Skip to main content

Wah, Lombanya Sudah Ditutup Ya? Aku Kecewa Bingitz!

Kecewa
“Wah, lombanya sudah ditutup ya?” “Aduh, kecewaaa sekali, telat”. “Apa masih bisa ngirim naskah?” “Diperpanjang dong Min lombanya, saya baru tahu”. “Please, saya sudah kirim satu jam sebelum deadline, tolong chek ya?”

Itulah di antara keluhan peserta Sayembara Cipta Puisi Tingkat Nasional Bertema “Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia” yang digelar FAM Indonesia sejak 2 bulan belakangan dan resmi ditutup Jumat, 20 Februari 2015, pukul 20.00 WIB, malam. Keluhan lainnya sangat banyak. Padahal, sayembara ini sudah jauh-jauh hari digelar dan pesertanya di-update setiap hari. Jumlah naskah lebih 1.500-an yang sampai hari ini memasuki tahap seleksi.

Budaya sebagian masyarakat Indonesia, dan telah menjadi rahasia umum, adalah “suka melalaikan waktu dan mengabaikan kesempatan”. Ujung-ujungnya berbuah kekecewaan. Dan, penyesalan selalu datang terlambat.

Saran FAM Indonesia, untuk setiap lomba yang diikuti, di mana pun dan oleh siapa pun yang mengadakan, biasakan mengirim naskah di awal atau di pertengahan jalannya lomba. Jangan membiasakan mengirim naskah di ujung deadline, karena selain rawan, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Misal, ketika Anda berniat mengirim naskah 2 jam menjelang deadline, tiba-tiba listrik mati di rumah Anda, dan akses internet terputus, sementara listrik baru hidup 4 jam kemudian, tentu Anda akan kecewa. Atau juga, email Anda mengalami gangguan, akses internet sulit—belum lagi, karena buru-buru, mungkin saja Anda mengirimkan email tanpa lampiran naskah!

Tidak banyak panitia lomba membuat update peserta dan judul naskah yang masuk serta diposting di publik lewat jejaring sosial. FAM Indonesia hanya kekecualian yang sedikit di antara penyelenggara lomba yang meng-update peserta dan judul naskah yang masuk. Tentu, pekerjaan ini menambah tenaga ekstra dan membutuhkan waktu. Dengan mengirim naskah di awal atau pertengahan lomba, Anda ikut membantu penyelenggara lomba meringankan tugasnya sehingga proses lomba dapat berjalan lancar dan target waktu yang ditetapkan tercapai.

Semoga, di kesempatan lainnya, FAMili memanfaatkan kesempatan dan waktu yang panjang untuk menulis, editing, dan mengirim naskah lomba tersebut sebelum masa penerimaan naskah berakhir. Dengan mengirim naskah lebih awal, Anda akan dapat bersantai, atau menyiapkan naskah baru untuk lomba lainnya. Jika mengirim naskah di akhir, bersiap-siaplah untuk panik, cemas, terburu-buru, dan mungkin juga akan kehilangan konsentrasi.

Terus berkarya. Salam santun, salam aktif!

FAM INDONESIA

Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…