• Info Terkini

    Tuesday, February 3, 2015

    Ichsan: “Berkat Menulis Memudahkan Dapat Pekerjaan”

    Ichsan, nama yang singkat, sehingga ia tidak memiliki nama pena atau nama panggilan kecuali panggilan; Teuku pada saat di rantau. Putra pertama dari pasangan Teuku Hasyem Badai dan Jurlina Razali yang berprofesi sebagai buruh dan ibu rumah tangga. Memiliki 1 adik cowok dan 1 adik cewek. Adik cowoknya, Akmal, saat ini mengambil jurusan Fotografi di Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan adik ceweknya Liza Wahyuni saat ini sekolah di SLTP Negeri 08 Lhokseumawe. 

    Sebagai anak pertama menjadikan Ichsan belajar ilmu kepemimpinan sejak dini. Dilahirkan pada kamis malam (malam Jum’at) pada 23 November 1989 di Tanjung Beuridi. Dengan alasan Aceh yang konflik di masa itu, alamat kelahiran Ichsan pada identitas KTP dan semuanya ditukar menjadi Blang Pulo dan menetap di Desa Blang Pulo. 

    Ia pernah menjalani Sekolah Dasar di SD Paloh 2 di Desa Blang Pulo. Sejak kelas 3 SD Ichsan berjualan keliling di sekolahnya. Dimulai saat jam istirahat, dari jualan kerupuk hingga permen karet “TopSan” saat itu dan juga menamatkan SMP di SLTP Negeri 08 Lhokseumawe. Profesinya sebagai pedagang keliling di sekolah disudahinya karena adiknya saat itu, Liza Wahyuni telah beranjak besar dari masa bayinya. 

    Ichsan pernah bercita-cita menjadi Perwira Polisi Militer, sehingga pilihan menetapkan hati untuk masuk Sekolah Menengah Atas dan jatuh di SMA dengan berharap dapat lulus di jurusan IPA. Namun, takdir berkehendak lain, Ichsan harus sekolah di SMK Negeri 4 Lhokseumawe dengan alasan tidak lulus di SMA Negeri 01 Lhokseumawe yang menjadi pilihannya. Sempat juga ditawarkan di SMA Negeri 02 Lhokseumawe dan SMA Negeri 05 Lhokseumawe, namun karena rating sekolah tersebut saat itu dianggap tidak favorit, Ichsan memilih untuk sekolah di SMK dangan alasan menyendiri. 

    Nasib baik ternyata berkehendak padanya. Mengapa tidak? Sejak kelas 1 SMK, Ichsan merasa mampu bersaing dengan baik bersama teman-teman sekelasnya, termasuk dengan gurunya. Pilihan mengambil jurusan Seni Rupa yang menjadi pilihan Ichsan sebagai siswa di SMK Negeri 04 Lhokseumawe ternyata juga membuahkan prestasi tinggi dari bakat terpendam seorang Ichsan. Di kelas 1, semester awal, Ichsan mendapat peringkat pertama di kelasnya. Ia tidak menyangka prestasi terbaik ini mampu ia dapatkan dengan alasan sekolah tersebut bukanlah sekolah harapannya. Di semester 2 kelas 1, Ichsan meraih juara 3 umum di sekolahnya. Hal ini tidak ia sangka-sangka hingga di kelas 2, Ichsan mampu meraih juara 1 umum bertahan hingga akhir sekolahnya. 

    Kemampuan Ichsan di bidang komunikasi, dirasa membuat banyak guru dekat dengannya sehingga Ichsan mulai mendapat tawaran untuk menjadi kandidat peserta lomba GPBN (Gelar Prestasi Bela Negara) atau yang biasa kini sering disebut LKS SMK se-Indonesia. Tawaran pertama adalah lomba pada bidang Seni Kriya (Rupa). Tawaran tersebut tidak ditolak bahkan Ichsan sangat senang meski ia merasa banyak pesaingnya di tingkat praktikum lebih hebat darinya. Dalam waktu bersamaan pula, seorang guru yang juga mengajarkan bahasa Jerman, almarhum Bapak Yuli Azhar di SMK Negeri 04 Lhokseumawe masa itu juga menawarkan untuk menjadi kandidat Peserta GPBN bidang lomba Bahasa Jerman. Ichsan mulai kebingungan dengan 2 tawaran tersebut yang ia rasa amat berat untuk menolak salah satu di antara keduanya. Selang 2 pekan pasca tawaran itu, ternyata tawaran tidak berhenti. Bapak Bactiar Chaniago salah satu guru Konseling yang juga pernah menjadi juara Menulis Tingkat Nasional dengan gelar Magisternya menawarkan Ichsan menjadi kandidat lomba KIS (Karya Ilmiah Siswa). Entah mengapa, Ichsan merasa lebih tertarik tawaran ini, padahal kemampuannya menulis dapat dikatakan Nol. Dalam waktu yang sama, Ichsan menemui Pak Bachtiar, meminta bimbingan menulis dan Pak Bachtiar memberikan harapan nyata bersedia mengajarinya menulis dengan ultimatum yang sepadan yakni Ichsan harus menolak tawaran di bidang seni rupa dan bahasa Jerman serta menetapkan pilihan menjadi kandidat peserta lomba karya tulis ilmiah. 

    Akhirnya pilihan pun jatuh pada menulis dan meninggalkan tawaran lomba bidang seni rupa dan bahasa Jerman. Ragam fasilitas yang diberikan saat itu mulai dari kamera dan laptop menjadikan Ichsan amat termotivasi menulis. Karya tulis pertamanya adalah “Pemanfaatan Limbah Kayu untuk Dijadikan Karya Seni”. Tema sederhana namun dirasa complicated dalam proses penulisannya karena Ichsan tidak pernah menulis sebelumnya. Hal tersebut tentu dirasa berat. Karya tulis ilmiah tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan pimpinan sekolah dan  alhasil, membuahkan keputusan dengan menjadikan Ichsan perwakilan sekolah SMK Negeri 04 Lhokseumawe untuk tulisannya dengan menjadi peserta lomba Karya ilmiah tingkat SMK se-kota Lhokseumawe-Aceh Utara. Bersaing dengan Fitri, siswa SMK Negeri 02 Lhokseumawe yang juga luar biasa dalam karya tulisnya. Keputusan juri yang tidak dapat diganggu gugat memberikan kesempatan untuk Ichsan maju ke tingkat berikutnya yakni tingkat provinsi. Dalam hal ini Fitri yang merupakan rival lomba tidak tereliminasi melainkan menjadi parner Ichsan dalam tulisannya untuk maju di tingkat provinsi yang kabar anginnya akan bersaing dengan SMK yang berasal dari Kota Takengon. Kali ini Ichsan membawa tema baru dengan penelitian yang lebih complicated yakni “Pemanfaatan Kayu Bakau (Rhezhopora) Menjadi Karya Seni”. Keputusan akhir yang menetapkan Ichsan menjadi perwakilan Aceh untuk lomba menulis Ilmiah selanjutnya di panggung Nasional membuat Ichsan sangat bangga. Hal ini membuat Ichsan makin senang membaca buku-buku layaknya menjadikan buku sebagai sarapan setiap harinya ditambah motivasi Pak Bachtiar yang semakin tinggi. 

    Uniknya, gemarnya Ichsan membaca buku menjadikan Ichsan sering membeli buku dari simpanan jajanannya bahkan beasiswanya pun dibelikan buku. Hal ini belum mendapat apresiasi dari Ibu karena dirasa buku tidak terlalu bermanfaat dari lainnya. Namun apa hendak dikata. Semua itu berbuah manis hingga saat ini dengan mampu di dalam menulis baik ilmiah maupun non ilmiah. Saat bersaing di tingkat Nasional, bertempat di gedung VEDC Malang, kali ini Ichsan tidak mendapat Prestasi 3 besar dengan alasan tulisan Ilmiah SMK lain mampu dipresentasikan dalam bahasa Inggris sedangkan Ichsan hanya mampu dalm 1 bahasa pada saat itu yakni bahasa Indonesia. Hal tersebut membuat Ichsan hanya mampu masuk dalam kategori 7 besar. Dengan wajah yang tak putus asa, Ichsan kembali ke Aceh dengan prestasi tertinggi akhir menjadi perwakilan Aceh tingkat SMK pada tahun 2007. 

    Setelah semua perlombaan selesai Ichsan mulai mengembalikan seluruh fasilitas penulisan yang diberikan dengan posisinya yang telah juga menyelesaikan studi di SMK Negeri 04 Lhokseumawe dan mulai melirik UPI Bandung jurusan Bahasa Inggris atau Komputer sebagai tempat studi selanjutnya. Keterbatasan kemampuan keuangan keluarganya hanya mampu mengantarkan Ichsan ke Padangpanjang, Sumatera Barat untuk kuliah di STSI (sekarang ISI). Meski demikian, sebelum Ichsan berangkat ke Padangpanjang, Ichsan pernah juga melakukan test CABA PK AD AK07 (Calon Bintara Prajurit Karir Angkatan Darat Angkatan 2007). Usia yang terlalu muda membuat Ichsan tidak lulus untuk seleksi administrasi awal sebagai calon prajurit karier Bintara TNI Angkatan Darat. Padahal, awalnya Ichsan berharap dapat lulus dengan baik dan  selanjutnya dapat terpilih untuk masuk sebagai Perwira Polisi Militer yang merupakan cita-cita sejak kecil. 

    Takdir mengubah kembali. Pilihan asemnya gula terulang sebagaimana saat SMK dahulu. Kuliah di tempat yang tak pernah menjadi harapan bahkan impian menjadi pasti kala takdir dan putusan Tuhan yang berkehendak. ISI Padangpanjang, dulunya STSI merupakan tempat hijrah berikutnya. Bermodalkan keberanian dan nekat, Ichsan memilih untuk  studi di sana. Aktivitas keseharian yang masih berkutat di bidang seni menjadikan Ichsan mulai merasa jenuh sehingga Ichsan mulai aktif mengikuti ragam organisasi di antaranya HMI, IKHRAM, dan PERS Mahasiswa. Kemampuan dalam menulis mulai dirasa hidup kembali setelah beberapa waktu vakum tak bernyawa oleh teduhnya rasa. Di PERS Mahasiswa Ichsan tak aktif dalam waktu yang lama, kisruh internal struktural menjadikan Ichsan mengundurkan diri dari posisinya di dalam Pers Mahasiswa Kampus ISI dengan Buletin “Pituluik/Pena”. Di lain tempat, Ichsan menjadikan HMI tempat asah otak selanjutnya mulai dari belajar membuat berita dengan modal membeli koran dan menyamakan flow isi berita tersebut hingga opini. Ichsan mulai membuat berita sejak menjadi ketua komisariat HMI Komisariat STSI Padangpanjang dan beberapa di antaranya dikirim ke temannya di Pers media lokal dan goal dimuat. Hal ini membuahkan semangat lanjutan. Beberapa judul baru yang lahir adalah “Beasiswa Tak Meningkatkan Prestasi”. Tidak hanya itu. Beberapa coretan puisi juga mulai dipelajari apalagi sejak menjadi anggota Komunitas Kuflet. Sanksi dikeluarkan dari komunitas Kuflet tak membuat Ichsan surut menulis bahkan karya tulis lanjutan yang dilahirkan lebih meningkat, mulai dari opini publik dan naskah (cerita). Sejak saat itu, Ichsan mulai menulis opini di media-media seperti Lintas Gayo, OkeZone dan terakhir penulis bayangan Kompas. 

    Ichsan merasa menulis menjadi bagian dari dirinya, hingga ada keinginan untuk membuat novel yang tak kunjung clear dengan judul “Kaktus di Bumi Gayo” yang diangkat dari kisah nyata pribadi seseorang. Novel tersebut tak kunjung selesai, terhentak dengan adanya ide baru lahir lagi yakni ingin membuat “Antologi puisi sang aktivis cinta (civitas insan cita dan takwa)”. Hingga saat ini pun baru beberapa coretan puisi yang ada dari 230 puisi yang direncanakan.

    Mengandalkan kemampuan menulis sebelum mengenal perusahaan

    Perjalanan panjang atas pilihan membawanya hijrah ke Jakarta—padahal di Sumatera Barat tepatnya di Kota Payakumbuh, Ichsan telah bekerja sebagai Guru SBK, PKN dan Pembina Asrama di salah satu pasantren tingkat SMP sejak 4 bulan sebelum Ichsan wisuda. Merupakan pilihan yang pahit ketika harus kehilangan sebuah pekerjaan yang disengaja. Dengan pendapat dan kenyamanan yang memadai, sebuah hal yang amat sangat irasional untuk memilih keluar dari pekerjaan dan memilih mencari kerja baru di Jakarta, dengan kata lain menganggur. Tahun 2013 awal merupakan putusan yang harus melipat lidah. Bermodalkan tabungan dan sedikit mimpi untuk berjuang di Jakarta. Pekerjaan yang tak kunjung hadir membuat diri stres. Biasanya raga ini telah terjaga pagi-pagi sekali dan dapat beraktivitas dengan baik. Kini di Jakarta, tak lagi demikian. Berbagai silaturahmi dilakukan untuk bertahan hidup dengan berharap ada yang dapat dikerjakan dan itu menghasilkan income. Singkat cerita, hingga pada suatu masa, silaturahmi mulai dibangun dengan pengurus ICMI Peduli Nasional. Beberapa di antaranya ada yang senior di organisasi yang sama pernah dilakoni. Bermodalkan keberanian, memberanikan diri bertanya, apa yang bisa dikerjakan dan menghasilkan. Suatu hari, salam silaturahmi balasan dari salah satu pengurus ICMI Peduli menawarkan pekerjaan dan sistem harian dan tidak kontinue dangan bayaran yang memuaskan. Pekerjaannya ialah menjadi penulis profesional (notumen) dalam sebuah pertemuan yang besar. Bermodalkan pengalaman menulis, pekerjaan tersebut diterima. Beberapa tulisan bersifat narasi dan beberapa bersifat pointer. Keduanya memiliki nilai tersendiri. Rasa percaya diri yang tinggi dengan pengalaman yang membuat semua dilakukan dengan keyakinan. Hingga pada ended-nya mendapat tawaran untuk menjadi tenaga administrasi di corporate. Pengalaman yang amat singkat membuka mata saya bahwa ternyata menulis di masa lalu, bermanfaat untuk hari ini dengan tidak menghilangkan substansi menulis tadi. Mungkin banyak orang bisa menulis, namun tidak semua orang ingin dan bersedia menulis. 

    Bagi teman-teman yang ingin bersilaturahim dengan Ichsan, dapat menghubunginya di Head Office Gedung Harco Elektronic Superstore, Lantai IV, Jl. Arteri Mangga Dua, Jakarta Pusat 10730. Ruang Busdev Extention 6308. Atau lewat email: ichsanteuku@yahoo.com, dan Contac Person: 08116683500. (*)

    Gabung dan like fanspage FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ichsan: “Berkat Menulis Memudahkan Dapat Pekerjaan” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top