• Info Terkini

    Thursday, November 20, 2014

    Maryam Syarif, Menulis karena Butuh Curhat

    Maryam Syarif
    Maryam Syarif, lahir di Kota Wisata Bukittinggi, Sumatera Barat, 1 Agustus 1992. Suka dipanggil Kak Yam oleh keluarga besar. Nama ini diberikan ayah karena saat kehamilan ibunya beliau suka membaca Al-Qur’an surat Maryam, serta menggemari perjuangan Bunda Maryam yang sangat kuat meski cobaan yang sangat dahsyat menimpanya.

    Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat sederhana dan keras. Ayah yang bersikap keras dan tegas sering menegurnya bila ia terlambat salat. Uminya sering menasehati dengan kata “sabar” jika ia mengadu saat di-bully teman di sekolah.

    Ia bersekolah dengan sangat biasa di SDN 03 Pakan Labuah, Tigo Baleh, Bukittinggi, kemudian lanjut Pondok Pesantren Islam Haji Miskin selama 6 tahun, 1 tahun mengabdi sebagai seorang guru di MDTA Pekanbaru. Pernah sih juara 1 beberapa kali dalam MTQ tingkat kecamatan dan sering mengikuti MTQ hingga tingkat kabupaten dan kota madya, namun kini ia memilih istirahat dengan memegang prinsip yang diajarkan oleh Ayahnya bahwa “suara wanita adalah aurat bila sudah baligh”.

    Tercatat sebagai mahasiswi semester V (lima) jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) di Sekolah Tinggi Islam Tarbiyah Islam (STIT Ahlussunnah) Bukittinggi. Selain sibuk kuliah, dia juga banyak ikut acara-acara berbau islami. Menjabat sebagai Sekretaris dalam Organisasi kampus HIMA BKI.

    Ia membenci ujian bahasa Indonesia saat SD, karena di bagian terakhir soal mewajibkannya untuk mengarang dengan ratusan kata. Namun saat menjadi anak asrama di pesantren ia bingung akan curhat dengan siapa, umi tak lagi bisa menjadi pendengar setianya, ia pun berpikir sambil mencoret-coret ungkapan hatinya, keluh kesah, suka lara dengan pena dan kertas. Akhirnya ia terbiasa menulis puisi dan curhat dalam kertas, yang setelah jadi kumpulan cerita dan puisi segera ia robek dan membuangnya ke jurang tepi asramanya, agar tak ada yang tau. Akhirnya nenek yang punya sawah mencari siapa yang selalu menghujani kebunnya dengan robekan kertas, dan ia pun tak lagi merobek kertas. Ia mulai beralih menyatukan tulisan-tulisannya di dalam sebuah buku isi 100 warna biru gelap pemberian Ustadnya sebagai hadiah mendapat nilai Mumtaz dalam ujian semester mata pelajaran Mahfudzot (kata-kata mutiara arab). Kini ada dua buku isi 100 yang sudah penuh dengan coretannya selama sekolah di pesantren.

    Semenjak kelas tiga MTs ia pun sering dipaksa menulis surat ucapan terima kasih untuk sepasang ibu dan bapak perantau Minang di Sidney Australia yang telah membantu proses belajarnya yang hampir terputus saat ayah jatuh sakit dan kondisi ekonomi keluarga terganggu. Sampai saat ini ia masih rutin menulis surat dan mengirmkannya lewat pos, sebagai ucapan terima kasih dan berbagi cerita. Kepada bapak H. Boy Adnan dan Ibu Hj. Yus Adnan ia sangat berterima kasih atas bantuan yang membuatnya bisa berdiri sampai di posisi ini, dan membuat ia nyaman menulis dan ingin sekali menghadiahkan sebuah buku untuk Ayah, Umi, Bapak dan Ibu. Ia memiliki mimpi ingin pergi ke Sidney dengan jalur tulis menulis, tak hanya suratnya yang selalu dibawa terbang ke Negeri Kangguru, ia juga ingin bisa terbang langsung ke sana.

    Sadar akan kekurangan dalam hal menulis membuatnya mencari-cari organisasi kepenulisan yang tepat untuk diikuti, dan saat mendapat undangan acara FAM di Pos Bukittinggi ia di pertemukan dengan Forum Aktif Menulis, kini ia mengantongi nomor keanggotaan sebagai anggota resmi FAM 1975 M Bukittinggi semenjak 6-11-2013. Terhitung setahun ia selalu mengikuti event-event yang diadakan FAM Indonesia dalam melatih dan mengembangkan keterampilan menulis para penulis pemula. Saat ini ia memiliki 1 piagam penghargaan dari lomba puisi PELITA sebagai peserta, 11 piagam penghargaan dari FAM Indonesia, satu di antaranya menjadi juara II dalam lomba menulis kata mutiara Ramadan 2014.

    Saat ini ia baru memiliki satu buku bersama dalam Antologi Kisah Inspiratif Ketika Menulis Menjadi Pilihan yang diterbitkan oleh FAM Publishing, bersama 41 penulis Indonesia ia berbagi kisah awal kepenulisannya sampai memilih untuk mencintai menulis.

    Maryam bisa dihubungi melalui nomor Hp 085355664021 atau email bintusyarief@yahoo.com, dapat juga lewat Facebook: Maryam Syarief atau di search lewat (Latizahrezia@ymail.com). Ingin menjadi orang BERGUNA. Itu moto hidup yang ia pegang. (*)

    Lihat buku-buku koleksi anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Maryam Syarif, Menulis karena Butuh Curhat Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top