• Info Terkini

    Monday, January 26, 2015

    Ulasan Cerpen "Sisa Cinta untuk Denis" Karya Eka Fitriani (FAMili Muara Enim, Sumsel)



    Denis teguh ingin menikahi Fuji yang hamil di luar nikah dengan pemuda lain. Pak Aryo, orangtua Denis, mencegahnya. Tetapi, apa mau dikata? Cinta sudah buta. Denis akhirnya kawin lari dengan Fuji.

    Anak di dalam kandungan Fuji akhirnya lahir dan diberi nama Alif. Namun, belum genap setahun, setelah pekerjaan baik Denis dapatkan, justru istrinya berselingkuh. Fuji pun dicerai. Perceraian itu membuatnya harus membesarkan Alif, bayi yang bukan anak kandungnya itu, seorang diri. Meski begitu, Denis tetap menganggap Alif buah hatinya.

    Waktu berlalu, Bu Guru Nabil hadir di kehidupan Alif kecil. Anak itu menyukai sang guru hingga kemudian meminta ayahnya menikahinya. Sayang, pada bagian ini, terlalu kentara bahwa penulis menyingkat momen penting antara gelapnya sosok Nabil di mata pembaca dengan kebingungan Denis mengutarkan maksud hati sang anak kepada guru itu. Dengan kata lain, tahu-tahu mereka sudah menikah.

    Tentu saja, setiap cerita adalah kebebasan penulis untuk membuatnya. Di akhir cerita, Denis yang lari dari Pak Aryo, kembali menemui ayahnya itu dan meminta maaf. Happy ending, begitulah cerpen ini ditulis. Dari segi pesan, cerpen ini cukup bagus. Hanya saja, soal penyajian, Tim FAM menyarankan agar penulis dapat lebih mengembangkannya lagi. Jangan berhenti menulis. Terus berlatih dan asah kemampuan bercerita Anda.

    Bisa kita lihat di paragraf pertama saja, ada kalimat yang terkesan membingungkan. Kalimat tersebut ditulis demikian:

    "Tanpa melepas hanger yang terpasang pada semua baju kemeja – kemeja dan bermerknya dan jeans favoritnya, Ia masukkan semuanya ke dalam box beroda kecil dengan merk GUCCI, brand ternama asal Itali itu."

    Bukankah kalimat tersebut terkesan boros dan agak membingungkan? Andai penulis lebih teliti, bisa dirapikan menjadi seperti ini:

    "Tanpa melepas hanger yang terpasang pada kemeja-kemeja bermerk dan jeans favoritnya, ia masukkan semuanya ke dalam box beroda kecil dengan merk GUCCI, brand ternama asal Itali itu."

    Setelah dirapikan, bukankah membacanya lebih nyaman? Di beberapa bagian cerpen ini juga ditemukan banyak kesalahan ketik dan kekurangrapian, mulai dari tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan EYD.

    Kata "satu persatu", "disekolah", "disana", "diatas", "disitu", "dimana", "dirumah", "dihati", "di tinggal", "tak satupun", dan "sedikitpun" mestinya ditulis: "satu per satu", "di sekolah", "di sana", "di atas", "di situ", "di mana", "di rumah", "di hati", "ditinggal" (gabung), "tak satu pun", dan "sedikit pun".

    Penulisan "di-" untuk keterangan tempat dan waktu itu wajib terpisah dari kata sesudahnya (contoh: di rumah, di mana, di sana, dll). Sedangkan "di-" untuk kata kerja pasif selalu digabung dengan kata sesudahnya (contoh: dipukul, didatangi, "dimakan", dll). Sementara, partikel "pun" akan selalu terpisah dengan kata sebelumnya kecuali dua belas kata berikut: "adapun", "ataupun", "biarpun", "begitupun", "kendatipun", "meskipun", "maupun", "walaupun", "sekalipun", "bagaimanapun", "sungguhpun", dan "kalaupun".

    Kata-kata yang bukan bahasa baku seperti "maafin", "udah", "gak", "ngelamunin", "banget", "pake", "emang", "pingin", semestinya diketik dengan huruf miring. Dalam beberapa penulisan, aturan ini tidak selalu wajib. Namun Tim FAM menyarankan Anda memakai aturan ini, sebab tulisan akan lebih rapi dengan dibedakannya antara bahasa baku, daerah, asing, dan bahasa gaul.

    Penggunaan huruf kapital yang tidak tepat sering kita jumpai pada kata "Ia", yang seharusnya ditulis "ia" ('i' huruf kecil), karena letaknya bukan di awal kalimat. Penulisan kata panggilan "pak", "nak", "mama", "papa", "ayah", "abang", atau "bang" yang benar diawali huruf kapital, kecuali bila di antara kata-kata tersebut difungsikan sebagai kata panggilan untuk obyek (terkait kepemilikan, seperti misalnya: "mamaku", "abangku", "ayahnya", "ibunya", dan lain sebagainya).

    Saran untuk penulis agar teruslah menulis. Imbangi aktivitas menulis dengan membaca. Dan ingat, penulis yang baik adalah penulis yang menjadi editor pertama bagi tulisannya. Koresi kembali tulisan Anda dengan teliti, berulang-ulang, untuk mengurangi kesalahan ketik. Bukankah jika tulisan baik serta disajikan dengan rapi, akan membuat pembaca merasa nyaman? Membuat pembaca senang, otomatis penulis pun juga senang karena tulisan Anda akan selalu ditunggu oleh mereka.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Naskah Asli Penulis Tanpa Editing]

    SISA CINTA UNTUK DENIS
    Eka Fitriani  (ID FAM3095U)

    Bagian tengah pada Lemari sliding bergaya minimalis, berpola bendera Amerika di kamarnya itu secepat kilat kosong. Tanpa melepas hanger yang terpasang pada semua baju kemeja – kemeja dan bermerknya dan jeans favoritnya, Ia masukkan semuanya ke dalam box beroda kecil dengan merk GUCCI, brand ternama asal Itali itu. Dengan mata yang berkaca – kaca, diseretnya box  itu keluar dari kamar. Tak ada yang bisa menghalangi niatnya termasuk orangtuanya untuk menikahi Fuji, gadis tercintanya yang tengah hamil.

    Langit mendung, petir bersahutan. Pertanda hujan akan turun. Dilihatnya pak Aryo berada tepat di depan pintu kamarnya.

    “Prakkkk!!! Prakkkk!!”

    Dengan sadis pak Aryo melayangkan tamparan demi tamparan ke pipi kiri dan kanan Denis, putra tunggal yang sangat ia sayangi itu.

    Tidak perlu menunggu lama, terlihat warna memerah di kedua pipi putih Denis. Dinikmatinya rasa panas bekas tamparan papanya itu. Ini pertama kalinya pak Aryo menamparnya. Dengan mata berkaca – kaca, Ia tatap wajah pak Aryo dengan nanar. Denis sama sekali tak menyangka papa yang selama ini dikenalnya penuh kasih sayang itu bisa berubah menjadi sadis.

    “Maafin Denis, Pa, niat Denis menikahi Fuji sudah bulat. Denis sayang Fuji, Pa...!” dengan wajah memelas, Denis menangis rintih, sambil berusaha meraih jemari tangan kanan pak Aryo.

    “Tapi bukan kamu ayah dari anak di kandungan gadis itu, nak..., bukan kamu yang seharusnya tanggungjawab. Bukan kamu, nak....! Dia bukan gadis yang baik buat kamu!” Tertunduk lemas pak Aryo menatap mata Denis yang penuh harap itu. Nampak kekecewaan mendalam pada guratan – guratan wajah pak Aryo.

    “Tapi, Denis mencintainya, Pa! Sama seperti Papa yang selalu mencintai mama, meski Mama udah gak ada.” Ungkap Denis berusaha meyakinkan pria berumur setengah abad itu.
    Tak ada yang mampu menghalangi kepergian Denis malam itu. Sementara pak Aryo, tetap saja duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Satu persatu bulir air matanya jatuh membasahi foto Ibu Delia, istri yang sangat Ia cintai yang telah terlebih dahulu pergi menghadap sang Khalik tepat lima tahun yang silam, ketika Denis, putra yang tega meninggalkannya kini masih duduk di bangku SMA kelas sepuluh.

    ***

    Hari berganti hari. Hari ini adalah bulan kelima usia pernikahan Denis dan Fuji. Begitu bahagianya pernikahan mereka. Ditambah lagi dengan hadirnya saeorang bayi berjenis kelamin laki – laki yang begitu lucu. Tangisnya menghiasi hari – hari mereka. Meskipun bukan buah cintanya sendiri, Denis tetap menganggap bayi itu seperti anak kandungnya sendiri.

    Ketika Denis hendak menggendong Alif, bayi mungil itu, tiba – tiba ia teringat masa – masa lima tahun yang silam, ketika Ia terpuruk karena ditinggal Ibunya menghadap sang Khalik. Bertepatan dengan itu, Denis mengenal Fuji, seorang siswa baru, disekolahnya, begitu sederhana, cerdas dan bersahaja. Sosoknya yang keibuan benar – benar membuat Denis jatuh cinta. Namun apa daya, Ia hanya memendam perasaannya di dalam hati. Ia menyadari dirinya tak pantas untuk gadis itu. Adit yang ketua kelas saat itu sudah terlebih dahulu menitipkan hatinya kepada Fuji, lebih pantas dibanding Denis yang hanyalah seorang anak basket dan ‘anak mami’, begitu sapaan teman satu sekolah kepadanya.

    “Bang, bang, ngelamunin apa sih ?” Sapa Fuji pagi itu membuyarkan lamunanku, benar – benar membuatku terkejut bukan kepalang.

    “Ah, gak ada istriku yang cantik, tiba – tiba abang teringat sama mama. Coba kalau ada mama sekarang ya. Pasti seneng banget mama lihat cucunya yang lucu ini.” ungkap Denis kepada istrinya itu sambil mencium bayi yang sedang tertidur pulas di pelukannya.

    “Tapi bang, itu kan bukan anak kita. Maafin aku ya bang, karena aku, abang mesti menanggung perbuatan lelaki bejat itu. seharusnya abang tidak menikahi aku, bang!”

    “Gak pa-pa, say. Ini semua abang lakuin karena cinta abang ke kamu itu lebih dari segalanya, termasuk nyawa abang sendiri. Abang sayang kamu, Fuji...!” Dengan tulusnya Denis berkata sambil mencium kening wanita yang sangat ia cintai itu.

    ***

    Tak ubah seperti kacang yang lupa kulitnya. Fuji mulai bertingkah ketika ia mulai mengenal Rama. Denis berhasil mencium ulah istrinya itu setelah pulang dari Bangkok untuk meninjau proyeknya disana satu bulan yang lalu.

    “Alif... Alif sayang..., ayah pulang, nak. Fuji..., abang pulang...” Sapa Denis dengan senyum sumringah menyapa kedua belahan hatinya itu. Tak sabar Ia mengecup kening istri tercinta dan putra kecilnya, rasa rindunya membuncah membentuk gunung himalaya kepada keluarga kecilnya itu.

    Cukup lama Denis menunggu di muka pintu. Tak satupun terdengar suara khas  Fuji, si nyonya rumah atau Alif, dengan rengekan yang biasa didengarnya setiap pulang dari kantor.

    Suasana hening, lengang, nampak tidak terlihat tanda – tanda penghuni rumah ada di dalamnya. Lalu dibukanya pintu rumah megah yang bergaya Itali itu. Tanpa membuka sepatunya, Denis langsung menjejakkan kakinya ke lantai dua. Ada dua kamar diatas sana. Pertama, Ia buka pintu kamar Alif. Guratan kerinduan yang nampak di wajah Denis berubah menjadi guratan penuh emosi ketika melihat bayi yang belum genap berumur satu tahun setengah itu sedang asyik bermain dengan dunianya sendiri. Ia coba menghapus sedikit  demi sedikit amarahnya untuk Fuji karena membiarkan Alif sendiri di baby boxnya dengan menggendong Alif, lalu menciumnya.

    Meski amarahnya terhapus sedikit, ternyata tak mampu menepis insting seorang suami kepada Fuji, istri yang Ia tinggalkan 1 bulan yang lalu. Seperti ada yang berbisik di telinganya untuk segera membuka kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar putranya itu.

    “Brakkkk!!”

    Ia dobrak pintu itu dengan keras. Terkejut bukan kepalang, ternyata disitu Ia mendapati istrinya sedang asyik di bermain cinta dengan pria lain.

    Hancur bukan kepalang hatinya saat itu. Air susu dibalas air tuba. Fuji membalas cintanya dengan sakit yang mendalam.

    “Dasar kau perempuan jalang, pergi kau dari rumahku, tinggalkan aku dan Alif! Pergi, kau!!” Diseretnya perempuan itu dengan sadis menuruni anak tangga. Tak peduli air mata yang keluar dari mata perempuan itu.

    “Ampun, Bang, ampun, maafin aku, Bang, jangan usir aku, jangan pisahkan aku sama Alif, ampun , Bang!” Suara serak terdengar begitu memekakkan telinga, memecah keheningan malam di rumah megah itu. Nasi telah menjadi bubur, cinta Denis untuk Fuji sejak malam itu lenyap bersama air hujan yang turun dengan deras.

    ***

    Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Alif sudah memasuki umurnya yang ke enam. Tugas Denis sebagai seorang single parent semakin berat. Ia harus membesarkan Alif seorang diri. Dan hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di SDIT Rabbani. Ia harus bangun pagi – pagi sekali untuk menyiapkan sarapan Alif, lalu mengantarnya ke sekolah, kemudian harus menjemputnya sebelum jam 10 pagi.

    “Sayang, kalau ayah belum jemput, Alif tetap disini ya, tunggu sampai ayah jemput. “ Bujuk Denis kepada putranya.

    “Iya, ayah, Alif akan tunggu sampai ayah jemput, tapi gak pake lama ya, yah.. !”

    “Okay, deh, putra ayah sayang, yang paling ganteng sedunia... hehehe !”

    ***

    Semburat mentari pagi terlihat jelas di balik tirai jendela. Tak kalah indah dengan lukisan di atas meja makan dimana Alif sedang asyik menikmati sepotong roti bakar chocolate strawbery buatan ayahnya, Denis.

    “Ayah, Ayah kenal gak sama Ibu guru Nabil?” tanya Alif kepada Denis di meja makan pagi itu sebelum berangkat sekolah.

    “Ya , Ayah kenal. Emang kenapa sama Ibu guru Nabil?” Tanya Denis kepada putranya itu.

    “Ibu guru Nabil cantik ya yah, baik dan soleha. “

    “Iya, Ibu guru Nabil cantik....” kembali Denis menanggapi celoteh putranya.

    “Ayah suka sama Ibu guru Nabil?”

    “Emang Alif suka ?“

    “Iya dong, Yah. Alif suka banget sama Ibu guru Nabil.”

    “Yah, boleh Alif minta sesuatu sama ayah?”

    “Boleh, apa itu sayang?”

    “Alif pingin ibu guru Nabil jadi ibunya Alif.”

    Tersedak Denis mendengar permintaan putranya itu. Semua gelas, juga piring berisi roti bakar buatannya diatas meja makan menjadi basah dan berubah warna menjadi hitam terkena semburan air kopi yang diminumnya. Sontak hal ini membuatnya kaget. Denis rasa, apa yang dikatakan putranya itu ada benarnya. Sudah waktunya ia mencari pengganti Fuji. Ia tak bisa berlama – lama menjadi single parent untuk Alif.

    ***

    Subuh yang indah. Denis membuka jendela kamarnya. Terlihat di ujung tiang tertinggi sana lukisan Sang pemilik alam yang begitu indah. Namun tak kalah indah dengan pemandangan yang dilihatnya. Dia Nabil, sedang khsuk membaca ayat suci Al-Qur’an, seorang wanita rupawan dan solehah yang 1 minggu lalu dinikahinya, dan kini menjadi pendamping hidupnya. Wanita yang bisa menerima Denis dan masa lalunya dengan apa adanya. Denis merasa menjadi pria yang paling beruntung di dunia karena dapat menikahi wanita itu.

    Kembali Denis teringat bayangan masa lalunya yang kelam bersama Fuji. Demi wanita itu, Ia lantas tega meninggalkan papanya sendiri dirumah. Beribu penyesalan membayangi Denis. Andai saja waktu itu Ia mau mendengarkan papanya dan menunggu lebih sabar lagi, mungkin sudah sedari dulu Ia dipertemukan dengan wanita solehah itu.

    Ada rindu terbesit dihati Denis. Sudah lebih dari dua tahun Ia meninggalkan Pak Aryo di rumah, sendiri tanpa siapa pun. Bahkan tanpa komunikasi sama sekali. Denis lantas berniat mengajak istrinya Nabil, untuk menjenguk papanya itu.

    ***

    Tak ada yang berubah sedikitpun dari rumah pak Aryo. Termasuk dua buah pohon kamboja dengan bunganya kecil - kecil berwarna merah yang menutupi kolam ikan di samping rumah. Gemerciknya air yang berasal dari waterfall mini diatas kolam itu menambah dinginnya hawa sejuk ketika memasuki pagar rumah pak Aryo. Di sanalah tempat yang biasa Denis habiskan waktu bersama Pak Aryo semenjak di tinggal pergi mamanya.

     Tak jauh dari kolam, terdapat sebuah ayunan kayu minimalis. Dilihatnya Pak Aryo yang sudah semakin menua duduk menikmati liukan – liukan ikan koi kesayangannya. Terlihat jelas lukisan kesepiannya tergambar di atas guratan – guratan wajah keriputnya.

    Sementara itu, kristal bening jatuh dari pelupuk mata Denis. Sesalnya meliputi ketika melihat pemandangan itu.

    “Papa......, Denis pulang, Pa....!” tanpa meminta balasan sapa pria itu, Denis langsung menjatuhkan tubuh tegapnya di kedua kaki Pak Aryo.

    “Kamu pulang, nak?” Papa rindu..., inikah, Fuji istrimu?”

    “Bukan, Pa. Ini bukan Fuji, dia Nabil. Istri Denis sekarang. Fuji itu masa lalu Denis, ceritanya panjang, maafin Denis, pa....!”

    ***

     Sesungguhnya tidak ada satupun orangtua di dunia ini yang ingin mencelakakan buah hatinya. Sayangilah mereka selayaknya mereka menyayangimu di sepanjang hayatnya, sebelum terlambat. (*)

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Sisa Cinta untuk Denis" Karya Eka Fitriani (FAMili Muara Enim, Sumsel) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top