• Info Terkini

    Friday, December 5, 2014

    Ulasan Cerpen "Maafkan Aku Ibu, Aku Berdosa" Karya Siti Zulia (FAMili Gresik)

    zulfickarekal.wordpress.com
    Cerpen ini bercerita tentang Andin, yang terpaksa putus sekolah karena masalah biaya. Sepeninggal Ibu keadaan keluarganya kacau. Saudara-saudaranya saling berebut harta warisan sementara bapaknya sudah tua dan tak berdaya.

    Akhirnya, bermodalkan nekat, Andin merantau ke Surabaya, bermaksud mencari pekerjaan di sana. Ia yakin, meski hanya memiliki ijazah SMP, orang pasti mau mempekerjakannya. Sayangnya, sebulan menumpang di rumah teman, ia tak kunjung mendapat pekerjaan.

    Kabar baik datang setelah seorang bernama Nisa menawarinya pekerjaan bagus di Kalimantan. Andin setuju dan dengan mantap meninggalkan Pulau Jawa demi masa depannya. Namun, malang tak dapat ditolak. Ternyata pekerjaan bagus dengan gaji menggiurkan itu menjerumuskannya dalam dunia prostitusi yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

    Dari segi konten, cerpen ini baik, walau dalam penyajiannya penulis diharapkan bisa lebih giat berlatih. Hanya saja, cerpen ini terlalu panjang. Jumlah halaman cerpen rata-rata 5-6 halaman, tapi pada cerpen ini mencapai 10 halaman. Beberapa koreksi ada pada penerapan EYD, di antaranya: "menasehati", "akrap", "pingin", "silahkan", "ibah", dan "berfikir", yang seharusnya ditulis: "menasihati", "akrab", "ingin", "silakan" (dari kata dasar "sila"), "iba", dan "berpikir".

    Untuk "dibenak", "disekolah", dan beberapa kata sejenis lainnya, yang benar ditulis: "di benak", "di sekolah". Karena merupakan kata keterangan tempat, maka penggunaan "di-" di sini wajib terpisah (berfungsi sebagai kata depan). Beda dengan "di cintai", "di nyatakan", "di kirim", "di rindukan", "di ungkapkan", dan "di lihat", yang mestinya ditulis "dicintai", "dinyatakan", "dikirim", "dirindukan", "diungkapkan", dan "dilihat". Penggunaan "di-" yang tersambung dipakai dalam kata kerja pasif.

    Kemudian kata "di kasih", lebih tepatnya diganti menjadi "diberi", karena "kasih" adalah bentuk kata sifat, bukan kata kerja. "Kesini" yang benar "ke sini" (terpisah), sementara "kesana-kemari" yang betul "ke sana kemari" (tanpa tanda strip penghubung dan perhatikan perbedaan partikel "ke-" pada keduanya).

    Untuk kata-kata gaul atau yang bukan merupakan bahasa Indonesia baku seperti "kalo", "nggak", "gituan", "aja", "gimana", "bodyguard" dan lain sebagainya sebaiknya diketik dengan huruf miring. Perhatikan pula kalimat dialog. Banyak yang kurang tepat, seperti tidak dipakainya huruf kapital di setiap awal kata terdepan, juga beberapa penggunaan tanda baca (tanda koma dan titik) kurang tepat.

    Panggilan untuk "ayah", "kakak", "mbak" atau "ndin" (Andin) sebagai subyek sebaiknya diawali dengan huruf kapital. Justru kata "ayahnya" yang berfungsi sebagai obyek diawali dengan huruf kecil.

    Pesan untuk penulis agar teruslah berlatih. Jangan lupa, penulis yang baik adalah penulis yang bisa menjadi editor pertama bagi tulisannya. Sebelum menulis, edit dan rapikan dulu tulisan Anda. Lakukan berulang-ulang untuk hasil yang maksimal dan memperkecil kesalahan. Bukankah tulisan yang disajikan dengan rapi akan lebih terasa nyaman dibaca? Sayang sekali bila tulisan yang bagus itu ditinggalkan pembaca hanya karena penyajiannya--seperti EYD dan tanda baca--kurang rapi.

    Terus berkarya.
    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    Maafkan Aku Ibu, Aku Berdosa
    Siti Zulia N (IDFAM2035U)
    Kota kecil itu seakan menjadi saksi seorang anak yang ditinggalkan Ibu untuk selamanya. Ia menjerit sekuat tenaga dengan bercucuran air mata melihat Ibu yang dicintainya sudah tidak bernyawa lagi. Kini ia harus tinggal bersama 10 saudara dan seorang ayah yang sudah memasuki lanjut usia.

    “sudah ndin sabar, Ibu sudah dipanggil Allah, kita semua harus ikhlas, pada dasarnya manusia kembali padaNya.” Kata seorang ayah coba menenangkan putri kecilnya. Entah apa yang ada dibenak Andin setelah mendengar kalimat ayah, dia mencoba menahan tangisnya.

    Ayah yang sudah tidak sanggup bekerja ditambah lagi sakit yang terus menggrogoti tubuh, membuat ia terpaksa menitipkan Andin kepada salah satu anak laki-laki yang tinggal di sebuah desa. Memasuki sekolah SMP Andin mulai beradaptasi dengan sekolah barunya, disekolah ia termasuk murid yang pendiam dan jarang mempunyai teman. Sejak Ibu meninggal Andin bukanlah sosok yang periang seperti dulu. Ia sekarang adalah anak pendiam dan kerap melamun atau berdiam diri. Di sekolah baru, Andin sering mendapatkan bullying dari teman satu kelasnya. Dengan alasan tidak suka pada Andin, teman satu kelasnnya tersebut kerap memukuli Andin. Karena termasuk murid baru, Andin tidak mencoba melawan. Pernah suatu ketika Andin melawan, namun teman satu kelas tidak ada yang mau berteman dengannya lagi, mungkin pengaruh dari teman tersebut. Jadi Andin sekarang lebih memilih untuk diam dan membiarkan masalah itu berlarut-larut. Sebenarnya ia mulai jenuh dan ingin melaporkan hal tersebut kepada kakak, namun semua itu percuma karena kakak yang seharusnya melindungi ia, justru di rumah juga kerap marah-marah walau hal sepele. Andin berharap waktu cepat berlalu karena ia berencana untuk kembali melanjutkan sekolah SMK di Kota kelahirannya, kota di mana bayang-bayang wajah Ibu serasa dekat di hati. Keputusan tersebut pun sudah mendapatkan izin dari kakak maupun ayah.

    “Ibu… Andin kangen sama Ibu, sekarang tidak ada lagi yang sayang sama Andin, kenapa Tuhan mengambil kau secepat itu bu?”, gumam Andin dalam hati tak terasa ia pun meneteskan air mata di kamar kecil pojok rumah kakaknya.

    Teringat saat Ibu yang dahulu selalu menasehati agar anaknya menjadi orang yang bermanfaat. Kini nasehat itu masih terngiang-ngiang di benak Andin.

    “bagaimana caranya untuk menjadi orang yang bermanfaat?”, kini ia bertanya pada dirinya sendiri.

    ***

    Sebelum pergi ke sekolah seperti biasa Andin membereskan peralatan sekolah yang sedikit berantakan kerena belajar semalam. Memasuki kelas 3 SMP keadaan tak juga berubah, Kakak yang masih sering marah-marah dan teman sekolahnya yang masih memperlakukan Andin seakan murid baru di sekolah.

    Sosok ibu yang ia rindukan kini lagi-lagi muncul dalam benaknya. Seketika ia menangis tersedu-sedu. Tak terasa isakan tangisnya membasahi seragam sekolah yang sudah rapi melekat di tubuhnya.

    Perasaan rindu itu seolah sudah menjadi sahabat sehari-hari semenjak Ibunya meninggal. Tak jarang juga Andin menyalahkan Tuhan, ia merasa tuhan tidak adil karena sudah mengambil orang yang paling di cintainya dengan begitu cepat.

    Terasa berat Andin melangkahkan kaki ke sekolah, ia merasa sekolah adalah tempat yang tak pernah bersahabat dengannya. Ia harus melewati gang demi gang untuk menuju sekolah. Jenjang pendidikan yang harus ia selesaikan demi pulang kembali ke Kota Ibu tercinta.

    ***

    Pagi itu wajah gembira terlihat dari mereka yang di nyatakan lulus oleh pihak sekolah, tak terkecuali Andin merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika mendapatkan surat yang menyatakan lulus di kirim ke rumahnya kemarin malam. 

    Ini lah saatnya Andin untuk pulang kembali ke kota kecil yang selama ini selalu menari-menari dibenaknya, seakan bertemu dengan sosok Ibu yang di rindukan, Andin merasakan semangat yang luar biasa ketika mengemasi barang-barang yang ada di kamar kecilnya.

    Sesampainya di rumah masa kecilnya, terlihat ayah yang sudah menanti di depan pintu.

    “akhirnya kalian sampai juga?” sapa seorang ayah pada kedua anaknya.

    “iya yah, ini Andin ingin segera kembali kesini sampai tidak ada waktu menunggu untuk perpisahan dengan teman-temannya”. Jawab kakak Andin.

    “Andin kangen sama ayah”. Dengan pelukan Andin mencoba menghangatkan suasana.

    ***

    Seminggu sudah Andin kembali ke Kota kecilnya, namun kehidupan tidak seperti yang di bayangkan. Saudara-saudara Andin kini  saling berebut warisan yang ditinggalkan ibu mereka, walau warisan yang mereka rebutkan tidak seberapa, namun di antara saudara Andin tidak ada yang mau mengalah.

    Andin coba mengutarakan isi hatinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMK yang di inginkannya. Dengan sedikit memohon Andin mengungkapkan keinginannya pada salah satu saudara perempuannya.

    “mbak (panggilan kakak perempuan khas jawa timur), aku ingin sekolah di SMK 14”, kata Andin.

    “Apa? Sekolah itu kan mahal”, sontak kakak perempuan Andin kaget.

    “tapi itu salah satu sekolah terbaik yang bisa mengasah bakatku mbak”.

    “coba kamu pikir lagi ndin, SMK yang lain aja, di SMK 12 kan juga ada jurusan multimedia”. Mencoba merayu adiknya.

    Ia juga harus sadar diri bahwa uang peninggalan Ibu tidak seberapa, apalagi Ayahnya kini tidak sekuat dulu untuk bekerja. Ingin sekali ia mengasah bakat yang sudah ia sadari di sekolah favorit dengan  jurusan multimedia, namun kini ia harus mengubur dalam-dalam impian itu, yang terpenting sekarang ia bisa melanjutkan sekolah di Jurusan Multimedia.

    ***

    Andin merasa senang karena di sekolah dia mempunyai banyak teman. Kini ia bisa belajar dengan tenang tanpa ada gangguan seperti teman SMP dulu. Belum genap satu semester, kini Andin telah di tuduh menghabiskan banyak biaya.

    “wes, kamu itu menghabiskan banyak uang, buat apa sekolah kalo nanti ujung-ujungnya kita semua nggak bisa makan”, ungkap salah satu saudara perempuan Andin.

    “memangnya aku menghabiskan banyak uang mbak?”, Tanya Andin.

    “belum lagi kendaraan pulang pergi sekolah”, melanjutkan tanpa peduli pertanyaan adiknya.

    Seiring berjalannya waktu terlalu banyak keluhan-keluhan yang di ungkapkan saudara Andin sehingga Andin memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Ayah yang selama ini melihat tingkah anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa, karena setiap kali mencoba untuk menasehati, tidak ada yang mendengarkan.

    ***

    Demi menutupi himpitan ekonomi keluarga Andin memutuskan merantau ke Surabaya. Ia pergi tanpa sepengetahuan saudara maupun ayahnya. Andin yakin di kota ini Andin mampu mendapatkan uang banyak, karena yang ia tahu Surabaya merupakan kota Industri, di mana pasti banyak lowongan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang banyak. Kebetulan ia memiliki teman yang sudah lama bekerja di Surabaya. Jadi sesampainya di Surabaya ia langsung menuju alamat kos yang dulu pernah di kasih teman lamanya tersebut.

    “Aulia, ya! Aulia”, begitu gumamnya setelah membaca secarik kertas di tangannya.

    Seakan mengetahui temannya akan datang, Aulia yang biasanya bekerja memilih libur satu hari untuk istirahat.

    ***

    .“memangnya kamu mau bekerja apa ndin?”, Tanya Aulia.

    “apa aja li, yang penting menghasilkan uang”, jawab Andin.

    “ow wala…. Hahahaha. Kamu kira mudah cari kerja di Surabaya?”, celetu Aulia sambil tertawa.

    “kamu kan bisa mengajak aku kerja di tempat kamu kerja”

    “memangnya kamu mau kerja di cafe? Pulang malam terus lho ”.

    “iya nggak apa-apa”, antusias Andin seakan sudah mendapatkan jalan untuk mendapatkan uang.

    “nggak ah, jangan ikut-ikutan kerja gituan, soro (sulit), nggak tega aku sama kamu, mending yang lain aja, untuk sementara kamu tinggal di kosanku aja, sambil cari-cari kerja, ntar aku juga bantu cari kerja yang pantas buat kamu”.

    Andin hanya terdiam mendengar saran temannya tersebut, terbayang dalam benaknya untuk mendapatkan uang yang banyak. Bisa mencukupi kehidupan keluarga dan bisa membeli barang-barang yang ia inginkan. Memang Andin sama sekali tidak memiliki pengalaman bekerja, namun tekatnya sangat kuat untuk membahagiakan orang-orang yang ia sayangi.

    ***

    Seminggu sudah Andin menganggur dan hanya menumpang makan dan tidur di kos Aulia. Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, mata Andin tidak bisa terpejam, pikirannya melayang kesana kemari membayangkan ia menjadi orang kaya dan dapat membeli baju-baju baru, sepatu mahal, HP baru, dan banyak lagi yang ia inginkan. Ia sebenarnya rindu ingin pulang ke rumah tapi apalah daya, ia ingin pulang apabila ia sudah mempunyai banyak uang.

    ***

     “Aulia.. Aulia..”

    “masuk aja”, suruh Aulia.

    “baru bangun tidur kamu?” Tanya Nisa.

    “iya, pegel tau… eh kenalin ini Andin, Ndin ini Nisa”. Aulia memperkenalkan mereka.

    Mereka pun bersalaman dengan menyebut nama masing-masing.

    “eh, kata Aulia kamu cari kerja ya di sini?”, Nisa mencoba mengangkrapkan diri.

    “iya”, jawab Andin.

    “memang kamu pinginnya kerja apa?”

    “apa aja yang penting dapat uang”.

    “kalo kerjanya nggak di Surabaya?”

    “nggak apa-apa nis, memangnya di mana?”, Tanya Andin antusias.

    “iya, tapi di Kalimantan, gajinya lumayan lho, per bulan bisa-bisa dapat 10 juta, kalo kamu mau nggak apa-apa ikut aku aja, aku juga kerja di situ, nggak usa khawatir tempat dan makannya semua di sediakan, kalo kamu mau, besok pagi kita berangkat, gimana?”. Nisa menjelaskan

    “iya aku mau”, sahut Andin semangat.

    “beneran ndin?”, tanya Aulia yang sedikit kaget dengan keputusan Andin yang begitu cepat bersedia ajakan Nisa.

    “iya nggak apa-apa li”, jawab Andin.

    “ya nggak apa-apa kalo itu sudah tekat kamu, pokoknya kamu hati-hati di sana, jaga diri ya?”, pesan Aulia.

    “iya makasih li, makasih juga udah memberi tumpangan selama aku di Surabaya”, jawab Andin.

    ***

    Pukul 09.00 pagi Andin sampai di bandara juanda. Dua jam sudah Andin menunggu untuk pengurusan tiket selesai, akhirnya pukul 11.00 Andin dan Nisa berangkat ke Kalimantan.

    Di dalam pesawat, sejenak terlintas dalam benak Andin pekerjaan apa yang dapat menghasilkan uang 10 juta perbulan sedangkan ia hanya lulusan SMP. Namun, pikiran itu hanya terlintas di benak Andin tanpa bermaksud untuk bertanya lebih lanjut pada Nisa. Saat ini Andin hanya berpikir ingin menghasilkan banyak uang dan membuktikan pada keluarga bahwa ia juga bisa memperoleh uang sendiri tanpa merebutkan warisan dari mendiang Ibu.

    Setelah perjalanan selama dua jam akhirnya Andin dan Nisa sampai di BalikPapan, mereka dijemput oleh seorang laki-laki. Perjalanan pun dilanjutkan dengan menaiki kapal selama setengah hari menuju daerah yang bernama Rambutan.

    Selama perjalanan sempat laki-laki yang menjemput Andin bertanya padanya.

    “kamu udah tau kan kerjanya gimana?”, celetu laki-laki di samping Andin.

    “memang kerjanya gimana mas?”, Tanya Andin.

    “ya itu, warung kopi ”.

    ***

    “akhirnya kita sampai juga”, kata Nisa.

    Sesampainya di Rambutan Andin hanya memandang kesana-kemari berharap lingkungan barunya adalah tempat yang tepat untuk menghasilkan uang. Ia melihat banyaknya warung-warung kopi serta wanita-wanita cantik yang berdandan menor, dalam benak Andin terlintas tempat tersebut mirip dengan tempat portitusi di Surabaya yang sangat terkenal. Namun, bedanya di sini tempatnya pelosok dan banyak truk-truk yang parkir di lahan yang kosong seakan sudah ada yang menyediakan.

    “ayo lewat belakang ketemu sama Mami kita”, ajak Nisa ke sebuah warung kopi.

    Andin pun mengikuti langkah Nisa, ia kini bertemu dengan sosok Mami yang di sebutkan Nisa sebelumnya. Mami dengan begitu akrabnya langsung memeluk Andin seakan teman lama yang di pisahkan oleh waktu. Andin hanya tersenyum melihat tingkah Mami tersebut. Kemudian Mami menyuruh Andin untuk duduk dan minum minuman yang sudah di sediakan Mami, entah siapa nama asli Mami, di sini Nisa memanggilnya Mami jadi Andin juga harus memanggil dengan panggilan yang sama.

    Tiba-tiba masuklah seorang laki-laki yang tidak di kenal.

    “wah, cantik ini cewek, berapa harganya Mi?”, Tanya seorang laki-laki pada Mami sambil menunjuk Andin.

    “kerja apa sih aku ini?”, gumam Andin dalam hati.

    Setelah Mami membisikkan seakan mengisyaratkan cewek yang di tanyakan masih capek maka laki-laki tersebut pun pergi.

    ***

    Pukul 05.00 pagi Andin bangun dari tidurnya, ia mulai membantu masak maupun cuci piring. Pukul 07.00 warung kopi tempat Andin bekerja sudah di buka. Betapa kagetnya Andin warung baru buka, sudah banyak pelanggan yang berdatangan.

    “Silahkan, silahkan mas! Udah buka kok”, terdengar suara Mami dari dalam.

    “Ayo Andin layani mereka ya..”, lanjut Mami dengan ramah.

    Andin pun menuruti apa yang di katakana Mami tanpa banyak bertanya. Seharian ini Andin tidak  melihat Nisa, entah di mana ia. Andin hanya bertanya-tanya dalam hati.

    “Masak kerja seperti ini dapat 10 juta an perbulan? ”, gumamnya dalam hati.

    Andin merasa heran dengan apa yang di lihatnya, waktu masih menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun para pelanggan di sini sudah pada mabuk.

    “Ayo kamu juga ambil satu minuman”, pinta salah seorang laki-laki.

    “Aku nggak minum om”, tolak Andin.

    “Lho ndin, minum aja, nggak apa-apa kok”, tiba-tiba datanglah Mami dari dalam.

    Andin merasa malu pada Mami karena sudah menerima ia kerja di sini, akhirnya ia pun meminum minuman beralkohol yang sangat asing di mulutnya itu.

    ***

    Dengan sedikit kesadaran Andin masih bisa melayani pelanggan dengan baik.

     Salah satu pelanggan bertanya padanya.

    “Eh, kamu berapa?”, tanya seorang pelanggan.

    “Maksudnya?”, tanya Andin.

    “Masak kamu nggak tahu?”.

    Lalu Andin begitu saja meninggalkan pelanggan tersebut, ia pergi ke dalam warung bermaksud menemui Mami bertanya lebih lanjut apa yang di maksud pelanggan yang menawarnya tadi.

    “Mi, sebenarnya aku ini kerja apaan sih? Kok ada laki-laki kayak nawar aku gitu?”, Tanya Andin.

    “Lho.. ya nggak apa-apa, berati itu pelanggan pertama kamu”, jawab Mami dengan sedikit merayu.

    “Maksudnya aku harus nglayani laki-laki itu Mi?”, Tanya Andin.

    “Iya, memangnya kenapa? Kerja kamu di sini ya seperti itu, kamu pikir di sini ngapain? ayo sana samperin laki-laki tadi, bilang semahal-mahalnya karena kamu masih perawan”, suruh Mami sedikit membentak.

    Andin hanya bisa lesu terdiam mendengar langsung perkataan Mami, bahwa pekerjaannya tidak lain hanya Pekerja seks. Ia hanya lemas tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi pada dirinya kini.

    ***

    Putri kecil yang dulu di banggakan Ibunya, kini harus melayani nafsu bejat setiap laki-laki yang menginginkannya, ia hanya bisa menangis menyesali semua perbuatannya. Setiap harinya Andin tidur dengan seorang laki-laki 4 sampai 5 kali setiap hari. Sepeser pun ia tidak memegang uang yang dulu di janjikan Nisa.

    Pernah suatu hari Andin curhat pada Nisa bahwa ia tidak ingin kerja seperti ini. Namun, dengan santai Nisa menjawab.

    “Ala… nanti kamu juga udah terbiasa, dulu aku juga gitu awalnya kaget tapi lama-kelamaan aku menikmatinya juga, kamu nggak usa nangis percuma”. Pinta Nisa yang melihat Andin pada waktu itu menangis tersedu-sedu.

    Keinginan keluar dari jeratan ini serasa percuma karena tempat ini  merupakan tempat yang sangat asing bagi Andin, kalau pun ia ingin keluar dengan alasan belanja atau memenuhi kebutuhannya itu pun sia-sia karena segala kebutuhan yang di inginkan Andin sudah di sediakan oleh Mami. Andin bingung dengan cara apa lagi agar ia bisa keluar dan pulang ke rumah.

    Akhirnya muncul inisiatif di benak Andin yaitu selalu menangis di depan pelanggan, berharap pelanggan tersebut kasihan dan pada akhirnya mau membantu untuk keluar atau minimal pelanggan tidak tega untuk memakainya. Namun, inisiatif itu tidak berguna bagi pelanggan yang memang ingin menidurinya, tak jarang alasan mereka adalah sudah membelinya pada Mami, maka Andin harus melayaninya walau dengan menangis pun tak jadi masalah bagi mereka.

    Setiap kali menangis dan tidak ada yang peduli padanya, tidak membuat Andin patah semangat, ia masih selalu berusaha menangis agar ada orang yang merasa kasihan padanya. Tak jarang juga para pelanggan merasa risih dan mengaduh pada Mami, kalau Andin tidak memuaskan. Mami tidak mau tinggal diam, ia marah-marah pada Andin dengan mengancam tidak akan di pulangkan untuk selamanya.

    Kini Andin hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menjeratnya, rasa malu yang selalu menyelimuti hari-hari. Ia tidak tahu apa lagi yang harus ia jelaskan pada keluarga maupun pada almarhumah Ibu tercinta.

    “Maafkan aku Ibu, aku berdosa”, tangisan Andin pecah dalam kesunyian warung yang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

    ***

    Sebulan sudah Andin bekerja sebagai pekerja seks, tidak seperti yang di bilang Nisa, Andin masih belum bisa membiasakan diri. Ia masih tetap menangis walau beberapa kali dapat marah dari Mami.

    Sepertinya usaha Andin tidak sia-sia, salah seorang yang kerap memakainya merasa ibah melihat wanita yang akan melayaninya selalu menangis.

    “Kamu beneran ingin keluar dari sini?”, Tanya pelanggan yang tidak biasa bertanya seperti itu.

    “Iya om”, jawab Andin sambil menangis.

    “Kamu itu masih muda, kok bisa kerja di tempat ginian? Kamu orang jawa ya? Memang orang jawa itu cantik-cantik”, celetunya menggoda.

    “Ini kamu pegang HP aku, nanti kamu aku hubungi lewat HP itu, jangan bilang Mami kamu. Ok?”.

    Maklum selama ini Andin tidak diperkenankan memegang HP, karena itu sudah peraturan dari Mami. Kalau pun pegang pun paling pinjam dari pelanggan.

    Akhirnya apa yang di janjikan Om tersebut tidaklah omong kosong, Andin bisa keluar dari warung tersebut dengan di jemput polisi. Polisi menggrebek warung tersebut. Namun, seakan Mami sudah mengetahui kedatangan polisi, satu hari sebelum penggrebekan warung sepi. Entah kemana Mami, Nisa dan bodyguardnya, mereka sudah tidak ada di warung.

    Andin pun di pulangkan ke Surabaya yang pada akhirnya nanti di pulangkan ke rumahnya. Andin sangat bersyukur akhirnya usahanya tidak lah sia-sia.

    Perjalanan menuju Surabaya, Andin berfikir bagaimana menjelaskan keadaannya ke keluarga dan bagaimana ia melanjutkan kehidupannya dengan tubuh yang penuh dosa. Ia masih merasa berdosa pada mendiang Ibu, ia tidak bisa menjadi orang yang di inginkan Ibu. Ia harus menanggung malu yang luar biasa, kalau pun ia melanjutkan sekolah, ia malu pada teman-teman. Kini Andin merasa berdosa pada diri sendiri, merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. Kini ia pasrahkan semua, kemana keadaan akan membawanya. (*)

    Lihat koleksi buku-buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Maafkan Aku Ibu, Aku Berdosa" Karya Siti Zulia (FAMili Gresik) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top