• Info Terkini

    Saturday, December 27, 2014

    Ulasan Cerpen "Gadis di Bawah Hujan" Karya Lydia Nahkluz Petrovaskaya (FAMili Bengkalis, Riau)

    sumber: retakankata.com
    Cerpen ini bercerita tentang Kia yang merenungi kesedihannya bersama hujan. Di bagian awal, kita seolah akan disuguhkan konflik besar antara ia dan ayahnya. Ibu yang sudah meninggal, membuat Kia tidak sepenuhnya bisa menerima rencana pernikahan sang ayah. Ya, ayahnya akan menikah lagi. Kepada Nitalah--satu-satunya sahabat terbaik yang dipunya--Kia hendak mengadukan ini, mencari solusi, mencari ketenangan. Keduanya memang begitu dekat. Apa pun masalah yang ada, Kia percaya Nita bisa menyimpannya.

    Hanya saja, setelah kemunculan Nita, arah cerpen ini tidak sama dengan yang sejak awal pembaca duga atau malah harapkan. Setelah kehadiran Nita, konflik yang sejak awal mengarah pada sang ayah, justru berbalik pada sosok Nita itu sendiri. Kekecewaan pada Ayah, membuat Kia kehilangan semangat. Tapi sebuah surat datang di kala masa-masa sulit itu masih ia hadapi. Surat dari Nita itu berisi kenyataan bahwa penyakit ganas tengah menggerogoti tubuhnya. Tak lama lagi, hidup Nita berakhir. Kesedihan Kia yang belum usai, justru kian bertambah.

    Sebetulnya cerpen ini bagus. Lebih-lebih mengecoh pembaca karena kenyataannya kesakitan akibat pernikahan sang ayah tidak lebih besar ketimbang kesakitan saat tahu kenyataan tentang Nita. Namun saran dari Tim FAM, dalam menulis cerpen, hendaknya kita fokus pada satu tujuan/konflik. Mungkin akan lebih berimbang jika kesedihan awal yang datang hanya soal kematian ibu Kia, misalnya. Maka tanpa "rencana pernikahan sang ayah" pun, sedih itu sudah cukup besar, bukan? Namun kembali ke soal kebebasan seorang penulis. Penulislah yang berhak memutuskan bagaimana cerita yang akan ia tulis.

    Beberapa koreksi ada pada kata-kata berikut: "nafas", "justeru", "tengak", "sedikitpun", "apapun", "mengeret", "mempertahankan", "terpegun", "kemana", "kemaren", "memperbaiki", "di cap", "di ketuk", "di hadapi", "ganggang (pintu)", dan "mahu". Seharusnya kata-kata tersebut ditulis: "napas", "justru", "tegak", "sedikit pun", "apa pun", "menyeret", "memertahankan", "tertegun", "ke mana", "kemarin", "memerbaiki", "dicap", "diketuk", "dihadapi", "gagang pintu", dan "mau".

    Penulisan kata panggilan kepada subyek baiknya diawali huruf besar, seperti penulisan "Ibu" dan "Ayah", kecuali bila kata tersebut berfungsi sebagai obyek (sesuatu yang dimiliki atau sebutan secara umum atas suatu kedudukan).

    Contoh kalimat dengan kata "Ayah" sebagai subyek: "Aku melihat Ayah di rumah mereka." Artinya kalimat itu ditujukan pada Ayah sebagai orang kedua yang terlibat dalam dialog.

    Sedangkan kalimat dengan kata "ayah" sebagai obyek contohnya: "Ada banyak ayah di dunia ini yang menyayangi anaknya." Terlihat jelas, bahwa di contoh kedua ini, "ayah" yang dimaksud adalah keseluruhan ayah, bukan perorangan. Maka, penulisannya boleh diawali dengan huruf kecil saja.

    Saran untuk penulis, teruslah menulis. Asah dan asah pena Anda sampai tulisan yang dihasilkan lebih baik. Imbangi aktivitas menulis dengan membaca.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Naskah Asli Tanpa Diedit Tim FAM Indonesia]

    GADIS DI BAWAH HUJAN
    (Girl under the rain)

    Oleh: Lydia Nahkluz Petrovaskaya (IDFAM1300U)

    Hujan rintik-rintik. Bawa angin pinggir jendela. Ia tegang bagai boneka kayu. Menatap kosong hujan itu. Seperti membayang, ia berangan-angan. Jika suatu hari ia bisa seperti hujan. Turun ke bumi tanpa beban. Tak punya cerita. Meski hidupnya selalu berat. Namun, baginya tak mudah. Karena  masalah tak juga sudah. Hujan sore itu punya makna. Ia sadar itu. Sekarang, ia menyakini  bahwa perjuangan bukanlah    omong kosong. Sebab, alam telah banyak berinya nafas. 

    Di luar  dingin. Tapi, hatinya remuk-redam. Bikin tak betah di rumah. Walau begitu, dari mata beningnya, hujan itu membersit kenangan.  Memori masa kecil  bersama  orangtua dan teman sebaya. Saat cinta tumbuh subur dalam pelukan kasih sayang tanpa pamrih. Kenangan tersebut  buat  ia  nangis. Meneteskan air mata kerinduan. Pada orang yang ia kasihi selama ini, ibu! Semenjak ibu meninggal ia hidup  sendiri.  Segalanya  terasa makin kosong. Rasa itu telah terluka dari waktu ke waktu. 

    Angin menuai kencang. Menumbangkan pohon-pohon di luar rumahnya. Mengiring  hujan masuk rumah.  Ia terkejut.  Hujan melumuri wajahnya. Menyentuh  rambut dan pipi.  Kejadian kecil itu cukup buatnya benci.  Sakit hati dan  amarahnya. Kabar yang ia terima perihal pernikahan ayahnya bikin jiwanya berontak. Ia tak mampu menerima kabar ini. Kasih-sayangnya jadi terpecah-pecah. Pupus seluruh kenangan indah. Kabar ini telah melanggar sebuah perjanjian. Janji suci sehidup-semati. Ibu dan Ayahnya. Tapi, sayang! semua kebimbangan ini tak mampu ia usir. Membatalkan niat ayah justeru melahirkan masalah baru. Ia takut di cap anak durhaka. Walau, ia bukan satu-satunya anak ayah. Akhirnya, ia bingung. 

    Kia tak mau berlama-lama memikirkan hal ini. Semakin lama ia berpikir, semakin pikirannya pusing. Ia ingin membuang sementara perihal kabar tersebut. Bersama hujan, ia ingin berbagi. Dan alam dianggap teman sejati.

    Wajahnya tengak dengan langit. Melihat titik hujan menimpa atap rumah. Suara bulir hujan menimbulkan irama. Mendamaikan gelisah dan resah. Ada kesan bahagia yang dapat ia tangkap dari suara itu. Dalam hati ia berdoa, moga masalahnya cepat selesai.    

    Hujan jadi pikirannya tenang. Sedikit mendinginkan suasana. Namun, tiba-tiba  badanya kaku. Kaki dan tangannya jadi batu. Ia tak mampu bergerak sedikitpun. Melangkah saja seperti mengeret beban berat. Ia mencoba untuk mempertahankan tegak tubuhnya. Agar tak limbung. Mencari tempat bersandar. Dekat dinding samping jendela. Pelan namun pasti, ia melangkah dan meraih sesuatu. Mendekati sebuah meja. Mengambil sesuatu di sana. Ia harus meraih barang itu. Untuk mengalihkan perhatian pada situasi yang ia alami. Kia ingin menghubungi seseorang di luar sana. Teman yang selama ini sering mendengar keluhannya. Dengan tersiksa, ia berhasil  meraih  telepon.  Dan mencoba menghubungi temannya tersebut. 

    “Hello.......! katanya lembut. Nit, bisa nggak kamu datang ke rumahku. Aku ingin minta tolong!” serunya tegas.

    Ia menanti jawaban. Agak lama. Telepon itu panas di tangannya. Mungkin karena hujan maka signal penerima jadi tak bagus. Ia mengerti keadaan ini. Dan berusaha bersabar menunggu jawaban dari seberang. Di tempat lain, Nita terburu-buru masuk rumah. Ditujunya suara telepon yang berdering sejak tadi. Atas meja kamar depan. 

    “Maaf....! aku baru sampai rumah Kia. Kebetulan di kampus ada kegiatan. Kamu mau apa nelepon aku? Kok tumben nelepon!” seru Nita.

    “Nggak penting amat kok! Cuma aku pingin kamu datang ke rumah. Bukan sekarang. Maklum sekarang hujan di sini. Kamu bisa datang setelah hujan reda atau besok hari.”

    “Oh! Bisa. Nanti aku kasitahu kedatanganku. Makasih!” seru Kia memotong.

    Nita adalah teman karib semenjak SMA. Baginya, Nitalah teman satu-satunya yang mengerti keadaan dirinya. Semua yang ia alami dan rasakan selalu ia curahkan pada temannya itu. Meski sebuah rahasia. Tak ada yang mengantikan posisi Nita di dalam hidupnya sekarang. Nita begitu berarti baginya. Nitalah yang memberi semangat hidup baru buat Kia, setelah ia mengalami depresi saat ibunya meninggal. Tanpa dukungan Nita, Kia yakin ia entah jadi apa sekarang.

    Hujan mulai sedikit reda. Angin pun tak banyak tersisa. Kia masih terpaku di depan meja telepon. Terpegun melihat keadaan luar. Sungguh! Hujan begitu lebat sehingga ia tak sadar kalau sebagian permukaan tanah tenggelam oleh air. Hanya pepohonan tinggi yang masih bisa berdiri. Selebihnya tumbang. Ia berusaha  bangkit.  Bergerak menuju depan pintu. Berdiri tegak. Agak angkuh. Ia Ingin melihat langsung situasi di luar rumah.

    Seminggu sudah Kia tak kemana-mana. Hujan kemaren telah menghancurkan   permukaan tanah. Banyak kerusakkan yang terjadi. Baik di depan rumah maupun di jalan. Ia harus memperbaikki dan mengemas rumahnya kembali. Untung hujan tak bawa banjir besar. Kalau tidak kebimbangannya mungkin saja belum berakhir sampai kini. Kabar tentang ini tak lupa ia sampaikan pada Nita. Nita jadi penasaran untuk melihat apa yang telah ia alami. Sambil menunggu temannya itu, Kia duduk di beranda. Menikmati pagi yang bening.     

    Pintu di ketuk tiga kali. Pelan. Kia yang sejak tadi duduk langsung menuju ke sana. Seperti tak sempat ia meraih ganggang pintu. Dengan sigap ia berdiri. Menyambut tamu terbaiknya. Namun, orang yang ditunggu-tunggu selama ini ternyata tak ada depan mata. Ia kecewa. Tertunduk lesu. Di depan tamu itu, Kia terdiam dan tak peduli. Saat orang itu mengeluarkan sepucuk surat, baru ia sadar bahwa tamunya itu sudah begitu lama mematung. Ia kemudian mengucapkan sepatah kata padanya. Samnil ucap maaf. 

    “Surat dari siapa Bung! Kamu baca sendiri. Saya tak bisa mengatakannya. Karena sudah janji sama yang buat surat. Kewajibanku hanya menyampaikan suraat ini.”

    “Oh,ya! Terima kasih. Nggak apa-apa. Nanti juga saya akan tahu siapa pengirimnya. Sama-sama,” katanya pembawa surat.

    Orang itu lalu menghilang. Tak ada kesan bahwa ia sahabat Nita. Karena selama ini tak pernah sedikitpun Nita memberitahu perihal laki-laki dalam hidupnya. Kia tak mau peduli tentang ini. Fokusnya sekarang hanya pada surat yang ada di tangan. Dibukanya sampul surat itu. Tanpa memandang alamat pengirim, ia langsung menuju isi surat.  Membacanya dengan seksama.

    Kia..........temanku!

    Ini mungkin surat terakhir dan terbaik untukmu. Apa yang kutulis di dalamnya semua memang demi kamu dan persahabatan ini. Meski aku tahu sekarang kamu kecewa. Kecewa, karena aku tak bisa menempati janji padamu.

    Kia, sebenarnya aku tak mau kamu terus terluka.  Karena aku tahu kau sudah banyak mengalami dilema. Makanya aku tak mau membuka rahasia diriku padamu. Apa yang aku alami, biarlah aku sendiri yang merasakannya. Aku nggak mau masalahku bikin kamu banyak mikir. Aku yakin pada suatu saat kau juga akan tahu apa yang terjadi padaku.

    Kia tercenung. Ada cahaya redup di matanya. Perasaan jadi tak enak. Ia jadi menyangka yang tidak-tidak. Kini, ia kembali membaca surat itu.

    Kia, maafkan aku! Aku terpaksa berbohong padamu kemaren. Ketika kamu meneleponku. Sebenarnya aku tak punya kegiatan apapun waktu itu Aku memang baru saja pulang, tapi bukan dari kampus, melainkan check up ke dokter spesialis penyakit dalam. Memeriksa kembali kesehatanku. Karena aku telah mengalami hal ini jauh sebelum aku mengenalmu. Aku takut kalau kecewamu semakin panjang. Aku tak mau kau jadi tambah drop! Makanya surat ini aku tulis buatmu.

    Kia membisu. Badannya tak mampu bergerak. Kaku. Tanganya gemetar. Wajahnya pucat. Bibirnya berat terbuka. Ia hilang kosenterasi sebentar. Lunglai di atas kursi. Namun, ia masih ingin tahu  masalah yang di hadapi oleh temannya itu.

    Kia, aku mengidap kancer payudara akut. Oleh dokter usia dan batas hidupku tidak lama. Surat ini kubuat menjelang kepergianku selamanya. Semenjak aku mengenal penyakit ini, aku jadi minder...... Kia! Tapi setelah kamu ada, semua pikiran jahatku berubah. Aku banyak belajar darimu. Aku banyak tahu bahwa kita semua mengalami hal yang sama. Meski kadarnya berbeda. Makanya, sisa-sisa hidupku kupertaruhkan untuk membantumu sedapat mungkin. Biar kematianku nanti tak hilang lenyap begitu saja. 

    Kia,maafkan.......aku sekali lagi! Aku tak bisa menutup rahasia ini selamanya darimu. Dan kalau aku bersikeras menutupinya hingga akhir hayatku darimu, rasanya jiwaku tak akan damai. Pertolonganku sia-sia, Kia....! aku tahu kamu menangis sekarang. Meski begitu, tangismu itu bisa membahagiakanku. Sebab, aku sudah membuka seluruh kebohonganku padamu selama ini.

    Oh! ya..... Kia, kamu pantas juga gembira atas apa yang aku alami  karena akhir dari semua ini aku telah mendapatkan teman istimewa. Teman yang mengerti keadaanku, teman yang bisa diajak sharing dalam situasi yang tak enak ini. Sama seperti aku terhadapmu. Dialah orang yang menberi surat ini padamu. Aku juga sengaja tak membuka rahasiaku padanya. Soalnya aku ingin lihat sampai di mana kejujurannya padaku. Lagian perkenalanku dengannya sangat singkat. Tak ada waktu bagiku untuk menceritakan kebahagiaan ini padamu. Kia.... semua ini aku lakukan demi kamu, sahabat setiaku!

    Kia.......

    Mungkin kita berdua adalah ‘the losers-sang pecundang’ di mata orang lain. Tapi! sadarkah kamu Kia, bahwa di mata Allah, kita adalah manusia istimewa. Allah memilih kita untuk menghadapi ini. Biarpun buat kita sakit!  Percayalah Kia! tak ada yang percuma di sisi-Nya. Hanya manusia yang tak pernah bersyukur merasa menyesal terhadap apa yang mereka alami. Atas semua itu, hanya keikhlasanlah yang buatku bertahan. Aku ingin kau juga begitu.

    Pintaku padamu hanya satu, kamu jangan menangisi semua yang aku alami. Aku bahagia kalau kamu tidak menangis. Aku senang kalau kamu ceria. Karena aku tahu kamu sudah banyak menderita. Aku tak mau lagi mendengar cerita pilumu. Yang aku mahu sekarang, kamu bahagia....dan bahagia! Hiduplah dengan kebahagaianmu saat ini. Sebab usia dan masa depanmu masih panjang. Beda dengan aku. Kalau kamu senang, aku di dunia sana juga akan ikut senang. Hanya ini saja pintaku,. Sebelum semuanya hilang dari pangkuanku. 

    Temanmu.....

    Nita Lovina

    Kia tak mampu lagi menahan air mata. Ia benar-benar menangis sedalam-dalamnya. Ini kali kedua ia bisa menangis sehebat ini. Terakhir kali saat kematian ibunya. Harapannya sudah hilang. Pikirannya melayang. Kenangan indah tak mampu bertahan.  Ia hanya bisa menunpahkan kesal, duka lara dalam sepotong  fatihah!

    Mungkin besok ia akan menanti hujan lagi. Bermain bersamanya. Agar jiwanya jadi tenang. Pesan terakhir Nita, ia pegang sebagai payung. Pelindung baginya jika hujan datang tak sempurna. Meski hujan itu nanti belum sepenuhnya mampu menghilangkan resahnya..........

    Bengkalis, 30 Oktober  2014


    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Gadis di Bawah Hujan" Karya Lydia Nahkluz Petrovaskaya (FAMili Bengkalis, Riau) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top