Skip to main content

Sepucuk Surat Beku di Jendela

Judul: Sepucuk Surat Beku di Jendela
Penulis: Aliya Nurlela
Kategori: Cerpen
ISBN: 978-602-335-008-7
Terbit: Januari 2015
Tebal: 152 hal; 14 x 20 cm
Harga: Rp38.000,- (Harga belum termasuk Ongkir)
Surat lagi. Dia beringsut meraihnya, lalu membuka perlahan.

Sahabat, teringat di remang malam dalam bayang wajah rembulan. Sekilas namamu hadir di benak. Mengusik ketenangan, menyalakan ingatan. Kala kita masih bersama, asyik merenda kata. Di taman pustaka impian kita.

Namamu, wajahmu, adalah lentera. Penyejuk mata kala kegelapan membinasa. Derita dan nestapa tersibak bersama luka-luka. Serentet syair adalah nyanyian diam yang kaupahat. Menasbihkan pesan melenakan, membuai kalbu.

Bersamamu adalah harapan. Kepergianmu adalah kepiluan. Perjumpaan denganmu adalah impian.

Dapatkah kata kembali terenda di ujung pilu nestapa. Di sela duka derita. Di antara riak ketidakpastian. Aku mencarimu, di remang malam.

Dilipatnya kertas itu. Sejenak, ia menengok ke luar jendela, lalu menengadahkan muka ke langit. Ada separuh tubuh rembulan berselimut awan. Malam yang meremang dalam sedikit pancaran sinarnya. Disimpannya surat itu baik-baik, walau tak beranjak mengambil pena dan menuliskan balasannya.

***

“Sepucuk Surat Beku di Jendela” adalah sekumpulan cerpen yang puitis dan menarik. Pembaca akan bernostalgia layaknya di masa bersurat-suratan. Bahasa surat menjadi ciri khas penulis di beberapa bagian cerpennya. Enak dibaca dan bahasanya melenakan. Walau demikian, pembaca tidak hanya dibuai oleh permainan estetika, tetapi banyak pesan-pesan yang mengandung hikmah di setiap cerita itu. Bacalah dan buktikan.

~Muhammad Subhan, Penulis dan Ketum Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

[Pemesan buku ini lewat call centre FAM Publishing di 0812 5982 1511 atau via email: forumaktifmenulis@yahoo.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…