• Info Terkini

    Wednesday, November 5, 2014

    Bukan Kacamata Biasa

    Harian Surya, 31 Oktober 2014
    Oleh Yudha Prima
    Koordinator Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Surabaya

    KACAMATA ini diberi nama Kacamata Semesta Kata. Dengan kacamata ini, para ksatria Airlangga Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia mencoba melawan kerabunan dan berusaha untuk lebih jelas memandang berbagai realita sosial yang berserakan di berbagai sudut dan di setiap jengkal bumi pertiwi. Dengan kacamata ini juga mereka mencoba berkontemplasi memandangi diri sendiri. Hingga akhirnya tersusun dalam rangkaian bait-bait puisi yang menyatu dalam sebuah buku antologi puisi Kacamata Semesta Kata.

    Secara umum, antologi puisi Kacamata Semesta Kata merupakan ungkapan kegelisahan para penulisnya. Sebagaimana disampaikan Bramantio SS MHum saat bedah buku dan launching buku tersebut, Kamis, 23 Oktober 2014. Dalam acara yang dihajat FAM Surabaya bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Kota Surabaya di Taman Flora Surabaya, puisi-puisi dalam antologi Kacamata Semesta Kata bentuknya sebagian besar merupakan narasi dengan menghadirkan aku atau kau melalui bahasa yang seolah mencoba menjadi indah.

    Dari satu puisi ke puisi lain ada sejumlah hal yang berulang: kemuraman, penderitaan, pesimisme. Bahkan cinta pun tidak tampak indah. Lahirnya antologi puisi ini merupakan penanda hadirnya sebuah generasi yang memandang semesta raya ini sebagai ruang dan waktu yang tidak menawarkan apa-apa selain gelap yang menihilkan harapan.

    Tentu tidak bisa diambil kesimpulan yang valid apakah persepsi para penulis puisi yang tergabung dalam antologi Kacamata Semesta Kata ini merupakan upaya mereka untuk jujur dalam menyikapi kenyataan atau sekadar memenuhi selera pasar yang mengisyaratkan adanya pergeseran tren dari syair-syair merdu bernuansa romantik ke puisi-puisi bernada sumbang, menggelitik bahkan tak jarang menampar.

    Satu hal yang pasti, kini antologi puisi Kacamata Semesta Kata sudah menjelma lebih dari sekadar pengguguran kewajiban tugas perkuliahan. Kacamata Semesta Kata telah dihidangkan ke ruang publik. Dengan sendirinya akan tumbuh ekspektasi pasca peluncuran buku tersebut. Diharapkan Kacamata Semesta Kata bisa menstimulasi nurani pembacanya untuk merekonstruksi segala ketidakindahan menjadi keindahan, mencerahkan segala kesuraman. Dan semoga buku tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan berkarya para ksatria Airlangga sehingga Airlangga bisa terus megah bertahta di timur Jawa Dwipa. (*)

    Sumber: Harian “Surya”, edisi Jumat 31 Oktober 2014
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bukan Kacamata Biasa Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top