• Info Terkini

    Tuesday, December 16, 2014

    Ulasan Cerpen "Rahasia Cinta" Karya Doni Alfajri (FAMili Agam, Sumatera Barat)

    sumber: bloggembel.com
    Inti cerita dari cerpen ini adalah menjaga hati untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Manusia diciptakan tentu dengan cinta. Bayi tumbuh dan berkembang dengan cinta. Cinta tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Allah memberikan cinta-Nya, sehingga kita ada.

    Tersebutlah Indra, pemuda agamis yang mampu menjaga hati dari kesalahan memahami cinta. Remaja pada umumnya menganggap cinta adalah barang halal, maka berpacaran, bahkan berganti-ganti pacar menjadi lumrah. Namun tidak pada Indra. Maka, berkat prinsipnya itulah, ia berhasil meraih kesuksesan, yang nanti membawanya justru pada sesuatu yang sejak awal dijaganya, yakni cinta itu sendiri.

    Pesan yang bagus sampai pada para pembaca. Sayangnya, ada banyak sekali kesalahan penulisan, baik itu dari segi EYD maupun kerapian naskah. Kata-kata berikut ini adalah sebagian yang Tim FAM ambil untuk dikoreki: "siapapun", "di buai", "di karuniakan", "di rasakan", "di tolak", "syaitan", "orang tua", "nikmatNya", dan "hambaNya". Seharusnya kata-kata tersebut ditulis: "siapa pun", "dibuai", "dikaruniakan", "dirasakan", "ditolak", "setan", "orangtua" (gabung), "nikmat-Nya", dan "hikmah-Nya".

    Perhatikan perbedaan antara kata keterangan tempat/waktu dan kata kerja pasif. Keterangan tempat/waktu menunjukkan letak atau keberadaan suatu subyek/obyek di dalam suatu tempat atau masa (contoh: di rumah, di mana, di pagi hari, dsb). Sedangkan kata kerja pasif adalah sebuah pekerjaan yang dikenakan kepada obyek (contoh: dibawa, dipukul, digandeng, dibaca, dsb). Sebetulnya masih banyak kata-kata yang penulisannya keliru, hanya saja, tidak kami cantumkan. Penulis disarankan untuk membaca lebih banyak buku, sebab dengan begitu secara tidak langsung Anda juga memelajari EYD.

    Penulisan nama harusnya diawali dengan huruf besar, begitupun kata di awal tiap kalimat. Tim FAM menemukan banyak kesalahan di sini. Sementara penulisan kata-kata gaul atau yang bukan merupakan bahasa baku, disarankan untuk diketik dengan huruf miring. Tidak wajib memang, namun agar tulisan kita rapi dan makin enak dibaca, hendaknya kata-kata yang sudah tercantum di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diberikan pembeda dengan bahasa gaul sehari-hari (contoh: loe, gue, bro, sob, gak, ntar, ngeledekin, morotin, udah, dsb).

    Kesalahan lain ada pada penggunaan tanda baca, mulai dari titik, koma, hingga tanda petik. Harap pelajari kembali fungsi tiap tanda baca. Saat ini internet jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Penulis bisa memelajari fungsi tiap tanda baca tidak cuma dari buku-buku, tetapi juga internet. Bukankah tulisan yang baik tidak hanya dinilai dari segi isi, tapi juga penyajian? Bagaimana pembaca bisa menikmati tulisan kita jika sejak awal penyajiannya kurang rapi dan ditemukan beberapa kesalahan kata? Akan sangat disayangkan jika itu terjadi, bukan?

    Sementara dari segi isi, cerpen ini sudah cukup baik sebab sudah membawa pesan positif bagi pembaca. Teruskan menulis. Asah dan asah terus pena Anda. Imbangi aktivitas menulis dengan membaca.

    Tetap semangat.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Naskah Asli Tanpa Diedit Tim FAM Indonesia]

    RAHASIA CINTA
    Oleh Doni Alfajri (IDFAM2850M)

    Jatuh cinta?, siapa yang tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Siapapun pasti pernah merasakan virus merah jambu ini. Tapi, sebagian orang salah kaprah mengendalikannya, dan setiap orang pasti akan di buai bahkan berangan-angan mengekspresikannya di jalan yang salah.

    ************

    “bro, kenalin ini Sinta”, seru yandi dengan semangat kagetkan indra.

    “ha? Rani lu kamanain bro?”,sahut indra spontan.

    “bosan bro, pengen ganti yang baru, Rani jengkelin bro”

    “Ya udah, gue jalan dulu ya. Gue pengen ngerayain hari jadian gue. Lu gak niat cari cewek bro? Sayang lho bro, secara lu lebih ganteng dari gue, masak lu gak punya cewek. Awas ntar jadi perjaka tua lho”ledek Yandi sembari hendak pergi dengan Sinta

    “Ah gak lah bro, cinta gue hanya untuk Allah dan kekasih halal gue nanti, sorry”

    “ya terserah lu lah bro, bye”

    Indra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan yandi, yang secara tidak sadar telah terjebak rayuan syaitan. Sebenarnya Indra telah berkali-kali mengingatkan sahabatnya itu untuk berhenti menyalahgunakan anugrah Allah yang di karuniakan padanya. Apalagi sekarang mereka telah duduk di kelas 3 SMA, yang sebentar lagi mau UN. Walaupun Indra sebenarnya juga pernah merasakan jatuh cinta seperti yang di rasakan Yandi. Indra sebenarnya menyukai Humairah Azzahra, seorang siswi kelas sebelah yang juga aktif di organisasi seperti OSIS dan FSI Rohis SMA sama seperti Indra yang juga aktif di organisasi yang sama.

    *************

    “Gak kerasa ya May, sebentar lagi kita akan meninggalkan masa putih abu-abu. Sedih sekali harus ninggalin sekolah yang penuh kenangan ini” Ungkap Aida.

    “iya, dari sekolah ini Aku banyak belajar hal. Mulai pelajaran, organisasi, kebersamaan dan.....”

    “dan Indra jugakan. Ayo ngaku?” ledek Aida.

    “ihh Apaan sih” Sahut Humairah dengan pipi merah.

    “Tuh kan pipi nya merah”

    “Stop Aidaaaaaaaaaa! ” teriak Humairah sambil tutup telinga.

    Aida paling senang ngeledekin Humairah, apalagi kalau sampai muka Humairah memerah. Sebenarnya Humairah memang menyukai ikhwan yang bernama Indra Dwi Prasetyo. Seorang ikhwan yang Tampan, pintar dan juga agamis. Siapa yang tidak menyukai Indra. Apalagi Humairah secara diam-diam suka kepo tentang Indra, bahkan beberapa surat cinta yang di tolak Indra pada beberapa teman Humairahpun tahu. Karena teman-temannya suka curhat sama Humairah.

    ******************

    Indra mulai mempersiapkan untuk menghadapi UN yang hanya menghitung minggu. Indra terus dan giat belajar agar bisa membahagiakan orang tuanya dan juga bercita-cita melanjutkan kuliah Teknik di Jerman yang di idam-idamkannya.

    “Kurang ajar tuh cewek, huh kesel gue” teriak Yandi buyarkan Indra sedang belajar.

    “Astagfirullah, kenapa bro?”

    “gila tuh cewek bisanya morotin duit gue. Tambah lagi dia selingkuh di belakang gue”

    “ Kan udah gue bro, gak usah pacaran deh bro. Kan gini jadinya”

    “Trus gue harus gimana bro?”

    “Hmm..gini ya bro, Allah memang menganugrahkan kita rasa suka kepada seseorang. Tapi, Allah tidak menyukai hambaNya yang menyalahgunakan nikmatNya. Seharusnya kita bisa mengendalikan dan menjaga kesucian itu untuk kekasih halal kita nanti, dan utamakan cinta itu untuk Allah semata” jelas Indra.

    “beruntung lu ya bro, belum pernah pacaran dan bisa jaga cinta untuk Istri lu kelak”

    “Ya Alhamdulillah bro. Tapi, lu lebih beruntung yang ingin bangkit dari keterpurukan cinta monyet, dan mau belajar dari kesalahan”

    “Makasih ya bro. Sudah mau bersabar hadapi sahabatmu yang sangat bandel ini, sungguh gue beruntung punya sahabat sepertimu bro”

    “Sama-sama bro, ya udah lupakan dia. Mari kita belajar bro. UN dah dekat nih”

    Yandi yang sudah mendapatkan pelajaran akibat menyalahgunakan cinta. Mulai mengukir lembaran baru hidupnya dengan Istiqamah sam seperti Indra. Merekapun sibuk belajar demi menempuh UN yang akan mereka hadapi.

    ************

    Tak terasa sudah sebulan UN yang mereka hadapi, dan hari di mana pengumuman UN mereka terima. Para siswa mulai tegang dan deg-degan. Akhirnya pengumumanpun mereka terima dan para siswa di nyatakan lulus 100% dengan nilai memuaskan. Sontak para siswa teriak kegirangan bukan kepalang, begitupun Indra yang begitu bahagia karena nilai UN tertinggi dan menerima beasiswa di jerman di raih oleh Indra Dwi Prasetyo.

    “selamat bro hehehehe” ungkap Yandi dengan memeluk Indra dengan haru

    “alhamdulillah, makasih bro”

    Begitupun dengan Humairah, peraih nilai UN tertinggi ke dua di sekolahnya. Di tengah bahagia kelulusan. Ada perasaan sedih yang mengusik di benak Indra, itu artinya dia akan berpisah dengan Humairah. Seorang Akhwat yang di kaguminya sejak kelas X.

    “Selamat ya Akhi” sosok suara yang sangat di kenal Indra

    “I..ii..iya ukhy, syukron. Selamat juga ya ukhti” sahut Indra terbata-bata karena gugup

    “Sama-sama Akhi. Ana ke sana dulu ya” Humairah mohon pamit

    “ii..ii..ya”

    Indrapun terdiam memandang Humairah yang mulai beranjak meninggalkannya. Ia seperti tersapu lembutnya angin yang menyejukkan ketika memandang wajah Humairah.

    “Astagfirullah” gumam Indra dalam hati

    1 Hari lagi Indra akan berangkat meninggalkan Tanah Air yang sangat dicintainya, Ia tak henti-hentinya bersyukur karena telah membuat bangga orang tuanya. Setelah berkemas yang di bantu Ibunda tercinta, Indra tak bisa memejamkan matanya karena akan berpisah sama Orang Tua, Sahabat dan Humairah Azzahra. Akhwat yang telah lama ia kagumi, sosok wanita sederhana, santun, pintar dan di anugrahi keteduhan diwajahnya.
    “Ya Allah, sungguh tak mungkinku mengelak anugrah cinta ini. Namun, Jagalah rasa cinta ini agar terhindar dari zina hati. Karena semua telah tertulis di lauhul mahfuzmu. Apalah dayaku yang maha lemah disisimu. Cinta engkau lebih baik dari cinta makhlukmu. Tapi, daku memang mencintai Humairah.” Gumam Indra sambil memandang langit yang bertaburan keindahan bintang

    ***********

    5 tahun pun berlalu, dan itu artinya Indra akan menyelesaikan pendidikannya di jerman dengan predikat terbaik, rasa rindu yang menggumpal didadapun ingin ia lampiaskan jika telah menginjakkan kaki di tanah air tercinta. Tapi, ada perasaan sedih ketika pesta perpisahan terakhir kemarin dengan teman-temannya dari penjuru dunia. Apalagi ia tak bisa menahan haru ketika temannya yang bernama Albertus Gomez yang seakan tak rela jika berpisah dengan Indra. Karena, ia memeluk islam setelah hatinya tersentuh ketika Indra melantunkan ayat suci alquran dan ketika Indra memberikan kado ulang tahun Albertus dengan alquran kesayangannya.

    “I will miss you my friend”

    “I’m too, I will miss you All” cetus Indra

    Suasana haru tak terelakkan ketika teman-teman Indra melepaskan kepulangannya ke Indonesia di Bandara Muenchen. Indrapun melambaikan tangannya untuk teman-teman terbaiknya di jerman. Perjalanan lewat udara pun di tempuh indra selama 10 jam perjalanan, dan akhirnya Indra pun menginjakkan kakinya lagi di Indonesia tepat di bandara soekarno-hatta. Indrapun disambut bak pahlawan oleh keluarga dan kerabatnya. Suasana haru selimuti kedatangan Indra, terutama sang Ibunda.

    “bagaimana perjalananmu nak?” tanya ayah Indra

    “Alhamdulillah melelahkan Yah hehehe”

    “Tapi, Ayah dan Ibu sangat bangga sama engkau nak, yuk kita pulang”

    Mereka mulai meninggalkan bandara soekarno-hatta menuju rumah mereka lumayan jauh di Bandung. Sesampai di rumah mereka mereyakan kepulangan Indra dengan makan-makan bersama keluarga dan kerabat mereka. Setelah 2 hari kembali ke indonesia, Indrapun mulai menulis surat lamaran kebeberapa perusahaan di Bandung, dan satu bulan kemudian, surat lamaran Indra mendapat balasan positif oleh salah satu perusahaan manufaktur ternama di Bandung. Indrapun tak henti-hentinya bersyukur juga ayah dan Ibu Indra. Indra mendapat jabatan yang stategis. Tak terasa satu tahun Indra di indonesia. Hingga suatu hari disore setelah Indra pulang kerja, Ayah dan Ibunya mengajak Indra bercengkrama.

    “Nak, ada yang ingin Ayah dan Ibu tanyakan” Ayah Indra membuka pembicaraan

    “Tanya apa Yah, Bu?”

    “Hmm begini, sekarang usiamu sudah 25 tahun dan kamu sudah punya kerja tetap, tak terniatkah untuk menikah, Nak?”

    Sontak Indra kaget dengan pertanyaan yang menurutnya sulit untuk dijawab. “Tentunya ada Ayah. Tapi, saya belum mempunyai calon”pungkas Indra.

    “Apa tidak ada selama engkau di jerman dan SMA dulu yang pernah engkau suka?” Sambung Ibu

    Butiran keringat dingin mulai membasahi wajah Indra sembari datak jantungnya berdebar hebat, seakan mulutnya seperti disampal pepaya. Karena Indra tak mampu menjawab pertanyaan Ibunya, dan Indrapun seakan dipaksa mengingat satu sosok akhwat yang belum bisa tergantikan dihatinya, dia adalah Humairah Azzahra. Betapa rindunya Indra dengan Humairah yang sekarang entah dimana dia berada.

    “Nak, kalau engkau tidak keberatan. Ibu punya teman yang anaknya seumuran denganmu, anaknya cantik, santun shalehah dan lulusan teknik industri ITB”

    “Maksud Ibu?”

    “Kalau engkau tak keberatan, mungkin dia jodohmu nak?”

    “Beri Indra waktu 1 hari Bu, Yah.” Ungkap Indra setelah lama hati dan pikirannya bernegosiasi

    “Baiklah, Ibu dan Ayah tunggu besok setelah engkau pulang kerja”

    “Bu Indra mau ke kamar dulu” mohon Indra

    “Iya”

    Indrapun berpikir keras dimeja belajarnya, dan berusaha menenangkan diri

    “Ya Allah, sungguh hamba ingin membangun rumah tangga karenamu. Tapi, hamba seakan seperti disambar petir ketika Ibu menanyakan jodoh dan menawarkan jodoh untuk hamba. Bukanya hamba tidak bersyukur Ya Allah. Namun, hamba belum bisa melupakan Humairah. Tapi, jika engkau tidak menizinkan hamba berjodoh dengan Humairah, hamba ikhlas. Karena engkau telah memilih yang terbaik untukku” doa Indra saat sholat istiqarah

    Keesokan harinya......

    “Bagaimana keputusanmu, Nak. Jika engkau tak mau tidak apa-apa, Ibu tidak memaksa”?

    “Bismillahirrahmanirrahim, Bu tak usah khawatir. Indra mau” Jawab Indra dengan mantap

    “Alhamdulillah” sahut Ayah dan Ibu Indra dengan gembira dan haru

    “Kapan engkau ada waktu untuk bersilaturahim kerumah teman Ibu, Nak?”

    “Malam ini bagaimana Bu?”

    “Ha? Serius engkau Nak?”

    “Iya, ngapain lama-lama Bu, Yah?”

    “Baiklah, malam ini kita pergi”

    Dalam perjalanan detak jantung Indra berdebar sangat kencang, sembari berdoa agar proses silaturrahim ini berjalan dengan lancar.

    Tok..tok..”Assalamu’alaikum”

    “Wa’alaikum salam, eehh Bu Ina dan keluarga, Ayo masuk” Sambut Bu Asih

    “Terima kasih”

    Setelah berkumpul diruang tamu, Ayah Indra pun membuka pembicaraan.

    “Adapun maksud saya dan keluarga adalah untuk melamar anak Ibu Asih dan Bapak Yono untuk jadi pendamping hidup saya” Ungkap Indra

    Sontak Bu Asih dan Pak Yono kaget dan terharu. “Terima kasih atas maksud baik dari Bapak Rahman dan Bu Ina yang telah bersusah payah kesini dan bermaksud melamar putri kami, kami sangat tersanjung sekali atas niat dari Bapak, Ibu dan Nak Indra. Tapi, semua tergantung dari putri kami sendiri”

    “Humairah...Ayo kesini sebentar” Panggil Ibu Asih

    “Iyaaaa, sebentar Bu”

    Perlahan Humairah menemui tamu Ayah dan Ibunya dan juga mengantarkan minum untuk tamu. Seketika setelah melihat tamu Ayah dan Ibunya, jantung Humairah berdegup kencang dan menundukkan pandangannya. Begitu juga yang dirasakan Indra, ia tak menyangka bahwa putri teman Ibunya adalah Humairah Azzahra yang sangat ia kenal.

    “Nah, inilah putri kami Pak, Bu dan Nak Indra”

    “Ukhti Humairah?” kaget Indra

    “Lho Akhi Indra?”

    “lho kalian sudah saling kenal?” tanya Pak Yono
    “Alhamdulillah Yah, Akhi Indra ini satu SMA dengan Humay” Jawab Humairah

    “Nak, adapun maksud kedatangan mereka kesini adalah untuk melamarmu. Bagaimana danganmu, Nak?” tanya Pak Yono

    Humairahpun kaget bukan kepalang, setelah mendengar penuturan Ayahnya yang bercampur dengan rasa bahagia
    “Bismillahirrahmanirrahim....Saya terima” jawab Humairah dengan bahagia dan dia henti-hentinya bersyukur

    Akad dan pernikahan merekapun berjalan dengan khidmat dengan nuansa sederhana sesuai permintaan Humairah. Humairah dan Indra pun tak hneti-hentinya bersyukur kepada Allah karena anugrah cinta yang bersemayam dihati mereka dipersatukan, bak kisah Syaidina Ali bin abi thalib dan Fatimah Az zahra.
    Setelah pernikahan mereka selesai, Indra menggendong Humairah menuju kamar mereka. Setelah dikamar Indra meletakkan Humairah diranjang yang telah dihiasi dengan indah. Indrapun menatap dan memandang wajah Humairah. “Maha suci Allah yang telah menciptakan ukiran wajah seindah ini, sungguh hamba sangat bersyukur.”

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Rahasia Cinta" Karya Doni Alfajri (FAMili Agam, Sumatera Barat) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top