Skip to main content

Agus Susiyanti: “Dari Cibelok ke Taiwan, Bertekad Jadi Penulis Produktif”

Agus Susiyanti, sebuah nama yang diberikan oleh sang ayah yang mempunyai  arti rajin, periang dan sabar. Dan, kenyatannya, itulah sosok yang dimiliki gadis ini. Mungkin, lebih tepatnya, karena ia lahir di hari kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus 1990.

Agus Susiyanti dibesarkan di sebuah desa kecil—karena jalanan di desanya berbentuknya belok-belok jadi diberi nama menjadi Dusun Cibelok, Kecamatan Taman dan Kabupaten Pemalang Jawa tengah.

Ternyata, sebuah nama memiliki arti kuat dari dulu sampai sekarang. Orang yang kenal baik dengannya selalu memanggil nama Agus kesannya seperti nama anak cowok. Ia pun menjadi risih dan malu tapi justru nama Agus itu memiliki sebuah kekuatan. Dia jadi pemberani. Sekarang ia menikmati namanya itu.

Ia juga mempunyai nama pena, yaitu Minzy Suzy, sama dengan nama fb, email,dan skype hampir sama namanya karena ia sangat suka sekali dengan girls band Korea 2EN1 yang personilnya bernama Minzy. Jadi, ia menamainya menjadi “MINZY SUZY”.

Ia anak pertama dari 5 bersaudara. Adiknya semuanya perempuan. Orang Jawa bilang “PANDAWI”. Sewaktu ia kecil, ayahnya sangat memanjakan dirinya dibanding adik-adiknya yang lain. Walaupun Agus anak pertama, tapi ia tak pernah kekurangan kasih sayang oleh kedua orangtuanya.

Tetapi setelah ayahnya tiada, rasa kehilangan begitu membekas sampai sekarang. Bahkan ia bermimpi untuk bisa mewujudkan keinginan ayahnya dengan sekolah terus karena sang ayah ingin melihat ia berpendidikan lebih baik walaupun dari keluarga yang serba kekurangan. Tapi Agus akan selalu berusaha mewujudkannya.

Lulus sekolah dasar ia berhenti sekolah karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan. Ia pun memutuskan ikut pelatihan tenaga kerja baby sitter di kotanya, yaitu di Yayasan Lembaga Bina Putri. Setelah ikut pelatihan dan mendapatkan sertifikat, ia langsung bekerja merawat balita di Jakarta selama 4 tahun.

Setelah bekerja menjadi baby sitter, ia memutuskan untuk kembali sekolah di Jakarta. Ia mengambil Kejar Paket B di Penjaringan Kota Pluit Jakarta Utara. Setelah lulus Paket B, ia memutuskan untuk bekerja menjahit. Sebelumnya ia juga ikut kursus pelatihan menjahit di daerah Cakung kemudian melamar di PT Tainan Interprises bagian menjahit di KBN Cakung Jakarta Utara.

Sekarang, ia merantau ke Taiwan demi mendapatkan “sebongkah berlian” dan menggapai asa untuk mewujudkan cita-citanya mengikuti Sekolah Kejar Paket C di Taiwan yang sistem pembelajarannya online. Jadi setiap hari ia belajar melalui media online serta tutorial yang diberikan oleh pengajar.

Pembelajaran online dari pukul 21.00 sampai 22.30 waktu Taiwan. Setiap hari pembelajaran mata pelajaran yang akan diujiankan negara serta pelajaran tambahan Bahasa Mandarin, keterampilan fungsional dan muatan lokal.

Terus ada sistem tatap muka yang berlangsung dari jam 9 pagi sampai 4 sore waktu Taiwan. Itu pun sebulan sekali waktu libur dari pekerjaan. Ia bekerja merawat pasien lansia dan juga menjadi pembantu rumah tangga di Taiwan. Tugasnya sehari-hari bersih-bersih rumah dan mengurus keperluan pasien yang ia rawat.

Pengalaman menulis sewaktu masih sekolah dasar. Ia suka mengarang hal-hal yang penuh bahagia bersama keluarga tercinta. Bakat menulisnya terus berkembang.

Di Taiwan ia berkenalan dengan seorang teman. Dia disebut sebagai artis cerpen karena cerpennya selalu muncul di sebuah majalah di Taiwan. Temannya itu selalu bilang, menulis itu menyenangkan. Dan guru Bahasa Indonesianya juga yang di Taiwan mengatakan hal sama, sehingga membuatnya bertambah semangat agar bisa menulis dengan baik.

Ia mencoba belajar dengan cara  membaca karena membaca adalah hobi yang ia sukai dan melihat media online untuk mencari informasi dan tips serta cara untuk menulis. Dari sana ia mulai belajar di tengah kesibukan bekerja, sekolah dan belajar menulis.

Ternyata, menulis membuatnya peka dan belajar banyak dari segala hal. Menulis mengajarkannya menangkap berbagai kejadian dan menjadi kepingan cerita indah. Ia pun belajar menulis dengan hati. Hal itu membuatnya bisa berbagi cerita dalam segala hal dan bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Dari belajar membaca dan menulis itu, ia kemudian mengikuti event dan lomba. Awalnya banyak naskah yang tidak lolos. Tapi ia tidak mau menyerah dan akan terus belajar dan belajar menjadi lebih baik.

Alhamdulillah, sejumlah naskah yang dikirimnya berhasil lolos dan telah terbit menjadi kumpulan buku puisi dan cerpen, di antaranya: Puisi yang berjudul “Indo Suara” (Majalah Indosuara), Buku antologi bersama “Puisi Ibu Pertiwi” (Penerbit Goresan Pena), Buku antologi puisi “Jodoh Pasti Bertemu” (Penerbit Rasselea), Buku kumpulan cerpen “Love in Different Space” (Penerbit Diandra Self), Buku antologi cerpen “Meraih Mimpi” (Penerbit Aria Mandiri), Buku kumpulan Puisi “Walau Aku Berbeda” (Penerbit Aria Mandiri), dan Buku kumpulan cerpen Jilid 2 “Kenangan Terindah” (Penerbit Segitiga Emas), serta Kumpulan puisi “Proud To Be Muslim, Cahaya Hijrah” (Penerbit Asrifa).

Agus Susiyanti bisa dihubungi lewat fb di Minzy Suzy, Twitter: @Asuzy21, Email: a.minzysuzy@gmail.com, dan nomor Hp: +886979454347. (*)

Gabung dan klik fanspage FAM Indonesia DI SINI

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…