• Info Terkini

    Saturday, December 13, 2014

    Ulasan Cerpen "Jeritan Hati Gadis Berangan" Karya Rahmi Intan (FAMili Pasaman)

    sumber: plus.kapanlagi.com
    Diceritakan, ada seorang gadis yang ingin cerpen karyanya dimuat di sebuah media cetak. Tapi, walau sering mengirim tulisannya, tak pernah ada kabar dimuat. Kehidupannya sebagai mahasiswi terasa sepi, apalagi kondisi keuangan harus membuatnya menahan lapar di kamar kos.

    Suatu waktu, kecelakaan terjadi. Afila, gadis ini, meninggal dalam peristiwa itu. Sang ayah yang mendatangi jenazah anaknya merasa sedih, sampai redaktur sebuah media cetak memberi kabar bahwa cerpen karya anaknya akan dimuat di edisi mendatang. Arwah tokoh utama cerpen ini, Afila, melihat semua kejadian itu. Ia tidak bisa mengubah apa-apa, sebab setiap jiwa yang mati tidak bisa meminta kembali ke dunia.

    Beberapa koreksi EYD ada pada kata-kata berikut ini: "fikiran", "kantong", "nafas", "diponselku", "kuhembuskan", "sekedar", "tau", dan "telpon"--yang seharusnya ditulis: "pikiran", "kantung", "napas", "di ponselku" (terpisah, sebab "di" sebagai kata depan untuk keterangan tempat), "kuembuskan", "sekadar", "tahu", dan "telepon". Terakhir, untuk menyebut kata panggilan sebagai subyek--dalam cerpen ini adalah tokoh Ayah--sebaiknya diawali dengan huruf kapital.

    Saran untuk penulis adalah terus berlatih dan jangan berhenti menulis. Sempatkan menulis paling tidak sehari satu halaman. Dengan giat berlatih, tulisan kita akan terus membaik. Jangan lupa pula imbangi kegiatan menulis dengan membaca buku-buku berkualitas karya para penulis terkenal.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH ASLI TANPA DIEDIT TIM FAM INDONESIA]

    “JERITAN  HATI  GADIS  BERANGAN”
    Karya: Rahmi Intan (IDFAM2255M)

    Sedikit awan mendung yang menggelayuti langit, sawah yang mulai menguning, dan dibarengi dengan indahnya gunung merapi. Sebuah pemandangan yang menakjubkan untuk semua orang yang memandanginya, menyimpan sejuta angan sekaligus harapan di balik pesonanya. Inginkan terbang melewati gunung merapi menggapai langit mendekati matahari, menemukan cahaya terang.

    Mondar mandir ke sana kemari bersiap-siap menuju kampus, itulah yang kulakukan pagi itu di kos. Menjemurkan kain di sebuah untaian tali yang agak sedikit panjang, dan berlari-lari kecil menuju kampus agar tidak terlambat.

    Hari ini adalah hari pertama aku berada di semester 3, tak terasa setahun terasa begitu cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku mendaftarkan diri di kampus ini, sekarang sudah menginjak semester yang mulai agak menegangkan dari sebelumnya.

    Dari kejauhan, aku melihat mereka duduk santai di kursi, di bawah pohon yang sedikit rindang di depan gedung B. Wajah mereka masih sama seperti sebelumnya, tak menaruh perhatian yang berlebihan ketika aku mendekati mereka. Tampak tangan seseorang melambai ke arahku dari sana, berteriak sambil mendekatiku, ternyata Irka, sahabat terbaikku.

    “Apa kabar kamu, Afila?”

    “Baik. Kamu sendiri bagaimana? Sudah lama tidak bertemu,” jawabku semangat.

    “Kamu sekarang kurusan ya, Afila? Kamu sakit?” tanya Irka menebak.

    “Biasa aja kok, Irka. Aku kan, memang sudah kurus dari dulu. Aku tidak sakit, aku baik-baik saja.”

    Ketika Irka ingin menjawab, tiba-tiba segerombolan teman-teman lokalku yang awalnya duduk santai di kursi, di bawah pohon yang rindang, lalu mereka mendekatiku dan Irka.

    “Hari ini dosen tidak masuk, katanya dia sedang sakit.”

    “Kuliah mulai aktif senin depan.”

    Yang lainnya menjawab, “Lebih baik kita pulang, mau ngapain lagi di sini? Toh, tidak urusan lagi kan, di sini?

    “Betul. Mungkin besok dosen yang lain masuk. Ayo.. Kita pulang! Bye-bye!” ucapnya melambaikan tangan ke arahku dan Irka.

    Suara heboh mulai menghilang, lantas mereka telah pergi satu persatu, berlalu di hadapanku dan Irka. Aku hanya mendengarkan saja celotehan, omongan, ataupun humor mereka.

    Tak ada kegiatan yang akan aku kerjakan di kos sepulang dari kampus. Tiba-tiba pikiranku langsung tertuju ke laptop, aku ambil laptop dan duduk di atas kasur. Sebuah angan-angan melayang dipikiranku, angan-angan sedari dulu yang ingin aku capai, tapi belum juga tercapai.

    “Kapan ya, tulisanku bisa dipublikasikan? Apa cerpen yang aku kirim selama ini tidak layak diterbitkan?” ucapku di depan laptop.

    Lama juga aku bermenung dibuatnya. Akhirnya aku tersadar, setiap usaha pasti akan ada hasil terbaiknya, barulah aku berhenti dari lamunanku, dan melanjutkan mengetik naskah cerpen yang tertunda kemarin sambil mendengarkan musik berjam-jam, hingga larut malam.

    Berhari-hari aku duduk di depan laptop menatap layar terang yang membuat mata perih, sesekali kuusap dengan kedua tanganku, tapi belum ada sebuah cahaya terang dan imajinasi yang terlintas difikiranku untuk mengetik naskah cerpen lainnya. Sedikit terlintas, tapi hanya terlintas saja tanpa dibarengi dengan mengetik.

    Semenjak pertama kali kuliah di semester 3 sampai sekarang pun kepalaku terasa sangat sakit sekali. Tak tau kenapa? Entah karena sering kena rinai hujan atau memang fikiranku terlalu berat. Pergi ke kampus pun aku tak semangat seperti dulu.

    Pagi itu, tepat hari ke 4 aku kuliah di semester 3, aku berdiri di depan lemari sembari mengambil dompet. Lantas aku terheran, karena uangku hanya tinggal Rp4.000. Rasanya baru kemarin aku membawa uang dari kampung, baru aku sadari, uang itu hanya cukup untuk biaya angsuran laptop dan biaya angsuran kos perbulan, sisanya untuk kebutuhanku.

    Aku tetap berjalan ke kampus dengan semangat, meskipun uang di kantong tak seberapa. Aku duduk diam terpaku di depan lokal. Suara terdengar dari kejauhan memanggil namaku berulang kali.

    “Afila! Kenapa bengong aja?” tanya Irka menepuk pundakku.

    “Bengong? Aku tidak bengong kok.”

    “Tadi aku lihat kamu sedang bengong? Ada apa? Kalau ada masalah, cerita aja sama aku.”

    “Tidak apa-apa kok, Irka. Aku baik-baik saja,” jawabku tenang.

    “Kalau kamu butuh bantuan, aku akan selalu ada untukmu,” ucap Irka menatapku.

    “Terima kasih, Ka!”

    Rasa iba hati yang aku rasakan, tak aku sampaikan pada Irka. Aku tak mau menyusahkannya, walau sebenarnya aku membutuhkan uang saat ini.

    Siang itu, celotehan dari teman-temanku terdengar kembali seperti hari sebelumnya. Mereka berkumpul di hadapanku dan Irka.

    “Dosennya ada urusan keluarga.”

    “Kita pulang dulu ya, Afila, Irka.”

    Aku dan Irka hanya menjawab dengan senyuman manis, “Iya, hati-hati!”

    Rasa heran dan sedikit kerutan di kening terlihat di wajah kami berdua.

    “Irka! Mereka kok tiba-tiba baik gitu, ya? Biasanya mereka cuek aja.”

    “Tak taulah, La, tidak usah difikirkan. Kita pulang yuk!” ucap Irka menarik tanganku.

    Dengan wajah masih heran, aku pulang ke kos.

    Nafas menjadi tak karuan, mata berkunang-kunang, pandangan ke arah gunung merapi terlihat kabur, kadang jelas, kadang tidak. Tak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini, aku memaksakan diri berdiri untuk masuk ke dalam kos, setelah beberapa menit duduk di teras.

    Beberapa kali aku mencoba untuk membaringakan badan di atas kasur, tapi mata tak mau terlelap. Pikiran masih melayang-layang sama seperti sebelumnya. Kali ini lebih berbeda, karena sambal untuk dimakan tidak ada. Uang di kantong hanya tinggal Rp2.000, setelah tadi pagi belanja 2 buah gorengan di kantin untuk pengganjal perut.

    Mencoba menahan dengan sekuat tenaga. Kuelus perut agar terasa sedikit tenang, tapi semua itu tak mampan. Perutku semakin berbunyi kencang karena lapar, aku terus menahannya.

    “Lapar! Aku tak mau menyusahkan orang lain, biarlah aku menahan rasa lapar ini,” ucapku dalam hati terbaring.

    Lalu aku mengambil ponsel dan menelpon ayah.

    Ponsel ayah terdengar berbunyi, beberapa detik setelah itu, suara ayah terdengar diponselku.

    “Assalamu’alaikum!”

    “Walaikumsalam! Apa kabar yah?”

    “Baik kok, Afila. Kamu sendiri bagaimana?”

    “Baik juga yah. Uang Afila hanya tinggal dua ribu, kapan ayah bisa kirim uang lagi?”

    “Besok ayah kirim ya, Afila? Sekarang uang ayah sedang tidak ada.”

    “Baik yah. “

    “Ya sudah! Kamu belajar yang rajin, Afila. Ayah tutup telponnya.”

    “Iya yah.”

    Kugenggam erat-erat ponsel ke dadaku, ku tarik nafas dalam-dalam, dan kuhembuskan perlahan-lahan keluar.

    Sampai malam kutahan rasa lapar, kubiarkan perut keroncongan. Mau bagaimana lagi, aku tak mau menyusahkan orang yang ada di sekitar. Tiba-tiba timbul inspirasi, kumengetik naskah cerpen tentang yang kualami saat ini, dan akan berencana mengirim ke rubrik. Rasa lapar hilang begitu saja, karena terlalu asyik mengetik naskah cerpen, sampai larut malam baru aku tertidur.

    Pagi itu, aku tahan lapar sampai ayah mengirimkan uang untukku. Meskipun hanya sekedar uang yang dikirim ayah, tapi cukup untuk kebutuhan seminggu ke depan.

    “Terima kasih Ya Rabbi! Atas rezeki yang aku dapatkan saat ini,” ucapku dalam hati, senang.

    Aku makan dengan lahapnya, setelah membeli sambal di warung depan. Rasa syukur itu tak henti-hentinya aku ucapkan.

    Setelah makan, aku mengambil laptop dan duduk di kursi, di teras rumah. Aku manfaatkan jaringan wi-fi yang ada untuk mengirim cerpen ke rubrik. Beberapa naskah cerpen aku kirim, berharap si editor menyukainya. Sudah lebih dari 20 naskah cerpen yang aku kirim ke rubrik, dan juga puluhan naskah lainnya aku ikutsertakan dalam lomba. Memang tak ada kabar dari si editor majalah ataupun koran, tapi aku tetap sabar menantinya.

    Kupandangi gunung Merapi yang menjulang tinggi mendekati langit, kupandangi dalam-dalam. Kutemukan sebuah angan-angan setiap kali memandangi gunung Merapi itu, entah kenapa, gunung itu memberikan kesejukan tersendiri untukku.

    “Aku berharap bisa sepertimu, gunung Merapi. Bisa dilihat semua orang dengan keindahan yang kamu miliki,” kataku menatap gunung Merapi yang tampak mulai mengabur, karena awan mulai menutupi.

    Aku palingkan badan dan menuju kamar kos. Berharap besok, lusa, ataupun nanti, naskah yang susah payah aku ketik, bisa menjadi sebuah karya untuk dinikmati orang banyak, dan bisa menjadi motivasi untuk khalayak ramai.

    Tepat hari sabtu, aku berencana pulang kampung. Pagi itu, aku siapkan semua barang yang akan dibawa pulang. Aku berjalan ke terminal dengan tergesa-gesa, menaiki mobil, dan menuju kampungku.

    “Yah! Hari ini Afila pulang,” kataku kepada ayah menelpon.

    “Iya Afila, nanti kalau sudah sampai, kamu telpon ayah. Ayah sedang bekerja. Hati-hati!”

    “Baik yah.”

    Belum lama di perjalanan, mobil yang aku tumpangi oleng. Braakk! Terdengar mobil memasuki jurang yang cukup lumayan tinggi, ternyata mobil yang aku tumpangi tersangkut di sela-sela pohon.

    Segerombolan orang mulai berdatangan ke tempat kejadian. Salah satu dari mereka menggendongku keluar dari mobil, berkali-kali mereka memeriksa urat nadiku. Tak disangka ternyata aku sudah tak bernyawa lagi, aku sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

    “Innalillahiwainna’ilaihiroji’un!” ucap orang yang berada di tempat kejadian.

    Salah satu dari mereka menelpon ayahku, mereka mengambil ponsel di dalam tasku.

    “Dengan Pak Adri? Apakah Afila anak bapak? Kami mendapat dia tak bernyawa lagi, setelah mobil yang dia tumpangi masuk ke dalam jurang.”

    Braakkk! Ponsel hitam berpadu coklat jatuh ke lantai, dengan langkah seribu, ayahku mengambil motor dan menuju tempat kejadian.

    Lama perjalanan tak membuat ayahku letih berkendara untuk melihat keadaanku yang sebenarnya. Sampai di rumah sakit, ayahku tertunduk diam terpaku dengan mata berkaca-kaca melihat ragaku tak bernyawa lagi.

    “Secepat inikah kamu meninggalkan dunia ini, Nak? Kamu adalah harapan ayah satu-satunya,” kata ayahku menatap jazadku.

    Semua orang di sana berusaha menenangkan ayahku. Teman-temanku menangis tersedu-sedu, tak tau apa yang akan mereka katakan lagi.

    “Aku minta maaf, Afila! Terima kasih, kamu telah menjadi sahabat terbaik dalam hidupku. Aku ikhlas melepaskanmu ke alam sana. Semoga tenang, Sahabatku!” ujar Irka menangis tak tahan.

    “Aku juga minta maaf, Afila! Baru aku sadari kalau kamu berharga,” jawab salah satu temanku.

    Yang lainnya berkata, “Kami menyesal Afila. Selama ini kami tak pernah peduli sama kamu.”

    Proses pemakaman berjalan lancar sore itu, kepergianku dihiasi dengan langit yang cerah dan do’a-do’a yang tulus.     

    Tepat di hari aku meninggalkan dunia, keberuntungan datang beruntun. Tiba-tiba ponselku berbunyi di dalam tas, ayahku mengambil dan mengangkatnya. Tedengar suara dari seorang perempuan.

    “Selamat sore! Dengan saudari Afila Syahira?”

    “Selamat sore juga. Ini orangtuanya, ini siapa?”

    “Kami dari editor majalah Ratu ingin memberitahukan bahwa cerpen saudari Afila Syahira akan dimuat di edisi 44.”

    “Sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa Afila sudah meninggal dunia tadi pagi.”

    “Innalillahiwainna’ilaihiroji’un! Bapak yang sabar, ya. Semoga saudari Afila diterima di sisi-Nya! Kami tetap akan menerbitkan cerpen saudari Afila. Cerpen saudari Afila ini sangat bagus sekali untuk motivasi khalayak ramai, cerpen yang dibuat saudari Afila persis sama dengan kejadian yang dia alami sekarang,” ucap si editor.

    “Iya. Terima kasih! Saya terserah saja.”

    Selang beberapa menit setelah itu, telpon kembali berbunyi. Kata yang dilontarkan seseorang di dalam telpon sama seperti tadi, bahwa cerpenku dimuat di majalah Indah. tidak hanya itu, si editor rubrik lainnya juga melontarkan kata yang sama. Hingga di rekeningku sudah terkumpul uang dengan jumlah yang lumayan banyak.

    Hasil jerih payahku selama ini membuahkan hasil. Aku tak tau kalau hari kamis adalah hari terakhir aku bertemu dengan teman-teman di kampus, aku juga tak tau kalau tadi pagi terakhir kalinya aku mendengar suara ayah, dan aku juga tak tau kalau cerpen yang susah payah aku buat selama ini membuahkan hasil ketika aku sudah tiada.

    Jeritan hatiku yang berangan-angan ingin seperti gunung Merapi, kini sudah tercapai. Aku sudah bisa menjadi penulis, aku sudah bisa mengembangkan ilmu dan berbagi kebaikan kepada orang lain. Meski tak semahir para senior yang hebat di bidang sastra, tapi aku bersyukur sudah bisa berkarya mengikuti jejak langkah para-para kreatif, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi khalayak ramai. (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    Klik suka fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Jeritan Hati Gadis Berangan" Karya Rahmi Intan (FAMili Pasaman) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top