• Info Terkini

    Saturday, January 3, 2015

    Ulasan Puisi "Bermain ke Masa Lalu" Karya Romdoni (FAMili Tangerang)

    Seorang manusia menyesal karena ia tumbuh menjadi dewasa. Tingkah laku "jahat" seolah menjadi keharusan demi membuatnya bertahan sebagai manusia. Lalu, atas dasar penyesalan—atau barangkali perasaan berdosa—ia berharap ingin kembali ke masa lalunya sebagai anak kecil yang putih dan indah. Itulah akar permasalahan yang penulis buat dalam puisi ini.

    Puisi ini menarik. Meski pemilihan diksinya sederhana, perpaduan yang penulis buat menjadikan puisinya manis dibaca. Sebuah puisi tidak lengkap jika tidak mempunyai pesan. Namun, menurut penilaian Tim FAM, penulis bekerja dengan baik dalam hal ini. Pesan tersampaikan. Permainan kata tidak sekadar bermain, melainkan juga menohok ulu hati kita yang kotor dan penuh dosa sebagai manusia dewasa.

    Adakah kita bersalah menjadi dewasa? Tentu tidak. Kedewasaan tidak bisa ditolak. Itu kesemestian. Yang bisa ditolak adalah bujukan nafsu untuk berbuat jahat. Lewat puisi ini, agaknya penulis "menyindir" siapa pun dari kita yang tidak mau introspeksi diri, dan justru menyalahkan takdir Tuhan bahwa segala amal buruk manusia hadir karena takdir. Padahal bukan. Amal buruk hadir tidak lain karena diri manusia itu sendiri.

    Namun ada beberapa kata yang perlu dikoreksi dalam puisi ini, di antaranya: "sebgai", "kemunafikkan", "individuakistik", "resiko", "nasehat", "apapun", dan "merekapun", yang mestinya ditulis: "sebagai", "kemunafikan", "individualistik", "risiko", "nasihat", "apa pun", dan "mereka pun". Sedangkan untuk kata-kata yang bukan berasal dari bahasa baku atau kata asing seperti "bubu", "gadget", dan "soundtrack" baiknya diketik dengan huruf miring (italic).

    Pesan untuk penulis, perdalam lagi kekuatan pesan di balik puisi Anda. Terus menulis dan menulis. Gali ide yang lebih luas dan cerahkan dunia lewat puisi.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [Berikut Karya Penulis Tanpa Editing Tim FAM Indonesia]

    BERMAIN KE MASA LALU
    Oleh Romdoni (Tangerang, FAM3085U)

    Sepekan ini aku lelah
    Terkuras rasanya pikiran dan tenaga
    Hingga aku lupa bahwa aku juga punya keluarga
    Aku juga alpa bahwa aku memiliki kehidupan sebgai manusia

    Aku lalu melamun
    Duduk sambil menikmati kopi melamun
    Ada tanya dalam dada
    Inikah kehidupanku yang sebenarnya?
    Atau aku hanya sedang berpura-pura?
    Berlaga gembira dengan apa yang ada
    Berakting bahagia dengan nuansa cinta
    Berdusta dengan aktivitas yang sejatinya tidak berguna
    Keangkuhan, kesombongan, dan kemunafikkan bersatu menjadi aku

    Inilah resiko manusia dewasa
    Penuh intrik dan konspirasi yang menjadi warna
    Skema hidup yang individuakistik, hedonistik, dan kadang materialistik
    Menjadi dewasa berarti menjadi hewan
    Bergumul di dunia binatang
    Penuh naluri setan yang memberangus rasa kekeluargaan
    Jangankan lawan, kawan pun kalau perlu aku tikam
    Ini tentang kepentingan, Bung!
    Siapa pun yang menghalangi jalan
    Maka dia akan diterjang

    Menjadi dewasa berarti menjadi pintar
    Aku katanya manusia terpelajar
    Setiap waktu berkutat dengan materi ajar
    Mengenakan almamter padahal aku ini barbar

    Menjadi dewasa berarti menjadi kanibal
    Memakan sesama sebagai wujud otakku yang binal
    Persetan dengan keadaan sekitar
    Yang terpenting eksistensi agar aku semakin tenar

    Menjadi dewasa menyebalkan
    Secara alami aku memiliki keinginan
    Hasrat seksual dan gelimang berlian
    Menjadi dewasa berarti tidak punya teman
    Karena semua orang sekarang adalah lawan
    Selain aku, semua harus dibinasakan
    Menjadi dewasa adalah penyiksaan

    Aku ingin kembali saja ke masa lalu
    Hijrah ke masa kecilku dulu
    Saat itu aku begitu dekat dengan ibu
    Yang merawatku sepanjang waktu
    Memberiku nasehat agar aku tidak jadi batu

    Aku ingin bermain ke tempo dulu
    Saat itu kegiatanku adalah mencari ikan di sawah dengan bubu
    Atau bermain petak umpet di malam Minggu
    Aku rindu permainan-permainan itu
    Yang kuyakini takkan pernah tersedia di gadget secanggih apapun itu

    Aku juga kangen lagu-lagu masa bocahku
    Lagu yang dilantunkan penyanyi-penyanyi cilik masa itu
    Lirik-liriknya penuh petuah dan pelajaran yang membantu
    Sekarang penyanyi-penyanyi cilik itu juga sudah dewasa sama denganku
    Aku yakin, merekapun ingin pulang lagi ke masa lalu

    Aku masih hafal lagu-lagu masa kecilku yang entah siapa penciptanya
    Yang jelas lagu itu ada dan kuhafal begitu saja
    Lagu itu kerap dijadikan soundtrack permainan klasikku
    Permainan yang murah dan tentu saja melatih nalar dan ototku

    Sewaktu kecil aku rasakan kedamaian
    Meskipun aku bertengkar, sejam kemudian kami sudah salaman
    Tidak seperti orang dewasa yang perselisihannya selalu lama
    Ah, aku menyesal menjadi dewasa

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi "Bermain ke Masa Lalu" Karya Romdoni (FAMili Tangerang) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top