• Info Terkini

    Friday, December 12, 2014

    Tragedi Cinta Magdalena dan Stevan

    Singgalang, Minggu 14 Desember 2014
    Oleh Aliya Nurlela
    Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    Novel “Magdalena” pertamakali ditulis oleh Alphonse Karr seorang penulis berkebangsaan Prancis dengan judul “Sous Les Tilleus”. Novel ini kemudian disadur oleh Mustafa Luthfi El Manfaluthfi, seorang sastrawan mesir yang tidak bisa berbahasa Prancis, dengan judul Arab yang dikenal “Al-Majdulin.” Novel ini pun menjadi terkenal hingga dikenal di banyak negara termasuk Indonesia.

    Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya HAMKA disebut-sebut hasil plagiat dari novel ini, hingga muncul polemik pada saat itu, sekitar tahun 1960-an. Sempat terjadi perang terbuka di medan politik sastra. Polemik pun tak kunjung usai, antara pembentang fakta dengan pembela karya HAMKA, saling mengemukakan pendapatnya. Tuduhan itu pun disebut-sebut ada kaitannya dengan kondisi politik pada masa itu, di mana keberadaan HAMKA yang seorang sastrawan sekaligus ulama muslim menjadi ancaman bagi kelompok berhaluan komunis. Namun dalam tulisan ini saya tidak hendak membahas polemik tersebut, termasuk membandingkan kedua karya yang dianggap sama. Biarlah sejarah saja yang mencatatnya.

    Sebagai pembaca dan penikmat novel, saya terkesan membaca novel “Magdalena” yang dari awal hingga akhir cerita dibangun dengan bahasa tutur yang indah. Kisah ini bermula dari seorang pemuda bernama Stevan yang hidup miskin dan terlunta-lunta. Muller ayah dari Magdalena memberikan tumpangan tempat tinggal di lantai atas rumahnya. Stevan jatuh cinta pada Magdalena, anak Muller. Ternyata Magdalena pun demikian, sangat mencintai Stevan. Keduanya saling menganggumi, saling berkirim surat dan bunga Biola menjadi penanda cinta mereka.

    Muller pikirannya mulai dijalari persoalan harta, anggapannya  tak ada yang bisa membahagiakan hidup putrinya kecuali harta. Muller pun rela mengusir Stevan dari rumahnya. Stevan  sakit hati dan kecewa dengan pengusiran itu, dia mengumpat Muller di belakang. Stevan berpamitan pada Magdalena melalui suratnya dan berjanji akan kembali setelah ia memiliki kecukupan materi. Magdalena pun melepas kepergian lelaki yang sangat dicintainya itu dengan perasaan terluka, serta berjanji akan tetap memegang teguh cintanya pada Stevan.

    Dalam perjalanannya, Stevan belum juga menemui kecukupan materi. Dia justru diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri. Dia bisa memiliki kekayaan keluarganya jika mau dijodohkan dengan gadis pilihan mereka, tapi Stevan menolak dan memilih pergi ke luar dari rumah, menghadapi pahit-getirnya kehidupan tanpa uang sepeser pun. Dalam kondisi berat itu, Stevan tetap tidak mau menjatuhkan harga dirinya dengan cara mengemis atau minta bantuan orang-orang yang dikenalnya. Berkat pertemuan kembali dengan guru musiknya, Stevan mulai menekuni musik. Sedikit demi sedikit Stevan bisa menopang kebutuhannya sendiri.

    Takdir membawa Stevan menjadi orang kaya secara tiba-tiba berkat limpahan harta dari keluarganya yang meninggal. Pertamakali yang ia wujudkan dari harta itu adalah membangun impian yang pernah dijanjikan pada kekasihnya, Magdalena. Sebuah rumah indah dengan kamar biru di lantai dua yang dikhususkan untuk kekasihnya. Stevan siap menikahi kekasihnya dan hidup bahagia di tempat itu. Namun, penderitaan Stevan belum berakhir di sini. Ternyata Magdalena tak cukup kuat memegang janjinya, ia memilih menikah dengan Edward yang bergelimang harta dan suka berpoya-poya. Stevan menyaksikan pernikahan sepasang insan itu dengan penuh luka, hingga membuatnya tak sadarkan diri, termasuk menguping kebahagian pasangan itu di malam pertamanya. Stevan benar-benar terluka, terpuruk dan hampir gila.

    Pernikahan Edward dan Magdalena tak berlangsung lama. Cinta Edward hanyalah semu belaka. Cinta karena terpikat kecantikan Magdalena, bukan cinta tulus seperti yang dimiliki Stevan. Edward pun bangkrut akibat bermain judi. Dalam kondisi seperti itu, Stevanlah yang menolong pasangan tersebut memberi tumpangan tempat tinggal. Edward meninggal dalam kondisi Magdalena hamil tua. Magdalena yang merasa bersalah dan malu pada Stevan, berharap Stevan mau memaafkannya dan menerima cintanya kembali. Sebenarnya, Stevan pun masih mencintai Magdalena, namun sakit hati yang ia rasakan berbuah dendam. Stevan menyia-nyiakan Magdalena, hingga wanita itu frustasi dan bunuh diri dengan cara menerjunkan diri ke sungai. Stevan sangat menyesal, berusaha menolong kekasihnya, tapi sudah terlambat. Jasad Magdalena telah menjadi mayat. Kamar biru yang dulu diimpikan menjadi kamar pengantin dirinya bersama Magdalena, menjadi pusara sementara sebelum jasad wanita itu dikuburkan.

    Hidup Stevan berada di bawah bayang-bayang kesedihan atas cinta yang hilang. Dia melampiaskannya dengan menekuni musik hingga terkenal di jalur itu. Setiap karya yang dibuatnya, selalu digemari, tapi Stevan sendiri merasakan kesepian, kehampaan dan jauh dari kebahagiaan. Menyusul Magdalena adalah hal yang diharapkannya. Hingga akhirnya Stevan menghembuskan napas terakhir usai membawakan lagu di hadapan para penggemarnya. Jasad Stevan dikubur di samping pusara kekasihnya, Magdalena.

    Kisah cinta tragis dalam novel ini berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju, menceritakan secara runtut perjalanan seorang Stevan hingga akhir hidupnya. Latar tempat dan budaya di Eropa, karena tergambar jelas dari kebiasaan pesta dansa yang biasa dilakukan masyarakat Eropa.

    Saya terkesan dengan gaya bahasa yang digunakan penulis. Banyak sekali filosofi dan kalimat-kalimat bijak dalam setiap bagian ceritanya. Majas pun bertabur di mana-mana, bahkan terkesan bagai kumpulan syair yang dipadu-padankan menjadi cerita. Enak dibaca dan bahasanya melenakan. Namun dalam beberapa bagian kita akan dikagetkan dengan adegan para tokoh yang dianggap berlebihan. Seperti pada saat Stevan tak kuasa menanggung beban sakit hatinya--ketika mengintip-dengar malam pertama Edwar dan Magdalena--Stevan depresi berat hingga mencakar-cakar tubuhnya sampai berdarah. Begitu pun saat Stevan kehilangan Magdalena. Ia berulangkali membongkar kuburan kekasihnya, tak peduli wanita yang dicintainya itu sudah tak bernyawa.

    Sayang sekali, Magdalena harus mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri, demikian pula Stevan harus berulangkali membongkar kuburan kekasihnya, seolah-olah karakter kedua tokoh ini adalah sepasang insan yang mengabaikan sisi keimanan. 

    Hal lain yang menarik dari novel ini adalah bahasa surat yang digunakan dalam banyak bagian. Ada surat Stevan kepada Magdalena, surat Magdalena kepada Stevan, surat Magdalena pada Susane, surat Susane pada Magdalena,  yang terjadi berulang-ulang dalam banyak bagian cerita. Bahasa surat selalu memberi daya tarik  lain, penuh kesantunan dan rentetan kalimat yang tertata dengan baik. Karya fenomenal ini sayang sekali untuk dilewatkan. Membacanya membuat kita bertambah wawasan, kosakata, inspirasi dan memperkaya imajinasi. (*)

    Sumber: Harian Singgalang, edisi Minggu, 14 Desember 2014


    Lihat koleksi buku-buku terbitan FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tragedi Cinta Magdalena dan Stevan Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top