• Info Terkini

    Tuesday, November 11, 2014

    Ulasan Cerpen "Tuhan, Tolong Aku!" Karya Semprianus Mantolas (FAMili Kediri)

    sumber: muslimmoveon.blogspot.com
    Seorang wanita kehilangan suami yang meninggal. Padahal ia harus menghidupi beberapa anak. Begitu banyak derita dan beban hidup. Utang menumpuk, sementara anaknya putus dari sekolah, membuatnya teringat kepada Tuhan. Cerpen ini begitu singkat. Barangkali lebih tepat disebut sebagai cerita mini, dengan jumlah kata yang lebih sedikit ketimbang cerpen. Konflik yang dihadirkan ada, namun kurang digali. Klimaks dan penyelesaian tidak jelas (atau malah tidak ada), hingga kurang lengkap jika tulisan ini disebut sebagai sebuah cerpen. Penulis seharusnya masih bisa melanjutkan cerita, namun justru berhenti begitu saja ketika semua masalah mulai datang menimpa para tokoh utama. Maka, pesan apakah yang bisa pembaca serap?

    Beberapa koreksi EYD ada pada kata-kata: "dipinggir", "dihadapan", "di hajar", "suami-ku", "memperdulikan", dan "kedalam", yang seharusnya ditulis: "di pinggir", "di hadapan", "dihajar", "suamiku", "memedulikan" (dari kata dasar "peduli", bukan "perduli" (tanpa huruf 'r'), dan "ke dalam".

    Perhatikan pula penggunaan tanda baca yang baik dan benar. Dalam cerpen ini masih ditemukan kesalahan, misal kalimat yang seharusnya tunggal, malah "diakhiri" dengan tanda koma, bukan titik. Sementara, kalimat tanya tidak diakhiri dengan tanda tanya.

    Untuk kata panggilan dalam cerpen ini, di antaranya "ibu", "pak", dan "tuan", seharusnya diawali dengan huruf kapital menjadi: "Ibu" (atau "Bu"), "Pak", dan "Tuan". Sebab, peran kedua kata panggilan tersebut adalah subyek. Beda dengan peran kata panggilan sebagai obyek, yang bisa diawali dengan huruf kecil. Contoh: "Aku pergi ke rumah ibuku" (dalam contoh ini peran "ibu" adalah sosok yang dimiliki oleh "aku"/obyek). Penulisan judul juga hendaknya tidak memakai huruf kapital semuanya.

    Pesan dari Tim FAM, penulis hendaknya ke depan lebih "berani" mengembangkan ide sampai tuntas, atau setidaknya sampai ada solusi yang mengandung pesan, sekecil apa pun pesan itu. Sebab, sebuah tulisan dikatakan berhasil apabila ia bisa menyampaikan suatu pesan, entah bagaimanapun bentuk pesan itu atau bagaimanapun caranya menyampaikan (langsung atau tidak langsung). Jangan lupa, pelajari penggunaan tanda baca dan EYD dalam KBBI. Imbangi aktivitas menulis dengan membaca buku-buku berkualitas. Tetap berkarya dan jangan berhenti menulis.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]

    TUHAN, TOLONGLAH DAKU
    Oleh: Semprianus Mantolas (ID FAM2695M)

    Duka dan tangis telah berlalu, kini hanyalah keheningan yang menyeliputi sebuah rumah sederhana dipinggir kota. Tidak terasa sudah dua bulan si wanita tua itu hidup sendiri bersama keempat anaknya tanpa bantuan dari seorang suami. Setiap malam dari dalam rumah itu selalu terdengar suara tangis yang merintih “Tuhan, mengapa Engkau mengambil suami-ku, apa yang akan daku lakukan terhadap keempat anak yang masih kecil ini”.

    Fajar mulai menyingsing namun si wanita tua belum juga keluar dari kamarnya. Dia terus termenung sambil memandang foto suaminya yang telah basah akibat air matanya. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Dalam keheningan itu, tiba-tiba dia disadarkan oleh suara anaknya.

    “ibu.. ibu,, tolong aku ibu”. Tanpa mengusap air matanya dia pun berlari keluar dan didapatinya si bungsu sedang di hajar oleh anaknya yang ketiga.

    “Edi apa yang kamu lakukan terhadap adikmu”, tanya wanita tua.

    “Dia memakan makanan sa..”. 

    “saya lapar ibu” sahut si bungsu  memotong perkataan edi

    “dari malam saya belum makan” .

    Mendengar perkataan si bungsu, wanita tua itu maju beberapa langkah mendekati kedua anaknya dan merangkul mereka sambil berkata, “anakku makanan dan minuman dapat di cari, tapi persaudaraan yang sejati sulit untuk didapati”.  Namun sebelum menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu yang keras, sehingga membuat pelukan mereka semakin erat.

    “Sshhtt,, jangan takut, ada ibu di sini. Kata wanita tua menenenangkan kedua anaknya.

    Dengan penuh keberanian si wanita tua melepaskan pelukan mereka dan melangkah mendekati pintu yang tengah berbunyi.

    “selamat pagi tuan” sapa wanita tua dengan lembut.

    “alahh bu, jangan pura-pura baik!! Mana uang sewanya” kata seorang pria yang berbadan besar

    “maaf pak, saya belum memiliki uang untuk membayarnya, beri saya waktu beberapa hari lagi” balas wanita tua dengan setengah nada.

    “apa..? bu, sudah 3 bulan ibu menunda-nunda pembayaran dan hari ini ibu harus membayarnya” sambung pria berbadan besar itu.

    “pak tolong pak, beri saya waktu!! Saya berjanji besok pasti akan saya lunasi” kata wanita tua dengan kepala tertunduk sambil berlutut dihadapan pria itu. Tanpa berbicara pria itu membalikan badannya dengan kasar lalu pergi.

    “ibu.. ibu, teriak kedua anaknya sambil berlari keluar mendekati ibunya.

    “Bu, apa yang terjadi mengapa orang itu kasar terhadap ibu” tanya edi.

    Degan tersenyum si wanita tua pun menjawab “tidak apa-apa, dia adalah teman Ibu”. “bu, mengapa bibir ibu berdarah“. Si wanita tua itu mengangkat bajunya dan membersihkan darahnya.

    “apakah ini perbuatan orang itu?” lanjut bungsu

    “bukan ini salah ibu, ibu yang kurang hati-hati sehingga lututnya mengenai wajah ibu”

    Belum selesai menjelaskan terlihat dua orang dari kejauhan sedang berlari mendekati mereka.

    “bu.. ibu.. ibu kenapa, apa yang terjadi” tanya kedua orang itu secara bersama-sama.

    “masih pagi kok kalian sudah pulang” tanya si wanita tua tanpa memperdulikan pertanyaan mereka.

    Raut wajah kedua orang itu tiba-tiba berubah pucat. “loh, ada apa kok diam. Jujur saja ke ibu, ibu tidak akan marah” kata wanita tua dengan wajah yang terlihat bingung.

    Dengan penuh keragu-raguan akhirnya mereka memberanikan diri untuk berbicara yang sebenarnya kepadanya.

    “kami di usir dari sekolah bu” kata anak yang pertama

    “kata guru kami tidak boleh masuk sekolah sebelum membayar SPP” sambung anak yang kedua.

    Mendengar pertanyaan dari kedua anaknya si wanita tua tiba-tiba saja terdiam dan merenung.

    Masalah selalu saja menghampiri kehidupannya, bagaikan bara dalam belukar. Kepada siapa lagi  dia akan mengadu semuanya ini.

    Akhirnya dengan hati yang gundah, si wanita tua itu berdiri, lalu masuk kedalam sebuah ruangan meninggalkan anak-anaknya di luar dan  berjalan beberapa langkah mendekati tempat tidur kemudian berlutut seraya mengucapkan,,,,

    “Tuhan, Engkaulah pengganti suamiku, bantulah daku”

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Tuhan, Tolong Aku!" Karya Semprianus Mantolas (FAMili Kediri) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top