• Info Terkini

    Thursday, November 6, 2014

    Menggagas Gerakan Peduli Lagu Anak-Anak

    Oleh Muhammad Subhan
    Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    RUMAH Budaya Fadli Zon Sabtu (11/10/2014), malam, meluncurkan album lagu anak-anak “Dunia Kita”. Album tunggal perdana ciptaan Muhammad Jujur, seniman dan pencipta lagu anak-anak asal Kota Padangpanjang itu, mengundang perhatian peserta yang hadir, di antaranya terdiri dari kalangan seniman, budayawan, akademisi, mahasiswa, serta sejumlah bupati/walikota se-Sumatra Barat. Album lagu anak-anak itu diluncurkan sebagai dukungan Rumah Budaya Fadli Zon yang ikut peduli terhadap eksistensi lagu anak-anak yang hari ini semakin hilang dari peredaran.

    Saya mengenal Muhammad Jujur ketika saya masih bekerja di Rumah Puisi Taufiq Ismail yang gedungnya berhadapan dengan Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanahdatar, Sumatra Barat. Sejumlah kegiatan sastra-seni-budaya di Rumah Puisi turut mengundang Muhammad Jujur untuk sekadar menyumbangkan suara emasnya diiringi gitar akustik yang dia petik dengan sangat mahir. Sejumlah puisi Taufiq Ismail yang hit dinyanyikan kelompok musik Bimbo dan Chrisye dia hafal, dan rutin ia bawakan setiap kali mendapat kesempatan atau diundang Rumah Puisi. Setelah tidak lagi di Rumah Puisi dan fokus di FAM Indonesia, saya memperhatikan gerakan Sanggar “Dunia Kita” yang dikelola Muhammad Jujur di Padangpanjang yang anggotanya terdiri dari anak-anak usia SD dan SMP. Di sanggar itu, anak-anak bernyanyi dan bermain musik dan Muhammad Jujur membinanya dengan sabar dengan semangat ‘kebapakan’.

    Membangun Karakter Anak Lewat Lagu

    Sejujur namanya, Muhammad Jujur lelaki rendah hati kelahiran Padangpanjang, 26 Januari 1961 ini, bertekad mengembalikan dunia  anak-anak yang dianggapnya telah dirampas oleh orang dewasa. Menurutnya, anak-anak Indonesia hari ini tidak menemukan lagi lagu-lagu milik mereka layaknya pernah jaya di era tahun 1980-an hingga  akhir tahun 1990-an. Pendapatnya itu cukup beralasan, sebab di layar kaca, program Idol ini Idol itu telah mengeksploitasi anak-anak dengan memaksa mereka menyanyikan lagu-lagu dewasa yang belum layak mereka nyanyikan. Pemaksaan itu tanpa disadari, dan para orangtua yang mengikutkan anak-anak mereka di program televisi yang meraup untung besar lewat iklannya itu, merasa bangga. Padahal, lirik lagu dewasa yang dinyanyikan anak-anak mereka tidaklah sesuai etika dan norma, terutama lirik-lirik cinta yang mengumbar syahwat lawan jenis. Realita itu sangat miris.

    Sebagian orangtua yang peduli masa depan anak-anak mereka tidak dapat bertindak banyak terhadap pengaruh televisi yang semakin memprihatinkan itu. Alternatif yang dapat dilakukan adalah mencari lagu anak-anak tempoe doeloe yang tentu saja semakin langka ditemukan di pasaran. Kalaupun ada, pastilah kaset bajakan dan sangat buruk sekali hasil gambarnya. Mencari lagu anak-anak terbaru seperti berharap kepada sesuatu yang mustahil, sebab tidak ada yang dapat dipedomani untuk didengarkan kepada anak-anak generasi hari ini.

    Keprihatinan terhadap kondisi itulah, Muhammad Jujur bercita-cita mengembalikan dunia anak-anak lewat lagu anak-anak ciptaannya. Ia mulai “berdakwah” di dunia  itu. Dia pun telah menciptakan lagu anak-anak dalam  jumlah banyak, 300-an judul, walau perjuangannya tidak mudah. Persoalan berat yang ia hadapi adalah, mencari produser yang juga peduli terhadap lagu anak-anak. Padahal menurutnya, bila ada pihak yang mau menggarap serius lalu dipromosikan sebaik mungkin lewat media massa, lagu anak-anak akan booming kembali, sebab banyak orangtua yang membutuhkannya untuk mendidik anak-anak mereka lewat musik dan lagu.

    Atas semangat, cita-cita dan perjuangannya itulah, Metro TV tertarik mengangkat profil Muhammad Jujur dan menayangkannya dalam program “Kick Andy” pada 2012 silam. Program itu mengundang perhatian jutaan pemirsa Indonesia, termasuk Kak Seto, aktivis yang selama ini konsen memperjuangkan hak anak-anak Indonesia. Bahkan, perusahaan musik ternama di Jakarta, Nagaswara Record, di program “Kick Andy” itu juga, berjanji akan mengalbumkan lagu-lagu ciptaan Muhammad Jujur—meski sayang, konon kabarnya, hingga hari ini janji itu belum dipenuhi pihak Nagaswara. Walau demikian, Muhammad Jujur tidak berhenti berkarya. Sanggarnya tidak pernah sepi dari aktivitas bermain musik dan bernyanyi dan selalu diminati anak-anak yang ia bina.

    Putra  Koreografer Minang

    Tidak banyak yang tahu, kalau Muhammad Jujur adalah anak seorang koreografer Minangkabau terkenal; Hoerijah Adam. Hoerijah Adam adalah orang yang pertama kali mengubah orientasi Tari Minangkabau yang sebelumnya berasaskan pada gerak Tari Melayu kepada gerak yang berasaskan pencak (silat) Minangkabau. Hoerijah Adam sendiri adalah putri Syekh Adam Balai-Balai, ulama Padangpanjang yang juga pejuang dan pecinta seni. Mewarisi darah seni kakek dan ibunya, Muhammad Jujur di kemudian hari memilih jalur musik sebagai jalan hidupnya.

    Perjuangan bertahun-tahun membangun gerakan peduli lagu anak-anak, diakui Muhammad Jujur sarat tantangan, terutama ketiadaan biaya untuk memproduksi dan memasarkan lagu-lagu ciptaannya. Ketika ia mendapat sedikit rezeki, ia hanya membuat videoklip dengan amat sederhana dan membagi-bagikannya secara percuma (gratis) di lingkungan masyarakat Kota Padangpanjang. Secara khusus, dia pernah mendapat dukungan dari pencipta lagu anak-anak legendaries AT Mahmud  (alm.) dan Surtantio (putra Bu Kasur) untuk menasionalkan karya-karyanya. Tetapi persoalannya itu tadi, dia tidak mampu berjalan sendiri membangun gerakan itu. Butuh dukungan dan perhatian banyak pihak, terutama pemerintah, yang turut bertanggung jawab terhadap karakter dan moral anak bangsa di masa depan.

    Perjuangannya yang tidak pernah henti di jalur musik anak-anak juga sempat mengundang perhatian Persatuan Pewarta Warga  Indonesia (PPWI) Nasional. Dalam  acara Seminar Internasional Guru di Padangpanjang 2010 dan dihadiri 500-an guru, ia pun diundang untuk diberikan penghargaan—di saat itu piagam diserahkan langsung oleh Gubernur Sumatra Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, P.Si, M.Si. Beberapa lagu ciptaannya juga telah beredar di tengah masyarakat Indonesia, khususnya album bersama di antaranya berjudul: Kembalikan Dunia Kami, Lagu-lagu TK Tema Juara Porseni Nasional, Senam Irama Ceria 2, Musik Cilik Musiknya Anak-anak, dan Dendang 12 Anak Minang. Di akhir tahun 2011, Balai Teknologi Komunikasi  Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatra Barat menggarap Drama Musikal Anak (Empat Episode) dalam bentuk DVD yang di dalamnya dinyanyikan lima judul lagu ciptaannya, yaitu: Kawasan Dilarang Bohong, Pemberani, Maafkan Kakak, Coba  Lagi, dan Dag-dig-dug.

    Di usianya yang telah memasuki kepala lima, cita-cita Muhammad Jujur sangat sederhana, yaitu ingin mengembalikan dunia anak-anak dengan lagu-lagu yang bermoral dan mendidik  mental  anak serta mengandung nilai-nilai pendidikan agama di dalamnya. Salah-satu lagu ciptaannya berjudul Kembalikan Dunia Kami mencerminkan semangatnya itu: //Mari bernyanyi bersama/ Dalam dunia kita/ Tepuk tangan bergembira/ Lagu yang sederhana/ Kita belum dewasa/ Jangan sampai terpaksa/ Meniru, bukanlah sifatmu/ Berbanggalah, semua/ Dunia kita berbeda/ Duniaku, adalah milikku/.

    Itulah Muhammad Jujur. Dia mencoba memanggil anak-anak Indonesia untuk “pulang kembali” ke rumahnya setelah sekian lama menginap di dunia orang dewasa idolanya itu, yang ternyata tidak mengacuhkan mereka bahkan telah mengeksploitasi anak-anak, sementara orangtua khususnya para pengelola program televisi meraup keuntungan besar dalam pundi-pundi uang milik mereka. Gerakan peduli lagu anak-anak ini perlu kita dukung bersama dengan cara mem-booming-kan kembali lagu anak-anak serta mengatakan tidak terhadap “pembodohan” lagu-lagu dewasa yang dipaksakan untuk dinyanyikan oleh anak-anak—termasuk dalam hal gaya berpakaian. Sumatra Barat sangat potensial menjadi pusat gerakan itu, yang mudah-mudahan semangatnya dapat menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. (*)

    Sumber: Harian Singgalang edisi Minggu, 26 Oktober 2014, Rubrik Khasanah
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menggagas Gerakan Peduli Lagu Anak-Anak Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top