• Info Terkini

    Sunday, December 28, 2014

    Ulasan Esai “Membenahi Diri Sendiri: Salah Satu Kunci Membenahi Pendidikan” Karya Ranti Widiastuti (FAMili Kendari, Sulawesi Tenggara)

    Tim FAM Indonesia mengapresiasi esai ini sebagai sebuah ekspresi dari kepekaan, kepedulian yang didukung oleh kecakapan berliterasi yang meliputi kecakapan membaca, berpikir kritis dan melakukan analisis ilmiah dan sistematis.

    Tulisan ini menjadi lebih menarik untuk dibaca karena mengangkat tema pendidikan, sebuah bahasan yang selalu aktual. Tulisan ini juga inspiratif karena menawarkan solusi yang bisa dilakukan mahasiswa untuk ikut berpartisipasi membenahi dunia pendidikan.

    Namun tim FAM Indonesia memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

    1. Judul sebaiknya tidak terlalu panjang namun mengundang hasrat pembaca untuk mengikuti uraiannya, maksimal 4 kata saja. Misalnya: “Kunci Utama Reformasi Pendidikan”, atau judul lainnya yang lebih singkat dan menarik.

    2. Pengutipan data ilmiah memang bagus untuk menguatkan analisis. Namun, akan lebih baik lagi jika referensi yang digunakan adalah berupa buku atau jurnal ilmiah. Data dari internet harus dipilih dengan sangat selektif, karena tidak semua data internet valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

    3. Penggunaan kata “luaran” pada alinea ke 3, ke 4, dan ke 6 tidak tepat. Akan lebih tepat jika diganti dengan produk atau output.

    4. Penggunaan istilah “ujung tolak” pada aline ke-7 membingungkan. Karena dalam perbendahaarn Bahasa Indonesia tidak dikenal istilah “ujung tolak”, mungkin bisa dicari istilah lain yang lebih umum.

    Selanjutnya, Tim FAM Indonesia merekomendasikan kepada penulis untuk terus banyak membaca referensi-referensi ilmiah agar kualitas tulisannya dapat mengalami peningkatan, baik dari segi penulisan maupun isi/materi.

    Semoga ulasan ini bisa memotivasi penulis untuk terus berjuang mencerahkan dunia dengan karya.

    Salam santun,

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Esai Penulis yang Diposting Tanda Editing]

    Membenahi Diri Sendiri: Salah Satu  Kunci  Membenahi Pendidikan

    Oleh: Ranti Widiastuti (IDFAM3080U)

    Hal mendasar yang dibutuhkan manusia untuk menjadi manusia seutuhnya dan mengembangkan potensinya adalah pendidikan. Menjadi manusia seutuhnya artinya mengenali dirinya sendiri, menyadari tugas dan perannya dalam kehidupannya. Juga untuk mengembangkan potensi dan bakat tiap-tiap individu. Sebagaimana kita ketahui, setiap orang dibekali potensi-potensi  berbeda yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf kebaikan hidupnya. Namun demikian, potensi ini harus dikembangkan dan diasah terus menerus, salah satu caranya yakni melalui pendidikan. Karena itu, sudah seharusnya pendidikan harus diperoleh setiap orang sejak dini seperti program pemerintah yang mewajibkan pendidikan dasar sembilan tahun bagi warga negaranya.

    Pendidikan memanglah tidak selalu formal seperti sekolah-sekolah dan berbagai lembaga pendidikan, namun sekolah-sekolah formal memiliki proporsi yang besar dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia tersebut. Hal ini dikarenakan, pendidikan-pendidikan formal memiliki perencanaan dan standar-standar pencapaian hasil. Seperti disebutkan dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawa. Demikian bunyi amanat undang-undang tentang fungsi pendidikan yang menjadi standar pendidikan yang ideal.

    Berdasarkan rumusan fungsi pendidikan tersebut, adalah hal yang wajib bagi sistem pendidikan menghasilkan luaran pendidikan dengan karakteristik-karakteristik itu. Memang tidak mudah menjalankan amanat tersebut. Akan ada banyak rintangan baik dari dalam maupun dari luar sistem. Sistem pendidikan ibarat sebuah bahtera yang mengarungi samudra. Membawa seseorang dari ketidaktahuan ketempat lain dengan kebaikan dan kesejahteraan yang menjanjikan. Layaknya sebuah bahtera, tentunya akan banyak badai dan gelombang yang menerjang. Bukan hal yang tidak mungkin membuat bahtera karam atau  membelokkan arah sehingga menepi di tempat yang tidak seharusnya.

    Fakta yang terjadi dihadapan kita saat ini, menggambarkan betapa pendidikan semakin menjauh dari fungsinya dengan luaran yang tidak memenuhi karateristiknya. Berbagai permasalahan mencuat dari sistem kita. Beberapa diantaranya yakni perkelahian antar pelajar, seperti dilansir dari data tawuran pelajar bahwa, pada 2010 setidaknya terjadi 128 kasus tawuran antar pelajar. Angka itu melonjak tajam lebih dari 100% pada 2011, yakni 330 kasus tawuran yang menewaskan 82 pelajar. Pada Januari-Juni 2012, telah terjadi 139 tawuran yang menewaskan 12 pelajar . Juga tingginya angka pengguna narkoba dikalangan pelajar. Berdasarkan data, penyalah gunaan narkoba dikalangan pelaja dan mahasiswa naik dari 5,6 persan dari tahun 2006 . Ditambah lagi, perilaku tidak terpuji para kaum-kaum terdidik  yakni korupsi. Indonesia Corruption Watch mencatat, dalam rentang 1999-2011 terdapat 233 kasus dugaan korupsi di ranah pendidikan yang telah masuk tahapan penyidikan .

    Tidak hanya itu, sistem pendidikan kita juga mencetak generasi-generasi dengan karakter yang tidak terpuji. Pengalaman pribadi penulis saat mengajari salah satu mata pelajaran anak sekolah dasar untuk persiapan ujian nasional, mendapatkan seorang anak dengan wajah polosnya dia mengatakan “untuk apa susah-susah belajar, kalau ujian juga nanti dikasih tahu jawabannya” ujar anak yang masih duduk dikelas enam sekolah dasar itu.

    Tantangan dalam membentuk sistem pendidikan yang dapat menghasilkan luaran yang diharapkan seperti tercermin dalam UU no 20/2003 meskipun sulit, bukan berarti tidak bisa. Kerjasama yang harmoni antar seluruh komponen baik dari pemerintah maupun para pelaku pendidikan tentu akan membuahkan hasil cukup menjanjikan, yakni perbaikan dalam sistem pendidikan.

    Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Namun, ujung tolak keberhasilan itu ada ditangan guru. Hal ini disebabkan, guru adalah orang yang berinteraksi langsung dengan peserta didik, mengaplikasikan perencanaan dari perancang pendidikan, merancang proses pembelajaran,  mentransfer ilmu pengetahuan, serta memberi teladan dalam menanamkan nilai-nilai moral dan kesusilaan. Itulah esensi seorang guru dan setiap guru wajib mengetahui dan melaksanakan hal tersebut.

    Sebagai mahasiswa kita bisa turut serta memperbaiki sistem pendidikan kita. Membenahi diri, adalah salah satu kuncinya. Berbenah yang dimaksud disini ialah mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain. Menyiapkan diri sebaik-baiknya agar nantinya jika telah saatnya kita terjun langsung ke dunia pendidikan, kita dapat menjalankan tugas dengan semestinya dan memberikan kontribusi sebaik-baiknya.  Hal ini dikarenakan, kita jualah yang akan terjun ke dunia pendidikan, meneruskan perjuangan guru-guru terdahulu mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Pertama, merancang proses pembelajaran. Hal ini dirasa penting untuk dikuasai, dikarenakan sistem pendidikan kita saat ini lebih menitik beratkan pada kemampuan kognitif seseorang sehingga, kemampuan afektif dan psikomotorik tak jarang yang kurang dimaksimalkan. Pemilihan strategi pembelajaran tepat, yang bisa memadukan ketiga kemampuan tersebut berjalan beriringan adalah salah satu solusinya. Selain itu juga, agar standar-standar pencapaian hasil dapat tercapai dengan runtut dan berkesinambungan.

    Kedua, mentransfer ilmu pengetahuan. Jika ilmu pengetahuan itu ditransfer, maka kita harus mempunyai bahan-bahan yang akan ditransfer tersebut. Penguasaan materi adalah hal yang harus dimiliki seorang guru. Karenanya, marilah kita membenahi diri dari ilmu-ilmu yang kita tidak kuasai, belajar dengan sungguh-sungguh, membekali kita dengan berbagai ilmu-ilmu yang bermanfaat. Sekarang adalah saatnya untuk belajar dan menyiapkan diri.

    Ketiga, memberi teladan dalam menanamkan nilai-nilai moral dan kesusilaan. Hal kecil ini terkadang sering dilupakan, bahwa pendidikan amatlah jauh dari pengajaran. Mendidik berarti menuntun, memandu dan memberikan teladan tentang nilai-nilai dan norma-norma, sebagaiman hasil dari pendidikan adalah perubahan tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Jika yang terjadi malah sebaliknya, maka pendidikan kita belum berhasil atau lebih tepatnya yang dilakukan adalah mengajar bukan mendidik.

    Memberikan teladan adalah cara yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai dan karakter pada peserta didik. Sebuah kalimat bijak menyatakan “satu tindakan lebih baik dari seribu perkataan”. Sebagai contoh, jika seorang guru ingin menanamkan karakter disiplin waktu, ia dapat mencontohkan kepada siswa dengan selalu hadir tepat waktu saat jam mengajar. Karakter kejujuran dan keadilan, guru dapat mencontohkan keadilan dengan tidak membeda-bedakan siswa. Begitu pula nilai-nilai yang lain. Maka, tidak ada lagi alasan atau bantahan dari siswa dengan alasan-alasan bahwa kita sendiri tidak melakukannya.

    Jika kita kembali mengibaratkan sistem pendidikan seperti sebuah bahtera yang mengarungi samudra maka, pendidik adalah nahkoda beserta awaknya. Betapapun badai dan gelombang yang menerjang, maka jika nahkoda dan awaknya mengetahui perannya masing-masing, mengatahui apa yang harus dilakukan dengan pengetahuan, pengalaman serta kemampuannya, serta bekerja sama dengan harmoni, yang ada adalah bahtera tersebut akan selamat dari badai dan gelombang, menepi dengan selamat ditempat tujuan seperti yang diharapkan.(*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Ulasan Esai “Membenahi Diri Sendiri: Salah Satu Kunci Membenahi Pendidikan” Karya Ranti Widiastuti (FAMili Kendari, Sulawesi Tenggara) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top