• Info Terkini

    Wednesday, November 12, 2014

    Ulasan Cerpen "Kereta" Karya Rhona Febriany Sary (FAMili Palembang)

    sumber: flickrhivemind.net
    Sederhana tapi mengena, begitulah kesan Tim FAM  setelah membaca cerpen ini. Tidak ada konflik besar atau tidak ada sesuatu yang ditulis bertele-tele di sini. Penulis menyajikannya secara to the point. Walau awalnya seolah mengarah ke pola penulisan yang "bertele-tele", setelah kalimat demi kalimat, barulah terasa bahwa sebenarnya inti dari cerpen ini—yang dapat dikatakan pula pesan yang hendak penulis sampaikan—adalah konflik batin si tokoh utama.

    Secara keseluruhan cerpen ini bagus, mengingatkan kita pada kefanaan dunia dan keabadian akhirat. Kita sebagai manusia tidak tahu kapan sesuatu akan terjadi; entah itu jodoh, rezeki, umur, dan lain sebagainya. Dan kita sering alpa. Namun, lewat potongan scene sederhana di sebuah gerbong kereta, penulis berhasil menyampaikan banyak pesan pencerahan. Maka, dapat dikatakan, inilah cerpen sederhana yang mengena.

    Ada beberapa koreksi mengenai EYD. Kata "antrian", "dzikir", dan "sedikitpun" yang benar ditulis: "antrean", "zikir", "dan "sedikit pun". Selain itu, tampaknya sudah tidak ada kesalahan. Saran dari Tim FAM agar penulis terus menggali ide-ide lain yang lebih "tidak umum". Sebab, dengan cara penyajian yang seperti ini, bila ide yang diusung "tidak umum", bisa jadi tulisan Anda akan jauh lebih baik.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    KERETA
    Oleh Rhona Febriany Sary (IDFAM2665M)

    Mendung menggantung di langit sore mengawali kedatangan senja yang pilu. Sepilu hatiku. Desau angin yang menggesek pepohonan menambah kerisauan. Aku masih enggan bergeming dari meja belajar yang terbuat dari kayu tua yang masih tampak kokoh. Masalah demi masalah menghantui pikiranku. Terngiang firman Allah yang menyatakan seorang hamba akan diuji sesuai kemampuannya. Tetapi bagaimana denganku? Aku tak sanggup lagi, ya Allah !

    “Tok.. Tok.. Tok.” Ketukan tersebut membuatku beringsut membuka pintu dan seorang wanita paruh baya menyodorkan handphonenya padaku, “Ini ada telepon dari adikmu, penting.” Langsung kuraih handphone tersebut dari tangan tetangga yang selama ini mengasihiku bak anaknya sendiri. Suara sumbang nan gelisah adikku memenuhi ruang di telingaku. Kalimat yang kutangkap hanyalah, “Ibu sakit keras, segeralah pulang.” Ya Allah.. derita apa lagi yang Engkau timpakan padaku.

    Sajadah panjang itu kini berdebu. Kupandangi dengan perasaan bercampur aduk. Ayah pernah berpesan, jangan sampai kau lupa bersujud pada Tuhanmu, di mana pun kau berada. Aku begitu mengagumi sosok ayah, kami sering tersungkur bersama di atas sajadah panjang. Bahkan satu-satunya caraku mengadu adalah ruku’ dan sujud pada-Nya. Namun itu saat ayah belum khilaf akan senangnya duniawi. Hasutan wanita lain membuatnya berubah. Kelembutan pada keluarga pun hilang dan ibu adalah tempat pelampiasan kemarahannya. Tak terbayangkan perihnya luka ibu. Tiap malam kulabuhkan do’a untuk ayah agar dia kembali, namun sia-sia. Aku mulai ragu, apakah Allah tak mendengarkan do’aku ? Tujuan utama merantau ke kota pendidikan ini adalah menuntut ilmu harus teralihkan. Kiriman dari orang tua tak lagi kuterima. Bekerja. Siang malam aku bekerja, apa saja. Lelah selalu megikutiku hingga sajadah itu tak tersentuh dan kini berdebu.

    Aku tak perduli lagi pada Tuhan, tetapi aku sangat sayang pada ibuku. Kulihat jam tanganku, masih ada waktu untuk naik kereta pulang ke kampung. Kusambar tas semata wayangku yang tergeletak di lantai. Aku berharap masih bisa mendapat tiket kereta api. Nasib baik ada padaku, setelah menyusup ke dalam antrian, sebuah tiket kudapatkan.Gerbong ini sudah penuh dengan penumpang. Aku duduk di sebelah bapak-bapak yang sudah tua. Tak lama kemudian kereta mulai bergerak. Sesekali aku mengantuk dan tak sengaja menjatuhkan kepalaku di pundak bapak itu. Ia selalu tersenyum saban kali aku meminta maaf. Kuamati seisi gerbong, semuanya sibuk akan kegiatan masing-masing. Kulirik bapak di sampingku, matanya terpejam namun bibirnya terus bergerak, begitu juga jari jemarinya. Berdzikir. Aku mulai mengingat kapan terakhir kali aku mengingat Allah. Lupa. Kutatap ia lekat-lekat. Lelaki yang kuat, gumamku. Namun, lidahku kelu saat menatap kakinya yang tak sepasang itu. dan dia masih mau berdzikir pada Tuhannya. Kupegang kakiku, masih lengkap. Bagaimana jika Tuhan mengambilnya pula dariku? Ya Allah...

    Di bangku yang lain terdengar riuh rendah ibu-ibu yang mengobrol. Kudengar seorang ibu mengisahkan anak dan suaminya. Belum genap sebulan suaminya meninggal dan kini ia harus banting tulang mencari biaya pengobatan sang buah hati yang sedang sakit. Penyakitnya membuatku tertegun.  Anak ibu itu tak bisa buang angin. Sepertinya sepele sekali, hanya buang angin saja. Ya Allah...

    Kualihkan pandanganku ke sudut kanan. Seorang eksekutif muda sedang berapi-api bercerita pada teman sejawatnya. “Motivator itu gila ! Dia berkata bahwa kita bisa berbisnis tanpa uang! Aku membantahnya, mana bisa tanpa modal, Bung! Eh, dia malah memberiku cek senilai satu milyar dengan syarat aku meninggalkan jari telunjukku. Memang benar-benar gila orang itu!” Bergertar hatiku. Manusia mana yang sanggup menukar jarinya dengan kekayaan. Ya Allah...

    Kututup telinga dan mataku supaya tak kudapati lagi suara dzikir bapak di sampingku, wajah sedih ibu itu dan teriakan eksekutif muda tersebut. Telinga dan mata. Apa jadinya jika Allah pun mengambilnya dariku. Ya Allah...

    “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” firman Allah yang diulang-ulang dalam Q.S Ar-Rahman itu membuatku meneteskan air mata. Betapa aku tak pernah bersyukur atas nikmat-Mu selama ini, ya Allah. Bisakah air mata ini menghapus dosaku? Kau terimakah tobatku, ya Allah ?

    Aku masih tenggelam dalam penyesalanku. Kudengar penumpang ribut sekali. Tak kuhiraukan sedikitpun. Aku masih ingin dekat dengan Tuhanku, menebus semua kelalaianku. Tiba-tiba aku merasa tubuhku miring, terjatuh dan dihantam benda keras. Aku masih terpejam dan untuk selama-lamanya di kereta terakhir. Bisakah Allah mengampuniku dalam kecelekaan kereta api hari ini?

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Kereta" Karya Rhona Febriany Sary (FAMili Palembang) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top