• Info Terkini

    Sunday, January 11, 2015

    Menguak Tabir Kebenaran Dalam Sastra

    Singgalang (11 Januari 2015
    Oleh Aliya Nurlela
    Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    RAFLIS CHANIAGO lahir di Desa Talaok, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat pada tahun 1963. Profesinya saat ini selain penulis, juga seorang pendidik di SMA Negeri 1 Painan. Ia suka menulis sejak remaja dan karya-karyanya dimuat di berbagai media.

    Raflis Chaniago pernah menjuarai lomba menulis cerpen pada tahun 1986 yang diadakan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Padang. Raflis mendapat juara II dengan judul cerpen “Jurang”. Pada tahun 2008, naskahnya masuk finalis 20 besar lomba menulis cerpen tingkat nasional yang diadakan Depdiknas dengan judul cerpen “Tukang Sapu”. Hal ini pulalah yang menginspirasi penerbitan buku cerpen pertamanya yang diberi judul “Hati Tukang Sapu Dalam Jurang” yang diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Tak puas hanya membukukan naskah-naskah cerpennya, Raflis juga tergerak membukukan berbagai artikel yang pernah ditulisnya—termasuk yang sudah diterbitkan media—dengan cara merevisi ulang dan mengembangkan pembahasan, lalu merangkumnya dalam sebuah naskah buku. Kumpulan naskah ini pun akhirnya diterbitkan oleh Penerbit FAM Publishing dengan judul “Kebenaran Dalam Sastra.”

    Kebenaran seperti apakah yang ingin diungkap Raflis Chaniago dalam bukunya itu? Mungkin pertanyaan itulah yang terbetik pertamakali di benak pembaca. Dalam prolognya penulis menyampaikan bahwa dasar penulisan karya tersebut adalah (lebih) ditujukan kepada pembaca yang baru memasuki dunia sastra, sebab penulis menyajikan prinsip-prinsip dasar sastra dalam setiap bagian tulisannya.

    Pada bagian pembuka buku ini, penulis memaparkan beberapa teori yang diadopsi dari tokoh-tokoh terkenal, seperti teori mimesis (Yunani: perwujudan atau jiplakan). Plato (428-348 SM) mengemukakan pendapatnya bahwa seni hanyalah menyajikan suatu ilusi atau khayalan, jauh dari kebenaran.

    Plato membandingkan antara pelukis dan penyair dengan seorang tukang serta ahli-ahli lain. Menurut Plato, seorang tukang lebih dekat kepada kebenaran daripada penyair atau pelukis. Tukang membuat barang-barang lebih berguna daripada pelukis  dan para penyair yang hanya menggambarkan dan melukiskan sesuatu. Mereka menjiplak suatu jiplakan, mereka melakukan pengopian di atas sesuatu yang di-copy. Apa yang mereka copy tidak ada mutunya. Yang mereka capai hanyalah satu-satunya gambar yang mengambang, tak berarti sama sekali, kosong.

    Masih menurut Plato, para penyair tidak ada gunanya hidup di sebuah negara ideal. Di samping itu, puisi hanya memberi umpan kepada emosi dan meredupkan akal budi serta menghalangi usaha manusia untuk mencapai kebahagiaan. Pendapat Plato ini tentu saja dianggap aneh. Padahal menurut salah seorang penulis biografinya, Olympiodorus, Plato sebenarnya ingin menjadi penyair, penulis lakon, tragedi maupun komedi. Tetapi, mengapa akhirnya dia begitu merendahkan derajat dunia seni? Mengapa dia mengatakan bahwa seni hanya merupakan ilusi? Mengapa dia mengatakan bahwa seorang tukang lebih berguna daripada pelukis? Mengapa dia mengatakan bahwa puisi hanya meredupkan akal budi? Menurut Olypiodorus, perubahan sikap itu terjadi setelah Plato bertemu Socrates. Dia tersungkur ke bawah pesona ‘sihir” Socrates. Akhirnya, dia membatalkan usahanya meneruskan menulis karya-karya tragedi dan berpaling ke dunia filsafat.

    Tak hanya memaparkan teori “berseberangan” dari tokoh-tokoh luar, Raflis Chaniago juga mengutip pendapat atau bisa disebut juga sebagai “bantahan” dari pakar dalam negeri. Seperti kutipan dari Suhariyanto yang menyebutkan bahwa tidak benar lukisan dan puisi hanya merupakan ilusi, meredupkan akal budi, hanya memberi umpan kepada emosi. Menurut Suhariyanto, seni mampu memanusiawikan manusia. Seni diciptakan dapat menyenangkan. Seni menyenangkan karena dapat membuat indera kita menjadi segar dan lebih nyaman. Cipta seni mampu mengentaskan kita dari lembah kedukaan, kerisauan, kecemasan, dan keanekaragaman ketidakenakan yang bersemayam di hati dan perasaan. Lebih dari itu, lanjutnya, cipta seni juga mampu menguakkan tabir kepicikan yang menyelubungi pikiran dan mengisinya dengan berbagai pengetahuan.

    Sampai pada bagian ini, penulis hendak menunjukkan fakta kepada pembaca bahwa ada pertentangan pendapat soal esensi kebenaran dalam sebuah karya sastra atau cipta seni. Sebagian menganggap sastra hanyalah produk khayal semata yang mendewakan imajinasi dan ilusi, hingga tak pantas diserap kebenarannya. Bahkan, dianggap tak ada kebenaran sama sekali alias kosong muatan positif. Di satu sisi, ada pihak yang membantah bahwa karya sastra bukan semata produk khayal yang kosong tanpa makna, tapi justru sebaliknya berupa produk kreatif yang menyenangkan, menyentuh perasaan, menghilangkan kerisauan dan (dapat) berisi pesan-pesan positif dengan berbagai pengetahuan.

    Memang, sebuah karya sastra tidak sama dengan laporan seorang wartawan yang harus berangkat dari dasar, sumber dan referensi yang jelas serta bisa dicek kebenarannya. Jika ada laporan palsu, bisa diperkarakan. Berbeda dengan karya sastra, sekalipun karya itu berangkat dari referensi yang jelas dan menggambarkan detail sebuah peristiwa di suatu tempat yang jelas pula—apakah itu kasus pembunuhan, perampokan, penjambretan, dll—tapi tidak bisa dicek kebenarannya, apalagi sampai diperkarakan dan dibawa ke ranah hukum. Sebab, seorang penulis karya sastra dia bukan sedang melaporkan peristiwa sesungguhnya, sebagaimana halnya seorang wartawan. Dia sekadar melukiskan keadaan yang berangkat dari kenyataan. Lukisan kenyataan itu sudah dijalin dengan imajinasi dan pendapat-pendapat dari sudut pandang si penulis. Sudah barang tentu tidak murni lagi sebagai sebuah kenyataan. Dengan cara seperti inilah seorang penulis karya sastra bisa menemukan kepuasan dalam menyikapi kepincangan-kepincangan yang terjadi di depan matanya. Sumbangan pemikiran dan kritikan, disampaikannya melalui tulisan fiksi dengan bahasa yang tidak menggurui, mencerca atau menyakiti pihak-pihak tertentu.

    Raflis Chaniago memberikan contoh cerpen karya A.A Navis “Robohnya Surau Kami” yang di dalamnya mengandung pesan positif serta mengandung kebenaran, bahwa orang yang seumur hidupnya hanya melakukan ibadah saja tanpa peduli keluarga, mencari nafkah dan mengurusi diri sendiri, justru akan mendapatkan murka dari Allah SWT. Raflis juga mengambil contoh kebenaran dalam dongeng seperti dialog antara monyet dan kancil soal menanam pisang bahwa pisang yang sudah berjantung tidak bisa ditanam, melainkan anaknya yang dapat ditanam. Termasuk beberapa contoh dari karya-karya penulis lainnya.

    Saya kira buku ini hendak menguak tabir kebenaran dalam sastra, bahwa cipta sastra bukan sekadar hiburan yang kosong tanpa isi. Setiap penulis memiliki misi tersendiri dalam tulisannya. Penulis-penulis yang membawa paham komunisme, marxisme, leninisme, materialisme, dan isme-isme lainnya, membawa paham yang mereka anut di dalam tulisan-tulisannya. Ada ajakan-ajakan tertentu yang tanpa sengaja membuat pembacanya larut dan mengikuti aliran mereka. Sebagai penulis yang bermisi dakwah, mereka membumbui tulisannya dengan nilai-nilai Ilahiah agar menjadi media dakwah yang menyejukkan. Di dunianya, sastrawan menjadi semacam ulama (Islam)—atau dalam agama lain sebagai pendeta, biksu, biarawan, dsb. Mereka mengajak pembaca (lewat kata-kata) untuk berbuat kebaikan, menjauhi larangan Tuhan, dan ikut berdakwah lewat untaian kata-kata. Anda ingin menjadi penulis seperti apa, itu adalah pilihan. Apakah hendak menjadikan sebuah karya sastra sebagai ajang provokasi, pornografi, caci-maki, atau murni imajinasi belaka tanpa pesan apa pun. Atau sebaliknya, menjadikan sebagai karya yang penuh muatan positif, mencerahkan, menenteramkan, menginspirasi bahkan mengubah keadaan. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menguak Tabir Kebenaran Dalam Sastra Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top