• Info Terkini

    Thursday, November 27, 2014

    Ulasan Cerpen “Je Ne Crois Plus Les Filles” Lydia Nahkluz Petrovaskaya (FAMili Riau)

    sumber: pixabay.com
    Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang kehilangan bagian dari masa lalunya. Sejak awal cerita, kita sudah disuguhi kebingungan tokoh utama pada sosok Anna dan seorang gadis misterius. Barangkali kita jadi berpikir bahwa sosok selain Anna itu bukan siapa-siapa, atau barangkali tidak ada. Sementara, Anna sebagai sahabat tokoh "aku", justru menghilang tak lama kemudian.

    Di akhir cerita kita, sosok misterius itu diketahui sebagai saudara Anna dan berkaitan dengan hilangnya sahabat si tokoh "aku" tersebut. Ide cerita sebenarnya sudah bagus, hanya saja eksekusinya kurang rapi. Pertama dari segi penyajian jalan cerita. Terkesan dipaksakan, pertemuan antara Aina--sosok misterius itu--dengan "aku" terasa ganjil. Tetapi itu sah-sah saja, sebab kita tidak harus tahu bagaimana Aina tahu keberadaan "aku"--yang notabene adalah sahabat saudara kembarnya--saat ini.

    Kekurangan kedua disebabkan oleh pengetikan yang kurang rapi. Banyak sekali kesalahan tanda baca, serta hilangnya spasi antar-kata, membuat pembaca tidak nyaman saat membaca cerpen ini. Ditambah kesalahan EYD seperti kata-kata berikut: "di wisuda", "dibangku", "dibalik , "dibawah", dan "diluar"--yang seharuasnya ditulis: "diwisuda" (gabung, sebab ini kata kerja pasif), "di bangku", "di balik" (dalam hal ini, "balik" yang ada menunjukkan posisi tempat, bukan "balik" sebagai kata kerja. Jadi penulisan "di-" wajib terpisah dari kata "balik"), "di bawah", dan "di luar". Kemudian kata-kata seperti "resiko", "justeru", "satu-persatu", "melonggo", "nafas", "termanggu", dan "kesini", seharusnya ditulis: "risiko", "justru", "satu per satu", "melongo" (hanya satu huruf 'g'), "napas", "termangu" (hanya satu huruf 'g'), dan "ke sini".

    Saran untuk penulis ke depan, perbaiki penyajian tulisan Anda, mulai dari kerapian naskah dan EYD. Untuk penyajian dari segi cerita bisa diasah dengan terus menulis. Bukankah sangat disayangkan, bila isi tulisan kita bagus, namun penyajian dari segi kerapian kurang?

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITIN]

    JE NE CROIS PLUS LES FILLES 1)
    Oleh Lydia Nahkluz Petrovaskaya (IDFAM 1300U)

    Sejak ia sering melihatku di jendela, aku tak tahu kenapa perasaan heran memelukku. Ini melahirkan sebuah pertanyaan. Membuat aku berpikir untuk memjawab. Segala berawan teka-teki. Kelihatan sebuah petanda negatif. Padahal, tidak! Terkadang, hidup harus kuterjemahkan dengan titik hujan.Lalu kemudian,   kuterjemahkan dengan mata jiwaku.

    Anna adalah teman baikku. Kami satukampustapibedafalkultas. Aku kuliah di jurusan pendidikan semester terakhir sedang ia di kimia.Bersamanya,kuingin mencari tahu gadis itu. Inginkuungkapkan sesuatu pada Anna. Saat istirahat jam terakhir perkuliahan.

    “Na, aku  mengenal sosok misterius di luar sana. Bisa bantu aku gakuntuk mengetahui keberadaannya!” seruku.

    “Boleh....! Lalu kenapa?”  tanyanya heran.

    “Akhir-akhir ini aku seperti diintip. Ada spionase yang berkeliaran di sekitar kampus. Sepertinya, kamu harus menemukan gadisitu.Seseorang yang benar-benar menghantui pikiranku.Kemunculannya begitu tak terduga. Apakah kamu juga melihat apa yang aku lihat!” tanyaku padanya.

    “Tidak! tidak sama sekali. Mungkin itu hanya bayangan masa lalumu. Atau  halusinasi kamu aja kali ?”  ujar Anna mengejek.

    “Mungkin juga! Tapi, aku tak percaya inibuah dari halusinasi. Kejadiannya tiap hari, kok!”

    “Oh! begitu. Tenang aja friend. Aku bantu masalah rumitmu ini. Okey!” seru Anna sambil mengangkat ibu jari tanda setuju.

    “Ya, ya. Aku percaya deh, ma.... kamu! Kamu memang sahabat sejatiku.”

    Anna tersenyum dengan ucapannya. Senyumnya buatku tenang. Kami lalu menghabiskan waktu bersama di depan halaman kampus. Duduk berdua sambil menunggu waktu  pulang.

    Itulah percakapan terakhirku dengan Anna. Sejak di wisuda, aku langsung putus koneksi dengannya. Puas aku mencari alamatnya. Tapi, hasilnya tetap saja nihil. Akhirnya, aku memutuskan untuk berserah diri. Mengharapkan kekuatan Ilahi agar semuanya bisa terselesaikan dengan baik.    

    Di rumah, aku mencoba untuk berandai-andai bersama gadis itu.Memposisikan diri sebagai raja di depan matanya.

    “Jikaiamengenalku! akuyakiniaakanterpesona. Dan mungkinakan jatuh cinta pandang pertama.Atau paling tidak aku akan mengucapkan kata-kata indah di depannya nanti!”

    Sebagai pendidk, aku ditempatkan di desa terpencil. Aku sudah tahu segala resiko di sana. Karena, memang mau tak mau aku harus menerimanya dengan senang hati. Pekerjaan ini yang aku inginkan sejak duduk dibangku Sekolah Dasar. Jadi pendidik bagiku adalahsesuatu yang luar biasa. Kita mampu hidup terusdengan ilmu yang kita berikan pada anak bangsa. Bahkan, sampai akhir hayat!

    Tinggal di daerah pedesaan seringmelahirkan sebuah persoalan. Kekurangan menjadi biasa. Untung, alam tempatku  mengabdi memberikan warna keceriaannya. Panorama yang di sini membuat segala kelemahan tampak tak berarti lagi di mataku. Aku jadi betah bertahan. Setiap akhir minggu,akubanyak menghabiskan masa bersama alam di desa ini. Menikmati keindahannyasekaligus mengenal secara detail sisi lain dari kehidupan masyaraakatnya secara detil.

    Minggu ini aku sedang napak tilas menyusuri pinggir pantai.Menikmati riak gelombang dan keteduhan pohon-pohon di sisinya. Udara segar membantu memberikan semangat baru untukku. Agar besok aku mampu eksiskembali untuk mengantarkan pengetahuan baru pada anak-anak. Keindahan alam di sini mengingatkanku tentang kampung halaman teman kosku.Ia berasal dari pulau Nias. Darinya, aku banyak tahu tentang indahnya pantai Nias. Tapi, sayang! kemolekkan pantai di sana tak mendapat support dari pemerintah secara maksimal. Membayang keindahannya saja sudah merupakan sebuah kepuasan. Apalagi kalau langsung merasakannya.

    Sekarang, akuseolah-olah seperti berada di sana. Di pulau Nias bersama temanku itu. Padahal, aku tidak beranjak sedikit pun dari tempat ini.

    Berada di sini serta menikmati keragaman asri membuatku mendapatkan sebuah keberuntungan lain.Subbahanallah......! Maha Suci Allah yang memberi banyak berkah.

    Udara makin naik. Badanku gerah karena keringat. Aku harus mencari tempat berteduh. Kulihat di ujung sana ada sebatang pohon besar dan rindang. Akarnya sangat kuat mengikat butir pasir. Daun di sekitar pantai tampak sangat hijau.Dari jauh, ada kursi panjang yang terbuat dari papan bekas. Bawah pohon itu. Aku  tak berpikir panjang untukke sana. Menuju areal pohon  rindang tepi pantai.  Berlari kecil untuk mendekatinya.

    Saat sampai aku terkejut. Kulihat ada sosok wanita dewasa berselindung. Di belakang pohon tersebut. Ia tak menampakkan mukanya sama-sekali. Hanya rambutnya yang bisa kulihat. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Siapa gerangan gadis itu? Rasa penasaran membuatku berani menghampiri. Meski, ia tetap berseteguh menyembunyikan wajah. Aku terus mengintai dibalik rambut panjangnya itu. Kuperhatikan matanya. Ada banyak rahasia yang ia simpan. Aku tak sabar untuk membuka rahasia itu sekarang. Lalu, aku menanyai sesuatu padanya.

    “Hey, gadis sedang apa kau kemari? Bukankah di sini sungguh tidak nyaman buatmu!” kataku memujuk.

    Iaterusmenyembunyikandiri.Makin dalam dan makin dalam. Aku hampir bingung menghadapi gadis itu.Tanpa basa-basi ia segera memberi respon.

    “Mengapa kamumenanyaikusepertiini! Apa salahku sehinggakauberkatabegitu. Seharusnya kamu yang bisa menjawab pertanyaanmu sendiri. Bukan aku! Karena kamu bukan anak desa ini, kan!” katanya mengancam.

    Aku jadi malu. Sedikit agak kesal.Kucoba mencari pembenaran diri.Tanpa ragu kubalas cepat ucapannya itu.

    “Maaf! aku ingin mengatakan sesungguhnya. Saat ini  hanya kita berdua di tempat ini. Tiada orang lain. Tak pantas gadis seperti mu berada di alam terbuka bersamaku. Bayangkan! kalau hal-hal yang tak kita ingini terjadi!  Apakah kamu tak memikirkan hal itu!”

    “Mikir! apa yang harus dipikrkan. Mikir hidup saja sudah susah. Apalagi memikirkan hal-hal yang tidak riil terjadi.” kemudian  ia melanjutkan omongannya kembali.

    “Bukankahsemuamanusiamemiliki kebebasannya sendiri-sendiri. Aku ingin merasakan kebebasan itu. Sepanjang  kebebasan tersebuttidakmelukaiorang lain.Bagiku, justeru kehadiran Anda sangat menganggu kebebasanku di sini!”ujarnyapedas.

    Akujadi upset!Mukakujadi merah. Akumerasakanseolah-olahaku adalah musuhbaginya.Akuterhenyak di lembahkekacauan.Akumalah jadi tidakmemahamijalanpikirankusendiri. Sungguh, aneh…. !

    “Mengapaiabisasekasaritupadaku! Padahaliabelummengenalkulebihjauh. Apasalahkupadanya?” cetuskudalamhati.

    Semuapertanyaanitutiba-tibalenyap.Tatkala,ia dengan semena-mena meninggalkanku. Seperti kilat. Tanpa sedikitpun meninggalkan pesan. Gadis itu hilang seperti bayang hitam di malam gelap.

    Sejakituakutakmelihatnya lagi.Taktahuakuentah dimanaiakini. Beritanyapun takakuterimadarisiapapun. Aku memang buta mengenai status gadis itu.  Informasi yang kuterima mengatakan bahwa ia memang anak desa ini. Hanya itu.  Sebagian  besar cerita  tentang  gadis itu benar-benar kabur. Dan aku punhampirmelupakansegala peristiwa tersebut.

    Sampaisuatuketikaakudapatberitatentang akanadanya perayaan pesta pantai di desa itu. Barangkali, ini kesempatan bagus buatku untuk menemuinya kembali di sana. Aku yakin, ia akan hadir saat pesta pantai berlangsung.  Keyakinan membuatku berani untuk segera memecahkan keanehan yang aku rasakan pada gadis itu. 

    Orang ramai berkumpul di sepanjang pantai. Anak-anak bermain-main. Mereka senang dengan suasana pantai  pagi itu. Udara  sejuk. Banyak orang berbeda tampil. Ada yang ikut lomba layang, sepak bola pantai dan lain-lain. Bahkan, banyak dari mereka yang hanya duduk-duduk saja. Suasana di pantai hari itu sungguh sangat berbeda.

     Aku memang tak peduli akan hal ini. Karena tujuanku hanya satu. Menemui gadis aneh itu kembali. Tanpa pkir panjangaku langsung menuju tempat di mana aku mengenal gadis itu pertama kali. Mencari tahu apakah gadis itu masih tetap bersembunyi di sana. Atau,  kini ia sedang  mencari tempat persembunyian yang baru. Tapi, dari jauh aku masih lihat pohon itu semakin tegar dan kuat.

    Saat berdiri terdengar olehku suara aneh di balik pohon. Suara seorang yang kukenal.Ternyata dugaanku benar! Ia datang tepat di depanku. Mendekatiku sambil memberikan sebuah senyuman dan salam. Aku jadi terkesima dan hampir lupa. Kali ini ia menampakkan wajah sebenarnya.  Aku kaget campur heran. Memandangnya, aku jadi mengulang cerita lama. Tentang teman lamaku, Anna.Gadis kampusku yang tak kuketahui rimbanya sekarang.  Kini, ia menyapaku penuh ramah.

    “Hello?” katanyapadaku.

    “Hello juga!” jawabkupelan.

    “Tentu kamu heran,kan! Mengapa aku harus menampakkan wajahku kali ini. Tak mengapa. Keheranan kamu justeru membuatku bahagia. Paling tidak sedikit rahasia telah aku buka di sini. Baiklah! namaku Aina. Dengan namaku ini kamu bisa menduga bahwa aku punya hubungan dengan Anna, teman lamamu itu, kan!”

    Aku belum bisa membalas semua kalimat yang keluar dari mulutnya itu. Aku masih heran. Mataku terbelalak!  Tidak percaya dengan apa yang telah aku lihat hari ini.

    “Jadi kamu siapanyaAnna........?” tanyaku gegabah.

    “Ini, ini yang memang aku nantikan dari kamu. Sebagai orang yang belum tahu, aku wajib menjelaskan semuanya. Tapi kita harus duduk dulu di kursi panjang itu.Agar percakapan kita lebih dingin!’ Sambil melangkah kecil, ia menunjuk ke arah kursi panjang di bawah pohon besar.

    Ia menunjukkan tangannya ke arah kursi panjang dari kayu di bawah pohon besar. Aku dan ia duduk bersama seperti sepasang kekasih yang memadu cinta. Walau jarak kami tidak terlalu rapat.

    “Terkaanmu benar. Aku memang saudaranya Anna. Meski kami tidaklah serupa dalam segala hal, tapi wajahku dan Anna  tak jauh tertumpah. Kami adalah saudara kembar yang terpisah oleh waktu dan tempat. Ceritanya panjang. Aku tak bisa merangkainya satu-persatu. Nanti juga kamu akan mengetahui semuanya.”

    Aku hanya bisa melonggo. Tak ada kata yang bisa terucap. Intuisiku hilang sekaligus. Nafasku bergerak satu-satu. Kini aku harus menerima kenyataan bahwa hidup memang penuh dengan hal yang tak terduga sama-sekali.

    Untuk memutuskan kegalauan maka aku ambil jalan pintas.Mengajukan pertanyaan singkat padanya. 

    “Jadi.....! posisi Anda sebenarnya di mana?”

    “Okey, untuk menjawab pertanyaan ini, maka sebaiknya aku harus mulai dari diriku sendiri. Berkat orang-orang aku mendapatkan berbagai info mengenai kakak kembarku. Sampai akhirnya aku harus berada di kampus,mencari tahu keberadaannya. Kebetulan kamu ada di sana. Aku terpaksa melakukan kegiatan spionase untuk memastikan bahwa Anna adalah kakak kembarku. Jadi tak heranmengapa kamu begitu antusias ingin mengetahui keberadaanku.Kala itu, kakakku tak mengetahui kalau aku adalah kembarannya.

    Pencarianku benar-benar berakhir, tatkalakalian  di wisuda sebagai sarjana. Saat itu aku ikut bangga. Aku terpaksa membuka penyamaranku padanya. Mengingat waktunya sangat tepat. Di samping itu karena aku sendiri telah memiliki banyak buktiuntuk menjelaskan padanya, bahwa ialah yang selama ini aku cari-cari. Kami tidak sempat memberitahu hal ini padamu, mengingat waktu itu  kegembiraankami begitu bermakna sekali. Untuk hal ini aku minta maaf atas diriku dan kakak kembarku.”

    “Lantas! mengapa kakakmuAnna tak menghubungiku setelah pertemuan itu! Padahal, aku ingin tahu informasi terbaru darinya?” tanyaku heran.

    Aina merasasedih mendengar pertanyaan dariku. Aku tak tahu kenapa ia bisa demikian. Aku harus menunggu jawabnya dengan sabar.

    “Aku tahu bahwa kamu adalah sahabat sejatinya. Tapi! apakah kamu benar-benar Anna sebenarnya? Aku harus mengatakan sejujurnya kali ini. Kakakku telah menceritakan segalanya tentang dirinya padaku. Termasuk penyakit kronis yang ia alami setelah bertahun berpisah denganku. Ia tak cukup waktu untuk menjelaskan semuanya pada Anda. Meski, kamu punya sedikit hak untuk merasa penderitaan yang ia alami..........”

    Setelah merayakan wisuda, akhirnya kakakku menghembuskan nafas terakhir di pangkuanku. Aku hanya bisa meratap kepergiannya saat itu. Tak ada kata sesal yang bisa aku ucapkan. Dan  inilah makna kedatanganku kali ini!”

    Akukagetmendengarpenjelasannya. Sepertitakmasukakalbagiku. Laksana cerita dongeng saja.Akujadiserbasalah. Iatak lagi memberikan sebuah senyuman. Matanya merah! Raut wajahnya menampakkan kedukaan yang mendalam. Di ataskepala kami, kulihatawansemakin hitam.Menumpahkan kekecewaannya pada kami.  Dalam termanggu, kulihat ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sehelaikertasberwarnajingga. Dengan hiasan bunga-bunga.

    “Aku datang kesini karena ini! Serunya memecah kebisuan. Mungkin ini memberikan sebuah kepastian buatmu!”

    “Oh, oh……. !” balasku singkat. Mulutku terkatup erat untuk membalas ucapannya itu.

    Kuambil kertas itu dari tangannya. Agak hati-hati. Tidak sengaja tanganku  menyentuh jari-jemarinya. Halus kurasa. Kubuka surat itu di depan matanya. Gugup dan penuh tanda tanya. Aku terkejut seketika saat kulihat sebuah nama tertera dibawah sudut kanan surat. Sebuah nama yang kukenal sangat baik,selama ini, Anna... ……!

    Aku tak percaya. Beberapa menit aku hilang kesadaran. Kepalaku terasa akan pecah. Anggota tubuhku jadi lemas semua.

    Aku jadi terenyuh mendengar kisah Anna, lewat Aina. Ada perasaan bersalah melingkar di dada. Sungguh pedih! Aku benar-benar hanyut dalam kesedihan. Aku seperti tak sanggup berkata  apa-apa. Tapi, akhirnya kuberanikan diri untuk mengatakan sesuatupadanya.

    “Maafkanlah aku! Aku hampir melupakan kakakmu itu. Karena peristiwa ini begitu lama.Akut akmenya dari mengapa semua  harus seperti ini. Benar-benar diluar akal sehat!” seruku.

    Ia menangis mendengar ucapanku. Air matanya keluar deras dari pipinya.Kepalanya tertunduk sesal. Tubuhnya lemas.

    Dan akhirnya, ia memtuskan untuk mengajakku menziarahi kuburan kakaknya. Kami melangkah bersama menyusuri jalan setapak menuju tempat itu. Kiri-kanan jalan penuh dengan rumput liar dan semak-semak.Pemandangan ini seolah-olah sedang menunggu kami. Dari sebuah harapan yang selama ini hadir tanpa pernah kuketahui. dan harapan itu kini hilang bersama waktu....! 

    Bengkalis, 18 Maret 2014

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Je Ne Crois Plus Les Filles” Lydia Nahkluz Petrovaskaya (FAMili Riau) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top