Skip to main content

Satu Huruf di Mesin Tik

Judul: Satu Huruf di Mesin Tik
Penulis: Refdinal Castera
Kategori: Novel
Terbit: Januari 2015
Tebal: 323 hlm ; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-7956-97-1
Harga: Rp52.000,- (Harga belum termasuk Ongkir)

Agus terharu menerima banyak koran dari temannya  sesama penjual koran di terminal, waktu ia akan pulang kampung karena gagal kuliah. Lalu menghonor di beberapa SD di kota Padang, disangka baik untuk merangkai harapan. Tetapi, nyatanya membawa luka yang mendalam. Keikhlasan mengabdi sebagai guru honor dan salah paham, membuat nasibnya hampir berakhir di ujung golok orangtua siswa. Atas izin Allah, ada orang yang menolong dan ia selamat.

Agus pindah sekolah untuk mengajar tapi namanya sebagai predikat guru honor, tak kunjung berubah. Kerja dan tanggung jawabnya sama banyak dengan guru PNS, tapi beda dalam penerimaan hak setiap bulan. Rasa bosan yang panjang, mulai menggerogoti kesehariannya sebagai guru honorer.

Ternyata gemar membaca, suka menulis sejak kecil dapat mengusir rasa jenuh Agus. Isi buku diarinya ia tuliskan ke bentuk puisi, artikel, cerpen dan pengalaman yang berbekas. Dengan modal mesin tik manual tua pinjaman tetangga, mulailah Agus menulis. Ia mengirim tulisan ke koran lokal dan ibu kota. Sekitar 6 bulan menunggu, tulisan itu akhirnya  bisa dimuat dan terus dimuat. Sehingga mesin tik tua semula pinjaman itu, bisa dibeli dengan honor tulisan.

Agus mulai belajar organisasi, bertemu pencipta lagu terkenal, belajar silat tradisional, dan karate. Tetapi namanya predikat guru honor, tak pernah berubah. Sehingga kota Jakarta yang penuh impian, juga diarunginya. Ia pernah jadi kondektur mikrolet, bekerja di biro iklan dan menulis di bumi ibu kota. Tapi semuanya tak membawa sukses, karena setiap impian belum tentu bisa menjadi kenyataan. “Ini Jakarta, Bung!” begitu orang menyebutnya. Lalu nomor tes keluarlah yang akhirnya menolong. Tes apa itu?

Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…