• Info Terkini

    Friday, February 20, 2015

    Yudha Prima: “Saya Lelah Berunjuk Rasa, Lalu Saya Menulis”

    Yudha Prima
    Pengantar FAM Indonesia:
    Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, pada Rabu (18/02/2015), mengadakan Seminar Online Proses Kreatif dan Peluncuran Buku “Anomali” karya Yudha Prima yang sekaligus menjadi nara sumber. Berikut kesimpulan seminar tersebut.

    MODERATOR:Assalamualaikum, FAMili. Apa kabar Anda malam ini? Semoga sehat dan selalu semangat menghasilkan karya. Selamat datang di “rumah inspiratif” FAM Indonesia.

    Malam ini FAM Indonesia menghadirkan tamu istimewa di grup FAM, yaitu Mas Yudha Prima (Surabaya). Beliau seorang penulis, mentor, Koordinator FAM Cabang Surabaya dan penulis buku cerpen “Anomali”. Buku ini diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia, dan malam ini secara resmi diluncurkan di grup FAM Indonesia.

    Ini kesempatan bagi Anda, khususnya pemula (baik anggota resmi FAM Indonesia maupun anggota grup ini) yang ingin mengetahui kiat-kiat sukses Mas Yudha Prima menulis buku cerpennya. Anda akan menyimak, bertanya-jawab dengan Mas Yudha khusus tentang proses kreatifnya melahir buku kumcer “Anomali” dan karya-karya lainnya. Anda bisa memungut kiat-kiat tersebut dan mana tahu dapat Anda aplikasikan di dalam proses kreatif menulis Anda. Untuk sukses, kita perlu belajar kepada siapa saja.

    Nah, karena ini Diskusi (Online), untuk ketertiban acara, diharapkan kepada seluruh peserta diskusi untuk memerhatikan beberapa hal teknis sebagai berikut:

    1. Diskusi akan dimulai pada pukul 20.00 WIB di grup “Forum Aishiteru Menulis” yang ditandai dengan postingan “Selamat Datang Peserta Diskusi Online”.

    2. Diskusi dipandu Moderator “Aishiteru Menulis” (Admin FAM Indonesia) yang diawali dengan menyapa nara sumber dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

    3. Setelah moderator “Aishiteru Menulis” selesai mengajukan pertanyaan pembuka kepada narasumber, moderator memberikan kesempatan kepada peserta diskusi untuk mengajukan pertanyaan.

    4. Peserta diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan pendek dan tidak keluar dari konteks/tema diskusi.

    5. Pertanyaan yang diajukan peserta ditulis di kolom komentar (singkat, padat dan tetap memerhatikan EYD).

    6. Diskusi akan berlangsung selama 2 (dua) jam, berakhir pada pukul 22.00 WIB. Admin FAM akan menghapus hasil diskusi 15 menit kemudian dan diposting di website FAM Indonesia.

    7. Untuk ketertiban diskusi, diharapkan kepada peserta tidak mengajukan pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh peserta lainnya.

    Demikian peraturan diskusi online ini dibuat untuk dimaklumi bersama.
    Salam aktif!

    FAM INDONESIA

    Profil Yudha Prima:
    Yudha Hari Wardhana atau lebih dikenal dengan nama facebook Yudha Prima, lahir di Surabaya 15 Februari 1982. Kemudian menjalani hidup berpindah-pindah, mulai di Cepu sejak balita hingga kelas 4 SD, kemudian lanjut ke Madiun hingga lulus SMA, hingga akhirnya kembali ke Surabaya hingga saat ini.

    Seperti hamba Allah lainnya, ia mengaku dilahirkan untuk menjalani proses pendewasaan hingga bisa diharapkan dapat menemukan arti hidup. Sebagai upaya menemukan arti hidup itulah, ia memilih dunia penulisan dan juga pendidikan sebagai lahan perjuanganya.

    “Melalui kedua dunia ini, saya berharap dapat menjadikan hidup yang hanya sekali ini bisa maslahat untuk diri sendiri dan umat manusia,” ujarnya.

    Yudha Prima bergabung di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia sejak Ramadhan 2012 dengan nomor keanggotaan ID FAM 948 U.

    Tulisan Yang Pernah Dipublikasikan:

    Buku cerpen tunggal terbarunya berjudul “Anomali”

    Sejumlah Artikel:
    - Partisipasi Rakyat Pasca Kontrak Sosial (dimuat di Surabaya Post)
    - Terorisme Masih Sekadar Amunisi Politik (Dimuat di rubrik Prokon Aktivis Jawa Pos)
    - Jangan Khianati Rakyat NAD (Dimuat di rubrik Prokon Aktivis Jawa Pos)
    - Mengawasi Trisula Pemberantas Korupsi (Dimuat di rubrik Prokon Aktivis Jawa Pos)

    Buku Cerpen Bersama:
    - Peradilan Sakaratul Maut (Dimuat dalam Buku “Lerak”, Antologi Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi Forum Aktif Menulis Indonesia terbitan FAM Publishing).
    - Pesan Cinta dari Korban Penggusuran (Dimuat dalam Buku Antologi Cerpen Cinta Bernilai Dakwah “Untuk Sumarni Dari Suparman”, terbitan FAM Publishing).

    Yudha Prima: Assalamu'alaikum. Maaf baru turun dari kelas nih.

    Aishiteru Menulis (Moderator): Waalaikumussalam, Mas Yudha Prima. Silakan ikuti sejumlah pertanyaan dari admin sebentar lagi.

    Yudha Prima: Bismillah. Siap.

    Aishiteru Menulis: Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, malam ini, pengurus pusat FAM Indonesia, dengan resmi, meluncurkan buku cerpen “Anomali” karya Yudha Prima.

    Aishiteru Menulis: Oke, Mas Yudha. Apa kabar Anda malam ini?

    Yudha Prima: Alhamdulillah sehat wal afiat.

    Aishiteru Menulis: Alhamdulillah. Pertanyaan pembuka, apa yang memotivasi Anda menulis?

    Yudha Prima: Awalnya, saya menulis sekadar untuk menyuarakan pemikiran saya terhadap isu-isu yang berkembang. Ya kurang lebih sama dengan saat saya berunjuk rasa di jalanan, hanya beda media saja.

    Aishiteru Menulis: Oh begitu. Tentu, banyak hambatan yang Anda hadapi ketika di awal-awal proses menulis. Bagaimana kiat Anda mengatasinya?

    Yudha Prima: Namun kemudian saya mencoba berpikir untuk menjadikan menulis sebagai sesuatu yang menghasilkan namun tetap tidak mengorbankan karakter saya sebagai orang yang berusaha berpikir kritis dalam menghadapi realita yang ada. Hambatan yang utama sebenarnya adalah ketidakpercayaan diri. Dulu saya menulis ya sekadar untuk jadi arsip pribadi saja.

    Aishiteru Menulis: Seperti dialami banyak penulis pemula, "rasa tidak percaya diri" di awal menulis. Bagaimana cara Anda membangun kepercayaan diri itu?

    Yudha Prima: Cara mengatasinya ya dengan terus berusaha mempublikasikan tulisan-tulisan saya dengan memanfaatkan berbagai media yang ada.

    Aishiteru Menulis: Sejak kapan Anda menulis di media?

    Yudha Prima: Sejak mahasiswa. Saat itu sebuah surat kabar nasional mempunyai rubrik artikel opini khusus mahasiswa aktivis. alhamdulillah ada 4 tulisan saya yg sempat dimuat di sana. Namun sejak saya berubah haluan ke fiksi, saya belum beruntung untuk dimuat di surat kabar.

    Aishiteru Menulis: Oke, selain tidak percaya diri tadi, apa hambatan lainnya yang Anda hadapi?

    Yudha Prima: Dulu kendala utama adalah teknis. saat itu saya tidak mempunyai komputer sendiri. Jadinya setiap saya mulai menulis dalam bentuk ketikan dan mengirimkan ke media ya harus bolak-balik ke warnet dekat rumah.

    Aishiteru Menulis: Ada yang lain?

    Yudha Prima: Saya juga sempat putus asa saat karya-karya fiksi saya gagal tembus koran, bahkan saya sempat menyerah dan mundur dari kepenulisan hingga beberapa tahun. Hingga akhirnya saya merasa rindu menulis lagi dan berkenalan dengan FAM Indonesia lewat internet.

    Aishiteru Menulis: Apakah Anda menemukan kebahagiaan dengan menulis dan jadi penulis? Apa bentuk kebahagiaan itu?

    Yudha Prima: Bisa dibilang, FAM Indonesia inilah yang menghidupkan lagi semangat saya untuk menulis. Lebih dari itu, saya kini tidak lagi sekadar ingin menjadi penulis. Tapi juga penyebar virus senang menulis.

    Aishiteru Menulis: Dahsyat. "Penyebar Virus" menulis. Semoga semua orang tertular, tapi tentunya menjadi "virus" yang postif. Oke, terkait buku Anomali, apa yang melatarbelakangi Anda menulis buku itu?

    Yudha Prima: Saya menulis buku “Anomali” ini adalah sebagai bentuk keprihatinan saya terhadap realita-realita yang berkembang.

    Aishiteru Menulis: Bisa Anda sebutkan realita itu, contoh di antaranya? Apakah terkait anomali negeri ini?

    Yudha Prima: Seperti misalnya dalam cerpen “Setengah Tiang”. “Setengah Tiang” adalah pertanda duka cita. Saya merasa negeri ini sedang atau bahkan terus dilanda suasana duka yang sebenarnya adalah buah dari berbagai penyimpangan yang dilakukan, seperti perusakan hutan, pengerukan kekayaan alam Indonesia tapi tidak memberi manfaat untuk rakyatnya sendiri, serta berbagai bentuk pemiskinan. Lalu cerpen “Malaikat Juga Bingung, Tiara”. Cerpen ini adalah sentilan saya terhadap kecurangan-kecurangan di dunia pendidikan, khususnya Unas. Cerpen “Politisi Bukan Merpati” adalah sentilan saya terhadap kaum politisi yang nyaris selalu ingkar janji. Sedangkan Merpati tak pernah ingkar janji (kata Paramitha Rusady). Hehehe.

    Aishiteru Menulis: Ada berapa cerpen di buku itu, dan berapa lama proses Anda menulisnya?

    Yudha Prima: Ada 13 cerpen. Prosesnya sangat lama, seingat saya 3 tahun, termasuk masa vakum menulis sekitar 1,5 tahun.

    Aishiteru Menulis: OKE, BAGI PESERTA DISKUSI, YANG INGIN MENGAJUKAN PERTANYAAN SEPUTAR PROSES KREATIF KEPADA MAS YUDHA PRIMA ADMIN PERSILAKAN.

    Ryan P. Putra: Assalamualaikum Pak Yudha, saya Ryan P. Putra dari Surabaya. Mau nanya ini Pak. Seperti di buku “Anomali” tersebut, apakah tidak ada hal yang lain kecuali hal yang menyimpang untuk Anda tulis? Mohon dijelaskan ya Pak.

    Yudha Prima: Ryan P. Putra, ya begitulah. Saya ini bisa dibilang kurang bisa romantis dalam menulis. Hehe. Mungkin karena saya masih dipengaruhi jiwa-jiwa saat saya masih menjadi mahasiswa dulu. Jadi setiap saya menemukan ketidaknormalam sekecil apa pun, saya mencoba menuliskannya, entah itu dalam bentuk opini ataupun fiksi.

    Yudha Prima: Seperti saat saya naik angkot yang berjalan sangat lambat dan pernah mengalami kecopetan dua kali, saya jadikan inspirasi cerita.

    Ryan P. Putra: Jadi, apakah Anda cinta sekali dengan hal-hal yang menyimpang? Sehingga hal tersebut dapat Anda tulis?

    Yudha Prima: Hehe. Saya tentu mengharapkan situasi yang sangat normal. Tanpa penyimpangan. Tapi percayalah, selama kita hidup di dunia, penyimpangan PASTI ada. Itu sudah Sunnatullah. Ada baik pasti ada jelek. Dan saya mencoba menyikapi yang jelek-jelek itu secara positif yaitu dengan menulis.

    Aishiteru Menulis: Mas Yudha, dari sejumlah cerpen "Anomali" itu, pesan apa yang ingin Anda sampaikan ke pembaca?

    Yudha Prima: Inti pesannya adalah, tetaplah berusaha menjadi manusia waras di saat dunia yang semakin tidak waras. jangan ragu menjadi orang waras meski cuma sedikit.

    Ryan P. Putra: Saya ini kan tahu kalau Pak Yudha adalah guru matematika di salah satu LBB di Surabaya. Lantas mengapa Anda memilih menulis fiksi maupun nonfiksi?

    Yudha Prima: Ya karena saya berpikir salah satu cara untuk tetap bisa peduli terhadap kondisi bangsa ini adalah dengan menulis. Saya sudah lelah unjuk rasa, sudah lelah berdebat lisan. Jadi ya sekarang saya menulis. dunia pendidikan matematika tetap saya tekuni.

    Ryan P. Putra: Apakah Anda berpikiran dan berharap bahwa dengan menulis dapat merubah Indonesia menjadi lebih waras lagi?

    Yudha Prima: Ryan P. Putra: Saya tidak berpikir dan tidak berharap. Saya cuma ingin melakukan yang bisa saya lakukan. Saya cuma tidak ingin diam

    Aishiteru Menulis: Mas Yudha Prima, Anda seorang tenaga pengajar yang sibuk. Bagaimana kiat Anda membagi waktu antara kesibukan dan menulis?

    Yudha Prima: Saya mengajar dari sore sampai malam. Saat pagi sampai siang itulah saya gunakan untuk mencari inspirasi ataupun mulai menulis. Ya pastinya tidak selalu langsung saya ketik. Sering saya corat-coret barang beberapa kalimat di kertas. Saya ada tips, salah satu yang sering membuat orang phobia menulis adalah ketidakmampuan merangkai kata-kata indah. Buat saya, sastra memang seni, dan seni itu indah. Tapi keindahan sebuah tulisan tidak selalu disajikan dalam gaya bahasanya. Tetapi yang lebih penting adalah pesan-pesannya. Soal pemilihan kata, itu bisa dikembangkan dengan banyak membaca.

    Ummu Andini: Saya juga guru, ada kiat untuk saya agar bisa menulis tapi tetap ngajar?

    Yudha Prima: Mbak adalah pelaku penidikan, dan saya tahu persis dunia pendidikan kita sarat masalah. Mbak Ummu bisa mengekspresikan masalah itu dalam bentuk tulisan. Tidak harus sekali jadi. Setidaknya sehari satu halaman dulu. Apalagi seorang guru pasti selalu siap dengan kertas dan pena. Manfaatkan setiap menit yang terluang untuk membuat coretan.

    Ummu Andini: Itu masalah saya mas, belum bisa membagi waktu. Akan sy coba karena mengenal FAM Indonesia saya termotivasi mulai lagi menulis. Makasih.

    Sapu Lidi Bertopi:
    Apakah Mas Yudha menganut aliran kepenulisan tertentu?

    Yudha Prima: Kebetulan saya termasuk yang tidak menganut aliran bakat. Buat saya seseorang terlahir dalam kondisi yang sama, hanya bisa menangis. 1 + 1 saja pasti dia tidak mampu menjawab. Selanjutnya ya tergantung pada proses pengasahan sepanjang hidupnya. Jadi awali dengan niat ikhlas dan berproseslah tanpa henti dan tetap rendah hati. Salah satu cara membangun kepercayaan diri menulis adalah dengan banyak berinteraksi dengan penulis-penulis hebat yang tidak pernah menutup diri untuk berbagi inspirasi. Dari penulis-penulis hebat itulah kita bisa tahu bahwa mereka menjadi hebat itu tidaklah instan, tidak bawaan dari lahir. Jadi siapa pun bisa menjadi penulis hebat. Satu lagi yg penting agar percaya dri dalam menulis adalah tidak terperangkap dalam pemikiran sempit, seperti tulisan harus indah gaya bahasanya, tulisan harus punya nilai jual.

    Sapu Lidi Bertopi:
    Mantap,oh ya satu lagi, kira-kira inspirasi paling berkesan buat Mas Yudha sendiri apa ya?

    Yudha Prima: Salah satu semboyan saya adalah sebaris kalimat dalam puisinya Chairil Anwar; Hidup Sekali Berarti, Sudah Itu Mati.

    Penerbit Fam: Seorang penulis cerpen, pasti rajin membaca cerpen. Kira-kira berapa cerpen yang dibaca Mas Yudha dalam seminggu?

    Yudha Prima: Dalam seminggu biasanya saya membaca 4 cerpen. Biasanya saya cari di internet atau surat kabar. Tapi jujur saya ini masih pilih-pilih. Saya suka membaca cerpen yang tidak terlalu berat untuk dibaca tapi ada pesan moral yang bisa saya ambil.

    Sapu Lidi Bertopi:
    Kalau boleh tahu kira-kira selain cerpen Mas Yudha pernah punya karya lain tidak, atau lebih khususnya puisi?

    Yudha Prima: Puisi jarang sih. Saya seringnya cerpen dan artikel opini (esai).

    Sapu Lidi Bertopi: Owh nah itu yang menarik. Kira-kira hal apa saja yang membuat Mas Yudha sebegitu kesemsem atau cintanya sama cerpen dan artikel opini?

    Yudha Prima: Saya mencintai hidup saya, dan saya ingin menjadikan cerpen dan artikel saya sebagai sarana untuk membuktikan bahwa hidup saya punya makna.

    Shon Sweet's: Apa tantangan terbesar yang jadi permasalahan seorang penulis?

    Yudha Prima:
    Ttantangan terbesar penulis adalah malas dan tidak percaya diri. Biasanya penulis akan mulai terserang dua penyakit itu jika merasa tulisannya tidak menghasilkan materi alias uang.

    Shon Sweet's:
    Untuk menyingkapi berbagai fenomena sebagaimana yang Anda katakan apa hal yang paling mendasar yang harus dilakukan sesuai pengalaman Anda sampai sekarang?

    Yudha Prima:
    Yang harus dilakukan pertama adalah menumbuhkan kepekaan. Pedulilah terhadap lingkungan Anda jika Anda ingin dipedulikan oleh seisi lingkungan.

    Tiara Novita:
    Kak Yudha, saya Tiara Novita asal Lampung ingin bertanya, menurut Kak Yudha apa langkah awal yang harus diambil saat akan memulai untuk menulis? Apakah membuat cerita terlebih dahulu baru menentukan judul atau bahkan sebaliknya? Yang mana baiknya Kak? Mohon dijelaskan.

    Yudha Prima:
    Langkah awal yang harus dilakukan adalah membaca Bismillah. Setelah itu tuliskan apa pun yang terlintas di pikiran Anda. Saya lebih sering membuat judul belakangan setelah tulisannya jadi.

    Yunie Pawinnanda Setyo:
    Saya Nanda dari Surabaya. Ada yang ingin saya tanyakan ke Mas Yudha Prima, adakah obat patah hati bagi penulis yang karyanya sering mendapat penolakan?

    Yudha Prima: Obat patah hati seperti itu adalah mengubah pola pikir kita. Bahwa tulisan yang ditolak belum pasti jelek. Media cetak (koran, majalah, dll) bukan satu-satunya media untuk mempublikasikan tulisan kita.

    Adin Neferu:
    Apakah sebelum menulis/dalam proses penulisan buku ini Mas Yudha Prima sering mendapatkan kritikan pedas/cemooh/dsb yang mematahkan semangat menulis?

    Yudha Prima:
    Sering, dan itu sudah resiko. Jadikan saja itu sebagai pemacu semangat kita untuk menjadi lebih baik.

    Shon Sweet's:
    Bang Yudha, kembali pada pokok diskusi “Anomali” kumcer Anda, pesan apa saja yang ingin disampaikan lewat kumcer tersebut? Dan untuk siapa buku ini khususnya ditujukan?

    Yudha Prima:
    Secara umum, pesan yang ingin saya sampaikan adalah tetaplah berusaha menjadi manusia yang istiqamah di jalan lurus meski seisi dunia semakin tidak waras, dan berusahalah untuk peduli. Buku ini saya tujukan untuk siapa pun yang masih mempunyai kepekaan terhadap kondisi negeri ini.

    Aishiteru Menulis:
    Mas Yudha Prima, pertanyaan terakhir, apa pesan Anda untuk penulis pemula agar aktif dan produktif berkarya?
    Yudha Prima: Pesan saya, menulislah untuk membuktikan bahwa hidup anda bermanfaat. Tulisan yang baik adalah yang bisa memberikan manfaat untuk diri penulis dan pembacanya. Jadi, menulislah selama ruh masih menyatu di jasad Anda.

    Aishiteru Menulis:
    Silakan jika Mas Yudha ingin menambah pesan lainnya sebagai penutup diskusi ini.

    Yudha Prima:
    Pesan saya juga, mari kita cerahkan dunia dengan tulisan kita bersama FAM Indonesia.

    Aishiteru Menulis: DISKUSI ONLINE DITUTUP!

    Alhamdulillah, Diskusi Online dan Peluncuran Buku Cerpen “Anomali” dengan Pembicara Yudha Prima (Surabaya) telah berakhir. Terima kasih atas partisipasi seluruh peserta.

    Lihat koleksi buku karya anggota FAM Indonesia DI SINI
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. bagaimana caranya tuk gabung sama FAMIndoneisa? Salama kenal http://poetranage.blogspot.com/

      ReplyDelete
    2. Salam kenal,,, gimana caranya bisa gabung dgn FAMIndonesia?? http://poetranage.blogspot.com/

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Yudha Prima: “Saya Lelah Berunjuk Rasa, Lalu Saya Menulis” Rating: 5 Reviewed By: Fam Indonesia
    Scroll to Top