• Info Terkini

    Wednesday, October 8, 2014

    Ulasan Puisi "Jalan Diri" Karya Arief S (FAMili Sleman)

    Puisi ini berisi kegundahan seorang anak bangsa yang hidup di negeri yang penuh kekacauan. Saking banyaknya kekacauan, ia sadar bahwa sulit menemukan celah untuk menghapus hal-hal buruk dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baik.

    Namun, meski demikian, ia tidak pusus asa. Ia tahu, tidak ada yang bsia berubah di dunia ini, terutama hal-hal besar, kalau tidak mengubah terlebih dulu hal-hal kecil di sekitar kita, yaitu diri sendiri. Ya, bila semua orang mau mengubah diri sendiri menjadi pribadi yang positif, maka seiring waktu kekacauan sekacau apa pun akan hilang dengan sendirinya.

    Puisi ini selain menghadirkan kegundahan hati, juga melukiskan kengerian akan keadaan kacau suatu bangsa yang tidak akan bisa sirna kecuali bila tumbuh kesadaran dari setiap manusianya. Sebuah puisi yang lengkap: diramu dengan permainan kata dan pesan tersembunyi. Meski dari segi pemilihan diksi terkadang agak klise, namun pesan yang ingin disampaikan berhasil kita serap.

    Beberapa koreksi EYD ada pada kata-kata berikut ini: "tuk", "dimana", dan "darimana", yang seharusnya ditulis: "'tuk" (dengan tanda apostrof ( ' ) sebelumnya, sebab kata ini diambil dari kata dasar "untuk", yang otomatis tidak bisa berdiri sendiri), "di mana" (terpisah), dan "dari mana" (terpisah).

    Saran untuk penulis dari tim FAM adalah: tetaplah menulis. Pertajam pena Anda dengan mengangkat lebih banyak tema. Dengan begitu, akan makin terasah kepekaan rasa dalam memilih diksi yang mengena di hati pembaca.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    Jalan Diri

    Oleh Arief. S (IDFAM 2355 U)

    Kulewati hamparan penuh rerumputan
    Tuk penuhi kesempurnaan atas penghambaan
    Kubawa cermin retak berserak
    Dimana bola mata tak bisa berkaca

    Kucoretkan tinta di secarik kertas karya
    Dari binatang di rerimbunan ilalang
    Masing- masing elok tapi penuh borok
    Berbulu domba, nyatanya seekor serigala

    Ada kunang- kunang kecil saja, bawa cahaya di pantatnya
    Berkacak pinggang dengan garang
    Sumpah serapah, keluarkan kata sampah
    Tak peduli, kuayunkan lagi kaki mungil ini

    Ada rama- rama, indah nian corak sayapnya
    Tapi, dia hamba dengan otak pelupa
    Dulu hanya ulat bikin gatal jidat
    Kuabaikan dia dengan fatamorgana ketenarannya

    Kulewati bayang sepi taman sari
    Bidadari coba panah dinding hati
    Dengan gemulainya menari- nari
    Itu hanya halusinasi, penuh mafia ilusi

    Ini tentang susuri ibu pertiwi
    Cari tempat dimana kata tak mudah dibeli
    Aksara tak bisa lagi dimanipulasi
    Hamparan yang indah tanpa nyanyian dengki


    Belum kutemukan lagi, yang sesuai jiwa ini
    Dulu pernah ada, tapi kini sudah tiada
    Ah, bukan, itu hanya dongeng para pendongeng
    Sama juga seperti: busuknya masa kini

    Ternyata, itu ada di relung hati
    Tergantung seberapa besar jiwa ini
    Tuk bisa mengerti, Tuk bisa pahami
    Dan setidaknya beri setetes embun pagi

    Bagaimana kita bisa kaya, jika hati kita tak kaya rasa?
    Bagaimana kita bisa besar juga, jika tanpa kebesaran jiwa?
    Bagaimana kita bisa dihormati, jika kita suka mencaci?
    Dunia fana ini adalah cermin diri

    Darimana kata bangsa, jika tidak dibentuk dari satu jiwa?
    Darimana ratusan juta, jika tidak dimulai seorang saja?
    Kita juga penyebab tangis pilu seorang ibu
    Maukah kita coba cuci hati sebelum dikafani?

    Yogya, 2 Juli 2014

    Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Jalan Diri" Karya Arief S (FAMili Sleman) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top