• Info Terkini

    Wednesday, December 17, 2014

    Ulasan Cerpen "Asap Sederhana" Karya Rahmi Intan (FAMili Pasaman)

    Jarang sekali kita jumpai di dunia nyata, bahwa ada seorang murid SMP seperti Zidan, yang begitu memerhatikan kebersihan lingkungan dan kesehatan. Cerpen ini cocok dibaca adik-adik kita agar mereka belajar bahwa menjaga kebersihan dan kesehatan itu penting. Dari awal hingga akhir, cerpen ini sudah memberi pesan positif pada pembaca.

    Ada beberapa koreksi mengenai EYD. Kata-kata berikut: "diufuk", "dibangku", dan "dihari", seharusnya ditulis: "di ufuk", "di bangku", dan "di hari", sebab ketiga jenis kata tersebut merupakan kata keterangan tempat, sehingga "di-" berfungsi sebagai kata depan yang ditulis terpisah.

    Kemudian "hembusan", "tau", "kan", "nasehat", "orang tua", dan "memperhatikan", yang benar ditulis: "embusan", "tahu", "'kan" (dengan tanda apostrof ( ' ) di depan, sebab "kan" yang berasal dari kata dasar "akan" tidak bisa berdiri sendiri), "nasihat", "orangtua" (gabung), dan "memerhatikan".

    Untuk penulisan kata panggilan sebagai subyek (dalam cerpen ini tokoh "Bapak" dan "Ibu") mestinya diawali dengan huruf besar, kecuali kata panggilan yang berfungsi sebagai obyek. Perbedaan subyek dan obyek untuk kata panggilan dapat kita ambil dari contoh dua kalimat dari Tim FAM berikut ini:

    "Aku pergi ke rumah bapak tersebut." Artinya tokoh "aku" mengatakan kepada lawan bicaranya, bahwa dia akan pergi ke rumah seorang bapak. Pemilik rumah tentunya tidak terlibat dalam pembicaraan. Maka, dalam kalimat tersebut, "bapak" berfungsi sebagai obyek.

    "Aku bertemu Ayah di pasar." Artinya sudah jelas, yakni "aku" bertemu ayahnya sendiri, yang tidak lain adalah orang kedua yang diajaknya bicara. Maka, "Ayah" dalam hal ini berlaku sebagai "subyek".

    Perhatikan pula penggunaan tanda baca. Pada beberapa bagian masih ditemukan kesalahan penggunaan tanda titik maupun koma. Diharapkan kepada penulis agar ke depan mengoreksi kembali tulisannya sebelum dipublikasikan. Lakukan editing pertama untuk tulisan Anda. Dan jangan lupa pula, imbangi aktivitas menulis dengan membaca. Gali ide yang lebih luas dan terus terbarkan pesan positif lewat tulisan

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Cerpen Penulis Tanpa Diedit]

    “ASAP  SEDERHANA”

    Karya: Rahmi Intan (IDFAM2255M)

    Pagi yang cerah diiringi dengan terbit sang fajar diufuk timur menambah suasana hangat dengan segelas kopi panas yang diseduh oleh Zidan.

    Pagi ini, Zidan terlihat lebih santai dari hari sebelum-sebelumnya karena pada hari ini, Zidan libur sekolah. Dia duduk dibangku SMPN, meskipun masih usia minim tapi semangat peduli terhadap kesehatan dan alam sangatlah tinggi.

    Di tengah nikmatnya hembusan udara pagi yang dihirup Zidan, ibunya menghampiri dan mengejutkannya.

    “Sedang apa kamu, Nak?” tanya ibunya.

    “Tidak, Bu. Zidan sedang duduk-duduk saja sambil menghirup udara pagi yang segar ini.”

    “Ohh, begitu!” ucap ibunya sambil duduk di kursi di teras depan rumah, dan berbincang-bincang dengan Zidan.

    “Bu! Bapak kemana? Kenapa tidak ikut bersama kita duduk di sini?” tanya Zidan penasaran sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

    “Bapakmu sedang ada di dalam kamar, Nak. Sebentar lagi pasti dia datang ke sini,” jawab ibunya.

    “Iya, Bu! Zidan kira, Bapak belum bangun.”

    “Tidak mungkin, Nak! Kamu tau sendiri, bapakmu itu, kan, paling tidak suka melihat orang yang bangun telat.”

    “Benar juga, ya, Bu! Zidan lupa!”

    “Itu bapakmu, baru kita bicarakan, dia langsung datang. Panjang umur bapakmu, Nak!” ucap ibunya sambil menunjuk bapaknya yang berjalan menuju ke arah mereka.

    Benar saja kata ibunya. Tiba-tiba bapaknya Zidan datang ke arah mereka berdua, dan langsung duduk di kursi.

    “Bapak! Kenapa lambat sekali datang ke sini? Padahal, Zidan dan ibu bercerita panjang lebar tadi,” kata Zidan menyapa bapaknya, dan menyalami tangannya.

    “Tadi bapak ada urusan di dalam kamar. Masih ada pekerjaan yang harus bapak selesaikan, makanya bapak terlambat datang ke sini,” jawab bapaknya.

    “Iya, Pak! Bapak memang hebat! Bapak adalah seorang bapak yang bertanggung jawab kepada pekerjaan,” ucap Zidan memuji.

    “Ahh.. Kamu ada-ada saja, Zidan! Bapak hanya manusia biasa yang diberikan tanggung jawab, dan bapak menjalaninya dengan ikhlas,” kata bapaknya.

    “Zidan ingin seperti bapak, Zidan ingin belajar bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, apalagi masalah kesehatan. Zidan ingin mendonorkan darah Zidan kepada siapa saja yang membutuhkan,” ucap Zidan tersenyum dan semangat.

    “Bisa! Asalkan kamu rajin sekolah, dan selalu peduli terhadap kesehatan. Kamu itu adalah anak yang hebat Zidan,” kata bapaknya memberi nasehat.

    “Iya, Pak! Zidan pasti akan selalu peduli dengan lingkungan dan juga kesehatan.”

    Begitulah kerukunan keluarga Zidan setiap libur, bukan hanya libur saja, tetapi juga dihari lainnya.

    Siang hari itu, selesai belajar, Zidan pamit kepada bapak dan ibunya untuk keluar rumah.

    “Pak! Bu! Zidan ingin keluar rumah, Zidan ingin berkunjung ke tempat Palang Merah Indonesia. Apa bapak dan ibu mengizinkan Zidan keluar?” tanyanya.

    “Boleh, Nak! Hati-hati, ya!”

    “Baik, Bu! Tenang saja! Zidan pergi dulu! Assalamu’alaikum!” ucapnya  sambil menyalami tangan kedua orang tuanya, dan berjalan keluar rumah.

    “Walaikumsalam!”

    Zidan menuju sepeda kesayangannya. Meskipun orang tuanya mempunyai mobil, tetapi Zidan lebih memilih memakai sepeda. Baginya sepeda jauh lebih sehat, tidak menyebabkan polusi udara sama sekali, dan terutama tidak mengganggu kesehatan.

    Zidan mulai mengayuh sepedanya, berlalu dari halaman rumah. Karena tak tau arah tujuan, Zidan memutuskan untuk mengayuh sepeda menuju rumah temannya, Radit. Tiba di depan rumah Radit, Zidan mengetuk pintu rumah.

    “Assalamu’alaikum!”

    “Walaikumsalam!”

    “Hai.. Radit!” sapa Zidan.

    “Hai.. Zidan! Aku pikir tadi siapa yang mengetuk pintu rumahku, ternyata kamu, Dan?” ucap Radit.

    “Iya, Dit! Ini aku.”

    “Oh, iya. Ada apa kamu datang ke rumahku, Dan? Biasanya kamu jarang ke sini,” tanya Radit penasaran.

    “Begini, Dit. Aku mau mengajak kamu ke Palang Merah Indonesia.”

    “Baiklah! Apa kamu tidak masuk dulu ke rumahku?”

    “Tidak usah, lain kali saja. Sekarang kita langsung pergi, Dit,” jawab Zidan.

    “Ohh, begitu! Baiklah! Aku ambil motor dulu, ya?”

    “Tunggu, Radit! Jangan pakai motor!”

    “Kenapa, Dan? Kalau aku pakai motor, bukannya motor bisa membuat kita cepat berkendara?” tanya Radit penasaran.

    “Memang iya, tapi polusi udara di mana-mana. Penyakit juga ada di mana-mana. Bagaimana nanti kalau yang berpenyakit asma. Apa kamu tidak kasihan melihatnya?”

    “Benar juga, ya, Dan!”

    Beberapa menit setelah itu, Radit keluar rumah menemui Zidan dengan membawa sepeda.

    “Sudah siap untuk pergi ke Palang Merah Indonesia?” tanya Zidan.

    “Sudah, Dan!”

    Lalu mereka mengayuh sepeda masing-masing.

    Ketika mereka sedang asyik mengayuh sepeda, tiba-tiba Zidan terhenti, dan menatap ke sebuah tempat.

    “Ada apa Zidan? Kenapa kamu berhenti?” tanya Radit penasaran melihat Zidan.

    “Kamu lihat sebelah sana, Dit! Sampah berserakan di trotoar, belum lagi asap motor dan mobil yang ada di sana. Dari sini saja, kita bisa melihat asap kendaraan di lampu merah tersebut. Apalagi dari dekat, aku tidak bisa membayangkan berapa ribu bakteri yang akan menyerang tubuh kita.”

    “Iya, Dan! Kasihan, ya, alam kita ini sudah dicemari banyak asap kotor. Seharusnya alam kita ini dicemari dengan asap yang sehat, asap yang sederhana supaya tidak ada penyakit asma lagi,” ucap Radit menyambung.

    “Mau bagaimana lagi, Dit. Tapi aku punya ide,” kata Zidan bersemangat.

    “Apa Dan?”

    “Kamu ikut saja denganku.”

    Dengan tergesa-gesa dan semangat yang membara, Zidan menuju lampu merah. Lalu dia memungut sampah-sampah yang berserakan, dan meletakkan ke dalam tempat sampah, juga diikuti oleh Radit.

    Dengan semangat mereka berdualah, jalanan yang tadinya kotor menjadi bersih. Lalu tidak hanya itu saja ide cemerlang Zidan, tapi dia memasang selembar kertas yang isinya, “JAGALAH ALAM INI DENGAN ASAP SEDERHANA! KURANGI KENDARAAN BERMOTOR DAN JAGALAH KESEHATAN!” Zidan memasangnya di dinding-dinding, tembok-tembok, pohon-pohon yang ada di sepanjang jalan sebanyak-banyaknya, dan dibantu oleh Radit. Keringat mereka mengalir, dan sesekali diusap.

    Ketika mereka sedang beristirahat, mereka tak menyadari dari tadi mereka diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan, dan seseorang tersebut menghampiri mereka.

    “Assalamu’alaikum!”

    “Walaikumsalam!” jawab Zidan dan Radit.

    “Kalian tampak kelelahan, Nak!” ujar bapak tersebut.

    “Iya, Pak! Maaf! Bapak ini siapa?” tanya Zidan.

    “Nama Saya Rizal. Saya adalah ketua Palang Merah Indonesia, dari tadi saya memperhatikan gerak-gerik kalian dari kejauhan. Apa yang kalian lakukan sangatlah hebat, moral kalian sangat tinggi terhadap kesehatan,” jawab bapak tersebut.

    “Jadi, bapak memperhatikan kami dari tadi? Terima kasih, Pak! Bukannya kita memang harus peduli terhadap kesehatan? Bukan begitu, Pak?” tanya Zidan dengan bijaknya kepada bapak tersebut.

    “Benar sekali, Nak! Itu adalah kewajiban kita. Apa yang kalian lakukan sekarang ini sudah menjaga kesehatan dan lingkungan. Buktinya kalian menyebarkan kertas yang berisi peringatan, dan kalian memakai sepeda. Sepeda ini sangat sehat untuk tubuh, selain membuat jantung sehat, badan selalu bugar, kalian juga telah mengurangi asap kotor. Kalian adalah anak-anak yang sangat peduli terhadap lingkungan dan kesehatan. Tingkatkan terus moral peduli terhadap lingkungan alam!” ujar bapak tersebut memberikan pengarahan kepada mereka berdua.

    “Iya, Pak! Kami akan menjaga alam ini sebaik mungkin dengan asap sederhana,” jawab Zidan.

    “Bagaimana kalau kalian ikut dengan bapak ke tempat Palang Merah Indonesia? Di sana kalian akan banyak menemukan pelajaran-pelajaran berharga mengenai kesehatan. Apalagi tentang donor darah.”

    “Iya pak. Kami juga berencana ke sana.”

    “Ya sudah. Tunggu apalagi. Ayo, kita pergi!”

    Dengan hati gembira, mereka mengikuti langkah bapak tersebut ke tempat Palang Merah Indonesia. Hari itu menjadi hari paling berharga bagi Zidan dan Radit karena mereka telah menolong alam dan menjaga kesehatan dengan bersepeda. (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Asap Sederhana" Karya Rahmi Intan (FAMili Pasaman) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top