• Info Terkini

    Thursday, February 19, 2015

    Ulasan Cerpen "Eldi" Karya Sri Wahyuni (FAMili Bandung)

    Pengakuan Eldi pada Desti, kekasihnya, membuat gadis itu tak habis pikir. Jalinan cinta yang mereka bina selama ini, harus kandas hanya karena adanya wanita lain. Pengakuan ini akhirnya membuat mereka harus berpisah.

    Hal yang ganjil pada cerpen ini ada di bagian tengah. Ketika pengakuan Eldi sampai di puncaknya, ibarat kata sebuah gunung hendak meletus, tahu-tahu itu sekadar lelucon Eldi pada pacarnya. Anehnya, sesudah itu, Eldi malah benar-benar melakukan pengakuan adanya orang ketiga dalam kisah mereka. Ganjil, bukan? Eldi yang hendak mengakui kesalahan, memulai dengan candaan lebih dulu, untuk kemudian dalam jeda waktu yang singkat, mengungkap pengakuan sebenarnya.

    Dalam dunia nyata, kemungkinan seperti ini akan sulit terjadi, apalagi dalam cerpen ini Desti digambarkan masih bisa bercakap-cakap walau hatinya terluka. Kalau dibuat seperti ini, mungkin akan lebih natural jika Desti langsung pergi tanpa mau mendengar penjelasan Eldi, kecuali Desti orang yang terlalu sering disakiti dan dipermainkan, sehingga sudah terbiasa. Sedangkan jika percakapan itu tetap ada, akan butuh waktu setidaknya beberapa hari atau menit/jam bagi Eldi, yang tidak sesingkat itu, untuk mengubah candaan menuju pengakuan asli. Di cerpen ini, jeda waktu seakan tidak penting, hingga proses dari bercanda menuju serius terkesan agak dipaksakan.

    Beberapa koreksi ada di penulisan "disebelah", "didepan", "diluar", yang seharusnya ditulis "di sebelah", "di depan", dan "di luar". Kata-kata tidak baku seperti "udah", "gak", "ngerti", "pantes", "nyangka", dan sebagainya baiknya diketik dengan huruf miring. Sebenarnya tidak ada aturan khusus untuk ini. Hanya saja, FAM Indonesia memberlakukan aturan ini agar tulisan terlihat lebih rapi; antara kata-kata baku tidak campur aduk dengan yang bukan baku, atau antara kata-kata baku tidak campur aduk dengan kata-kata dari bahasa asing/daerah.

    Untuk tanda baca, masih ditemukan beberapa kesalahan, seperti di akhir kalimat dialog ysng berlanjut dengan kata sambung, penulis tidak meletakkan tanda koma di akhir dialog.

    Contoh yang benar seperti ini: "Aku datang ke rumahmu," kata Aldo.
    Bukan begini: "Aku datang ke rumahmu." Kata Aldo.

    Kalimat dialog seperti ini merupakan satu kesatuan, tidak bisa berdiri sendiri, kecuali jika dialog tersebut dilanjutkan dengan sebuah adegan. Contoh: "Aku mau pulang." Reisa beranjak dari tempat duduknya.

    Saran dari tim FAM untuk penulis adalah teruslah berlatih. Menulis bukan hanya sekadar menuang imanjinasi, tetapi juga kekuatan logika. Yang dimaksud logika bukan berarti kita tidak boleh menulis cerita fantasi yang tidak logis seperti Lord of The Ring. Logika di sini maksudnya agar jalinan cerita tetap berada pada jalur konsisten sesuai dengan cerita yang kita buat, serta logika umum yang terbentuk dalam pola pikir tiap manusia.

    Imbangi aktivitas menulis dengan membaca. Dengan terus berlatih, tulisan kita akan semakin baik dan berkembang.

    Salam santun, salam karya!

    Tim FAM Indonesia

    [BERIKUT NASKAH ASLI PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ELDI
    Karya: Sri Wahyuni (IDFAM2252M)

    “Aku masih sayang sama kamu, Des.” Ucap laki-laki yang duduk disebelah Desti, pelan sekali seperti berbisik.

    Desti hanya menunduk. Diam saja. Mungkin bingung harus berkata apa.

    “Aku tak ingin menjadi lelaki yang tak punya pendirian.” Lanjutnya dalam desahan napas yang panjang, mungkin berat baginya untuk mengatakan ini. “Aku akan segera menikahi wanita itu 2 minggu lagi, maafkan aku.”

    Desti hanya diam, seperti tidak merespon apa yang barusan dia dengarkan. Tapi, tentu saja hatinya tidak diam. Terasa ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya, hingga mendesak dadanya, jantungnya serasa berhenti sekejap. Lalu, matanya pun kini terasa panas dan berat menahan bendungan air yang seketika tumpah bersamaan dengan kedipan matanya. Dia menangis.

    Eldi hanya menunduk. Dia tahu keputusan ini akan sangat menyakitinya. 

    Dua jam kemudian, langit akan segera menyambut senja menguning. Namun, dua insan manusia itu masih saja duduk di bangku taman.

    “Maafkan aku, Des.” Lirih Eldi. Aku ingin sekali mengusap air matamu, aku merasa begitu berdosa telah membuatmu menangis. Aku jahat , ya? Ucapnya dalam hati sembari menyerahkan sapu tangan yang seolah-olah sudah dia persiapkan.

    Desti tidak meresponnya. Dia hanya mengusap pipinya dengan tangannya. “Aku butuh alasanmu!” tegas Desti.

    Eldi tersentak. Memang seharusnya dia segera mengatakan alasan itu tanpa Desti pinta.

    “Aku udah gak pantas untuk wanita sebaik kamu.”

    “Klasik.” Jawab Desti singkat,

    “Aku tahu. Aku salah. Aku udah berbuat kesalahan yang besar dalam hidup aku. Aku udah merusak diri aku sendiri. Aku udah bikin kecewa kamu, Des.”

    “Ngomong apa sih?” Tanya Desti heran.

    “Aku…..” selanya menatap Desti.

    “Aku udah kotor.”

    “Aku gak ngerti.”

    “Aku udah ngerusak diri aku sendiri dan orang lain. Masa depan aku hancur.”

    Desti menatapnya heran. Pikirannya udah negatif, tapi dia gak mau menyimpulkannya, karena dia pikir itu mustahil.

    “Kamu udah ngapain?”

    “Maafkan aku, Des.”

    “Kamu?”

    “Ya, aku udah pernah tidur sama wanita lain.”

    Desti tersentak. Dia membisu. Dia tidak menangis. Hanya tubuhnya serasa kaku. Dia tatap Eldi yang duduk dan menunduk didepannya.

    Sungguh, senja kala itu begitu indah. Tapi tidak bagi Desti.

    “Aku gak percaya.”

    “Maafkan aku, Des. Aku menyesal.”

    “Dengan wanita yang akan kamu nikahi inikah kamu melakukan perbuatan itu?” tanyanya seperti tanpa tenaga.

    Eldi menggeleng.

    “Hah? Lalu?”

    “Dengan wanita lain. Bukan dia.”

    “Kok bisa? Kamu dijebak? Kapan kejadian itu?”

    “Aku gak dijebak. Kejadiannya sudah lama.”

    “Kamu mabuk?”

    “Enggak. Aku gak pernah mabuk. Merokok saja gak pernah.”

    “Aku gak nyangka. Aku gak percaya.

    “Tapi itu kenyataannya. Maafkan aku. Aku udah kotor. Aku udah gak pantes lagi buat kamu.”

    “Aku kecewa.”

    “Aku tahu kamu akan kecewa dan benci sama aku.”

    “Kamu tega.”

    “Maafkan aku.”

    “Kamu berubah sekarang. Bukan Eldi yang kukenal dan kukagumi dulu.” Ucap Desti dengan isak tangis.

    “Iya.”

    “Lalu bagaimana dengan wanita yang akan kau nikahi itu?”

    “Dia adalah orang pertama yang menerima keadaanku.”

    “Baik sekali.”

    “Iya.”

    “Dia wanita baik. Jaga dia baik-baik. Jangan buat dia kecewa.”

    “Dia gak seperti yang kamu pikir.”

    “Maksudnya?”

    “Dia juga bekas orang lain.”

    “Apaa? Astagfirullah.” Badannya semakin lemas. Pengakuan Eldi begitu membuat dia gak percaya. Dia ingin segera pergi dari taman itu meninggalkan Eldi. Eldi yang sekarang bukan Eldi yang dia kenal dan kagumi dulu hingga beberapa jam sebelum pengakuan itu.

    Desti berdiri. Dia melangkah dan tangannya segera Eldi pegang. Lalu dia tangkis.

    “Kamu benci sama aku?”

    “Aku gak tahu.”

    “Maafkan aku, Des.”

    “Iya.”

    “Kamu benar-benar membenciku?”

    “Aku gak tahu. Hati dan pikiranku biar Allah yang urus. Dia Yang Maha Membolak-balikan hati.” Ucap Desti sambil melangkag pergi.

    Lagi-lagi tangannya ditarik oleh Eldi.

    “Tunggu, Sayang.”

    “Apa sih?” Baru kali ini kata ‘sayang’ dari mulut Eldi begitu menjijikan baginya.

    “Kamu kaget?” Tanya Eldi sambil senyum.

    “Kamu gila! Pake nanya!” Ketus Desti.

    “Hehehe. Gimana akting aku bagus, gak?”

    “Apa?” tatapnya heran.

    “Aku hanya akting, Sayang. I love you.”

    “Maksudnya?”

    “Iya, Sayangku, Destiku, ini hanya akting.” Tegasnya dengan mimik muka puas karena aktingnya telah berhasil.

    Desti bingung. Dia senang ini hanya akting. Dia tersenyum. Namun sedikit kesal.

    Eldi tertawa.

    “Iiiihhhh, Eldiiiiii!” Teriak Desti sambil memukul-mukul tubuh Eldi.

    “Ampuun..ampuun..hahahaha.”

    “Kamu ya? Gila! Jahat! Sebeeellll!.”

    “Hahaha. I Love You.”

    “Love you, too.”

    Mereka pun berpelukan. Mereka saling tatap. Raut muka wajah Eldi tiba-tiba berubah sedih.

    “Kenapa?”

    “Tapi…..”

    “Ada apa lagi? Semua akan baik-baik saja, kan?”

    “Aku gak bisa bareng kamu lagi.”

    “Maksudnya?”

    “Aku udah punya pacar.”

    “Akting lagi? Hahaha. Ih!”

    “Enggak.” Jawabnya serius.

    Desti terdiam. Wajahnya berubah kusut.

    “Tadinya pengakuan tadi hanya ingin membuat kamu benci sama aku. Biar kamu ninggalin aku.”

    “Sudah lama dekat sama dia?”

    “Sudah 1,5 tahun yang lalu”

    “Hah? Berarti?”

    “Iya. Sejak kita bersepakat buat menjauh dulu.”

    “Menjauh karena kamu ingin sendiri. Ingin fokus sama ujian kamu.” Tambah Desti ketus.

    “Aku tahu, aku salah udah bermain api. Kini, aku yang terbakar.”

    “Selama itu. Berarti akan susah kamu ninggalin pacar kamu.”

    “Kamu benar.”

    “Benar-benar gak bisa ninggalin? Walau demi aku?” tersimpan harapan besar bagi Desti akan menjadi wanita yang terpilih dibandingkan pacarnya.

    “Maaf, aku gak bisa ninggalin dia.”

    “Alasannya?”

    “Aku gak tega.”

    “Tapi sama aku tega.”

    “Maafkan aku.”

    “Aku pikir kamu bakal datang lagi dengan kabar nilai ujianmu yang bagus, lalu akan bareng-bareng aku lagi.”

    “Maafkan aku. Aku salah.”

    “Baiklah. Makasih atas kejujurannya. Aku akan mundur. Memang sejak dulu juga aku terus mengalah. Sudah lebih dari tiga kali aku hanya menjadi nomor dua dalam hati kamu. Kini, aku sadar, untuk apa aku bertahan dan mengabaikan laki-laki diluar sana yang benar-benar serius sama aku demi orang sepertimu.”

    “Kamu benci ya sama aku?”

    “Aku akan hapus perasaanku sama kamu.”

    “Emang bisa?”

    “Bukan enggak bisa. Tapi mungkin pelan-pelan.

    “Maafkan aku.”

    “Iya.”

    “Maaf.”

    “Aku bosan mendengarnya. Jangan katakan itu lagi. Aku akan pergi.”

    Desti pun beranjak cepat dari taman itu. Eldi tidak mencegahnya.

    Desti sadar bahwa sesuatu yang ada didunia ini akan berubah, cepat atau lambat. Seperti Eldi yang dulu dia kagumi. Kini, entah dia membenci atau tidak. Tapi Desti akan menghapus perasaan dan harapan pada lelaki yang manis itu. (*)

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen "Eldi" Karya Sri Wahyuni (FAMili Bandung) Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top