• Info Terkini

    Monday, November 3, 2014

    Eksotika, Sejarah, dan Pesan Literasi di Kota Galuh

    Oleh Eko Prasetyo
    Jurnalis, bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    Judul buku: Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh
    Penulis: Aliya Nurlaela
    Penerbit: FAM Publishing
    Tebal: 505 Halaman
    Cetakan: I, Maret 2014
    ISBN: 978-602-7956-53-7


    Banyak novel yang bercerita tentang keindahan panorama alam daerah tertentu atau menonjolkan karakter tokohnya. Namun, tidak banyak yang mencakup dua hal tersebut sekaligus memberikan pesan literasi. Nah, novel Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh ini merupakan satu di antara yang tidak banyak itu.

    Dikutip dari buku Membangun Budaya Literasi (Unesa University Press, 2014), tantangan Indonesia ke depan adalah mengubah dirinya dari masyarakat yang terkungkung oleh tradisi kelisanan menjadi masyarakat yang bertradisi keberaksaraan (literacy). Masyarakat bertradisi keberaksaraan (sastrawi) adalah masyarakat yang mau membaca buku dan berpikir kritis bukan hanya terhadap kebohongan, kekeliruan, atau kemunafikan orang lain, tetapi juga terhadap dirinya sendiri. Artinya, cerdas dan jujur.

    Hidup sastrawi yang dimaksud tidak hanya mengandalkan kepekaan indrawi, tetapi juga berbudaya membaca dan menulis buku sebagai kiat hidupnya. Menurut sastrawan Suparto Brata, budaya membaca dan menulis buku harus dilatih, diajar, dan dibiasakan.

    Secara eksplisit, pada prolognya saja pesan literasi tersebut dikemas dengan tegas. Berikut ini kutipannya. ”Inilah catatan kisah seorang wanita yang suka menuliskan kisah hidupnya dalam catatan harian yang rapi. Ia tuliskan impiannya, perubahan sifatnya dari hari ke hari dan hal-hal yang ia saksikan di depan mata. Telinganya seakan tajam menangkap setiap pesan, pikirannya seolah mudah mencerna dan tangannya suka mengukir kata menjadi pesan yang bisa dibaca siapa saja. Ia wanita yang sangat menikmati proses hidup. Menikmati perubahan demi perubahan. Merasakan dan menuliskannya. Seakan-akan kisah hidupnya itu dapat dibaca dalam satu jilid buku saja.” (Setangkup Kisah, hal. 3).

    Sastrawan Indonesia Budi Darma pernah mengatakan bahwa seseorang yang menulis catatan harian itu bisa dikatakan sebagai orang yang tertib. Hal ini dapat terbawa pada kehidupannya sehari-hari. Apa yang dialami pada hari itu, baik peristiwa penting maupun biasa-biasa saja, akan dicatat.

    Catatan-catatan kecil seperti inilah yang membuat sejarah itu hidup. Sebab, tanpa adanya sumber dari bukti tulisan, kita sulit mengungkap peradaban suatu bangsa. Sejarah tidak cukup dituturkan lewat lisan, tetapi juga tulisan. Maka, tidaklah mengherankan apabila kemudian ada kalimat yang menyebut bahwa kemajuan peradaban suatu bangsa tak bisa dilepaskan dari budaya literasinya.

    Dalam novel ini, tokoh Amila dituturkan memiliki karakter sebagai sosok perempuan yang manja, cengeng, dan penakut yang seiring dengan perjalanan waktu serta konflik yang dihadapi berubah menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan pemberani. Sebagai seorang gadis desa dengan latar belakang keluarga berkecukupan, religius, dan cinta membaca, Amila tumbuh menjadi pencinta buku. Ia menganggap bahwa frame kehidupannya layak dibagikan kepada orang lain untuk diambil manfaatnya. Ia sadar, hal itu hanya dapat dilakukan melalui kegiatan menulis.

    Maka, setiap kejadian kecil tak luput dari pengamatannya untuk dituliskan ke dalam buku hariannya. Dalam prolognya, hal ini diilustrasikan kembali secara gamblang. ”Ia hanya ingin membagikan catatan kisah hidupnya yang pernah ditulis dalam buku harian. Ada setumpuk buku harian, bertuliskan tangan yang berisi catatan penting. Bisa disebut, catatan itu adalah kisah seorang wanita penakut, cengeng dan manja yang ingin berubah menjadi pemberani, tegar dan mandiri. Bisa juga disebut, kisah kura-kura yang lambat berjalan dan tak bisa berlari yang ingin menjadi seekor kancil yang cerdik dan gesit. Dari untaian kisah itu, ia hanya ingin berbagi pengalaman pada siapa pun yang siap menjadi pendengar,” (hal. 5).

    Sebagaimana umumnya cerita-cerita fiksi, novel Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh ini pun tak lepas dari konflik, yang dengan cerdik mampu menguras emosi pembaca. Kendati demikian, lagi-lagi pesan literasi itu dimunculkan ketika konflik memuncak, yang melibatkan penulis Zahda Amir dan sutradara Joe. Keduanya berseberangan pendapat sehingga membawa pertikaian yang berujung pada penculikan Amila oleh Joe.

    Setting Kota Galuh ternyata diambil dari tempat sang pengarang (Aliya Nurlaela) dilahirkan dan dibesarkan, yaitu Ciamis, Jawa Barat. Galuh pada masa lalu merupakan nama salah satu kerajaan besar di Jawa Barat yang menjadi representasi Kota Ciamis saat ini.

    Kepiawaian pengarangnya menggambarkan detail Kota Galuh seakan mengajak pembacanya ikut menikmati keindahan dan kekayaan setempat. Selain mengusung pesan sejarah, pesan literasi, pesan potensi pariwisata, yang paling penting novel ini menyampaikan nilai-nilai moral tentang kehidupan sehingga layak dan perlu dibaca semua kalangan. Hal inilah yang menjadikan poin lebih Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh ketika bangsa kita saat ini tengah mengalami krisis moral. (*)


    Sumber: Harian Singgalang edisi Minggu, 2 Nopember 2014
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Eksotika, Sejarah, dan Pesan Literasi di Kota Galuh Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top