh dibilang tidak seberapa ketimbang cobaan yang menimpa Umar? Umar sekadar tokoh fiksi, tapi ada banyak kenyataan di luar sana. Ada banyak Umar-Umar lain bertebaran di dunia yang bukan fiksi, yang bahkan jauh lebih muda, yang mestinya membuat kita bisa menerima ketentuan-NYa dengan tetap berusaha melakukan yang terbaik.

    Beberapa koreksi EYD ada pada kata-kata berikut: "nafasku", "tersenggal", "menghembuskan", "hutang", dan "ini lah", yang seharusnya ditulis: "napasku", "tersengal", "mengembuskan", "utang", dan "inilah". Kemudian, ada banyak sekali kesalahan ketik seperti: "perjumpaann", "kakakek", "menghampirikku", "terlalau", "yag", "ditenntukan", "tenanga", "dir", "ti[is", "utuk", "membentsk", dan "Tuha", yang semestinya ditulis: "perjumpaan", "kakek (atau kakak?)", "menghampiriku", "terlalu", "yang", "ditentukan", "tenaga", "diri", "tipis", "untuk", "membentak", dan "Tuhan".

    Untuk kata panggilan "ayah" baiknya ditulis dengan diawali huruf kapital menjadi "Ayah". Sebab, "Ayah" dalam konteks ini sebagai subyek, bukan obyek. Beda dengan menyebut "Ayah", misal dalam kalimat seperti ini: "Aku dan ayahku pergi bertamasya". Dalam contoh kalimat tersebut, "Ayah" berperan sebagai obyek (sesuatu yang dimiliki), hingga penulisannya hanya diawali dengan huruf kecil.

    Saran dari Tim FAM, selain fokus membentuk jalan cerita, hendaknya penulis juga memerhatikan EYD dan teliti dalam mengoreksi. Ada banyak kesalahan ketik yang lolos. Sayang sekali, ketika tulisan kita berisi, namun penulisannya kurang rapi. Bukankah itu akan membuat pembaca kurang nyaman? Sebuah tulisan dinilai bagus tidak hanya dari isinya saja, melainkan juga dari penyajiannya. Seperti halnya masakan; orang mungkin akan merasa enggan memakan masakan dengan tampilan berantakan, walau sebetulnya rasanya sangat nikmat. Maka, lakukan koreksi/editing pertama dari tulisan Anda sendiri. Ingat, penulis yang baik adalah penulis yang menjadi editor pertama untuk tulisannya sendiri.

    Terus berkarya dan jangan berhenti menulis. Tebarkan nilai positif lewat aksara.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Rumah Baru

    Oleh Rhona Febriany Sary (ID FAM2665M)

    Lengkungan-lengkungan indah bertahta di langit senja. Tercium aroma basah dari tanah lembab yang baru saja diguyur hujan. Dinginnya masih terasa mengiringi langkahku, sedingin hatiku. Kutelusuri lorong demi lorong sempit menuju sebuah rumah tua berpagar bambu yang mulai rapuh dimakan usia. Di atas kerikil-kerikil yang membentuk jalan setapak aku melenggang bak di karpet merah dalam naungan gedung yang megah. Ciiittt... Pintu tua itu berdecit pelan ketika kudorong. Tampak ruang tamu yang sepi dihuni beberapa kursi jati, sebuah meja persegi panjang bertaplak biru laut dan sebuah foto pejuang gagah berani terpajang di dinding. Aku melintas di depan sebuah bilik, tampak seorang lelaki tua dengan kain sarung lusuhnya sedang khusyuk dalam penyerahan jiwa kepada Sang Pencipta. Aku pun bergegas berwudhu dan menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim.

    Kutatap amplop putih tergeletak di atas meja kayu yang telah digerogoti rayap di beberapa sisinya. Kupandangi lekat-lekat, jantungku mulai berdebar-debar. Kudekati, dadaku mulai bergemuruh. Kusentuh, namun nafasku tersenggal-senggal. Tak sanggup rasanya aku membuka isi amplop itu. Kuselipkan amplop putih aneh itu di antara buku-bukuku, lalu kubenamkan kepalaku dalam-dalam. “Umar, kemari Nak ! Makan dulu”, suara bersahaja itu memanggilku. Aku beringsut sambil menimpali, “Ya Ayah!” Nasi putih dan tempe telah terhidang di lantai yang beralaskan sehelai tikar tipis. Yah, kami bahkan tak punya meja makan. Aku segera mencuci tangan, berdo’a dan menyuapkan anugerah Tuhan ini ke mulutku. Kami makan dalam diam. Sesekali aku mencuri pandang, smelihat mata ayah yang merupakan pusat gravitasinya, tampak ketegaran di dalamnya. Anak pejuang miskin yang membanting tulang menghidupi satu anaknya dengan bekerja sebagai buruh pabrik. Aku ingin sekali bekerja apa saja, namun ayah tak pernah mengizinkanku. Ia bersikeras agar aku fokus pada sekolahku. Nasi di piringku pun telah habis, aku segera membereskannya dan ayah menutup perjumpaann malam kami dengan berkata, “Belajarlah! Besok kau harus sekolah.”

    Gelombang cahaya matahari merambat ke bumi, menerobos lubang angin kamarku dan menyentuh kulitku membuatku terjaga. Aku beranjak perlahan dan berdiri di ambang pintu menyaksikan ayah yang tengah bersiap-siap bekerja. Kupandangi lekat-lekat setiap gerak-geriknya. Ia menoleh padaku seraya bertanya, “Umar, sekolahmu libur hari ini?” Aku diam sejenak, berjalan ke arahnya. Kutatap matanya, menerobos pupilnya, meraba hatinya. Aku tahu ada problema besar yang melandanya. Kuhela napas kemudian berkata, “Kepala Umar pusing, yah.” Dia menepuk pundakku, “ya sudah, kalau tak enak badan, istirahat saja.” Aku tahu ayah pasti menyadari kebohonganku. Kemudian ayah berpamitan, kucium tangannya yang kasar. Aku mengekor di belakang mengantarkan keberangkatannya hingga ke halaman,

    Aku ingin membalikkan badan kembali ke istanaku, namun ada yang menghentikan ayunan langkahku. Dari kejauhan tampak seseorang berjalan dengan riang. Bidadari cantik jelita berjalan ke arahku dengan jilbabnya yang berkibar. Dia bidadari yang bertengger di singgasana hatiku. Debaran jantung remaja menggetarkanku seiring mataku yang tak lepas memandangnya yang semakin mendekat. Tetapi bagai tersambar petir, tiba-tiba, “Liliana!” Sebuah suara gagah menghentikan langkahnya dan menoleh. Tampak pangeran tampan mengejarnya. Dadaku bergemuruh hebat, bergoncang. Percikan api cemburu membara di hatiku, ingin kupadamkan dengan air mata, namun sia-sia belaka, bahkan semakin membuatnya berkobar. Senyum manis Liliana padanya bagai pedang yang menusuk ulu hatiku. Mereka melangkah riang melewatiku dengan baju kebesaran kami, seragam putih abu-abu. Bidadariku telah pergi bersama pangerannya dan itu bukan aku. Karena aku sama sekali tak pants bersanding dengan bidadari sepertinya dan aku jua tak kan pernah mampu berdiri sejajar dengan pangerannya.

    Sang raja siang mulai beranjak ke peraduannya. Aku melangkah menikmati petang, ada magnet yang menarikku untuk duduk di bawah pohon mangga tua di halaman rumah. Tercipta  gaya adhesi antara tubuhku dengan bangku kayu yang beratapkan rindangnya daun mangga tersebut. Kini pohon warisan sang kakek tak lagi berbuah, aku hanya bisa melihat bunganya yang gugur ditiup angin. Pohon mangga ini lebih tua daripada usiaku. Kata ayah, pohon ini ditanam kakek ketika ayah masih remaja. Aku sedang larut dalam ingatan masa lalu, laksana bioskop yang menayangkan kehidupan lampauku bersama ibu dan kakakek yang telah terbang ke surga. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, kebersamaan bagai kilat, sungguh singkat. Sosok kakek yang selalu bersemangat menghampirikku, ia sering bercerita tentang masa perjuangannya, bagaimana ia berperang pada zaman penjajahan. Takjub. Itulah yang selalau tampak di wajahku kala mendengarkannya. Dan sosok ibu yang terlalau cepat meninggalkan anak semata wayang yag masih haus akan kasih sayangnya. Tapi apa daya, takdir berkehendak lain. Alur demi alur skenario kehidupan fana ini ditenntukan oleh Sang Khaliq. Aku dan keluarga hanya aktor dan artis yang memerankan episode kehidupan. Sentuhan sebuh tangan melemparkanku ke dunia nyata. “Ayah ?” sahutku pelan. Ayah duduk di sampingku, mendongak ke pohon mangga. Lalu mencengkram pundakku kuat dengan kedua tangannya. Getaran dalam dadanya menjalar ke seluruh tubuhku melalui tangan kekarnya. Sekuat tenanga ayah menhirup oksigen dengan tegas dan menghembuskan karbon dioksida sambil memejamkan mata, “Ayah di-PHK!” suara tegar ayah memenuhi kepalaku, menggelapkan pandanganku, memasul sel-sel sarafku untuk membasahi mataku dan mengalirlah butiran bening melalui kedua sudut mataku. “Kamu harus menjadi anak pintar! Jangan seperti Ayah yang hanya buruh pabrik!” cengkraman ayah semakin kuat isyarat menegarkan dir yang dahsyat. Kulepaskan tangan kekar ayah dan berlari masuk ke rumah, mendorong pintu kamarku. Dengan air mata yang terus menyeruak kuobrak-abrik susunan bukuku, mengambil benda ti[is putih dan melesat kembali ke bawah pohon mangga. Kuserahkan amplop putih itu kepada ayah sambil terisak-isak. Jari-jemari ayah merobek amplop dan membaca selembar kertas yang terlipat rapit di dalamnya. “Maafkan aku, Yah! Aku tak punya keberanian untuk memberikannya kepada Ayah.” Air mata ayah menitip membasahi tanah berdebu tempat kaki kami berpijak. Ayah memelukku dan kurasakan getaran hebat dari raganya.  “Maafkan Ayah, Nak. Karena ayah yang tak berguna ini tak mampu utuk membiayai pendidikanmu.”, nada derita kemelaratan keluar dari bibir ayahku. Surat penagihan SPP itu melayang dari genggaman tangan ayah yang mulai melemah.

    Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan rumahku. Sepasang suami istri melenggok menghampiri kami. Ayah segera menghapus air matanya. Tanpa basa-basi sang suami membentsk, “Kak, mana bagian warisanku? Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi!” Ayah mencoba meraih pundak lelaki hitam itu, namun dia menepis tangan ayah. Mataku panas, dadaku ingin meledak. Ingin rasanya kumuntahkan amarahku dan berteriak, “HAI, MAKHLUK TAK BERPERIKEMANUSIAAN, JANGAN SEKALI-KALI KAU MEMBENTAK AYAHKU!  SUATU SAAT KAU AKAN MERASAKAN PENDERITAAN KAMI!” namun kemarahanku melebur dikalahkan perbedaan strata. Bagai seorang budak, aku hanya bisa menunduk diam di hadapan raja yang zalim. “Ayah hanya mewariskan rumah ini dan hutang-hutangnya, Dik”, tutur ayahku. “AH, SUDAHLAH, SELALU ITU YANG KELUAR DARI MULUTMU. KITA PUTUSKAN SAJA PERTALIAN DARAH KITA!”, bentak lelaki kasar itu dengan berang. Ia menarik tangan istrinya dan berlalu dengan mobil mewahnya. Bola mata kami mengikuti pergerakan manusia sombong itu. Kukatupkan mataku berharap kehidupan menyakitkan ini berakhir. Oh Tuha, apa skenario-Mu selanjutnya?

    Mentari pagi kembali menyapa. Hangat. Namun tidak dengan hatiku. Beku. Terdengar ketukan pintu, aku bergegas membukanya. Seorang pria muda berkulit sawo matang dengan kemeja putih berdiri di hadapanku. Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya menambah nilai tersendiri untuk kesempurnaan ciptaan Tuhan. Pria tampan, bijaksana, lembut, baik perangainya dan kutebak dia orang yang cukup sukses. Itu kesan pertamaku saat melihatku. Sebuah suara mengagetkannu, “umar, sudah siap, Nak?” Dengan terbata-bata aku menjawab, “I-i-ya Ayah.” Beberapa kunci diserahkan pada pria tampan itu. Dengan tersenyum ayah berkata, “jaga rumah ini baik-baik ya. Terima kasih kau sudah membantu melunasi hutang-hutang ayahku.” Ayah menjabat tangannya erat.

    Selamat tinggal rumah dengan sejuta kenangan. Selamat tinggal pohon mangga. Ayah melangkah seraya menjinjing tas besar dan aku bejalan di belakangnya dengan sebuah tas di punggungku. Kami menyusuri jalan yang penuh kerikil tajam di bawah sengatan mentari pagi. Lalu sampailah kami di sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan di benakku sebelumnya, aku tersenyum, ini lah rumah baru kami. Tampak rumah kardus berdiri berantakan di sana, di kolong jembatan ibu kota.

    Lihat Koleksi Buku Karya Anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Rumah Baru" Karya Rhona Febriany Sary (FAMili Oku, Sumsel) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top