Skip to main content

Tri Yani (Bukittinggi): “Karya Tersebar di 77 Buku Antologi Bersama”

Tri Adnan adalah nama pena Tri Yani (IDFAM3042M). Di kalangan teman sejawat, dia lebih dikenal dengan nama Tri Adnan daripada Tri Yani.

Lahir di Bukittinggi 20 Oktober 1991. Berdomisili di lereng gunung Marapi, tepatnya di IV Angkek. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah di IAIN Bukittinggi.

Dia telah menyukai dunia tulis menulis dari kecil. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran favoritnya dari SD-SMA. Berawal dari dukungan Sang Kakak yang memberinya bahan bacaan sejak dia telah bisa membaca walaupun saat itu masih mengeja. Dorongan dan motivasi dari Sang Kakak inilah yang membuat dia mengagumi berbagai macam tulisan hingga bermimpi suatu saat namanya juga bisa muncul di buku-buku.

Saat masih duduk di SMP (MTs TI Pasir) dia mulai menggoreskan pena merangkai kata membuat sebuah cerita. Berlanjut hingga SMA (SMA N 1 Ampek Angkek) dia masih membuat cerita hanya untuk dirinya sendiri tanpa dipublikasikan. Rasa percaya diri adalah kendala pertama saat itu. Merasa orang lain akan menertawakan atas karya-karya yang dia ciptakan.

Saat mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) di IAIN Sumatera Utara (sekarang UIN SU) Oktober 2013, dia berkenalan dunia tulis menulis via online. Tidak kepalang rasa senangnya saat itu. Apa yang dia cari selama ini akhirnya berjumpa juga. Tidak ambil tempo, pulang dari pelatihan dia langsung mengikuti event-event kepenulisan (facebook).

Alhamdulillah, mimpinya terwujud dengan namanya yang telah tersebar di 77 Antologi (sampai Januari 2015) dan pernah mengantongi Juara II Lomba Cipta Puisi di salah satu event yang diikutinya.

Salah satu cerpen anak bungsu dari empat bersaudara ini juga pernah muncul di Slilit Arena UIN SUKA Yogyakarta Edisi Mei. Pimpinan Redaksi UKK Pers Al-Itqan IAIN Bukittinggi ini masih mempunyai mimpi yang belum terwujud sampai saat ini, yaitu menerbitkan buku solo dan namanya tersebar di berbagai media massa. (*)

Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…