• Info Terkini

    Friday, January 30, 2015

    Agus Susiyanti: “Dari Cibelok ke Taiwan, Bertekad Jadi Penulis Produktif”

    Agus Susiyanti, sebuah nama yang diberikan oleh sang ayah yang mempunyai  arti rajin, periang dan sabar. Dan, kenyatannya, itulah sosok yang dimiliki gadis ini. Mungkin, lebih tepatnya, karena ia lahir di hari kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus 1990.

    Agus Susiyanti dibesarkan di sebuah desa kecil—karena jalanan di desanya berbentuknya belok-belok jadi diberi nama menjadi Dusun Cibelok, Kecamatan Taman dan Kabupaten Pemalang Jawa tengah.

    Ternyata, sebuah nama memiliki arti kuat dari dulu sampai sekarang. Orang yang kenal baik dengannya selalu memanggil nama Agus kesannya seperti nama anak cowok. Ia pun menjadi risih dan malu tapi justru nama Agus itu memiliki sebuah kekuatan. Dia jadi pemberani. Sekarang ia menikmati namanya itu.

    Ia juga mempunyai nama pena, yaitu Minzy Suzy, sama dengan nama fb, email,dan skype hampir sama namanya karena ia sangat suka sekali dengan girls band Korea 2EN1 yang personilnya bernama Minzy. Jadi, ia menamainya menjadi “MINZY SUZY”.

    Ia anak pertama dari 5 bersaudara. Adiknya semuanya perempuan. Orang Jawa bilang “PANDAWI”. Sewaktu ia kecil, ayahnya sangat memanjakan dirinya dibanding adik-adiknya yang lain. Walaupun Agus anak pertama, tapi ia tak pernah kekurangan kasih sayang oleh kedua orangtuanya.

    Tetapi setelah ayahnya tiada, rasa kehilangan begitu membekas sampai sekarang. Bahkan ia bermimpi untuk bisa mewujudkan keinginan ayahnya dengan sekolah terus karena sang ayah ingin melihat ia berpendidikan lebih baik walaupun dari keluarga yang serba kekurangan. Tapi Agus akan selalu berusaha mewujudkannya.

    Lulus sekolah dasar ia berhenti sekolah karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan. Ia pun memutuskan ikut pelatihan tenaga kerja baby sitter di kotanya, yaitu di Yayasan Lembaga Bina Putri. Setelah ikut pelatihan dan mendapatkan sertifikat, ia langsung bekerja merawat balita di Jakarta selama 4 tahun.

    Setelah bekerja menjadi baby sitter, ia memutuskan untuk kembali sekolah di Jakarta. Ia mengambil Kejar Paket B di Penjaringan Kota Pluit Jakarta Utara. Setelah lulus Paket B, ia memutuskan untuk bekerja menjahit. Sebelumnya ia juga ikut kursus pelatihan menjahit di daerah Cakung kemudian melamar di PT Tainan Interprises bagian menjahit di KBN Cakung Jakarta Utara.

    Sekarang, ia merantau ke Taiwan demi mendapatkan “sebongkah berlian” dan menggapai asa untuk mewujudkan cita-citanya mengikuti Sekolah Kejar Paket C di Taiwan yang sistem pembelajarannya online. Jadi setiap hari ia belajar melalui media online serta tutorial yang diberikan oleh pengajar.

    Pembelajaran online dari pukul 21.00 sampai 22.30 waktu Taiwan. Setiap hari pembelajaran mata pelajaran yang akan diujiankan negara serta pelajaran tambahan Bahasa Mandarin, keterampilan fungsional dan muatan lokal.

    Terus ada sistem tatap muka yang berlangsung dari jam 9 pagi sampai 4 sore waktu Taiwan. Itu pun sebulan sekali waktu libur dari pekerjaan. Ia bekerja merawat pasien lansia dan juga menjadi pembantu rumah tangga di Taiwan. Tugasnya sehari-hari bersih-bersih rumah dan mengurus keperluan pasien yang ia rawat.

    Pengalaman menulis sewaktu masih sekolah dasar. Ia suka mengarang hal-hal yang penuh bahagia bersama keluarga tercinta. Bakat menulisnya terus berkembang.

    Di Taiwan ia berkenalan dengan seorang teman. Dia disebut sebagai artis cerpen karena cerpennya selalu muncul di sebuah majalah di Taiwan. Temannya itu selalu bilang, menulis itu menyenangkan. Dan guru Bahasa Indonesianya juga yang di Taiwan mengatakan hal sama, sehingga membuatnya bertambah semangat agar bisa menulis dengan baik.

    Ia mencoba belajar dengan cara  membaca karena membaca adalah hobi yang ia sukai dan melihat media online untuk mencari informasi dan tips serta cara untuk menulis. Dari sana ia mulai belajar di tengah kesibukan bekerja, sekolah dan belajar menulis.

    Ternyata, menulis membuatnya peka dan belajar banyak dari segala hal. Menulis mengajarkannya menangkap berbagai kejadian dan menjadi kepingan cerita indah. Ia pun belajar menulis dengan hati. Hal itu membuatnya bisa berbagi cerita dalam segala hal dan bisa bermanfaat bagi banyak orang.

    Dari belajar membaca dan menulis itu, ia kemudian mengikuti event dan lomba. Awalnya banyak naskah yang tidak lolos. Tapi ia tidak mau menyerah dan akan terus belajar dan belajar menjadi lebih baik.

    Alhamdulillah, sejumlah naskah yang dikirimnya berhasil lolos dan telah terbit menjadi kumpulan buku puisi dan cerpen, di antaranya: Puisi yang berjudul “Indo Suara” (Majalah Indosuara), Buku antologi bersama “Puisi Ibu Pertiwi” (Penerbit Goresan Pena), Buku antologi puisi “Jodoh Pasti Bertemu” (Penerbit Rasselea), Buku kumpulan cerpen “Love in Different Space” (Penerbit Diandra Self), Buku antologi cerpen “Meraih Mimpi” (Penerbit Aria Mandiri), Buku kumpulan Puisi “Walau Aku Berbeda” (Penerbit Aria Mandiri), dan Buku kumpulan cerpen Jilid 2 “Kenangan Terindah” (Penerbit Segitiga Emas), serta Kumpulan puisi “Proud To Be Muslim, Cahaya Hijrah” (Penerbit Asrifa).

    Agus Susiyanti bisa dihubungi lewat fb di Minzy Suzy, Twitter: @Asuzy21, Email: a.minzysuzy@gmail.com, dan nomor Hp: +886979454347. (*)

    Gabung dan klik fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    Item Reviewed: Agus Susiyanti: “Dari Cibelok ke Taiwan, Bertekad Jadi Penulis Produktif” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top